Ramah dan Meriahnya Festival Destika

0
273
Sayonara, Kawan

(Edisi ke-10)

Andai waktu bisa diputar ulang. Atau skenario bergabungnya teman-teman UPK di acara ini bisa terwujud, aku bersyukur sekali. Kehilangan momen diskusi bersama Mas Budiman dan Mas Sigit menjadi sesuatu yang mengganjal. Seharusnya aku bisa hadir pada sesi ini. Mendengar cerita teman-teman dari Banyumas, melihat foto-foto yang di unggah, dan kesepakatan serta deklarasi peserta pada acara itu, membuatku iri. Inti dari serangkaian kegiatan dalam dua hari terangkum semua.

Foto-foto yang terunggah dengan menampilkan banyak peserta yang bertanya atau berargumen, menggambarkan suasana hidup. Diskusi-diskusi kecil pun ramai. Memang aku sudah baca kesepakatan dan deklarasi dari peserta untuk kemajuan desa nantinya. Yang aku sayangkan, aku tak terlibat dalam proses itu. Semangat yang tertular atau menular selama prosesi menuju kesepakatan dan naskah deklarasi tak bisa aku rasakan getarannya. Aku tidak sedang menyesal. Hanya berandai-andai saja. Acara di Cingambul pun penting.

Tak hanya jadi pendengar
Tak hanya jadi pendengar

Acara ini memang meninggalkan banyak pesan. Pesan kepada pemerintah untuk tak meragukan kapasitas orang-orang desa. Jika masih ragu, tugas mereka lah untuk mendampingi dan menguatkannya. Pesan kepada masyarakat desa yang lain, berupa ajakan untuk bersama-sama belajar. Masyarakat desa jangan pasif menunggu instruksi. Aktif lah mencari informasi dan meningkatkan kapasitas diri untuk menyongsong masa depan. Semangat yang tertular kepada peserta diharapkan bisa ditularkan kembali kepada yang lain.

Meski acara sudah dipercayakan kepada panitia, Pak Kuwu Tasrip jelas tak mau berpangku tangan. Aku memang tidak sempat berbincang-bincang bersamanya. Kesibukan melayani tamu-tamu yang lain penyebabnya. Akan tetapi gambaran tipikal bagaimana Pak Kuwu ini sudah aku ketahui dari Soep. Saat dia masih mondar-mandir untuk ikut berpusing ria dalam mempersiapkan acara ini. Soep bilang, Pak Kuwu tipikalnya mirip Kades Karangnangka, Pak Ja’far.

Diskusi kelompok
Diskusi kelompok

Walau gestur tubuhnya terkesan gemagus, sejatinya dia baik hati. Senang membela masyarakat miskin, tegas dan penuh tanggung jawab. Terlalu capek hingga sakit dan opname menjadi bukti seorang bos yang mau bekerja. Di sini, di Kebasen aku tahu mana Kades yang hanya bergaya bos. Mana pula yang suka bekerja. Salah satunya Kades yang suka bekerja ya, Mas Amin, Kades Mandirancan. Pagi hingga siang atau bahkan sore, dia sudah bekerja di kantor atau urusan lain. Agak malam selepas isya, dia akan ronda keliling desa. Saat dia bertemu dengan orang, biasanya akan terjadi diskusi-diskusi. Aku rasa, Pak Kuwu Tanjungsari pun demikian. Bahkan mungkin lebih.

Sifat keakuannya tak serta merta muncul. Padahal even ini diselenggarakan di wilayahnya. Dia hanya tampil di muka umum sesekali saja. Saat didaulat. Tidak demam panggung, pamer keunggulan sebagai seorang kades yang mampu menjadi tuan rumah even sebesar ini. Bisa berantakan acara, jika Pak Kuwu menggunakan hak veto mengatur semaunya sendiri. Seorang pemimpin harus bisa menempatkan diri. Ada saatnya dia memerintah bawahan, ada kalanya pula dia diatur oleh anak buah. Yang penting sama-sama bermaksud untuk mencapai tujuan bersama.

Salut, Pak Kuwu. Semoga segera dipulihkan staminanya. Aamiin….

Kuwu Tanjungsari
Kuwu Tanjungsari

Mas Sani dan rombongan segera meluncur meninggalkan Desa Tanjungsari. Saat itu aku bertemu Mas Sigit, Mas Afiv, dan Kang Aji. Mereka pun akan pulang. Hanya bersalaman saja. Masih canggung ngobrol-ngobrol, meski di twitter maupun grup BBM suka becanda. Lagi pula mereka terlihat sedang bergegas. Aku merasa santai. Tadi pagi sebelum ke lokasi, semua perlengkapan sudah aku masukkan ke tas. Tinggal check out.

