Orang Banyumas Kok Susah Ngomong Banyumasan… hihi….

0
266

Meski terbiasa berbahasa Banyumasan, bukan berarti mudah mengucapkannya. Apalagi saat diminta berbicara dalam acara formal atau semi formal. Bukan hanya aku sih kayaknya. Para pejabat yang terbiasa berpidato di depan umum pun demikian. Kecuali mereka yang berprofesi sebagai pranata cara. Mungkin.

Padahal membiasakan diri menggunakan bahasa Banyumasan sudah diwajibkan tiap hari Kamis. Tapi rasanya nggak mudah juga. Mencari padanan kata yang tepat saat ngomong sering nggak ketemu. Ujung-ujungnya tetap pakai bahasa Indonesia lagi. Yah. Apa boleh buat. Bahasa campuran alias gado-gado malah terasa lebih gayeng. Mungkin perlu membiasakan diri kali ya.

Beda kalau pas acara non formal. Mau ngomong apa saja kalau pakai bahasa penginyongan, enjoy aja. Lebih nikmat kalau sambil ngopi. Bagi para ahli hisap terasa lebih nylekamin kalau ditambah acara klepas klepus udud. Pokoknya udud dulu, udud dulu. Paling enak udud dulu… hihi….

Sepertinya faktor keratabasa (tata bahasa) yang menjadi kendala. Saat berbicara di acara formal kita seakan dituntut berbicara dengan tatanan krama inggil. Dianggap tabu, saru, atau tidak tahu unggah-ungguh (tata krama) kalau memakai bahasa keseharian. Ya. Bahasa keseharian kita memang kebanyakan bukan krama inggil, tapi ngoko. Masih mending kalau ngoko alus. Kita lebih fasih memakai bahasa ngoko kasar. Rasanya malah lebih dekat. Tanpa sekat. Kata inyong, rika, madhang, dan kencot adalah sebagian kosakata yang mudah diucapkan ketimbang kulo, panjenengan, dahar, dan ngelih.

Sifat kebanyakan orang Banyumas yang egaliter dan cablaka, berbeda dengan yang lain. Orang Banyumas tetap dianggap menghargai orang lain tanpa harus merendahkan diri. Kata cablaka berarti apa adanya. Oleh karenanya, tokoh pewayangan yang menjadi perlambang masyarakat Banyumas adalah Bawor. Sifat anak bungsu Semar mirip kebanyakan orang Banyumas.

Dalam sejarah berdirinya kerajaan-kerajaan di Indonesia, setahu ku tak ada kerajaan yang berpusat di sini. Oleh karena pola hubungan antar manusia dalam kerajaan ada semacam pembagian kasta, maka di sini sepertinya tak berlaku. Semua orang dianggap sama kedudukannya, kecuali para orang tua. Konsep birul walidain tetap di junjung tinggi. Istilahnya mikur duwur mendem jero.

Beberapa kali mendengarkan pidato para pejabat di Banyumas pun begitu. Beliau-beliau masih saja kesulitan memakai bahasa Banyumasan pada acara-acara formal pada hari Kamis. Kamus bahasa Banyumasa yang ditulis Ahmad Tohari masih belum bisa diamalkan secara maksimal. Selalu saja terselip kata atau kalimat berbahasa Indonesia saat berpidato. Nggak apa-apa sih. Yang penting komunikasinya nyambung. Bahasa kan cuma pengantar… hehe….

Itu pula yang aku alami kemarin sore. Waktu itu aku bersama Kang Manto diberi kesempatan siaran di radio Dian Swara FM Purwokerto. Adapun tema yang dibahas adalah optimalisasi potensi desa melalui BUMDes. Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama antara radio Dian Swara FM dengan GDM dan Gedhe Foundation dalam acara Njajah Desa Milang Kori. Sebuah acara bincang-bincang tentang desa setiap Kamis sore mulai jam 4 hingga 5 sore.

