Olahraga malam

0
232

Bagi para jomblo, biasanya malam Minggu adalah malam yang memprihatinkan. Sedang mereka yang sudah memiliki pasangan, akan berbeda ceritanya. Menghabiskan malam Minggu berdua tentu mengasyikkan. Tentu dengan syarat hari tidak hujan. Ya, emang mau berduaan sambil hujan-hujanan?

Tapi malam-malam Minggu itu tak berlaku bagi para pria berikut ini: Yono (Ancul), Tobek, Tobex, Sakum, Yatno, Teguh (Guplo), Marno (Buncer), Itlup, Sigit, Aku, dan masih banyak lagi. Tidak ada acara happy-happy layaknya pria-pria lain. Mereka lebih suka menghabiskan malam dengan berolahraga. Jangan ngeres ya. Kita main tenis meja kok. Lagi pula bagaimana mau happy-happy, lha wong di rumah juga ada istri. Kecuali bagi Yatno, Itlup, dan Sigit. Mereka masih lajang.

Sebenarnya sih bukan malam Minggu saja. Hampir tiap sore ba’da Ashar atau malam habis Isya, selalu saja ada yang bermain tenis meja, seperti malam ini. Meja yang selalu terpasang di garasi truk milik Karsono (Gutheng) ini tak pernah di copot. Pasalnya truk-truk itu sekarang dibawa pulang oleh sopirnya. Nah, daripada kosong mending dimanfaatkan. Toh si empunya sudah mengijinkan. Kadang kami bermain single, kadang double. Tergantung banyak sedikitnya peminat yang datang.

Meja yang kami gunakan terbuat dari kayu yang dibuat tukang, bukan pabrikan. Aku tak tahu persis kapan pembuatannya. Yang aku tahu, sejak aku masih duduk di bangku SD, meja ini sudah ada. Sudah hampir 25 tahun. Tapi sampai sekarang masih layak pakai. Paling-paling di kerok dan di cat ulang.

Memang yang namanya kegiatan olahraga semacam ini selalu pasang surut. Kadang booming, sering mati suri. Namun demikian, olahraga ini masih cukup diminati oleh warga. Terbukti pada perhelatan 17 Agustus tahun kemarin, lomba tenis meja pesertanya cukup banyak. Perhelatan 17 Agustus tahun ini lebih banyak lagi. Kalau tahun kemarin hanya kategori pria, tahun ini juga ibu-ibu. Lumayan ramai.

Sejak perhelatan 17 Agustus tahun ini lah olahraga tenis meja ini kontinu berjalan. Paling tidak di RT ku, RT 01/01 Desa Mandirancan. Eh, di RT 03/02 juga ada ding. Hitung-hitung untuk ajang berkumpul dan ronda. Sebab tak jarang bagi Yatno, Sigit, Agung, Itlup, dan yang lain, bisa sampai menjelang adzan Subuh baru usai. Olah raga ini memang cukup murah. Kalau meja, net, dan bed sudah ada, tinggal memikirkan bola. Itu pun bisa awet kalau tak pecah atau terinjak.

Rencananya akhir bulan Desember ini akan diadakan turnamen lagi. Cuma waktunya kapan belum tahu. Mungkin pas malam tahun baru. Yang jelas masih menunggu waktu mereka siap mengecat ulang mejanya. Kalau pas Minggu mereka banyak yang kerja lembur. Padahal sudah banyak yang mengelupas di sana sini.

Nanti pas turnamen ikut ya. Ada hadiahnya, gratis pula.

Semangat sampai berkeringat
Semangat sampai berkeringat
Ping Pong karo guyon
Ping Pong karo guyon

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here