Pola Kemitraan dalam Pemberdayaan

0
223
Peserta belajar di Pos Latihan Usaha

Aku gembira. Kala melihat para ibu sedang duduk-duduk dan bersendau gurau di rumah Pak Udin. Tapi sendau gurau mereka dilakukan sambil berkarya. Sebagian sedang menjahit. Beberapa orang sedang melipat kaos. Sebagian lagi menggunting celana untuk di permak. Mereka para karyawan lepas waktu yang bekerja pada Pak Udin.

Sebelumnya, mereka terbiasa duduk-duduk sambil ngobrol tak tentu arah. Tanpa kegiatan paska selesai mengurusi urusan rumah tangga. Meski Pak Udin sudah membuka usaha konveksi skala rumahan, tapi tak bisa mengajak mereka ikut bekerja. Pasalnya saat itu order kaos yang dikerjakan terkendala mesin jahit. Disamping itu, mereka tak memiliki kemampuan menjahit.

Sebenarnya Pak Udin berkeinginan mengkaryakan mereka. Akan tetapi karena keterbatasan modal, dia sulit bergerak. Pertama, tak punya modal untuk menambah mesin jahit. Kedua, tak bisa mengoptimalkan para tetangga karena tak punya kemampuan menjahit.

Menurutnya, terlalu mahal pula mendatangkan tukang jahit dari luar desa ke situ. Sedang margin laba dari usaha konveksi masih terlalu tipis.

Kedua kesulitan itu, coba kami dukung. Melalui pola kemitraan pemberdayaan, usaha Pak Udin sudah lebih baik. Para tetangga pun sekarang berkumpul di sana. Sebagian belajar sambil bekerja, sedang yang lain menunggu giliran.

Pola kemitraan pemberdayaan

Selain kemitraan usaha, BKAD Kec. Kebasen pun mengembangkan pola kemitraan pemberdayaan. Pola kemitraan ini bertujuan mengoptimalkan pemberdayaan melalui kerjasama dengan tenaga ahli di masyarakat. Mereka diajak untuk bersama-sama memberdayakan masyarakat. Yakni dengan cara menularkan kemampuan yang dimiliki untuk diajarkan kepada orang lain. Salah satu tenaga ahli itu adalah Pak Nasrudin (Udin).

Sebagai lembaga pemberdaya masyarakat, BKAD Kec. Kebasen melakukan dukungan untuk itu. Bentuk dukungan itu berupa pengadaan peralatan yang dibutuhkan oleh para mitra. Sedang para mitra bertugas menularkan ilmu nya. Masing-masing pihak tidak mendapatkan materi secara langsung.

Meningkatnya kemampuan masyarakat untuk bekerja atau wirausaha, sudah lebih dari cukup bagi BKAD. Sedang bagi mitra, diperbolehkan memanfaatkan peralatan yang ada untuk membantu usaha nya. Artinya peralatan itu diperbolehkan dimanfaatkan di luar jadwal melatih dengan tanpa kewajiban membayar sewa.

Pola ini menjadi salah satu kreasi pemberdayaan. Kami sadar bahwa pemberdayaan masyarakat bisa dilakukan oleh siapa saja. Ini menjadi sedikit sumbangsih dan bentuk kepedulian. Terlalu mengandalkan pemerintah, tidak baik. Mereka sudah terlalu pusing dengan urusan mereka. Jika kita bisa melakukan, mengapa harus menunggu.

Pendampingan

Seperti hal nya para mitra usaha, mitra kerja pemberdayaan pun tetap kita dampingi. Kunjungan-kunjungan berkala dilakukan. Selain memantau perkembangan kemampuan masyarakat, kunjungan ini juga dimanfaatkan untuk bertukar pikiran. Salah satu hasil yang sudah dirasakan oleh Pak Udin adalah berupa ijin usaha konveksi.