Jujur. Sebelumnya aku tak pernah mendengarkan acara ini. Bincang-bincang sebelumnya pun aku tak mendengarkan. Lama tak mendengarkan radio. Malah sudah tak punya. Eksistensinya sudah tergantikan oleh televisi dan internet. Tapi bagi sebagian orang, radio masih menjadi primadona. Suara merdu para penyiarnya memang ngangeni… ihir….

Kalau soal radio di Purwokerto, aku ingat ada nama RRI, Dian Swara, Paduka, Mitra, Sumasli, dan RGM. Mereka memiliki segmen pendengar sendiri-sendiri. Para orang tua lebih suka mendengarkan RRI atau Sumasli. Sedang para remaja sukanya Dian Swara, Paduka, dan RGM. Kalau Mitra FM lebih banyak beritanya.

Paling senang dulu, saat request lagi lagu sambil berkirim salam. Koin seratus rupiah bisa bicara sampai 5 menit di telepon umum. Rasanya senang banget saat teman yang diberi salam lewat radio didengar olehnya. Apalagi kalau dia pun membalas hal serupa. Minimal itu akan menjadi topic perbincangan esok hari saat bertemu. Acara dukung mendukung sebuah lagu agar naik posisi dalam tangga lagu pun seru. Kadang ikut deg-degan saat pengumuman top request minggu ini. Kalau ingat masa-masa itu jadi sadar diri, sudah tua ternyata… hehe….

Ini kali pertama juga siaran di radio Dian Swara FM. Kalau di RRI sudah beberapa kali. Saat siaran di RRI pun memakai bahasa Indonesia. Lebih mudah. Tak terlalu kaget. Sebenarnya sih soal bahasa nggak begitu masalah. Yang penting bukan bahasa bule, apalagi bahasa isyarat… hehe….

Sebenarnya aku sering main ke sini. Tapi bukan ke Dian Swara. Aku mampir ke sebelah baratnya. Teman SMA, Nanang, bekerja di situ sebagai sekuriti di salah satu perusahaan operator seluler. Dulu pas sering main ke Dian Swara saat masih berseragam putih abu-abu, hanya kirim kartu pos berisikan cerita-cerita lucu. Cerita-cerita lucu itu akan dibacakan dan di undi. Sayangnya nggak pernah dapat hadiah… hihi….

Kemarin itu pun Nanang sedang berjaga. Alhamdulillah. Aku titipkan sementara Syamil yang terlelap. Kebetulan Nanang tak sendirian. Ada dua anaknya yang ikut, Diah dan Tyo. Kalau Diah sudah SMP, sedang Tyo seumuran dengan Syamil. Aku berharap nanti Syamil bisa bermain bareng Tyo saat terjaga.

Sebelum acara di mulai, sempat ngobrol dengan Mba Neni, sang penyiar. Biar nanti pertanyaan yang dilontarkan bisa nyambung. Hasilnya lumayan. Saat siaran berlangsung cukup baik. Cuma ya itu, mau mengucapkan sesuatu, lidah ini rasanya sulit digerakkan. Ketika menjawab sambil berpikir mencari padanan kata dan mencoba berbicara dengan kalimat yang pas. Eh, nggak nemu-nemu juga. Akhirnya, pakai bahasa Indonesia lagi. Aku nggak tahu apakah Kang Manto mengalami hal serupa. Kayaknya sih iya. Cuma nggak separah aku. Dia lebih fasih. Seingatku, kosakata bahasa Indonesia yang dia pakai minim sekali. Asyik.

Pertanyaan pertama dari Mba Neni sempat membuatku kaget. Pasalnya saat ngobrol sebelum siaran tadi, tak disepakati siapa dulu yang menjawab. Walah. Akhirnya penjelasan tentang pengertian BUMDes menjadi agak muter-muter. Tidak langsung to the point. Itu juga masih menggunakan bahasa Indonesia. Jawaban atas pertanyaan itu juga sepertinya kurang memuaskan. Pengertian yang aku jelaskan lebih ke permisalan padanan BUMDes, bukan pengertian secara harfiah. Lagi pula aku kan masih bisa ngeles. Aku bukan alat pemuas lho… hihi….

