Presentasi Ala Kadarnya

0
248
Presentasi ala kadarnya

Menurutku, sales yang luar biasa adalah sales asuransi. Hanya berbekal brosur dan prakiraan-prakiraan keuntungan di masa depan, mereka mampu meyakinkan orang. Mereka yang menginginkan produk perlindungan, menjadi percaya dan mau menginvestasikan sejumlah uang. Produk perlindungan dari perusahaan si sales mampu terjual karena presentasi yang hanya berbekal kertas-kertas dan perkiraan perhitungan-perhitungan di masa depan saja. Padahal yang namanya masa depan, tak ada yang bisa memprediksikan.

Ini menurutku. Menurutmu mungkin berbeda.

Hal serupa aku lakukan. Berbekal secarik kertas kosong dengan pulpen, aku mencoba meyakinkan lawan bicara. Hanya saja, apa yang aku lakukan lebih pada penjelasan saja. Gambaran materi yang aku sampaikan, sedikit banyak sudah diketahui lawan bicara.

Presentasi mengenai kegiatan pengembangan usaha dan pola pemberdayaan yang kami lakukan di kecamatan Kebasen, sudah mereka lihat di media sosial atau website. Para lawan bicara sering mengikuti postingan mengenai ini.

Kurang profesional atau sudah menguasai materi

Ketiadaan alat bantu presentasi terkesan tidak profesional. Sebab alat bantu presentasi akan ikut mempengaruhi sukses tidaknya paparan materi. Oleh karenanya, kemudahan dalam memahami dan layak pandang atau dengar dari presentasi yang disajikan, sangat penting.

Namun demikian, paparan materi yang terlalu detail pun tidak baik. Bisa-bisa pendengar merasa terlalu digurui oleh kita. Bahkan, hasil penelitian mengatakan, fokus awal hanya 10 (sepuluh) menit pertama. Selanjutnya fokus akan semakin berkurang. Maka disarankan untuk memberi selingan saat paparan materi.

Akan tetapi, tidak menyediakan alat bantu khusus pun bisa dilakukan sebagai bagian dari strategi. Syaratnya ialah bahwa materi presentasi sudah kita kuasai. Paparan materi akan dilakukan jika kondisi memungkinkan. Pemateri melihat terlebih dahulu kondisi lawan bicara. Kalau memungkinkan, akan dilakukan. Jika tidak, dia akan mengkondisikan terlebih dulu.

Dengan tidak membawa alat bantu khusus, akan memudahkan langkah awal. Sebab bisa jadi, pendengar paparan materi yang disasar, memiliki level pengetahuan yang lebih dari kita.

Strategi ini sifatnya opsional dan sangat subyektif. Terserah Anda.

Modal nya hanya kalender

Ini pilihanku

Presentasi tanpa alat bantu khusus yang aku lakukan kali ini, murni bersifat subyektif dan pilihan sendiri. Sebab menurutku, baik Mas Lendy Wibowo dan Pak Sentot Satria, memiliki pengetahuan yang lebih. Soal pengembangan usaha desa dan pemberdayaan masyarakat, keduanya sudah lebih dulu malang melintang.

Pilihan memberikan presentasi akan kegiatan yang kami lakukan selama ini, sengaja tidak membawa alat bantu khusus. Cukup kalender, secarik kertas, dan pulpen. Presentasi ini pun lebih ke format diskusi. Harapannya agar baik Mas Lendy maupun Pak Sentot memberi tanggapan dan masukan demi perbaikan-perbaikan. Jika ada hal-hal yang dinilai positif, ya Alhamdulillah.

Kedua tempat pertemuan yang berbeda membawa suasana santai. Kalau Pak Sentot menjamu aku dan Kang Tarjo di ruang santai kantor KOMPAK; Mas Lendy malah menjamu ku di warung kopi Pak Dhe Wongso di komplek Kemendesa di Kalibata, Jakarta.

Sebelum jamuan kopi nya keluar… hehe….

Tanggapan positif

Pola pengembangan usaha dan pemberdayaan dengan melibatkan para stake holder di desa, mereka apresiasi. Pelibatan pemangku kebijakan lokal, yakni para Kepala Desa dan Camat, harusnya memang dilakukan. Domain mereka adalah pengambilan keputusan. Saran untuk menempatkan para pemangku kebijakan lokal pada posisinya, sudah dilakukan. Hasilnya memang belum pada peningkatan pendapatan secara signifikan. Akan tetapi legitimasi atas kegiatan yang dilakukan, menjadi lebih kuat.

Paparan mulai dari teori dasar yang berpijak pada pakar ekonomi, yakni Prof. Rhenald Kasali, strategi implementasi, langkah antisipasi, dan bentuk-bentuk kegiatan, mendapat respon positif. Beberapa catatan dan saran masukan, seperti yang aku harapkan, sudah didapat. Tinggal dirumuskan dan diimplementasikan nanti.

Selain itu, janji untuk mampir atau berkunjung ke kantor BKAD Kec. Kebasen, sengaja aku tulis sebagai pengingat. Semoga Mas Lendy tidak lupa, Pak Sentot berkenan, Mba Grace mengagendakan, dan Kang Tarjo bertugas mengingatkan pada beliau-beliau.

Salah satu kesimpulan yang aku ambil ialah: “kesuksesan dan kegagalan ada di tangan kita. Oleh karena nya, tidak baik mengandalkan dan atau menyalahkan orang lain”.

Merdesa!

Presentasi ala kadarnya

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here