Ramah dan Meriahnya Festival Destika

0
119
Sambutan Bupati

Edisi ke-3

Masih ingat kasus penghinaan yang dilakukan oleh Florence Sihombing lewat media sosial beberapa waktu yang lalu? Tak mudah memperbaiki kesalahan meski Sri Sultan sudah memaafkan. Flo harus tetap menghadapi tuntutan dari banyak pihak karena ucapannya itu. Mulut mu harimau mu, begitu kata pepatah. Hanya karena tak mampu menahan emosi, mahasiswa S2 di universitas ternama itu harus berurusan dengan banyak pihak. Tingginya jenjang pendidikan, ternyata tak selalu sebanding dengan kepribadian seseorang. Miris.

Hebohnya kasus Flo mungkin jauh lebih populer dibandingkan dengan Nuron. Dia hanya lah seorang pemuda desa biasa. Tapi kicauannya melalui twitter sempat menghebohkan para pegiat desa. Kritik-kritik yang dia lontarkan melalui sosial media tersebut mampu menghadirkan wakil gubernur Jawa Barat ke desanya. Rajin dia mengunggah kondisi jalan di Desa Cikadu Kec. Cikadu Kab. Cianjur, beserta jalan penghubung wilayahnya dengan Bandung. Jembatan Cigugur yang rusak dan tanpa perbaikan membuat jalan yang seharusnya bisa dilalui kini rusak parah.

Karena kicauan Nuron
Karena kicauan Nuron

Risih sepertinya Pemprov Jabar, khususnya sang Gubernur dan Wakilnya. Mention berkali-kali yang dilakukan oleh Nuron membuat Pemprov tertarik ingin membuktikan sendiri. Nyatanya, Akang Deddy Mizwar pun sampai di sana. Jalan yang rusak itu dia lalui, hingga dia berujar, semestinya di rusak sekalian biar bisa dijadikan jalur off road. Walah.

Pomeo berita baik kalah dengan berita buruk berlaku di sini. Kasus Flo begitu menghebohkan, sedang keberhasilan Nuron serasa biasa saja. Dia hanya tenar di kalangan pegiat desa. Padahal apa yang dilakukan oleh Nuron jelas berguna bagi masyarakat. Kedua kasus tersebut hampir sama. Sama-sama memanfaatkan sosial media. Bedanya yang sana berakibat buruk, yang sini justru berdaya guna. Keren mana coba?

Berhasil menarik perhatian
Berhasil menarik perhatian

Saat kami berkumpul sambil menikmati mendoan di teras rumah kos nomor 19, Nuron pun datang. Dia di ajak Soep. Tentu apa yang sudah dilakukan telah menginsipirasi banyak pihak. Termasuk aku. Kehadirannya di sana membuat ku tambah bermotivasi. Nuron ternyata masih bocah. Posturnya yang kecil dengan kulit putih dan berwajah imut, tak menandakan dia seorang pejuang. Justru mirip anak mama. Penampilan memang terkadang menipu.

Keren, Bro!

Aku sudah minta pada Soep, biar si Nuron ikut mengisi kelasku nanti. Biar peserta tahu cara memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk pemberdayaan. Berinternet ria tak cuma untuk haha hihi. Ada manfaat lebih jika kita bijak menggunakannya. Rencana itu urung dilakukan, karena sasaran yang akan aku tuju tak ada. Materi yang disampaikan Mba Grace begitu menarik nanti. Sampai-sampai Mba Sunu terpancing ikut berbicara.

Di daulat berbagi
Di daulat berbagi

Keasyikanku ngobrol ke sana kemari bersama Mba Grace, Kang Yosep, dan yang lain membuatku ketinggalan acara pembukaan. Bersama Mba Grace aku bicarakan soal rencana kegiatan itu. Dia minta aku tuliskan deskripsi acaranya. Paling tidak agar apa yang akan disampaikan bisa tergambar dalam tulisan itu. Aku bilang, tugas kita adalah memberikan berbagai alternatif pilihan untuk teman-teman UPK. Jika diseragamkan seperti sekarang, tak mungkin. Kondisi masing-masing wilayah tentu berbeda. Semakin banyak alternatif yang akan dipilih nanti, tentu lebih baik. Mba Grace setujui itu.

Sayangnya aku tak bisa ngobrol bertiga bersama Mba Grace dan Kang Tarjo hingga acara usai. Yah, mending lah. Mba Grace sudah paham apa yang aku usulkan melalui konsep yang Kang Tarjo rancang. Kerja ini tak sendirian. Harus bekerjasama dan sama-sama kerja.

