Persahabatan yang Menguatkan

2
274
SMADA98

Nanang. Nama itu selalu muncul saat ingin mampir sepulang keperluan di Purwokerto. Rumah yang terletak di sekitar Proliman Purwokerto, hampir selalu aku lewati. Maka setelah melintas di Proliman, biasanya aku sign kanan masuk ke gang yang jaraknya nggak sampai 100 meter ke barat. Rumahnya yang berada di sebelah selatan pusat kota membuatku mudah. Satu arah menuju desa tempat ku tinggal, Mandirancan.

Aku nggak pernah satu kelas bersamanya. Tapi pertemuan yang sering di kegiatan Pramuka, PMR, dan Rohis membuat kami akrab. Tidak saja dia, kedua orang tuanya yang sudah almarhum, yakni Pak Tino dan Bu Tino pun demikian. Bahkan aku sudah menganggap mereka seperti orang tua ku sendiri. Demikian pula Nanang, dia sudah menganggap ibu ku seperti ibunya sendiri.

Dulu saat kami masih aktif di kegiatan-kegiatan di sekolah yang biasanya dilakukan di sore atau malam hari, aku sering tak pulang. Beristirahat di kantin Bu Tino menjadi tempat yang nyaman. Ada kamar yang sering aku pinjam untuk sekedar merebahkan badan. Soal makan siang pun tak perlu terlalu risau. Bu Tino sering menyiapkan untukku dan Nanang juga.

Nanang Supriyadi
Nanang Supriyadi

Saat istirahat dimana teman-teman berebut minta didahulukan kala memesan pecel, aku biasa membantunya menerimakan uang bayaran. Uang yang dikumpulkan langsung aku berikan saat suasana mulai lengang. Sebagai imbalan, tentu saja satu porsi pecel dan mendoan. Ah, jadi sedih ingat almarhum berdua.

Kedekatanku dengan Nanang tidak berhenti meski kami sama-sama selesai sekolah. Kami masih sering berkomunikasi dan silaturahmi. Seingatku malah, cuma Nanang yang aku kabari saat aku hendak ijab qabul. Meski dia tak hadir karena tak tahu dimana tempat kami nikah. Dia pula yang mengajakku menghadiri resepsi pernikahan Arif Hatmoko (Koko), teman sebangku ku sejak kelas satu hingga kelas tiga. Koko sempat cemas karena mengira aku tak datang. Untung ada Nanang.

Pernikahan yang hampir bersamaan

Selain Nanang, aku pasti ingat Koko. Dia kawan SMA yang duduk satu bangku sejak kelas 1 – 3. Sebenarnya (mungkin) Koko juga sedikit kecewa karena aku tidak memberitahunya saat aku menikah. Ya, pernikahan kami memang hanya berselang sehari. Tak disangka. Aku menikah tanggal 30 Oktober 2006, dia sehari setelahnya. Yang aku ingat pula, Fanny Chandra Kartika pun menikah tidak jauh dari tanggal itu, yakni 26 Oktober 2006.

Dia dan suami menyempatkan mencari rumahku di Mandirancan. Pasalnya saat resepsi pernikahannya di Sampang, saat aku datang, dia sedang berganti gaun. Aku pun tidak memberitahu kalau aku akan menikah. Terima kasih, Bu Fanny….

Sedikit informasi saja, persiapan pernikahanku memang cepat. Hanya menunggu bulan puasa selesai, kurang lebih satu bulan. Yang aku pastikan bahwa kami menikah bukan karena LKMD (Lamaran Keri Meteng Disit) atau MBA (Married by Accident)… hehe….

Kami menikah memang sengaja dipercepat untuk meminimalkan fitnah. Yah, meski belum bisa dikatakan ideal, tapi sebelumnya antara aku dan istri belum saling mengenal. Kami diperkenalkan oleh Mba Riswati, teman mengajar di TPQ yang juga kakak sepupu istriku.

Tak ikut kuliah layaknya teman-teman sebaya

Selepas sekolah, seperti kebanyakan teman, aku juga ingin langsung kuliah. Meski ibu agak keberatan, aku beranikan diri mengikuti tes UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Alhamdulillah setelah dua kali mengikuti, aku gagal. Saat itu aku kecewa dan malu sekali. Cita-cita untuk belajar lebih tinggi untuk memperbaiki taraf hidup yang lebih baik seolah sirna.

Rupanya Allah SWT memang sudah mempersiapkan rencana yang jauh lebih baik. Andai saat itu aku diterima, maka tidak bisa aku bayangkan betapa pusingnya ibu ku. Sebagai seorang single parent harus memikirkan biaya kuliah. Mbakku hanya jadi buruh di pabrik, sedang adikku, Kikin, cuma selisih satu tahun. Pun butuh biaya tak sedikit.

