Ramah dan Meriahnya Festival Destika

6
320
Silakan di nikmati

Edisi ke-2

Saat pulang nanti, aku pesan ke Yossy, sang Mastur, soal perlunya membawa Pak Kirman dan Pak Taryono. Perangkat Desa Suro Kec. Kalibagor yang mengaku sudah susah mengunyah makanan ini, ternyata masih semangat. Sedang Pak Taryono, tak menunjukkan sebagai seorang pejabat Dishubkominfo Kab. Banyumas. Low profile. Pasalnya kedua orang ini lah yang setia melayani kami saat di rumah kos.

Pak Kirman menanggalkan posisinya sebagai orang sepuh yang pantasnya dilayani. Demikian juga Pak Taryono, tak jumawa meski dia termasuk pejabat. Baik Pak Kirman maupun Pak Taryono sigap membuatkan kopi dan menggoreng tempe mendoan yang dibawa. Membuat adonan dari tepung beras, terigu, daun bawang, dan bumbu lainnya, terlihat amat trampil. Apalagi saat keduanya diminta memberikan short course mengolah mendoan di depan aula Balai Desa Tanjungsari, lihai. Keren. Banyak peserta yang terkesima. Apalagi ibu-ibu dan para gadisnya. Aku pun berujar, ini suami sayang istri apa suami takut istri… hahaha…

Ah, itu sih alibi ku saja. Kan untuk urusan domestik aku selalu gagap… hihi….

Pak Taryono & Pak Kirman
Pak Taryono & Pak Kirman

Malam itu rombongan sampai di Desa Tanjungsari sekitar pukul 12 malam. Tak bisa aku ceritakan perjalanan dari POM Bensin Ketanggungan hingga ke sana. Tertidur aku. Lamat-lamat terdengar saat di jalan tol ku rasa, Yossy minta di jemput di stasiun Cirebon. Mastur, julukan barunya adalah singkatan dari Mas Direktur, Direktur Gedhe Foundation. Apa yang kemudian terjadi, aku tak tahu. Yang jelas, saat kami turun, tak aku dapati Yosssy bersama kami. Rasa capek dan mengantuk karena tak sempat beristirahat sebelum berangkat, membuatku lebih memilih tidur. Apalagi sebenarnya rasa senut-senut itu masih sedikit membuat kaget. Rasa itu semakin menghilang di sana, karena senangnya bisa ikut acara ini.

Sebelum aku berangkat ke sini, ada tawaran dari kawan-kawan UPK di empat kabupaten. Mereka memberitahu dan mempersilahkan aku jika mau datang ke acara rakor UPK di kabupaten. Ada dari Magelang, Kebumen, Tegal, dan Brebes. Sayangnya aku tak bisa. Rencana mengikuti kegiatan ini sudah aku impikan sejak kepulangan dari Musda I UPK Jawa Barat di Kuningan beberapa waktu yang lalu. Aku sudah janji pada diri sendiri untuk bisa ke sana.

Selain untuk ikut mensukseskan acara itu, aku merasa perlu datang ke sana untuk bertemu Mba Grace dan Kang Tarjo. Membahas rencana yang sudah dibicarakan saat mampir dan bermalam di kantor Faskab Ciamis. Mengadakan even untuk memberikan banyak alternatif solusi exit strategy bagi UPK. Kemudian bertemu kawan-kawan di PNPM yang memiliki visi yang sama, salah satunya Adi Kalintang. FK keren nan gagah yang sekarang di lempar ke Kec. Cikijing Kab. Majalengka. Wah, andai si FT cantik itu datang dan sudi berdiskusi bareng, sepertinya dia akan terpesona dengan kita, Vroh Adi… wkwkwk….