Bersama Kang Yosep, aku mantapkan lagi rencana pergi ke Madiun. Perbincangan untuk itu sudah mulai disinggung kala kami bertemu pada acara TOT Pendamping Desa TIK di Baturaden bulan lalu. Saat itu, kami bersepakat untuk mempertemukan aku dengan kawan-kawan UPK di sana. Lumayan panjang Kang Yosep memaparkan kondisi masyarakat di sana. Kesulitan-kesulitan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya memanfaatkan TIK, dia sampaikan. Mungkin kondisi UPK nya pun tak jauh berbeda. Sasaranku memang lebih terfokus pada perubahan paradigma pemberdayaan. Kontaminasi negatif aturan program sehingga membentuk pribadi-pribadi dengan tipikal officer harus di buang jauh-jauh.

Sayap kiri penuh
Sayap kiri penuh

Sebelum itu, aku pun sedikit berbicara dengan Amrizal soal bukunya Pak Sutoro Eko. Ada sisi menarik dalam buku ini, yakni soal intervensi pemerintah terhadap aturan adat. Sedikit sudah aku singgung pada edisi ke-1. Bagiku ini bagian dari dakwah. Aku ingat cerita soal kebiasaan masyarakat di jaman Khalifah Umar bin Khattab yang seolah mewajibkan mahar sejumlah 40 mata uang perak. Jika kurang dari itu, maka susah untuk bisa menikahi seorang gadis. Kebiasaan ini yang membuat banyak pemuda menunda pernikahan demi mendapatkan uang sejumlah itu. Kenyataan ini membuat sang Khalifah merasa perlu intervensi. Beliau kemudian melarang kebiasaan itu. Intervensi yang dilakukan demi meringankan beban para pemuda yang sudah saatnya menikah, tapi terpaksa harus menunda. Larangan itu hanya berlaku bagi mereka yang tak mampu. Sedang bagi mereka yang masih bisa memberikan mahar sebanyak 40 mata uang perak atau lebih, silakan saja.

Ini artinya sang Khalifah tetap menjunjung adat kebiasaan masa itu. Beliau hanya merasa perlu melakukan intervensi jika adat memberatkan masyarakat. Jika masih bisa dilakukan oleh masyarakat, mengapa harus dilarang?

Sayap kanan berjubel
Sayap kanan berjubel

Dari sekian banyak orang di rumah itu, tinggal aku yang belum mandi. Padahal aku tak bisa mandi cepat. Terlebih saat jongkok di dalamnya, aku harus bersabar. Teman-teman di luar sudah berkali-kali memanggilku. Tak tega sepertinya mereka. Saat aku masih di dalam, ada yang berteriak untuk meninggalkan aku. Aku persilakan. Tapi mereka masih setia menungguku.

Sesampainya di lokasi kegiatan, mataku melihat sederetan stan pameran. Aku belum sempatkan mampir ke sana. Kami menuju ke panggung utama yang letaknya di belakang balai desa. Balai Desa Tanjungsari menghadap ke utara dengan halaman yang luas. Sebelah barat persis ada aula pertemuan yang berdempetan dengan TK. Di depannya ada masjid Jami’, tempat kami shalat Jum’at nanti. Sebelah timur ada gedung sekolah, yang di sebelah utaranya ada pasar desa. Balai Desa itu sendiri terletak di pinggir jalan raya yang menghubungkan Majalengka dengan Ciamis dan Kuningan. Ramai jalur lalu lintasnya. Setara keramaiannya dengan jalan raya di Patikraja.

Sambutan Bupati
Sambutan Bupati

Aku sudah dua kali ini ke Majalengka. Pertama saat mampir ke UPK Sindang, bulan kemarin. Aku ikut rombongan teman-teman dari Ciamis sepulang dari Musda I Assosiasi UPK Jabar. Saat itu, Kang Aboer sengaja memandu kami melewati jalan di sebelah timur pasar desa. Ia tunjukkan tempat yang akan digunakan untuk acara ini. Hanya saja waktu itu sekedar lewat.

Takjub aku melihat antusias peserta dan penduduk sekitar mengikuti acara pembukaan Festival Destika 2014 ini. Hampir semua tempat duduk yang disediakan penuh. Banyak yang duduk, jongkok, dan berdiri bersandar pada tembok gedung sekolah di sebelah timur panggung utama. Di barisan belakang kursi-kursi pun banyak yang rela berdiri. Aku tetap memilih berdiri bersama peserta yang lain. Aku ingin berbaur dan bersalaman dengan mereka, teman-teman di dunia maya. Ini saatnya kopdar. Lambaian Mba Grace sembari menunjukkan tempat duduk yang kosong pun tak aku terima. Aku masih mencari-cari teman-teman lain, utamanya sesama UPK. Terlihat beberapa saja.

