Nice Trip to Majalengka and Ciamis (edisi ke-5 habis)

0
145

Ciamis (17/08/14) Juniar datang kembali ke kantor Faskab sekitar jam 9 pagi. Saat itu aku sedang menikmati kopi dan berdiskusi dengan Kang Tarjo. Juniar diserahi inventaris berupa Katana milik sang Faskeu untuk mengantarku berkeliling. Kang Tarjo sendiri hendak ke Bandung, orang tuanya sedang sakit dan akan mencari rumah sakit untuk operasi.

Namun sebelumnya, diskusi menarik terkait gagasan alternatif lain dari exit strategy UPK dia sampaikan. Diskusi ini sebenarnya merupakan kelanjutan gagasan yang sedianya akan dilaksanakan di Ciamis beberapa waktu yang lalu. Akan tetapi demi menyatukan kesamaan, maka acara dibatalkan. Dia merekomendasikan kawan-kawan UPK Ciamis untuk hadir di Asrama Haji Donohudan, Boyolali.

Akhirnya sampai pada kesepakatan untuk mencoba memperbincangkan gagasan ini dengan Mba Grace (PSF) dan Yossy Suparyo (GDM) pada kegiatan di Majalengka besok. Gagasan dimaksud adalah mengadakan semacam seminar guna peningkatan kapasitas pengurus UPK akan pengetahuan mereka terhadap koperasi dari sisi ideologi.

Nah, bagaimana kisah selanjutnya soal gagasan ini. Kita tunggu kabar selanjutnya paska kegiatan Festival Desa TIK nanti.

Gaya bule dengan celana pendek, Juniar, hanya kurang kacamata. Memang hari itu (Sabtu, 16/8/14) libur. Dia memenuhi janji untuk mengantarku berkeliling kota Ciamis. Menonton acara ulangan Talkshow di RCTV menjadi aku sadar akan teguran Kang Avif di studio saat itu.

“Mas Kikis jangan kebanyakan menunduk. Kelihatan di monitor”.

Benar saja, bukan hanya kelihatan menunduk. Tapi lebih mirip orang mengantuk… hehe…
Insiden 3 kali benar-benar membuat acara menjadi tidak pas. Terdengar bahwa materi wawancara dan jawabannya terkesan hanya diulang-ulang saja. Tidak kreatif dalam bertanya dan menjawab, sehingga terkesan monoton. Bahkan ada kosakata yang selalu aku ulang, yakni kata: “jadi”… hadeuh…

Juniar mengajakku sarapan. Menu ayam goreng menjadi pilihan. Tapi aku biarkan Juniar menikmatinya sendiri. Aku asyik menelpon teman kuliah yang katanya tinggal di Ciamis. Aku kira dia tinggal dekat kota, ternyata jauh dekat Banjarpatroman. Kurang lebih satu jam kalau ke sana. Padahal aku berencana minta Juniar mengantarku ke sana.

Saat Juniar menawarkan mau pergi kemana, aku minta diantar ke tempat yang asyik. Atau ke tempat ke situs bersejarah di Ciamis. Hanya saja sayangnya, saat mau ke sana, kawan UPK di lingkungan sana sedang tidak ada. Alhasil, Juniar mengajak ku ke wilayah Sadananya, dimana dia menjadi pengurus UPK.

Khusus untuk jalan-jalan bersama Juniar akan aku tulis tersendiri. Biar nanti postingan website indonesiamandiri tambah koleksinya. Yang jelas ada 2 (dua) lokasi yang kami kunjungi yakni kelompok SPP dan kelompok tani.

Ini orang pasti ketularan Kang Tarjo, workaholic. Lha wong hari libur kok ya tetap mainnya ke rumah ketua kelompok dan sawah. Tapi itu lah bagusnya pelaku pemberdayaan masyarakat. Yang menjadi kekurangan hanyalah soal publikasi, sehingga stigma negatif tersematkan kepada UPK. Oleh karenanya, UPK harus mau mempublikasikan apa-apa yang dikerjakannya. Datang di kegiatan Festival Desa TIK di Majalengka ya… ihir…

Selesai berkeliling aku minta mampir sebentar ke rumah yang sedang dia bangun, kemudian ke rumah orang tuanya. Sekedar tahu istri dan kedua anaknya. Take foto keluarga buat di posting di website. Sambil bercanda aku katakan sama istrinya:

“Mau aku promosikan buat cewek-cewek di internet, Teteh.”

Juniar hanya senyum-senyum sambil menggendong si kecil. Istri Juniar tahu kalau aku hanya bercanda, maka dia menjawab:

“Kok foto sama saya?”

Karena istri Juniar sedang kedatangan teman-teman mengajar di TK, aku hanya menghabiskan sirup rasa jeruk yang dia suguhkan. Kami menuju kantor UPK Sadananya. Kalau melihat luas bangunannya, kantor UPK ku jauh lebih luas. Aku tertarik dengan kolam ikan di belakang. Kemudian melihat toilet dan dapur.

