Penghargaan Buat Anak-Anak

0
209
Syamil Pejuang Subuh

Baru saja istri menyodori laporan hasil mid-semester milik Syamil. Ada pita penghargaan bertuliskan “Pejuang Subuh”. Syamil menjadi salah satu penerima penghargaan itu. Pasalnya dia selalu ikut shalat subuh di awal waktu. Kategori awal waktu yang ditetapkan guru adalah dilakukan dan disetorkan fotonya sebelum jam 5 (lima) pagi. Alhamdulillah Syamil rutin melakukannya. Meski tetap harus dibangunkan dengan berbagai rayuan.

Ini sebuah kemajuan. Pasalnya sebelum ada iming-iming penghargaan dari guru, dia kerap bangun siang. Saat teman-teman sudah mulai absen, dia masih tidur. Dia baru bangun sekitar pukul 06.30 WIB. Setelah itu mandi, ganti baju, foto buat absen, main game, shalat dhuha, dan sarapan kalau lauknya cocok. Urutan kegiatan itu, kecuali main game, istri mesti mengingkatkan dengan sedikit meninggikan volume suara.

Evaluasi Mid-Semester

Hasil evaluasi mid-semester, Syamil mendapat nilai Sangat Baik (A) untuk dua mata pelajaran, yakni Al Qur’an Hadits dan Bahasa Inggris. Dia memang selalu semangat untuk belajar bahasa Inggris. Berkali-kali aku memotivasi dia untuk belajar bahasa Inggris. Pasalnya dia bercita-cita untuk lanjut kuliah di Amerika Serikat. Semoga dikabulkan. Aamiin ya robbal’alamiin.

Nilai Baik (B) ada di 8 (delapan) mata pelajaran, satu nilai Cukup Baik (C), dan 2 (dua) mata pelajaran mendapat nilai D (perlu bimbingan). Secara keseluruhan dari 13 (tiga belas) mata pelajaran dia mendapat rata-rata Baik (B). Total rata-rata nilai 87, masuk rentang (83 ≤ B ≤ 92). Hasil yang cukup memuaskan dan seimbang dengan teriakan sang Emak saat tugas sudah dikirim via grup WA.

Belajar di rumah

Pandemi covid19 yang tak jua berakhir membuat anak-anak mesti belajar di rumah. Beberapa waktu lalu, para wali murid sudah menandatangani pernyataan mengijinkan pihak sekolah untuk kelas tatap muka. Akan tetapi karena kondisi masih belum memungkinkan, atas kebijakan Pemda Banyumas juga, akhirnya diurungkan. Ini artinya para orang tua mesti menambah stok sabarnya.

Seperti kebanyakan anak-anak, Syamil pun ogah-ogahan mengerjakan tugas. Apalagi jika HP sudah ditangan. Main game. Tak jarang pula istri mesti keluar mencari-carinya. Bermain bersama teman-teman, yang mungkin orang tuanya pun gemas bukan main. Bukannya mengerjakan tugas malah bermain-main. Bukan hal yang aneh, terkadang anak justru ‘manut’ sama gurunya daripada orang tuanya.

Penghargaan

Meski begitu, Syamil termasuk anak yang bisa mengerjakan tugas dengan cukup baik. Dia mendapatkan beberapa penghargaan dari guru kelasnya. Penghargaan itu antara lain: Pejuang Subuh, Aktif Kegiatan Pembelajaran, Active Qur’ani, dan Active Literacy. Tentu bukan hanya Syamil. Teman-teman satu kelas juga ada yang mendapatkan pula.

Namun, terobosan ini cukup ampuh. Pasalnya saat diperlihatkan piagam penghargaan dengan format PDF yang dibagikan di grup WA, Syamil selalu berseri-seri.

Bagi anak-anak penghargaan terkait kebiasaannya, menjadi mood booster. Dia akan lebih rajin menyelesaikan tugas saat dia tahu pekerjaannya dihargai. Meski hanya sehelai kertas. Dia merasa diakui kebisaannya. Padahal mungkin itu terlihat sepele. Tapi justru mengena.

Hal yang sering dia tanyakan adalah siapa temannya yang juga dapat. Setelah disebutkan oleh istri, dia lalu komentar. Istri hanya menimpali: “yang penting Syamil. Jangan ngiri sama temennya”. Sejurus kemudian dia pasti minta uang buat jajan sebagai kompensasinya.

Pembiasaan Baik

Adanya pembiasaan baik dari sekolah menjadi pola pendidikan yang berbeda. Pembiasaan baik dan adab lebih diutamakan. Pendapat para ulama bahwa “Adab lebih utama dari Ilmu”, benar-benar dipraktikkan. Anak-anak dilatih untuk mendahulukan Adab (budi pekerti) terlebih dahulu. Bukan sedang mengesampingkan soal prestasi akademik, tapi sepintar-pintarnya orang yang berilmu, tidak akan ada gunanya jika Adab (atitude) nya jelek.

Kita juga pasti tahu bahwa akademik bukan top ten faktor kesuksesan seseorang. Hasil penelitian Thomas J. Stanley, menyebutkan bahwa faktor IQ (kecerdasan) masuk rangking 21 (dua puluh satu), masuk universitas top rangking 23 (dua puluh tiga), dan lulus dengan nilai terbaik masuk rangking 30 (tiga puluh), sebagai faktor yang berpengaruh terhadap kesuksesan. Sedangkan rangking 1 (satu) faktor yang berpengaruh terhadap kesukesan adalah kejujuran. Pembiasaan baik berupa kejujuran menjadi hal penting.

Selain itu, saya juga percaya bahwa anak yang hidup bahagia pada masa kecil, akan lebih berprestasi pada saat dewasa. Tidak dibebani dengan berbagai macam les atau kursus demi mengejar prestasi, menjadi salah satu faktor anak bisa hidup bahagia. Dia akan menikmati masa kecil untuk bermain. Hargai semua pencapaiannya agar dia bahagia.

Penghargaan Partiisipasi Pembelajaran
Penghargaan Active Qur’ani
Penghargaan Active Literacy

 

BAGIKAN
Berita sebelumyaMembaca Hasil Penelitian Tentang Institusi Keuangan Desa
Berita berikutnyaMenjadi Koresponden Tugas Akhir
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here