Kembali aku mengisi hari-hari ku sebagai tukang koran, seperti saat masih sekolah. Menjadi loper dan pengecer baik di terminal maupun naik turun bis sesuka hati. Lumayan juga, dari hasil berjualan koran bisa untuk uang jajanku dan sedikit menabung. Waktu itu baru sekali mengikuti UMPTN. Keinginan untuk mencoba masih ada.

Masih ada Dede Yohan

Sampai mendengar ada lowongan di PT. KAI. Alhamdulillah dari sekitar 5000 pendaftar waktu itu, aku bisa lolos hingga tes wawancara yang menyisakan 13 orang. Saat itu dibutuhkan 6 orang karyawan. Dari 7 orang yang dinyatakan gagal aku salah satunya. Aku lagi-lagi kecewa. Bagaimana tidak, proses pendaftaran dan berbagai macam tes sudah menghabiskan tabunganku. Belum lagi selama mengikuti tes, aku pun mulai jarang berjualan. Karena konsentrasi belajar.

Lagi-lagi Allah SWT menunjukkan kebesarannya. Aku bertemu Dede Yohan yang juga gagal dalam tes wawancara. Karenanya lah aku diajak mendaftar jadi pramuniaga di Moro. Rupanya dia sudah bekerja di sana sebelumnya. Alhamdulillah, setelah melalui masa percobaan 3 bulan, aku dinyatakan lulus dan diangkat menjadi karyawan tetap. Sampai akhirnya aku putuskan mengundurkan diri setelah 2 tahun 1 bulan lamanya di sana.

Waktu terus berputar. Hingga saat teman-teman kebanyakan wisuda, sekitar tahun 2002, aku malah sedang berjuang melawan rasa sakit yang bersemayam lebih dari 13 bulan. Atas usaha, doa, dan ijin dari-Nya, aku masih diberi kesempatan untuk berkarya lagi. Saat itu aku mulai terpacu untuk bekerja lebih giat. Aku yakinkan diri bahwa meski tanpa titel sarjana, masih banyak yang bisa aku lakukan. Meski kendala karena tak bergelar sering menggagalkan peluang yang aku dapatkan.

Terus mencari titik keseimbangan

Setelah aku belajar di sebuah rental komputer di Patikraja, aku putuskan berwirausaha sendiri. Awalnya usaha ini lancar, meski pada saat musim libur sekolah tiba, omset menurun drastis. Termasuk memasuki bulan puasa. Di saat bulan puasa itu biasanya aku manfaatkan untuk berjualan roti kering, gula jawa, dan baju. Semua aku pinjam dari orang. Salah satunya, ya Nanang itu.

Lambat laun karena persaingan yang semakin ketat, omset terus turun. Oleh karenanya, saat Dede Yohan menawarkan aku untuk menjadi sales aku iyakan saja. Aku langsung di training olehnya. Dede menjadi supervisorku. Tidak lama memang aku di sana. Tapi pengalaman berharga menjelajahi dunia marketing, sampai hari ini masih berguna ilmunya.

Aku selalu berusaha menjalin komunikasi dengan teman-teman. Baik teman TK, SD, SMP, SMA, atau teman kerja. Silaturahmi selalu aku jaga. Aku pun yakin, mereka tetap memperhatikanku. Maka tak heran jika awal-awal dengan segala hambatan yang aku hadapi, Dede selalu menaruh perhatian. Dia tak bosan menawariku pekerjaan yang income-nya jauh dari apa yang aku dapatkan. Teman-teman yang lain pun menawarkan hal yang sama. Tidak sedikit yang berujar: “kalau kamu sudah bosan di situ, hubungi aku ya”.

Memarkir diri dalam pemberdayaan

Tak terasa sudah hampir 6 tahun aku bertahan di sini, di dunia pemberdayaan masyarakat. Sejak menerima honor yang cuma sepertiga dari pendapatanku saat usaha rental komputer, hingga sekarang yang sudah cukup lumayan. Pernah terpikir olehku untuk mengundurkan diri. Utamanya karena faktor upah. Andai saja aku belum punya Ata dan istri, mungkin sudah aku lakukan. Mereka membuatku berpikir lebih jernih.

Mungkin ini salah satu rahasia yang Allah SWT ingin berikan kepadaku. Dia ingin aku belajar dari masyarakat langsung. Bagaimana seharusnya aku memperlakukan diri sendiri, keluarga, teman, dan masyarakat. Pemberdayaan yang diusung oleh program mengajarkan untuk tidak mengambil keuntungan secara pribadi. Tapi mengajak masyarakat untuk merasakan manfaatnya pula, maka rejeki akan mengikuti.

Teringat sebuah hadits (semoga benar):

“Barangsiapa meringankan urusan saudaranya, maka Allah SWT akan melapangkan urusannya”.

