Nguri-uri Kesenian Tradisional

0
571
Lengger Kebasen

Sedianya anak-anak minta bermain ke Taman Balai Kemambang lalu ke Moro. Tapi aku bilang ke istri, kalau pagi ini aku mesti ke kantor kecamatan. Ada pagelaran Calung dalam rangka hari jadi kabupaten Banyumas yang ke-433. Kemudian aku tawarkan untuk mengantarkan mereka ke rumah Mba Riswati di Gambarsari. Mereka aku tinggal di sana selama aku menonton acara Banyumas Bergaung Calung. Aku katakan pula, lama sudah tak bersilaturahmi ke sana. Padahal beberapa hari yang lalu, Mas Haryanto, suami Mba Riswati, sengaja berkunjung ke rumah. Akhirnya Ata, Syamil, dan istri ku setuju.

Pagelaran Calung ini menjadi salah satu bagian dari rangkaian acara peringatan hari jadi kabupaten Banyumas. Meski sampai sekarang masih terjadi perbedaan pendapat tentang tanggalnya, perhelatan tahunan ini biasanya ramai. Soal perbedaan tanggal tersebut, secara pasti aku tak tahu. Biar lah nanti waktu yang akan bicara.

Hari Minggu memang enaknya buat keluarga. Tapi tidak berlaku pada hari itu (12 April 2015). Teman-teman di UPK ikut nimbrung. Imam, Nur, dan Yoga bergantian menonton pagelaran ini. Pak Camat dan Pak Sekcam pun ikut hadir, memberi dukungan moril bagi grup Budi Rahayu dari Desa Kebasen ini.

Lengger Kebasen
Lengger Kebasen

Beberapa hari yang lalu aku menawarkan untuk sekedar membuatkan banner. Saat itu aku sedang menghadap Pak Camat terkait kegiatanku di Jakarta. Pak Sekcam datang bersama perangkat desa Kebasen guna melaporkan persiapan pagelaran Calung itu. Ketika sedang berbicara soal banner, aku katakan biar nanti dari PNPM saja. Kita cuma ingin nebeng nama di banner itu. Tinggal apa tulisannya silakan dikoordinasikan ke kantor. Pak Camat menyepakati.

Sejak aku dipilih menjadi BKAD di Kec. Kebasen, aku bersama Pak Camat memang sudah berkomitmen agar PNPM harus hadir dalam setiap kegiatan di kecamatan. Apapun bentuknya nanti. Syukur personilnya mau hadir, minimal membuatkan banner atau apa lah.

Kesempatan ini memang kami gunakan sebaik mungkin. Bersama paguyuban Srikandi, kami bekerjasama untuk memanfaatkan setiap kegiatan untuk mempromosikan produk-produk yang dihasilkan oleh kelompok-kelompok SPP. Kesan eksklusif ingin kami hilangkan.

Pernah suatu ketika aku mendengar ucapan dari salah seorang tokoh perempuan di kecamatan yang mengatakan bahwa seharusnya PNPM itu mau berbaur dengan yang lain. Jangan hanya keluar pada saat kegiatannya sendiri. Aku pernah beberapa kali mencoba pada saat aku masih menjadi sekretaris UPK. Sayangnya kurang mendapat tanggapan.

Sebagai lembaga yang mengaku melakukan pemberdayaan, memang semestinya mau bergandengan tangan dengan yang lain. Sebab kegiatan pemberdayaan sebenarnya sudah dilakukan sejak dulu dengan berbagai nama.

Saat masih kecil, pagelaran Calung, Kethoprak, Wayang Wong, Wayang Kulit, Ebeg, dan Kenthongan masih sering aku tonton. Tapi sekarang, tontonan semacam ini semakin jarang. Gregetnya pun semakin berkurang. Penonton tidak seramai dulu. Mungkin karena banyaknya alternatif hiburan. Atau alasan lain, aku tak tahu.