Siaran Njades
Siaran Njades

Jawaban atas pertanyaan kedua yang dilontarkan ke Kang Manto, terdengar lebih luwes. Kang Manto lebih siap menjelaskan tentang potensi Desa Kalibagor. Sebagai perangkat desa, tentu wawasan pemahamannya lebih komplit. Buah kelengkeng yang sedang dibudidayakan di seputara embung mini akan menjadi salah satu andalan. Menurutnya, mimpi untuk mewujudkan embung mini sebagai salah satu destinasi wisata desa, sudah mulai diwujudkan secara bertahap. Konsep yang dipakai adalah agrowisata.

Potensi desa yang lain dia sebutkan pula. Payung kertas yang menjadi tema sentral Banyumas Extravaganza kemarin pun dia sampaikan. Stik drum band, tusuk es krim, dan tusuk sate menjadi beberapa potensi Desa Kalibagor yang lain. Sayangnya industri-industri rumahan itu masih sendiri-sendiri, hingga kadang timbul persaingan antar mereka. Adanya BUMDes bisa menjadi penengah dan pemampu bagi industri-industri rumahan itu.

Maka yang perlu kita mengerti bahwa BUMDes tidak berorientasi ke arah profit dengan meninggalkan potensi yang ada. Baik potensi dalam hal produk, SDM, tata kelola, dan yang lain. Hadirnya BUMDes justru diharapkan untuk mendukung produk-produk yang ada agar lebih berkembang. Misalnya, jika produk kurang diterima oleh pasar, maka tugas BUMDes adalah mengadakan pelatihan-pelatihan agar produk itu layak jual. Jika kesulitan ada di pemasaran, BUMDes lah yang akan membantu memasarkannya. Andai modal yang menjadi kendala, maka BUMDes yang akan menyediakan. Secara tidak langsung, BUMDes menjadi semacam bapak asuh bagi produk-produk di desa.

Ingin tertawa sendiri saat mendengar ulang proses siaran itu. Hampir semua kalimat yang aku sampaikan terkait peran BKAD dalam hal ini, aku ucapkan dalam bahasa Indonesia. Saat itu aku merasa buntu. Bagaimana menterjemahkan kalimat-kalimat mengenai tugas BKAD dalam hal mengurusi BUMDes atau BUMDes Bersama, ke dalam bahasa Banyumasan. Maka jika kamu mendengarkan, maka seakan aku merasa tak bersalah saat berbicara dengan bahasa Indonesia. Kelihatan sekali enggak mpan papan… hahaha….

Sangat timpang dan seperti tidak etis. Saat Mba Neni lancar bertanya menggunakan bahasa Banyumasan, eh aku seenaknya sendiri menjawab dengan bahasa Indonesia. Mungkin bagi Mba Neni, Kang Manto, Mba Karni, dan Mba Eky yang berada dalam ruang siaran tak bermasalah. Tapi mungkin bagi pendengar saat itu akan berujar: “Ini gimana, lha wong lagi siaran bahasa Banyumasan, kok pakai bahasa Indonesia terus”. Tolong dimaafkan ya… hihi….

Ngobrol asyik nan gayeng saat Mba Neni menanyakan soal aset desa. Obrolan ini bermula saat aku sampaikan bahwa modal awal BUMDes bisa berasal dari desa. Entah dari aset milik desa maupun aliran dana yang masuk ke desa. Obrolan yang semula hanya berbicara soal BUMDes, akhirnya melebar ke urusan batik dan mitos tentang pohon Kelengkeng. Mitos yang selama ini beredar, katanya jika menanam Kelengkeng harus sepasang. Katanya pohon kelengkeng tak akan berbuah kalau tak ada pasangannya. Tapi kenyataannya, Kang Manto menanam satu pohon kelengkeng di polibag, sudah berbunga.