Nimbrung di Gerakan Desa Membangun

Selama kurun waktu hampir 6 tahun ini, aku bisa berkenalan, belajar, dan bekerjasama dengan banyak orang. Mereka adalah orang-orang militan yang bekerja untuk masyarakat meski tak terlibat di dalam program. Sebut saja Yossy, Kang Budi, Mas Bayu, Soep, Pradna, Anton, Arya, Bu Santi, Kang Gino, Kang Dirin, dan masih banyak lagi. Terlalu panjang kalau dituliskan semua. Nanti malah di kira sedang mengabsen… hehe….

Pejuang-pejuang Desa
Pejuang-pejuang Desa

Mereka mengajariku bagaimana memanfaatkan TIK untuk pemberdayaan. Maka atas bantuan mereka pula, bisa aku katakan, ada 5 website yang aku pegang. Ini salah satunya.

Aku sependapat dengan Yossy bahwa website salah satu sarana untuk menginformasikan apa-apa yang kita cari. Website juga bisa menjadi alat untuk menyuarakan apa yang kita perjuangkan. Kalau pada akhirnya kita akan mengenal dan dikenal oleh orang lain, itu cuma efek positif saja.

Tidak rutin memang, aku memperbarui informasi-informasi di sana. Masih mengikuti kemauan dan kesempatan. Artinya kalau sedang mau, meski tidak sempat ya disempat-sempatkan. Kalau sedang tidak mau, meski sempat ya biar kan saja. Belum konsisten.

Informasi-informasi yang aku tuliskan di website itu banyak membantu. Salah satunya ketika Qomarudin Syukri, teman SMA, merekomendasikan aku untuk menduduki posisi penting di Yayasan Baitul Maal milik BRI. Namun lagi-lagi gelar kesarjanaan masih jadi kendala. Ini memang salahku. Sejak aku ikut kuliah sore di Unwiku, semestinya sudah selesai. Tapi yah, sampai tulisan ini dibuat, skripsi masih mangkrak.

Dulu saat beberapa teman SMA sedang gandrung untuk kumpul-kumpul. Mereka memberiku amanah untuk mengurusinya. Semangat sekali waktu itu. Sayangnya, egois atau karena hal lain membuat aku tidak bisa menunaikan amanah ini. Aku pun semestinya menyerahkan kepada mereka karena sudah tak sanggup. Monggo, teman-teman.

SMADA98
SMADA98

Harus selesai

Kendala gelar kesarjanaan yang masih menjadi soal ini memang menyentakku. Aku tersadar bahwa masih harus menyelesaikan PR ini. Maka saat kemarin diberitahu kalau Wawan, Elma, dan Agung mau seminar, aku sempatkan hadir. Ah ternyata Bu Cahyani, dosen pembimbingku masih mencari aku. Pak Supin, pesuruh di Fakultas Ekonomi Unwiku, yang juga masih satu desa, sering mengingatkan aku. Dia bilang kalau aku ditanyakan terus sama Bu Cahyani. Kapan menyelesaikan skripsinya. Aku selalu tersenyum dan berkilah masih sok sibuk. Sebuah keberuntungan yang tidak aku manfaatkan.

Diskusi cukup lama berlangsung di ruang kerja beliau. Aku dinasihati banyak hal. Termasuk kelalaianku tidak segera menyelesaikan skripsi. Padahal teman-teman satu angkatan kebanyakan sudah wisuda bulan Maret tahun ini. Beliau pun menawarkan kerjasama pengabdian masyarakat yang menjadi agenda rutin para dosen. Asalkan rajin berkomunikasi, beliau bilang akan melibatkan aku dalam kegiatan itu. Weh, tersanjung nih.

Teman-teman kampus yang sudah selesai pun banyak yang memberiku semangat. Pak Samsi Abidin, sang ketua kelas, Pak Sulis, Bu Ida, Ayu, tak bosan-bosan menghubungiku. Mungkin yang sudah agak jenuh karena ndableg-nya aku, ialah Mba Yani, Nurlaeli Fitriyani. Maaf ya, Mba… hehe….

Kapan kumpul lagi?
Teman-teman Unwiku

Semua memang tidak mudah dan perlu perjuangan. Perjuangan terbesar dan tersulit adalah melawan diri sendiri. Bagaimana seharusnya aku meluangkan waktu untuk mengerjakan hal-hal urgen untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain. Karena meski aku tahu bahwa mengerjakan skripsi itu penting, nyatanya belum jua mencari data-data yang aku butuhkan.

Masih saja asyik mengerjakan urusan lain. Aku masih harus belajar mempraktekkan bagaimana menyusun skala prioritas kegiatan dengan memperhatikan tingkat kebutuhan dan kemanfaatan.

Terlalu banyak teman dan sahabat yang berarti buatku. Mungkin suatu waktu bisa aku tuliskan.

 

BAGIKAN
Berita sebelumyaMendulang Asa di Kandang Sendiri
Berita berikutnyaMari Terus Bekerja
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here