Ramah dan Meriahnya Festival Destika

2
92
Gayamu lho....

Edisi ke-4

Trenyuh aku mendengar lagu Bagimu Negeri. Lagu yang diperdengarkan saat mengiringi perwakilan relawan TIK Majalengka menaiki panggung utama. Acara pengukuhan RTIK Majalengka yang dipandu oleh Kakak Fajar Eridianto ini, membuatku terbawa nostalgia. Rasa bangga dan haru mengiringi ku dulu. Saat penerimaan Dewan Penggalang di SMP dan Bantara di SMA. Pengukuhan seperti seolah mentasbihkan diri sebagai warga yang harus bekerja lebih. Pernah aku menginginkan seragam itu. Bukan soal kebanggaan saja. Seragam itu, seperti seragam pramuka dulu, seolah menuntunku untuk bisa memberikan karya-karya terbaik bagi masyarakat. Janji yang terucap bagai mantera yang mengalir di seluruh aliran darah. Menjadi penyemangat dan pengingat akan kewajiban berbakti kepada sesama.

Sisi lain kehidupan masyarakat Indonesia yang seolah tak ter-ekspose. Tontonan badut-badut politik di layar kaca, serta gosip-gosip artis yang semakin di puja, mengesampingkan kenyataan baik di masyarakat. Masih banyak manusia-manusia Indonesia yang peduli dan menginginkan Indonesia menjadi negara berwibawa dengan kualitas SDM-nya. Perjuangan mengembalikan identitas asli orang Indonesia. Senang berbagi, saling menolong, semangat gotong royong, terus dan akan terus dilakukan oleh pegiat-pegiat desa yang berkumpul di sini.

Pengukuhan RTIK Majalengka
Pengukuhan RTIK Majalengka

Selesai acara pembukaan kegiatan yang ditandai dengan pemukulan kenthong oleh Bupati, dan penyematan pin relawan, peserta pun duduk mengelompok sendiri-sendiri. Masing-masing berkumpul dengan komunitasnya. Ku lihat di depan, Mas Aris sedang berbincang-bincang bersama kawan yang seragam batiknya sama. Rasa penasaran yang sudah aku simpan sejak Festival Destika pertama dan tadi malam, ingin aku sampaikan. Kalau namanya aku rasa tak asing, Aris Kurniawan.

Benar dugaanku. Dia itu “Arabeh”. Nama beken saat SMA. Kalau lihat foto jaman dulu dan sekarang, aku yakin siapa pun akan pangling. Perut sedikit maju dengan tubuh berisi, beda 180 derajat dengan posturnya dulu. Amat sangat langsing. Wajahnya pun tirus saat itu. Begitu juga dengan kulit bersihnya kini. Meski tak memakai krim pemutih kayaknya, tampilannya beda jauh. Foto profil di twitter dan fesbuk, tak jua mampu mengembalikan ingatanku. Semalam saat dia bersalaman dengan Kang Budi dan Pak Taryono, aku ingat-ingat, dia termasuk gengnya siapa.

Beda satu tahun kelulusan, berarti dua tahun kami bersama. Ada beberapa hal yang masih aku ingat tentangnya, selain keadaan fisik. Dia termasuk siswa yang jago basket. Tak bisa slum dunk. Lebih sering lay up dan lemparan three point. Saat istirahat pun, lapangan basket sering dia sambangi. Apalagi waktu ekstrakurikuler basket. Lapangan basket ibarat panggungnya.

Ini panggungmu, Mas Bro
Ini panggungmu, Mas Bro

Seingatku, aku tak pernah ngobrol dengannya. Tegur sapa pun kayaknya nggak pernah. Padahal dia sempat menjadi pendamping regu ku saat Persami pertama. Itu pertama kali aku lihat sosok yang dari bahasa tubuhnya terkesan gemagus… hehe….

Seingatku dia pendiam. Entah kalau sudah kumpul bareng gengnya.

Kejadian lain yang aku ingat, saat Liga SMADA. Waktu itu, kelasku (1-4) satu-satunya perwakilan dari kelas satu yang masih bertahan di putaran kedua. Semua kelas satu rontok pada putaran pertama. Liga SMADA adalah kegiatan rutin tahunan. Ada 20 tim, terdiri dari 11 tim kelas dua, dan 9 tim kelas satu. Pada putaran kedua itu, kelasku harus menghadapi kelas (2-1). Salah satu pemainnya, ya Mas Aris itu. Pada babak pertama, kelasku kalah dengan skor 2-1. Aku sendiri baru masuk pada babak kedua. Saat itu bertabrakan dengan kegiatan Diklat PMR di PMI. Masuknya aku ternyata menambah kekalahan, hingga skor akhir menjadi 4-1. Kalah teknik dan postur. Hanya ada 2 orang di tim kelasku yang posturnya besar. Agung Aji yang berposisi sebagai kiper dan Tino sebagai bek tengah. Hadeuh.

Ada pertanyaan yang cukup menggelitik yang sampai sekarang tak bisa terjawab, dan tak perlu jawaban. Kok bisa ya, dulu dia punya pacar cantik… hihi….

Sori, Mas Bro. Kalau ada yang komplein, nanti tak hapus bagian ini.

Rupanya 3 potong mendoan dan segelas kopi membuatku lupa sarapan. Perut mulai bertanya saat itu. Aku pikir pasti panitia menyediakan makan pagi. Tapi dimana ya?

