Nice Trip to Majalengka and Ciamis (edisi ke-4)

0
949

Ciamis (16/08/14) Sebagai seorang Faskeu, Kang Tarjo ini beda. Maka sejak aku kenal via FB dulu, hingga pertemuan kami pas acara Milad ke-1 Gerakan Desa Membangun (GDM) di Desa Melung Banyumas, komunikasi kami selalu intens. Apalagi setelah aku tahu dia asli Gombong-Kebumen. Masih terhitung tetangga jauh dan satu rumpun. Rumpung Ngapak… hehe…

Malam itu sekitar jam 9 malam kami keluar mencari makan. Akhirnya nasi goreng jadi pilihan. Lokasinya yang dekat dengan alun-alun Ciamis dan duduk lesehan menjadi santai. Diskusi tentang pergerakan terhadap advokasi masyarakat desa menjadi topik pilihan. Termasuk perkiraan mengapa UPK di Sumedang dan Garut tidak datang pada kegiatan Musda I Assosiasi UPK Jabar. Perubahan paradigma pemberdayaan yang sedang gencar dilakukan oleh Assosiasi UPK Nasional pun dia dukung.

Tapi aku masih belum bisa konsentrasi. Enaknya pijat refleksi masih terasa.

Sesudah itu, Kang Tarjo mengajak aku dan Juniar ke alun-alun. Dia membawa buku Puspa Ragam Pemberdayaan. Buku yang berisi cerita-cerita kegiatan, pengalaman, dan gagasan pelaku pemberdayaan masyarakat di Majalengka. Baik yang terlibat langsung maupun yang tidak langsung dalam kegiatan program. Buku itu akan diserahkan ke perpustakaan di kompleks alun-alun.

Dalam hati bertanya, “apa ada orang yang mau baca buku di tengah keramaian seperti ini?”

Tapi pertanyaan itu hanya aku simpan dan baru sekarang aku utarakan. Maaf, Kang Tarjo. Kapan-kapan di jawab ya… hehe…

Menurut Kang Tarjo, dia aktif dalam komunitas membaca dan menulis di Majalengka. Dimana di seputaran perpustakaan itu lah mereka biasa berkumpul. Saling berbagi pengalaman, berbagi cerita, dan saling mengisi.

Ternyata sang penunggu perpustakaan sedang bergegas pulang. Akhirnya Kang Tarjo hanya menyerahkan buku dan mengajak kami mencari tempat untuk sekedar duduk-duduk di bawah cahaya lampu yang temaram. Suasananya pas untuk ngobrol. Juniar pesan 3 (tiga) gelas jahe susu hangat. Kami memilih tempat yang agak terang.

Kang Tarjo menceritakan kalau di tempat itu sering berkumpul banyak komunitas. Salah satunya komunitas pecinta seni.

Pemandangan yang menurut dia biasa dan membuat aku harus menundukkan pandangan demi menjaga hati adalah tatkala datang beberapa orang neng geulis. Cerita bahwa cewek-cewek Sunda memiliki kelebihan dari yang lain memang bukan isapan jempol. Aku hanya memperkirakan bahwa DNA yang mengalir dalam tubuh mereka merupakan warisan yang tak ternilai. Ckckckck….

Dalam kesempatan itu, Juniar menelpon seseorang yang tak lama kemudian muncul. Ternyata dia seorang seniman tulen. Seorang kartunis. Meski sudah diperkenalkan bahwa aku orang Jawa yang selalu terkena roaming, ternyata mereka bertiga masih asyik dengan bahasa Sunda. Maka agar aku tidak merasa menjadi kambing congek, BBM sebagai alternatif jitu. Sesekali aku mengangguk saat mereka menyadari keberadaanku dan menggunakan bahasa Nasional.

Perbincangan mereka seputar akan diterimakannya bantuan 1 milyar dari Pemda Ciamis kepada PNPM untuk pembuatan gerai produk unggulan. Ada sedikit permasalahan tempat dan tanah, namun sudah bisa teratasi. Itu sebagai pembuka perbincangan mereka bertiga.

Kang Tarjo ingin menggandeng seniman ini guna menghias gerai tersebut dengan karikatur agar masyarakat tertarik. Yakni bagaimana menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat melalui simbol-simbol yang enteng dan mudah dipahami. Keren kan?

Hanya saja aku memang tidak mengingat namanya. Kesibukanku mengurusi BBM lebih mengasyikkan karena faktor roaming tadi. Soal apakah BBM-an ku ini penting atau tidak, silakan diartikan sendiri. Menurutku ini lebih baik daripada mata jelalatan melihat neng geulis bersliweran… hehe…

Kemudian kami pulang ke kantor Faskab. Aku diminta menemani Kang Tarjo di sini karena rekan-rekan kerjanya sedang mengikuti penyegaran fasilitator. Selain itu disana memang 5 (lima) hari kerja, maka besoknya yakni Sabtu adalah hari libur. Awalnya aku mengira Juniar akan ikut bermalam di sana, nyatanya tidak. Tapi Juniar berjanji akan mengajak aku ke mana aku mau besok hari sebelum aku pulang ke Banyumas.

Saat Kang Tarjo berpamitan tidur, aku masih asyik menatap layar monitor. Menjawab komen-komen dari teman-teman FB. Selama di Cirebon dan Kuningan aku tak sempat menjawab. Beberapa memang penting, tapi soal Gonus sama Gondo sih biasa. Pasti komen yang enggak-enggak… aye… aye…

Di Twitland pun tak lupa aku kunjungi.

Menyusun cerita Sisi lain Musda I Assosiasi UPK Jabar menjadi keasyikan tersendiri. Sambil menunggu rekaman Live Talkshow di RCTV di unggah di youtube. Sayangnya aku tak menemukan program kompres video di komputer ini. Maka sejak kami pergi mencari makan malam, video sebesar hampir 2 GB aku unggah. Maka, jangankan HP nya Gondo, laptop biasa pun kalau jaringannya tak sekencang telkomsel tetap akan buffering… ahaha…

Tak terasa jarum menunjukkan pukul 01.00 WIB. Aku bergegas ke kamar dan memejamkan mata, takut masuk anginnya kambuh lagi. Jam 5 pagi aku sudah bangun. Setelah shalat subuh aku bingung. Mau keluar jalan-jalan tak tahu kuncinya, mau bikin kopi kok nggak ada termos, mau masak air sendiri nggak enak. Lagi-lagi duduk di depan layar monitor menjadi pilihan.

Tak lama kemudian, Kang Tarjo bangun. Kemudian dia menawarkan kopi. Maka aku jawab dengan polos:

“Miki jane arep gawe kopi. Tapi nggoleti tremos ora nana”.

Kang Tarjo hanya tersenyum dan menjawab:

“Lha kiye dispenser”.

Oalah… daplun… daplun… wkwkwk…

Saat kau berjuang di jalan-Nya maka akan kau temui bumi yang luas dan rizki yang banyak (terjemah bebas QS. An-Nisa: 100)

BAGIKAN
Berita sebelumyaNice Trip to Majalengka and Ciamis (edisi ke-3)
Berita berikutnyaNice Trip to Majalengka and Ciamis (edisi ke-5 habis)
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here