Aku menjadi kagum tatkala Juniar menyodorkan proposal pengajuan rehab kantor dan gambar rencana kantor. Rupanya UPK Sadananya mendapatkan alokasi bantuan sebanyak…… (berapa nih, aku lupa…. hehe…). Kembali aku terkesan dengan kepedulian Pemda Ciamis terhadap PNPM. Setelah semalam mendengar ada bantuan untuk pembuatan gerai, kini kantor UPK pun menjadi perhatian mereka. Kereen….

Juniar menyodorkan laporan bulanan. Dia ingin menunjukkan bahwa tingkat pengembalian di sana bagus. Terbukti hanya angka ratusan ribu di kolek 2. Aset sih memang baru 1,9 milyar. Tapi saat aku buka bagian honor… halah kok aku yang asetnya gedhe honornya kalah.
Maaf, Sodara. Tidak sedang iri, cuma bingung sama cara berpikir dan menterjemahkan PTO bagi mereka. Ibaratnya terlalu banyak mahzab di program ini. Beda konsultan beda kebijakan, beda aturan. Yang lebih parah tatkala kebijakan seorang konsultan di masa lalu yang diikuti oleh pengurus UPK, menjadi temuan oleh konsultan penggantinya. #Gubrak… #Gubrak… #Gubrak….

Setelah aku putuskan pulang karena jam sudah mendekati sore, sepanjang perjalanan Sadananya ke kantor Faskab kami lebih banyak bercerita soal keluarga masing-masing. Dan itu sepertinya tidak menarik untuk diceritakan. Maka selesai makan siang selepas dari kantor Faskab, aku diantar ke terminal bus Ciamis.

Sekedar info saja, bahwa perjalanan Ciamis – Purwokerto seharusnya berkisar 4 jam. Maka jam 3 sore saat aku naik bus Mandala, seharusnya tiba di sana sekitar pukul 7 malam. Aku tak perlu mengkhawatirkan soal bis atau jemputan. Dari pasar Patikraja dimana aku turun nanti, aku cukup jalan kaki ke rumah, tak sampai 10 menit insya Allah sampai.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat di raih. Bus Mandala tergiur dengan banyaknya penumpang yang hendak pergi ke Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya. Maka semua penumpang jurusan Purwokerto dan beberapa di daerah terdekat diturunkan dan di oper ke bis pintu dua yang lebih kecil. Dengan kondisi bus yang… yah begitu lah. Maklum bus itu keluaran tahun 1996, kata si kondektur.

Sesampainya di Wangon sekitar pukul 18.30 WIB. Maka tinggal setengah jam lagi atau 45 menit kalau agak lambat, aku sampai di Patikraja. Tapi ternyata eh ternyata, bus ini jalur Purwokerto via Ajibarang. Jadi yang seharusnya bus lurus ke arah timur dari Wangon kemudian Jatilawang, Rawalo dan Patikraja, kini harus ke belok kiri ke utara. Rute lebih jauh lagi, yakni Wangon, Ajibarang, Cilongok, Karanglewas, Purwokerto.

Segera aku buka BB dan HP, mencoba menghubungi pihak rumah atau tetangga. Aku minta di jemput di Perempatan Tanjung. Karena untuk sampai ke Patikraja dari Tanjung, sudah tak ada mikrobus lagi. Hanya ada bus besar jurusan Purwokerto – Bandung yang berselang satu jam.

Perkiraan akan macetnya jalan dari Wangon ke Ajibarang terbukti. Beberapa kali terjadi model buka tutup. Truk-truk besar melintas di jalan yang berliku dan sangat parah rusaknya. Kerusakan di jalur ini memang terasa karena jalur ini merupakan jalan dimana truk-truk besar beralih dari jalur tengah ke jalur selatan menuju Jogjakarta, Solo, Surabaya dan kota-kota besar lainnya.

Bukan hanya itu saja, ternyata saat kami sudah sampai di Ajibarang, bus kembali berhenti. Aku kira sang sopir sedang makan malam di warung. Ternyata dia dan kondektur sedang menunggu bus dari arah Tegal. Kami di oper lagi.

Alhamdulillah, Sodara. Perjalanan dari Ciamis mendapatkan bonus selama 2 jam. Karena saat aku memasuki rumah dan disambut oleh kedua buah hatiku, jam menunjukkan pukul 9 malam.

 

Saat kau berjuang di jalan-Nya maka akan kau temui bumi yang luas dan rizki yang banyak (terjemah bebas QS. An-Nisa: 100)

BAGIKAN
Berita sebelumyaNice Trip to Majalengka and Ciamis (edisi ke-4)
Berita berikutnyaKemenangan Karena Keberuntungan
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here