Berbicara tentang pohon kelengkeng, Kang Manto menyampaikan bahwa di seputaran embung mini ada sekitar 3500 pohon. Sedang pohon kelengkeng yang di tanam di sana adalah kebanyakan jenis Itoh. Meski di tanam juga jenis Aroma Duren, Kristal, dan Diamond. Harapan dari Mba Neni, suatu saat nanti kita tak perlu lagi mencari buah kelengkeng ke daerah Temanggung atau Semarang. Cukup pergi ke Kalibagor saja. Asyik….

Sesi kedua obrolan paska iklan, diawali pembicaraan tentang pembangunan kawasan perdesaan. Potensi agrowisata di Desa Kalibagor akan lebih mudah dikunjungi manakala bisa bergandengan dengan yang lain. Obyek-obyek wisata lain yang berdekatan akan membuat pengunjung tertarik ke sana. Biasanya jika tempat wisata itu hanya satu dan lokasinya berjauhan dengan yang lain, pengunjung akan berpikir ulang. Terkecuali obyek wisata itu memiliki daya tarik yang sangat kuat. Oleh karenanya akan lebih baik jika Desa Kalibagor bisa bekerjasama dengan desa-desa lain untuk mengembangkan wisata desanya.

Kerjasama di bidang ekonomi untuk mengelola paket wisata desa bersama desa lain, semisal Suro, Srowot, dan Kaliori akan lebih menguatkan. Masing-masing akan menerima keuntungan dari kerjasama itu. Pengunjung yang datang ke Kalibagor bisa diarahkan untuk mengunjungi Desa Suro, Srowot, dan atau Kaliori. Tentu semua desa tersebut harus memiliki obyek-obyek wisata unggulan. Jika memungkinkan bisa bekerjasama dengan Pemkab Banyumas agar bumi perkemahan Kendalisada dijadikan salah satu tujuannya. Apalagi jika dikemas dengan sejarah Banyumas, akan lebih ciamik.

Kembali saat berbicara soal modal BUMDes, aku sampaikan pengalaman baik selama PNPM Mandiri Perdesaan berlangsung. Sebanyak maksimal 25% dari BLM yang masuk di kecamatan, dialokasikan untuk modal UPK. Sampai sekarang, khususnya di kecamatan Kebasen, dengan alokasi itu sudah mempunyai aset 4,5 milyar rupiah. Aku berharap, jika praktek tersebut dilakukan serupa oleh desa, maka tidak menutup kemungkinan, aset BUMDes akan cepat membesar. Perlu disepakati bersama dalam musyawarah desa agar dana yang masuk ke desa, harus ada yang disisihkan untuk BUMDes tiap tahunnya. Tidak dihabiskan semua untuk pembangunan fisik.

Modal yang disisihkan untuk BUMDes ini lah yang akan menjadi awal kemandirian desa menghasilkan PADes lebih. Kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa-masa yang akan datang. Jika dalam, katakanlah sepuluh tahun ke depan, alokasi dana untuk desa sudah dihentikan, kita masih punya dana di BUMDes. Kalau soal kejujuran, profesionalisme kerja, dan kebersamaan dalam menjaga aset BUMDes, aku rasa itu sudah wajib hukumnya. Siapa lagi yang akan menjaganya jika bukan masyarakat desa sendiri.

Alhamdulillah, obrolan itu hanya berlangsung satu jam saja. Itu pun sudah termasuk iklan. Andai tidak, kayaknya bukan lagi obrolan berbahasa Banyumasan jika pertanyaan diberikan buatku. Tapi bilingual. Pertanyaan berbahasa Banyumasan, jawaban pakai bahasa Indonesia. Kayane kudu diakeih mangan boled maning… hihi….

Anak wadon melu narsis
Anak wadon melu narsis

 

BUMDes, Kalibagor
Paska siaran

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here