Plesir Babad Banyumas Etape Ke-2

0
458
Peserta Plesir Babad Banyumas. Foto: Imam Imexa

Dari Kalinggajati ke Kalibening

 

Siapa sebenarnya Mbah Kalibening itu? Itu pertanyaan yang jawabannya hingga kini belum bisa dipatenkan oleh Pemdes Dawuhan Kec. Banyumas Kab. Banyumas. Ada banyak versi tentang siapa Mbah Kalibening itu. Setiap orang yang datang dan membawa ‘orang pintar’ sering mendapat jawaban yang berbeda-beda. Biasanya peziarah yang penasaran, datang membawa serta ‘orang pintar’ untuk memanggil arwah guna dimintai keterangan.

Menurut Ruswanto, Kepala Desa Dawuhan, ingin sebenarnya menjadikan Kalibening sebagai salah satu destinasi wisata melalui BUMDesa. Akan tetapi karena banyaknya versi tentang siapa Mbah Kalibening, maka dia butuh banyak kajian informasi. Jangan sampai salah memberi stempel di keterangan tentang Mbah Kalibening.

Obrolan bersama Kepala Desa Dawuhan ini, kami lakukan di sela-sela acara jamasan Jimat. Kebetulan acara Plesir Babad Banyumas Etape ke-2 ini bertepatan dengan jamasan Jimat. Namun demikian, saya, Kang NasS, dan istrinya, memilih untuk tidak mengikuti acara tersebut. Mengunjungi makam Mbah Kalibening, Mbah Putri, dan Mbah Glagah Amba sudah kami lakukan sebelum upacara dimulai. Gasik. Tidak lupa naik ke lokasi ketiga sumur diatas, yakni sumur Pasucen, sumur khusus mandi perempuan, dan sumur khusus mandi laki-laki.

Sumur Pasucen. Foto: Imam Imexa

Versi Babad Banyumas

Menurut Babad Banyumas, Mbah Kalibening adalah Kalingga Jati. Dia seorang murid Sunan Ampel yang bertugas berdakwah di Selarong. Seperti pada kisah di Plesir Babad Banyumas Etape ke-1, Kalinggajati berhasil mengatasi kemarau panjang setelah dia menancapkan tombak di Alun-alun Kadipaten Selarong. Yang kemudian karena teriakan masyarakat: “Banyu emas… Banyu emas… Banyu emas….” maka kadipaten Selarong berganti nama menjadi Banyumas.

Sebagai ucapan terima kasih, Kalingga Jati diambil menjadi menantu oleh Adipati Selarong dan dan didaulat menjadi Adipati. Namun demikian, Kalingga Jati hanya menerima untuk jadikan menantu, sedang mandat menjadi seorang Adipati, dia tolak. Yang pada akhirnya Kalingga Jati memilih menepi dan menjadi juru dakwah di Dawuhan atau tepatnya di daerah yang sekarang bernama Kalibening. Karena disana pula ditancapkan kembali tombak dan keluarlah air yang bening.

Makam Mbah Kalibening (Kalinggajati versi Babad Banyumas). Foto: Imam Imexa
Makam Mbah Putri (Retna Ciptawati). Foto: Imam Imexa

Jamasan Jimat

Oleh karena Plesir Babad Banyumas berbarengan dengan upacara Jamasan Jimat, maka konsentrasi peserta menjadi terpecah. Kebanyakan mengikuti prosesi jamasan jimat. Padahal fokus etape ke-2 ini adalah menggali informasi tentang Kalinggajati. Tapi tak mengapa. Toh, peserta sudah dibekali booklet tentang informasi tersebut. Baik informasi mengenai Kalinggajati maupun tentang jamasan jimat.

Jamasan jimat sebagai tradisi warga sejatinya merawat pusaka peninggalan Amangkurat I. Pusaka yang tersimpan di Kalibening adalah titipan Sunan Amangkurat I, yang tahun 1677 melalui Banyumas ketika bermaksud akan pergi ke Batavia meminta bantuan VOC karena keraton Mataram telah dihancurkan Trunojoyo. Babad Tanah Jawi menceritakan Sunan Amangkurat I pergi dari Istana Mataram Plered pada hari Minggu, 18 Sapar tahun B 1600 atau 22 April 1677.

Pusaka Peninggalan Amangkurat I. Foto: Imam Imexa

Potensi Wisata Desa Dawuhan

Memang jika dilihat potensi wisata di Desa Dawuhan, setidaknya ada 3 (tiga) destinasi. Yakni Kalibening, komplek makam-makam Bupati Banyumas, dan Kerajinan batik Dawuhan. Konsep Kalibening Culture Herritage bisa diperluas menjadi Dawuhan Culture Herritage. Karena yang dijual bukan bentuk fisik makam, atau pusaka, namun kisah masa lampau yang tentu menjadi menarik. Bahkan satu titik destinasi saja bisa terungkap banyak kisah.

Untuk wisata Kalibening saja ada 2 (dua) hal yang berbeda, yakni makam Mbah Kalibening dan serial dimana wilayah ini dulu bernama Selarong sebelum menjadi Banyumas, dan adat jamasan Jimat Pusaka peninggalan Amangkurat I.

Pemakaman bupati-bupati Banyumas sejak jaman Bupati Banyumas pertama, Joko Kahiman, pun mempunyai kisah sendiri. Mulai dari wilayah Banyumas dulu yang begitu luas, kemudian dibagi menjadi 4 (empat) bagian, pola relasi Banyumas sebagai bagian dari Keraton Solo, dan Danureja sebagai bupati Banyumas yang justru menjadi Patih di Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat setelah era perjanjian Giyanti, dan disatukannya Kabupaten Banyumas dan Purwokerto, dan kisah-kisah lain.

Sedang batik Dawuhan pernah mendapat penghargaan dari Presiden Jokowi. Pemberdayaan melalui pelestarian batik Banyumas pun tak kalah menarik. Apalagi jika sampai berimbas ke sisi ekonomi masyarakat.

“Sebenarnya hal itu sudah saya pikirkan, Mas. Tapi saya butuh waktu dan rekan untuk menata ini semua’, demikian ujar Ruswanto, sang Kepala Desa.

Booklet Plesir Babad Banyumas

Bagi Anda yang tertarik ikut Plesir Babad Banyumas, silakan hubungi:

Dimas (0857 4106 0425)
Dian Deliana (0815 5355 1551)
Opi (0858 7625 2722)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here