Plesir Babad Banyumas Etape Ke-1

0
318
Plesir Babad Banyumas Etape ke-1

Dari Selarong ke Banyumas

 

Setelah Kalingga Jati menancapkan tombak di tengah-tengah Alun-Alun Kadipaten Selarong, keluarlah air dari dalam tanah. Kemudian disusul dengan hujan lebat. Masyarakat sangat bergembira dan bersorak: “Banyu emas… Banyu emas… Banyu emas…”.

Kemarau panjang yang melanda Kadipaten Selarong pun usai. Oleh karena teriak masyarakat, maka tempat tersebut kemudian diberi nama Banyumas. Banyumas kemudian juga menjadi nama sungai kecil yang mengalir dari bekas tancapan tombak di Alun-Alun Selarong tadi.

Begitu lah sepenggal kisah Babad Banyumas yang disampaikan Kang NasS, budayawan yang menterjemahkan dan menyunting naskah Babad Banyumas. Kisah tersebut beliau ceritakan kepada sekitar 50 orang peserta Plesiran Babad Banyumas di Taman Sari kantor kecamatan Banyumas, yang dulunya adalah alun-alun Kadipaten Selarong.

Setelah dirasa cukup, para peserta diajak mengunjungi situs Sumur Mas, dimana tombak Kalingga Jati dulu ditancapkan. Beberapa peserta penasaran dan ingin mengambil air di sumur tersebut. Akan tetapi mereka tidak beruntung. Ketiga orang yang mencoba, tidak bisa mengambil air dari dalamnya. Mungkin karena kemarau.

Menyusuri Sungai Banyumas

Peserta kemudian diajak menyusuri aliran sungai Banyumas yang sekarang sudah tertutup tanah dan menjadi jalan. Sejenak peserta diberi penjelasan tatkala melewati jembatan Kaligawe di sebelah barat Masjid Nur Sulaiman.

Menurut Kang NasS, Kaligawe ini dibuat oleh Adipati Yudanegara II. Tujuannya untuk mengalirkan air dari Rawa Tembalang ke sungai Serayu. Rawa Tembalang dulu berada di sebelah selatan Alun-alun Banyumas membentang hingga RSUD Banyumas. Oleh karena pembuatan Kaligawe ini lah, sungai Banyumas menjadi mati.

Perjalanan dilanjutkan. Kemudian berhenti di depan rumah mantan Kepala Desa Pekunden. Pada halaman rumahnya yang luas, di pojok utara, dulu, ada bekas jejak aliran sungai Banyumas

Perjalanan dilanjutkan ke tempat dimana Jaka Kaiman mendapat petunjuk untuk memindahkan kekuasaan dari Wirasaba ke Banyumas.

Menyusuri Sungai Banyumas

Petunjuk Kota Banyumas Lama

Setelah membagi Kadipaten Wirasaba menjadi 4 (empat) wilayah, pergi lah Jaka Kaiman ke Banyumas. Kota Banyumas Lama dibangun oleh Jaka Kaiman dengan 4 (empat) petunjuk, yakni: Kejawar, arah barat laut, pertemuan sungai Banyumas dan Pasinggangan, serta tumbuhnya pohon Tembaga. Namun sekarang, aliran sungai Pasinggangan setelah bertemu singai Banyumas justru dikenal sebagai sungai Banyumas. Padahal sungai Banyumas aslinya justru sudah hilang terkubur tanah.

Menurut Kang NasS, pembagian wilayah menjadi empat dimana Jaka Kaiman kemudian dikenal sebagai Adipati Mrapat, terdapat banyak versi. Versi Martadirejan dan versi Wiraatmajan juga berbeda keterangan. Lalu bagaimana penjelasannya? Kang NasS menyarankan untuk mengikuti kelas ‘Bahas Babad Banyumas’ yang beliau selenggarakan tiap Sabtu dirumahnya, di rumah budaya Bale Pustaka. Silakan mendaftar.

Pertemuan sungai Banyumas dan Pasinggangan dan pohon Tembaga menjadi tujuan selanjutnya. Lokasi pohon Tembaga yang dulunya berada di tengah-tengah hutan, sekarang menjadi di tengah-tengah pemakaman Desa Kalisube Kec. Banyumas.

Pohon Tembaga

Rasa penasaran peserta dengan pohon Tembaga, terjawab. Konon pohon Tembaga disini diyakini menjadi satu-satunya pohon didunia. Pasalnya pohon ini tidak berbuah dan berbiji. Besarnya tidak pernah berubah sejak dulu. Dan tidak bisa dikembangbiakan.

Pernah ada upaya pengembangan lewat kultur jaringan. Dimana serbuk kulit dan serbuk daun dicobakawinkan. Seminggu setelahnya memang tumbuh akar, namun seminggu kemudian mati. Hal ini menambah keyakinan bahwa pohon Tembaga tidak bisa dikembangbiakan.

Bagi para ahli di bidang perbenihan dan pengembangan kultur jaringan, dipersilakan melakukan riset pada pohon Tembaga. Untuk membuktikan apakah ini benar adanya atau sekedar klaim dari masyarakat setempat bahwa pohon Tembaga hanya ada di sini.

Situs Pohon Tembaga

Kota Lama Banyumas Kuno

Peserta Plesir Babad Banyumas lantas diajak ke tempat dimana Banyumas pertama berada. Pusat pemerintahan Banyumas yang dibangun Jaka Kaiman. Lokasinya sekarang menjadi sawah di Desa Kalisube. Berada di jalan Adipati Mrapat, yang menghubungkan Desa Pekunden, Kalisube, hingga ke Desa Dawuhan Kec. Banyumas.

Disini pernah memimpin 5 (lima) Adipati sebelum dipindahkan oleh Yudanegara II ke kota Banyumas Baru yang sekarang menjadi pendopo kecamatan Banyumas. Kelima Adipati tersebut: Adipati Mrapat, Ngabei Janah, Ngabei Kaligethuk, Ngabei Bawang, dan Yudanegara I.

Pemindahan dari kota Banyumas lama ke kota Banyumas Baru oleh Yudanegara II dilakukan setelah ayahnya, yakni Yudanegara I dipancung oleh Amangkurat di Kartasura. Hukuman ini dilakukan karena Yudanegara I dianggap melecehkan sang raja. Apa bentuk pelecehan itu?

Silakan ikut Plesir Babad Banyumas dengan menghubungi pengurus Komunitas Babad Banyumas.

Dimas (0857 4106 0425)
Dian Deliana (0815 5355 1551)
Opi (0858 7625 2722)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here