Beberapa orang mengatakan kalau dulu, desa ku terkenal dengan Kethoprak. Meski grup kethoprak di Mandirancan belum setenar “Suwolo Budoyo”. Sedang untuk wayang kulit, orang pasti kenal yang namanya (alm) Ki Sugino Siswocarito, dalang terkenal asal Desa Notog Kec. Patikraja.

Kethoprak
Kethoprak

Dulu saat masih menjadi tontonan favorit, perhelatan-perhelatan kesenian tradisional ini banyak peminat. Untuk pagelaran kethoprak berbayar saja, penonton selalu mengantri. Aku ingat saat aku masih SD, grup “Suwolo Budoyo” yang tak tahu darimana, menggelar pertunjukan selama seminggu di Mandirancan. Pagelaran berbayar dengan cara di tutup dengan kain terpal di sekeliling panggung ini, selalu ramai penonton. Banyak yang nakal dengan melubangi terpal agar bisa menonton kethoprak. Lakon yang aku ingat berjudul: “Damar Wulan dan Minak Jinggo”.

Sedang wayang kulit dengan dalang Ki Sugino Siswocarito selalu dipenuhi penonton. Lapangan Desa Patikraja yang luas itu hampir penuh. Selalu terdengar cerita kalau di pagi hari sering ditemukan dompet kosong. Para pencopet selalu memanfaatkan momen keramaian untuk beraksi. Aku biasanya menonton bersama ibu yang berjualan kacang godhog, sedang aku duduk di sampingnya sambil berjualan es lilin.

Kami berangkat bersama Wa Sinar yang berjualan kacang godhog juga, Wa Dinem yang berjualan rokok dan kacang goreng, demikian pula Lik Nasa. Keluarga ibu ku memang pedagang. Dari enam bersaudara, hanya Bibi Salem yang tidak berjualan.

Kebiasaanku mengikuti mereka berjualan, membuat aku tertarik dengan kesenian tradisional. Wayang kulit menjadi tontonan favorit ku. Aku bisa betah dan tahan menonton hingga dini hari. Meski pada saat itu tidak paham dengan bahasa pengantar dari sang dalang, sedikit banyak aku tahu alur ceritanya dari membaca buku. Setelah aku besar nanti, aku pahami bahwa salah satu cara berkomunikasi para orang tua dulu adalah melalui kesenian-kesenian. Banyak petuah-petuah yang mereka sampaikan melalui media kesenian tersebut.

Dalang Sugino Siswocarito
Dalang Sugino Siswocarito

Wayang kulit yang dalam sejarah digunakan juga oleh para wali dalam menyebarkan agama Islam di Jawa, pun menyelipkan pesan-pesan moral di sana. Para wali tahu bahwa untuk mengumpulkan masyarakat diperlukan sebuah tontonan. Mereka mengemas tontonan itu menjadi alat dakwah.

Para orang tua dulu sering menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan pesan atau member pengajaran kepada kita tanpa harus merasa digurui. Mungkin salah satu kesenian tradisional yang jelas menyampaikan pesan melalui simbol adalah begalan.

Begalan yang biasanya dipentaskan saat pesta pernikahan, secara gamblang menjelaskan simbol-simbol yang di bawa. Peralatan dapur seperti irus, centhong, ilir, ian, dan sebagainya dijelaskan makna dari masing-masing tersebut.

Selain itu, kesenian itu juga dimanfaatkan sebagai salah satu alat perjuangan bangsa. Kesenian Ebeg salah satunya. Menurut cerita dari berbagai sumber, kesenian ebeg atau kuda lumping adalah bentuk penghargaan dan dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro saat menghadapi penjajah Belanda. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa kesenian ebeg menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Ada versi yang menyebutkan bahwa, kesenian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda. Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, kesenian merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri.