Meski tas-tas sudah berjajar, tak aku dapati teman-teman. Ternyata mereka sedang di balkon. Foto-foto dengan latar gunung Cermai menjadi kesibukan. Kapan lagi kalau bukan sekarang. Aktifitas selanjutnya ialah narsis beramai-ramai. Pose bebas. Kan seragamnya sudah sama. Merah total versi PANDI. Tergambar keceriaan dalam wajah-wajah mereka. Entah karena baru mengikuti acara ini, atau sudah rindu dengan keluarga. Kalau aku, dua-duanya.

Narsis tiada habis
Narsis tiada habis

Sambil menunggu bis datang, acara jeprat-jepret di depan rumah kos yang mewah, masih dilakukan. Muncul celetukan ini rombongan Buruh Migran Indonesia. Ada yang bilang juga TKI ilegal. Ada-ada saja… hahaha….

Aku tak ingin sakit. Maka aku selalu paksakan diri untuk bisa istirahat. Sebisanya. Dulu aku susah tidur dalam keadaan duduk. Sekarang sudah bisa. Andai tidak tidur pun, aku akan pejamkan mata dan melemaskan badan. Jurus ini sedikit mengurangi rasa lelah. Aku tak ingin seperti Soep. Dia kedinginan. Padahal AC di bis tak terlalu besar. Aku tahu dia sangat capek. Selama perhelatan kegiatan kemarin, sangat jarang aku dapati dia. Sibuk menjadi panitia pastinya. Mungkin tidur pun kurang.

Bukan Burah Migran
Bukan Burah Migran

Sibuknya dia sudah dimulai sejak persiapan acara. Saat aku merapat ke RDI beberapa waktu lalu, dia pun disibukkan dengan urusan ini. Waktu berangkat kemarin, tak henti-hentinya dia menjawab pertanyaan dari peserta yang minta di pandu jalannya. Ada yang via sosial media, ada pula yang lewat telepon. Saat membagikan kaos pun terlihat muka kusut. Heran saja. Sesibuk apapun dia, tetap subur saja… hahaha….

Menu jengkol menjadi lauk santap malam di Ketanggungan. Aku orang kedua yang mengambil makan setelah Anton. Sejak masuk jalan tol. Aku sempat pejamkan mata. Terlelap. Saat mata terbuka dan masuk ke rumah makan, perut terus memberi kode. Shalat maghrib pun setelahnya. Katanya lebih baik mengingat shalat saat makan daripada mengingat makan kala shalat. Halah. Alibi… xixi….

Sebelum masuk jalan tol, aku lihat tulisan Ciwaringin selepas Majalengka. Wah, Ciwaringin bukannya wilayah kerja Pak Ujang. Sayangnya aku lupa nama desanya. Yang aku lihat sedang ada pembangunan jalan. Sepertinya jalan tol. Wah berapa luas tanah tergusur nih. Kalau tanah tandus sih nggak papa. Lha kalau itu tanah produktif, nggak rela.

Sayonara, Kawan
Sayonara, Kawan

Rupanya teman-teman belum puas acara narsisnya. Mereka bergantian minta di foto saat kami menunggu kru bis di gazebo. Pak Manto terlihat pose gaya pemain film India. Berganti-ganti gaya. Lucu. Apa ya berani di upload di facebook nantinya. Jangan-jangan seperti teman yang satunya… haha….

Jangankan perut kenyang. Perut kosong pun tadi aku bisa terlelap. Maka kenyang perut menambah mata mengantuk. Apalagi perkiraan waktu sejak dari Ketanggungan hingga Purwokerto tidak tepat. Perkiraan 2-3 jam perjalanan saat malam hanya ilusi. Jam-jam begini, Si Komo, julukan untuk truk-truk besar, akan berjalan seperti macan luwe. Akan sangat berhati-hati di turunan dan tikungan. Terengah-engah payah di tanjakan. Titik-titik itu di Songgom dan wilayah sebelum Kalisalak, Bumiayu kalau dari arah Tegal.

Jika benar, perkiraanku, sampai di perempatan Tanjung sekitar pukul 9 atau 10 malam. Aku masih bisa naik bis jurusan Bandung dan turun di Patikraja. Jalan kaki ke Mandirancan paling cuma 10 menit saja. Tak mungkin aku minta istri menjemput. Sudah terlalu larut.

