Nice Trip to Majalengka and Ciamis (edisi ke-2)

0
257

Majalengka (16/08/14) Saat aku diberi kesempatan berbicara, aku sedikit menyampaikan upaya preventif kemacetan melalui kegiatan Belajar Antar Kelompok. Dimana masing-masing kelompok saling berbagi ilmu ketrampilan agar memiliki banyak variasi usaha. Yah, siapa tahu di Sindang atau Ciamis bisa dilakukan.

Konsep BUMADes yang sedang diusung oleh Assosiasi UPK Nasional pun aku sampaikan, agar mendapat dukungan dari kawan-kawan. Utamanya dari pihak BKAD, dan saya mengajak untuk bersama-sama menjadikan ini sebagai isu nasional. Karena saya sadar bahwa konsep ini bukan hal yang baru, karena sudah ada pada alam pikiran kawan-kawan baik UPK maupun BKAD. Hanya saja kesamaan ini belum berjalan bersama-sama.

Setelah hidangan kopi dan beberapa camilan kami rasai, kami digiring ke warung makan sebelah. Hidangan ala kadarnya ciri khas orang desa, bukan masalah. Karena yang paling penting saat kita bertamu adalah bagaimana sang tuan rumah menerima kita.

Diskusi-diskusi kecil termasuk menyampaikan ide-ide cerdas dari kawan-kawan di Kebumen, Magelang, Demak, Sragi-Pekalongan dan Bali terkait adanya koperasi sebagai jalan keluar dari keinginan menjalankan usaha non UEP/SPP aku kemukakan. Sebab sudah berkali-kali ketua BKAD dan UPK menyampaikan ide untuk berusaha diluar itu, selalu terganjal oleh arahan dari FK dan FT yakni: tak direstui oleh PTO. PTO meneh… PTO meneh… hadeuh….

Sebelum kami berpamitan, acara narsis bersama didepan kantor UPK Sindang pun kami lakukan. Karena narsis itu wajib, agar kita bisa eksis… #halah…

Sesuai janjinya, Kang Aboer memandu kami menuju jalan besar ke arah Ciamis. Kang Aboer menyengaja kami menuntun ke tempat dimana acara Festival Desa TIK akan dilakukan.

Oh iya, saat kami diskusi tadi, sudah aku sampaikan ke Ima dan Kang Aboer akan keinginan untuk bergabung pada acara tersebut. Hanya saja kepastian tanggal masih menunggu hasil silaturahmi panitia ke Bupati Majalengka. Namun ancar-ancarnya tanggal 26-27 September 2014 yakni hari Sabtu dan Minggu. Pas dengan keinginanku.

Kawan-kawan UPK di Jawa Barat tak perlu resah, lokasi penyelenggaran Festival Desa TIK yang diselenggarakan oleh RTIK Jabar, Gerakan Desa Membangun (GDM) dan para pegiat desa lainnya ini lokasinya tak jauh dari jalan raya. Hanya beberapa ratus meter masuk, jalan masuk tak menanjak. Soal mengelupas aspal biasa kan?

Kendali sopir kembali dipegang Kang Abeh. Tadi di POM bensin (entah dimana) Juniar diberi kesempatan. Meski sudah banyak tumbuh uban, kepawaian Kang Abeh terasa berbeda jauh dari Juniar. Kang Abeh boleh lah disejajarkan dengan….. The Transporter… hehe…

Arah pertama yang dituju adalah rumah Bu Emah yakni di Desa Panjalu Kec. Panjalu. Dimana disana bersemayam makam Boros Ngora, salah satu pejuang yang berhasil meng-Islam-kan penduduk setempat dari agama Hindu. Makam itu sekarang menjadi tujuan wisata religi. Bu Emah menuturkan bahwa almarhum Gus Dur pernah ke sana, maka jalan menuju ke makam di hotmix dadakan.

Jalan naik, sempit, rusak yang kemudian masuk ke kawasan hutan aku tak bisa membayangkan andai aku melintasinya sendirian, kemudian ban bocor atau kehabisan bensin. Kanan kiri hanya pepohonan, jalan tak lagi berwujud aspal tapi mengelupas menjadi makadam lagi.

Bukan Abeh namanya kalau tak mampu menguasai kondisi jalan. Lincah dia memutar kemudi dan mengkombinasikan antara persneleng dan mainkan pedal gas. Termasuk saat menyalip truk di tikungan dimana jalan sedikit miring ke kanan. Goyang badan ke kanan dan ke kiri menjadi aktifitas yang membuat perut kembali terasa protes. Apalagi saat di kawasan hutan tersebut sudah masuk maghrib dan kabut sudah semakin tebal.

Mungkin saja kami akan berhenti di sebuah tempat, dimana Bu Emah mengatakan:

“Indahnya Panjalu akan bisa dilihat dari atas sini. Di tempat itu”.

Disana sekilas aku lihat ada gubuk kecil dan tanah sedikit lapang yang jika kita memandang akan terlihat hamparan sawah, dan susunan rumah-rumah penduduk. Itu lah Desa Panjalu.

Kami berhenti di Desa Sukamantri untuk menunaikan shalat maghrib. Brrrr…. hawa dingin menyergap. Termasuk saat kami mengambil air wudhu. Apalagi angin berhembus cukup kencang. Alhasil shalat maghrib ini serasa shalat subuh di pagi buta.

Maka saat aku masuk kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan, aku kenakan jahet dan kaos kaki. Perjalanan pun dimulai lagi.

Saat kau berjuang di jalan-Nya maka akan kau temui bumi yang luas dan rizki yang banyak (terjemah bebas QS. An-Nisa: 100).

BAGIKAN
Berita sebelumyaNice Trip to Majalengka and Ciamis (edisi ke-1)
Berita berikutnyaNice Trip to Majalengka and Ciamis (edisi ke-3)
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here