Prosesi goreng mendoan
Prosesi goreng mendoan

Sesampainya di komplek Balai Desa Tanjungsari, kami di jemput oleh Kang Aboer dan Ima Rohima. Benar-benar profesional nih. Coba deh, mereka tetap jaga stan registrasi demi menerima tamu yang datang, padahal sudah larut malam. Setelah registrasi, kami disuguhi kacang dan jagung godog dengan minuman bajigur. Weh. Nylekamin pisan, kata Kang Eda.

Malam itu aku bersama Kang Budi Ragiel di bonceng Kang Aboer ke rumah kos Mba Grace, Mba Ade, dan Mas Sani di rumah nomor 20. Sedang kawan-kawan dari Banyumas ternyata menghuni rumah nomor 19, yang posisinya didepannya. Kang Dirin yang juga diantar ke rumah itu, malah tidur di rumah depan tanpa memberitahuku. Alhasil aku pun tidur di rumah nomor 20 itu.

Mungkin sudah berjodoh kali ya, aku bisa ketemu dengan Mas Sani (Yasir Sani). Sosok ini sudah aku kenal beberapa tahun yang lalu. Yossy dan Kang Budi sering bercerita. Lewat fesbuk pun komentar yang saling kami lontarkan seperlunya saja. Mungkin dia termasuk salah seorang yang penasaran dengan aksi UPK akhir-akhir ini. Sedikit mengkritisi memang, tapi itu baik menurutku. Lancar mengalir aku bercerita, ia pun menyimak. Soal pertemuan kami di Kemenkokesra, Aksi Damai di halaman Dirjen PMD, pertemuan di kantor itu pada tanggal 17 September, sampai bagaimana kondisi UPK sekarang.

Mas Sani termasuk orang yang lama menangani PNPM. Heran dia melihat perkembangan UPK dan kondisinya sekarang. Menurutnya, dengan kondisi demikian, memang sudah jauh berbeda dari konsep yang dia pahami. Model pelaporan UPK yang lebih mengarah ke model perbankan sangat disayangkan. Aku pun setujui itu. Aku bilang, jangan salahkan UPK semata dong, kalau sebagian dari kami gelap mata. Bayangkan saja, aset di UPK Kebasen misalnya, sudah 4,1 milyar. Jika aku bandingkan dengan BPR milik pemerintah, asetnya ini hampir separuh.  Jika mendasarkan pada standar perbankan, honor kami seharusnya tak jauh. Nyatanya kan nggak gitu.

Pemberdayaan yang dimaknai dengan mengarahkan UPK mencari surplus, meminimalkan kemacetan dan idle money, membuat kebanyakan teman-teman bergaya. Tak sedikit yang merasa aset yang ada seolah menjadi milik mereka. Keberhasilan menjaga dan mengembangkan aset karena capaian surplus seolah menjadi tolok ukur. Apalagi saat 12 Key Performance Indicator (KPI) UPK yang dijadikan patokan, 8 diantaranya soal keuangan. Sedang 4 berbicara soal pemberdayaan. Pikiran pragmatis jelas akan muncul bahwa UPK bisa dikatakan perform, jika hal-hal yang terkait dengan keuangan, khususnya UEP/SPP, beres.

Saat Mas Sani mempertanyakan kinerja FK, aku tak begitu saja menyalahkan mereka. Kasihan saja, banyak form-form yang harus mereka isi tiap minggunya. Termasuk melaporkan progres tahapan kegiatan. Padahal isi dari laporan-laporan yang harus diserahkan ke Faskab, sama dengan pembukuan di UPK. Perbedaan format isian itu yang membuat mereka sibuk. Tak lagi bisa fokus melakukan pendampingan dan turun ke lapangan. Soal fasilitator yang berangkat semau mereka sendiri, itu sih kasus per kasus saja ku rasa. Apa benar-benar nih? hihi….

Mba Grace dan Kang Budi bergabung bersama aku dan Mas Sani. Sedang Mba Ade lebih memilih tidur, sekedar bersalaman dan duduk sebentar. Capek mungkin. Untung saja aku sudah tidur kurang lebih 2 jam tadi di bis. Obrolan pun terus berlanjut hingga jam 3 dini hari. Aku tahu kalau Mas Sani ini asli Kebumen. Lha, tepatnya mana, baru tahu aku kemarin.