Panggung utama di belakang balai desa sangat luas. Aku baru ngeh saat malamnya. Penataan panggung sengaja demikian guna pentas seni. Panggung yang didepannya berderet kursi-kursi penonton, dipayungi oleh tarub seperti orang hajatan. Kursi-kursi yang dibalut kain sebagai pemanis hanya dua baris pertama saja. Kursi di baris berikutnya hingga ke belakang, telanjang. Karpet merah dan podium yang diletakkan di panggung pun biasa. Apik memang, tata letak bunga, banner, dan dua layar di kanan dan kiri panggung. Alas kursi depan panggung tak ada, kaki langsung menapak ke rumput atau tanah.

Prasmanan
Prasmanan

Lihat pula para pesertanya. Hampir tak bisa dibedakan mana orang kaya, mana orang miskin. Mana pejabat, mana rakyat bisa. Penampilan mereka kebanyakan sederhana. Tak sedikit yang hanya menggunakan sandal biasa, dan berkaos oblong. Seragam merah dan biru dari relawan TIK bergerombol di beberapa titik. Seragam lain yang terlihat cuma anak sekolah dan mungkin para ibu-ibu PKK. Aku pun dengan percaya diri memakai sandal bandol, produk asli Banyumas dari Karanglewas.

Tak jelas apa sambutan dari perwakilan Kemenkominfo. Mata ku masih jelalatan mencari teman-teman di dunia maya. Ternyata ada Kang Maman, Kang Yanto ada di depan sana, dekat panitia berseragam relawan TIK. Ada pula rekan-rekan dari Dedemit Ciamis. Saat bertemu Kang Tarjo, aku dikenalkan dengan relawan TIK dari Sukabumi. Mereka bekerjasama dengan perusahaan minyak asing untuk mendampingi desa-desa di sana. Dulu mereka adalah KPMD.

Wow!

Setelah puas ngobrol-ngobrol dengan banyak pihak, aku mulai menyimak penuturan Pak Sutrisno selaku Bupati Majalengka. Bangga beliau sampaikan tentang kabupaten yang dipimpinnya. Beliau paparkan potensi-potensi khususnya pertanian yang ada di Majalengka. Termasuk saat menceritakan rencana pembukaan bandara internasional Kertajati. Bandara ini akan mempermudah akses transportasi masyarakat luar yang hendak berkunjung ke Majalengka dan sekitarnya. Oleh karenanya, beliau berharap dengan adanya Festival Destika ini, akan mempermudah promosi potensi desa-desa keluar, sehingga untuk biaya promosi akan lebih efisien.

Festival DesTIKa yang diselenggarakan oleh Kemkominfo bekerjasama dengan Gerakan Desa Membangun (GDM) ini yang kedua kalinya di gelar. Pada agustus 2013 yang lalu, acara serupa di gelar pertama kali di Desa Melung Kec. Kedungbanteng Kab. Banyumas. Sukses dengan acara itu, maka perlu diadakan serupa. Kali ini menggandeng Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Majalengka dan PNPM Support Facility (PSF).

Perhelatan akbar tingkat nasional seharusnya tak identik dengan fasilitas glamour. Lebih menekankan pada esensi dan bukan gengsi. Sejatinya jika kita mau berhemat itu bisa saja dilakukan. Momen-momen akbar bisa ditekan biaya penyelenggaraannya. Maka model homestay yang dilakukan oleh panitia dan tidak menggunakan fasilitas hotel berbintang, ternyata lebih asyik. Para peserta menginap dan membaur dengan masyaarakat setempat. Ada ruang-ruang kosong dimana akan terjadi interaksi antara peserta dengan penduduk. Interaksi ini dimaksudkan agar terjadi saling tukar informasi. Bukan saja antar peserta, tapi juga antara peserta dengan penduduk. Di samping menghemat biaya penginapan.

Bayangkan saja jika acara yang dihadiri oleh ratusan orang ini diselenggarakan dengan menggunakan fasilitas mewah. Berapa biaya yang harus dikeluarkan. Siapa yang diuntungkan. Tentu pemilik hotel-hotel berbintang. Uang tak mengalir ke masyarakat, tapi ke para pengusaha. Jika di telaah lebih dalam, ini lah protes halus dengan sindiran. Tak cukup berteriak-teriak menuding pemerintah boros anggaran, tapi memberikan contoh nyata.

Penghematan lain yang dilakukan ialah dari sajian makanan. Memberdayakan perempuan untuk mengolah makanan khas orang desa terbukti lebih ampuh. Peserta tak disuguhi makanan-makanan yang kadang tak cocok di lidah jika dilakukan di hotel-hotel berbintang. Enaknya makanan itu bukan dari mahal tidaknya bahan pembuatnya. Terbiasa tidaknya lidah mengunyah makanan itu tolok ukurnya.

Dengan model penyelenggaraan acara yang seperti ini, seakan semua serempak berseru:

“Begini lho, cara menghemat anggaran…!”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here