Pendampingan memang masih sebatas obrolan-obrolan biasa. Materi yang diobrolkan tidak jauh-jauh dari dunia usaha. Salah satu nya edukasi keuangan. Kita tentu tak ingin usaha skala rumahan yang Pak Udin rintis, akan bubar karena masalah keuangan.

Pada kunjungan-kunjungan itu, personil BKAD tak segan-segan mengingatkan kepada para peserta pelatihan agar tekun belajar. Jika sudah punya kemampuan, mereka diberi kebebasan memilih. Apakah akan menjadi karyawan nya Pak Udin, paska mereka ahli, atau mau mandiri. Urusan pengadaan mesin jahit, bisa diusahakan oleh BKAD.

Meski masih sebatas obrolan-obrolan, tapi sudah terasa manfaatnya. Tiga orang tetangga sekarang sudah bisa diandalkan ikut menjahit kaos, demikian tutur Pak Udin. Syukur lah.

Peningkatan kapasitas

Kemitraan antara BKAD dengan Pak Udin memang baru terjalin sekitar 3 (tiga) bulan. Akan tetapi di beberapa kegiatan, Pak Udin sudah diikutsertakan. Tujuannya agar wawasan pengetahuan Pak Udin bisa meningkat.

Saat para ketua kelompok bersama-sama refreshing di Baturaden, istri nya Pak Udin sudah ikut. Keikutsertaan ini agar para ibu di luar Desa Adisana, dimana Pak Udin tinggal, mengenal dan tahu apa aktifitas Pak Udin. Pengenalan ini dimaksudkan sebagai pembuka dalam hal pengembangan usaha nantinya.

Karena kesibukan dan lokasi rumah Pak Udin yang cukup jauh dari kantor kecamatan, pengurusan SIUP pun kami bantu. Saat Pak Udin mengurus ijin, kami fasilitasi. Aneka blangko dan persyaratan, di antar ke rumah Pak Udin. Demikian pula saat SIUP keluar.

Terakhir, bentuk peningkatan kapasitas adalah pengikutsertaan Pak Udin dalam pelatihan UMKM di Kelurahan Berkoh Purwokerto. Saat-saat seperti itu dimanfaatkan benar dan paham akan substansi materi. Dia menjadi satu dari 15 (lima belas) orang yang kami kirimkan sesuai pemberitahuan dari Bapermas PKB Kab. Banyumas.

Pengembangan usaha

Kedatanganku kemarin membuka wacana pengembangan usaha. Selain menjahit kaos, Pak Udin menginginkan tambahan kegiatan. Mesin lubang kancing dan pres diimpikannya. Dia berharap dengan adanya kedua mesin itu, para ibu yang tak jua bisa menjahit, tetap bisa ikut bekerja.

Di masa mendatang dia bermimpi, memiliki usaha konveksi dengan skala lebih besar. Tidak hanya mengandalkan kiriman order dari Jakarta, tapi memproduksi sendiri. Impian ini akan lebih mudah di raih saat tenaga ahli menjahit bertambah. Pos Latihan Usaha ini dia manfaatkan untuk itu.

Perhitungan tambahan modal, proyeksi usaha, ketahanan terhadap para pesaing, dan ekspansi pemasaran memang belum dihitung. Tapi melihat antusias dan rasa optimis dari Pak Udin, membuatku semakin tersadar. Mereka memang layak dan berusaha mewujudkan mimpi. Kesejahteraan dan kebahagiaan menjadi hak setiap anak bangsa.

Paling tidak, dengan adanya kemitraan pemberdayaan, para tetangga bisa ikut bekerja di sana. Sedang Pak Udin bisa menambah wawasan pengetahuan guna melanjutkan mimpi yang tertunda. Bahagia itu, saat bisa membantu orang lain bahagia.

Salam.

Peserta belajar di Pos Latihan Usaha
Peserta belajar di Pos Latihan Usaha
BAGIKAN
Berita sebelumyaKuncinya Berani
Berita berikutnyaBekerja Bersama Membagi Beban Kerja
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here