Aku nikmati perjalanan yang pasti lambat saat berada di belakang si Komo, dengan tertidur. Aku tak merasakan goyangan dan getaran bis. Benar-benar nyenyak walau tanpa bunga tidur. Aku baru mendengar suara saat di Karanggude, Karanglewas bis berhenti menurunkan Pradna. Mata masih terpejam saat bis kembali berjalan. Tak tahu arahnya kemana, lewat mana pula. Yang aku tahu, saat bis berhenti di depan Balai Desa Karangnangka. Beberapa teman ikut turun guna mengambil tas di bagasi. Sejak itu aku tak tidur lagi.

Bu Romi dan Bu Cici turun di Beji. Kemudian bis mengantar Kang Yosep dan teman-teman dari Madiun ke Stasiun. Mereka putuskan menunggu kereta pagi yang akan membawa kembali ke Madiun. Sedang Bu Santi turun di perempatan Tanjung. Dia sudah minta di jemput disana. Penumpang yang tersisa diturunkan di perempatan Karangbawang. Dimana jalur ke selatan akan mengantar kita ke terminal Purwokerto. Rumah kontrakan Yossy tak jauh dari situ.

Aku sudah berniat sekedar mampir ke rumah kontrakannya. Dulu dia pernah mampir ke rumahku sepulang dari desanya Gentasari. Aku merasa perlu melakukan silaturahmi balasan. Kesibukannya yang sering keluar kota, membuatku susah menemui. Pernah suatu kali aku hendak mampir. Saat itu aku mau ke Sokaraja. Tapi sayangnya, jawaban yang aku terima, dia sedang keluar bersama istrinya. Ya, sudah. Kapan-kapan lagi.

Sebenarnya dia sudah memperkirakan untuk pindah rumah pada September kemarin. Sayang kontraktor yang dia sewa untuk membangun rumahnya di Sokaraja, tidak bisa tepat waktu. Pernah dia utarakan dulu, saat mengisi acara malam hari di Balai Desa Wlahar Wetan. Andai dia mau berganti kontraktor saat itu, bisa saja. Perjanjian antara dia dengan kontraktor memang hanya sampai September. Kendalanya bukan soal keterlambatan saja. Ia dan istri harus mengalokasikan dana untuk memperpanjang masa kontrak rumahnya kini. Tidak terlalu seberapa sih. Tapi kalau jauh-jauh hari sudah mengatakan bahwa kemungkinan hingga batas waktu belum bisa selesai, paling tidak dia dan istri sudah bersiap-siap.

Tidak egois menjadi salah satu ciri orang desa. Biar kata sudah dikecewakan dan memiliki hak untuk memutuskan kontrak, dia tak gunakan hak itu. Dia hanya tunjukkan pasal pada UU Perlindungan Konsumen pada kontraktornya. Tak perlu banyak kata. Kontraktor pun berjanji untuk segera menyelesaikan dengan memperbaiki beberapa titik yang Yossy tak puas dengan hasil kerja mereka.

Bayangkan saja jika Yossy meniru gaya artis, yang kena senggol sedikit saja emosi. Langsung panggil pengacara untuk ajukan gugatan ini itu. Dia paham undang-undang, bisa gunakan haknya sebagai konsumen, kalau dia gelap mata. Tapi tontonan perikehidupan yang sering ditayangkan di televisi harus di lawan. Salah satu bentuk perlawanannya ya seperti itu. Mau memaafkan dan memberi peluang orang lain membuktikan bahwa ia layak dimaafkan.

Pak Yoso dan Pak Kirman akhirnya pulang dengan meminjam motornya Yossy. Bu Purwati di jemput suami, dan Pak Sugeng di jemput pula oleh anaknya. Esok harinya, hanya aku dan Pak Manto yang berjalan kaki ke terminal.

Meski sudah lama tertidur, aku kembali terkapar. Padahal Yossy sudah membuatkan kami kopi dan menyetel televisi. Nonton bola. Skor yang mencolok sudah tak asik lagi.

Pagi-pagi benar setelah shalat subuh, aku dan Pak Manto berpamitan. Kembali ke rumah masing-masing. Bertemu dengan anak dan istri. Anugerah terindah yang aku miliki.

Terima kasih kawan-kawan. Semoga berjumpa pada kesempatan yang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here