Perlu Strategi Pemasaran Produk UKM yang Unik

0
298
Gula jawa asli

Suatu ketika saya bertemu dengan salah seorang pengusaha gula merah. Dia meminta bantuan modal usaha. Menurutnya, dia harus membayar air nira dari para penderes yang dijual padanya. Air nira itu kemudian dia olah menjadi gula merah yang kualitasnya diatas pasaran pasar tradisional. Lebih higienis, bersih, bentuknya hampir seragam, dan di kemas dengan plastik yang menarik.

Hasil olahan gula merah dia pasok ke salah satu supermarket terbesar di Purwokerto. Untuk memenuhi kebutuhan pasar, dia merasa kewalahan. Terkendala pasokan nira, tenaga kerja, dan tentu modal usaha. Kalau di kalkulasi usaha ini sangat menggiurkan. Sayangnya sering dia merasa terengah-engah di tengah jalan. Pasalnya tagihan atas nota pasokan baru dibayarkan setelah 6 atau 7 invoice. Itu belum terpotong oleh produk yang retur karena rusak atau kadaluarsa.

Awal mendengar cerita, saya terkesan. Namun begitu mengetahui akar masalahnya, jadi tak heran. Dia beranggapan bahwa pemasaran di supermarket itu menjanjikan. Strategi pemasaran yang demikian, dia dapatkan dari pelatihan oleh dinas terkait. Sebagai seorang mantan karyawan supermarket, strategi pemasaran tersebut bisa saya katakan tidak tepat. Produk usaha kecil menengah (UKM) akan kalah bersaing dengan dengan produk pabrikan jika mengandalkan modern market sebagai sarana pemasaran utamanya.

Anggapan keliru

Sering kita dengar strategi pemasaran produk UKM yang berorientasi pada supermarket atau modern market. Menurut mereka, dengan kualitas dan kemasan produk yang bagus, memiliki ijin dari Dinas Kesehatan, mampu memproduksi dengan kuantitas tertentu dan kontinu, maka mudah pemasarannya. Pasok ke modern market, maka urusan selesai.

Kekeliruan itu tidak melihat pada faktor pembayaran yang sering digantung lebih dari sekian pasokan. Seperti kasus diatas. Masih banyak faktor lain yang akan mempengaruhi.

Adanya produk kompetitor, substitusi, dan atau komplementer yang di produksi oleh pabrikan akan berpengaruh. Paradigma yang terbangun di masyarakat bahwa produk pabrikan lebih bermutu, tak bisa disalahkan. Promosi yang bertubi-tubi akan merasuk secara heuristic pada masyarakat yang kemudian membentuk paradigma tersebut. Jika ada produk serupa atau mirip, biasanya konsumen akan memilih produk pabrikan. Apalagi jika harga produk UKM lebih mahal, meskipun selisihnya sedikit.

Seorang manajer modern market akan memberikan space yang luas bagi mereka yang mau menyewa dan atau jelas cepat repeat order-nya. Produk UKM yang cenderung menyerahkan semua pada manajemen modern market dan rendah repeat order-nya, hanya ditempatkan seadanya. Asal nampak saja. Belum lagi jika pihak pabrikan lebih “berbaik hati” pada karyawan, maka biasanya produk UKM akan semakin tersisih.

Kekeliruannya terletak pada mengandalkan modern market sebagai tujuan pemasaran. Berharap banyak pada mereka, dan merasa sukses jika sudah mampu menembusnya. Semestinya berhasil masuknya produk UKM di modern market hanya sebagai branding saja.

Gula jawa asli

Sebagai branding

Berhasil masuknya produk UKM pada modern market bisa dijadikan sebagai branding. Keberhasilan itu menjadi kredit poin pemasaran selanjutnya. Dengan diterimanya produk tersebut di modern market, berarti produk UKM tersebut layak dan bisa sejajar dengan produk pabrikan. Hal demikian sebagai penguat pemasaran dalam meyakinkan pada konsumen. Dalam hal ini, kita memposisikan modern market serupa tatkala produk UKM diakui kualitasnya oleh seorang public figure.

Saat produk yang dihasilkan bisa diterima oleh modern market, berarti produk tersebut bisa dikatakan berkualitas. Akan tetapi, itu hanya sebagai bahasa marketing. Karena konsumen tetap akan membandingkan dengan produk pabrikan lainnya. Berapa nilai yang layak dia bayarkan untuk produk UKM kita. Namun demikian, branding atas produk UKM tidak harus masuk ke modern market.

Menciptakan strategi yang berbeda

Saat hendak menyalip saat balapan, maka lalui lah lintasan yang berbeda. Jika masih dalam lintasan yang sama, tentu kita hanya jadi pengekor. Demikian pula untuk pemasaran produk UKM. Pemasaran yang dilakukan pun harus berbeda strategi nya dengan produk-produk pabrikan. Kecuali kita sedang belajar ATM (Amati Tiru Modifikasi).

Strategi pemasaran produk UKM harus unik. Sasaran pasar produk akan menentukan strategi yang harus dilakukan. Pendekatan heuristik dan atau analitik yang dilakukan bisa dilakukan untuk mengikat kesetiaan konsumen. Pangsa pasar yang jelas dengan tetap memperhatikan kualitas, harga, kemudahan akses, dan branding tentunya, akan mempermudah rumusan strategi.

Pola pemasaran dengan mengandalkan kedekatan emosional konsumen dirasa lebih tepat. Produk UKM akan lebih mudah dijual kepada mereka yang secara emosional ikut merasa memiliki. Adanya rasa tanggung jawab moral konsumen untuk ikut membesarkan produk tersebut, akan lebih mudah. Oleh karena nya, sebagai produsen dan atau pemasar, konsumen harus di pupuk dan di jaga rasa kedekatan itu. Komunikasi menjadi penting.

Peran public figure guna ikut mengkonsumsi dan memasarkan produk UKM tentu lebih mendorong massif nya penggunaannya. Dorongan dari public figure yang bukan hanya pencitraan dalam konsumsi produk tersebut bisa menjadi magnit bagi khalayak untuk mengkonsumsinya pula. Keteladan public figure yang kontinu diperlukan. Konsumsi produk UKM dari public figure yang berkelanjutan akan menjadikannya sebagai sebuah gerakan. Seperti gerakan belanja di warung tetangga, bela dan beli produk Kulonprogo, dan yang lain sebagainya.

Proses perapian bentuk fisik gula jawa

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here