Ebeg
Ebeg

Namun ada juga yang mengatakan bahwa para penari yang memperkenalkan kesenian ebeg adalah prajurit kerajaan Mataram yang menyamar menjadi penduduk biasa. Mereka menari ebeg hingga fase kontemplasi, dimana pada saat itu mereka tidak merasakan apa-apa meski tubuhnya di pukul dengan pecut. Mereka mampu melakukan atraksi-atraksi membahayakan. Wajar saja, mereka sebenarnya adalah prajurit. Akan tetapi, mengapa mereka menyamar menjadi penduduk biasa? Jawabannya tak lain sebagai bentuk psywar terhadap penjajah. Ini dilakukan agar penjajah bisa dikelabui bahwa penduduk Jawa itu sakti-sakti.

Versi mana yang benar, aku tak tahu.

Serbuan kesenian-kesenian dari luar negeri terbukti ampuh menyingkirkan kesenian tradisional. Kesenian tradisional seperti tidak mendapat tempat. Perhelatan-perhelatan akbar yang ramai pengunjung, biasanya bukan semacam lengger, wayang kulit, kenthongan, dan kesenian tradisional lainnya.

Meski sebenarnya di satu sisi, orang-orang luar negeri pun getol mempelajari budaya dan seni bangsa Indonesia. Taruh lah nama Megan Collins Donoughu William. Seorang pesinden asal Amerika Serikat. Megan sebetulnya bukan sinden baru di tanah air. Sejak 2009, bahkan sebelumnya, dia sudah sering manggung di berbagai kota. Karena sudah belajar intensif musik gamelan dan seni suara Jawa, Megan pun fasih menjadi sinden. Aksen bulenya tak terasa saat nyinden.

Megan Collin
Megan Collin

Sebelum Megan, ada juga sinden asal Amerika Serikat lain yang sangat kondang bernama Elizabeth Karen. Dia intensif belajar tari Jawa, gamelan, nembang, kemudian dinikahi Ki Sholeh di Malang. Sayang, mereka kemudian bercerai. Sinden Elizabeth kembali ke negara asalnya.

Lalu ada nama Hiromi Kano. Sinden asal negeri Sakura ini sudah lebih dari 13 tahun malang melintang dari panggung ke panggung pertunjukan wayang. Selain itu, dia pandai merias wajah serta menyanggul rambut rambut sendiri. Ini sudah menjadi rutinitasnya setiap kali ia akan manggung. Sepintas orang tidak menyangka ia asli orang Jepang. Pasalnya Hiromi Kano pun lancar berbahasa Jawa.

Hiromi Kano
Hiromi Kano

Saat Hiromi Kano menyinden, hampir tidak bisa dibedakan dengan sinden asli Jawa. Hiromi sangat serius dalam meniti karir sebagai pesinden. Sejumlah dalang ternama di telah dia ikuti saat menggelar pertujukan wayang.

Hiromi mengaku tertarik dengan dunia sinden dan wayang kulit karena tidak jauh berbeda dengan kesenian di negaranya. Selain itu menghibur banyak orang menjadi cita-citanya. Awal mula ketertarikan Hiromi pada seni pewayangan dimulai saat kuliah di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo pada 1996.

Kamu pasti lebih tahu Maria Ozawa ketimbang Hiromi Kano… hihihi… #piss

Tapi begitu lah kenyataannya. Kita nge-fans berat dengan K-Pop, Rock, Metal, dan sebagainya, tapi mereka pun gandrung dengan kesenian bangsa kita.

Ada pendapat bahwa kesenian-kesenian itu harus ditampilkan pada momen-momen tertentu, jika tidak maka akan mengakibatkan kejadian yang buruk. Semisal harus ada begalan pada perhelatan pernikahan anak pertama. Jika tidak, dalam perjalanan kehidupan rumah tangga kedua mempelai nanti akan menemui mara bahaya. Itu keyakinan yang tidak bisa dipaksakan. Yang percaya silakan, yang tidak percaya, ya monggo saja. Kalau aku sih tidak percaya.

Istri ku anak pertama di keluargnya, tapi nggak pakai begalan. Eh, jangankan begalan. Resepsi saja enggak kok.

*) Disarikan dari berbagai sumber

BAGIKAN
Berita sebelumyaMembuang Energi Negatif
Berita berikutnyaAnjangsana Mencari Ilmu ke Solo
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here