Aku pun gembira begitu tahu Mba Grace bisa menjadi tandem di kelas Pemberdayaan 2.0 besok. Beberapa hari yang lalu, via twitter, dia bilang jadwal di rubah. Aku sempat berpikir nanti ditemani siapa. Ah, ternyata bisa duet bareng nih. Aye.. aye….

Selepas shalat subuh, aku sempat bengong. Hari masih gelap, smartphone tak bisa digunakan. Saat itu aku pun belum tahu dimana teman-teman dari Banyumas bermalam. Aku kembali duduk di balkon. Sebelah barat tempat yang kami tiduri. Di tempat itu pula semalam aku ngobrol bareng Mas Sani, Kang Budi, dan Mba Grace. Ceceran roti dan bekas kopi yang masih berantakan, menarik semut-semut datang. Maka aku pun bersihkan tempat itu dari semut-semut.

Tak lama kemudian, aku dapati teman-teman sudah berkumpul di halaman rumah di seberang. Bergegas aku ke sana. Selain untuk bergabung, aku pun hendak bertanya dimana lokasi bis. Saat aku membonceng Kang Aboer, tas masih tertinggal di bis. Lagi pula, pagi itu aku ingin mencari kopi. Siapa tahu mereka sudah ngopi, atau mau ke warung mencari kopi.

Silakan di nikmati
Silakan di nikmati

Rumah kos bernomor 20 itu menghadap ke selatan. Di lantai atas ada 2 kamar tidur, ruang serbaguna, balkon, dan satu kamar mandi. Sedangkan di lantai bawah, ada satu kamar mandi dekat dapur dan ruang makan, kemudian satu kamar tidur bersebelahan dengan ruang tamu. Taksiranku, rumah yang sepertinya baru itu, berukuran 7 x 8 saja. Perancang rumah ini pintar menata ruangan. Dengan ukuran yang cukup sempit, bisa membuat rumah tetap terlihat rapi. Tuan rumah rupanya tidur di kamar bawah. Berbeda dengan rumah bernomor 19 yang ditempati teman-teman dari Banyumas. Tuan rumah tak berada di sana.

Rumah bernomor 19 dimana kami berkumpul pagi hari itu, halamannya terlihat kumuh. Dedaunan yang jatuh dari pohon mangga berserakan. Aku kira sih sering di sapu. Cuma rumput-rumput liar itu yang tak terurus (njambreng). Maka awalnya aku mengira itu rumah kosong. Aku tahu kalau dugaanku salah, saat ada cewek ABG yang masuk ke rumah. Kata Pak Yoso, dia membuka lemari dan mengambil baju. Apa mereka mengungsi, atau bagaimana. Tak ada jawaban, dan tak aku tanyakan pula ke panitia.

Bis yang membawa kami parkir tak jauh dari rumah kos. Di sana lah kami bersama-sama menurunkan bekal. Tempe mendoan yang masih mentah, tepung, daun bawang, klanthing, dan masih banyak lagi. Aku ambil tas gendong pula. Nah, pagi ini lah kisah Pak Taryono dan Pak Kirman dimulai.

Nylekamin pokoke
Nylekamin pokoke

Saat kami duduk-duduk di teras, Pak Taryono datang dari dapur membawa baki berisi gelas-gelas kopi. Rupanya tadi saat dia pergi ke warung, mencari kopi sachet. Kemudian memasak air di dapur dan menyeduh kopi. Pak Kirman pun tak kalah sigap. Tempe-tempe mendoan yang sudah dibawa, segera di sulap bersama campuran bumbu dan daun bawang, menjadi mendoan hangat. Makanan khas Banyumas yang tak pernah membuat kami bosan (mblenger). Selalu ada mendoan di setiap harinya… hehe….

6 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here