Lalu lalang peserta dan penduduk meramaikan lokasi kegiatan. Stan-stan pameran penuh. Apalagi setelah acara pembukaan tadi, Pak Bupati dan para pejabat lain berkenan meninjau lokasi pameran. Saling sapa, senyum, dan berkenalan menjadi aktifitas yang paling sering ku lihat. Karena tuntutan perut itu, aku putuskan keluar dari area kegiatan. Tujuanku ialah warung makan. Kebetulan aku lihat si Krishna dan Naufal berjalan beriringan dengan maksud yang sama. Sarapan. Ini bukan salah Anda, Mpok Ela Nurlela… ahaha….

Salah satu stan pameran
Salah satu stan pameran

Ternyata di warung yang kami tuju, ada Pak Yoso dan Pak Taryono. Mereka pun sedang makan pagi. Sedang teman-teman dari Banyumas, tadi ku dengar berencana makan bakso. Tapi tak tahu dimana. Alhamdulillah, perut terisi. Warung makan sederhana dengan menu ala kadarnya, cukup murah. Saatnya kembali ke masjid. Ikut shalat Jum’at di sana.

Lagi-lagi roaming. Pengumuman dan khotbah menggunakan bahasa Sunda. Hanya beberapa kata saja yang aku tahu. Sekilas maksud yang ku tangkap ialah penjelasan tentang kegiatan festival ini. Kegiatan ini dihadiri oleh peserta dari penjuru nusantara. Karena kegiatan ini berskala nasional. Lha kok nggak pakai bahasa Indonesia saja, Mang?

Aku baru ketemu Juniar setelah itu. Bersama teman-teman dari Ciamis, dia baru datang sebelum shalat Jum’at. Aku masih punya hutang tulisan buatnya. Perjalanan mengikutinya blusukan ke kebun dan sawah guna melihat bagaimana ia memberdayakan kelompok tani di desanya, belum aku publikasikan. Materi dan sekumpulan foto-foto yang aku perlukan sudah dia penuhi. Aku sih percaya kalau hutang itu sudah tak dia ingat-ingat. Sudah lupa kayaknya.

Soal rencana kedatanganku, mampir terlebih dahulu ke UPK Pamarican, ia tanyakan. Aku katakan, rencana itu batal. Rombongan dari Banyumas yang aku kira akan berangkat hari Jum’at, ternyata lebih awal. Maka aku rasa lebih baik bergabung saja. Katanya, Mang Ojo (Kang Tarjo) sudah menyiapkan oleh-oleh buatku. Termasuk tukang pijat refleksi yang aku pesan. Hihi….

Keramahan lain aku temui saat aku bergabung dengan Kang Yosep dan relawan TIK dari Bojonegoro. Apalagi salah satu dari mereka adalah KPMD. Kami berbincang-bincang tentang ke-PNPM-an. Sampai Kang Yosep meminta mereka memfasilitasi ku datang ke sana. Seakan kami akrab layaknya teman lama. Padahal baru kali itu kami bersua.

Peluncuran rintisan Pendamping Satuan Karya Telematika untuk kegiatan kepramukaan menjadi salah satu agenda sebelum shalat Jum’at tadi. Pemberian penghargaan “DesTIKa DESA.ID. Awards 2014″ pun dilakukan.

Penerima DesTIKa Awards
Penerima DesTIKa Awards

Acara selanjutnya kuliah umum dari Pak Onno W. Purbo. Bapak yang sedang dicalonkan menjadi menteri Kominfo ini berjalan mendekat ke balai desa. Celana putih dengan baju batik dengan warna dominan hijau, hanya pakai sandal. Lagi-lagi, tokoh keren yang low profile. Akrab dan tanpa risih dia berbincang-bincang dan bercanda dengan para penggemarnya. Aku tahu nama beliau sudah lama. Hanya saja, aku belum bisa mengikuti kuliah-kuliahnya baik melalui tulisan maupun video yang di unggah. Notebook satu-satunya yang aku miliki belum berbasis open source. Kendala utama karena faktor pekerjaan. Software yang dibutuhkan masih harus pakai yang berlogo jendela.

Dulu setelah mengikuti kegiatan Pemberdayaan 2.0 yang diselenggarakan oleh RBM Kab. Banyumas di Desa Melung, aku sempat bermigrasi. Sayangnya dokumen untuk pelaporan hasil kerja, tak bisa dilakukan melalui lembar kerja di open source itu. Butuh waktu agak lama untuk menyusun rumusan ulang. Akhirnya sampai sekarang aku masih menggunakan software berlogo jendela itu. Aku terus berharap bisa bermigrasi sepenuhnya suatu saat nanti. Semoga.

Selain acara di panggung utama, berlangsung pula kegiatan pararel di ruang-ruang kelas. Ada kelas Ekonomi Kreatif dan Pemberdayaan Buruh Migran, Aplikasi E-Office, Pendampingan Anak di Era Digital, dan Branding dan Marketing Produk Desa. Kelas-kelas tadi menempati ruang kelas di MTs di sebelah timur panggung utama. Khusus untuk kelas Branding dan Marketing Produk menempati ruang GOR Desa Tanjungsari. Tertarik sebenarnya untuk kelas ini. Ingin tahu aku bagaimana mengemas produk desa agar punyai nilai pasar. Tapi, kelas Pak Onno lebih menarik menurutku. Apa karena sosoknya? Mungkin.

Yossy yang didaulat menjadi moderator seakan menjadi orang gaptek. Padahal siapapun tahu, dia itu cerdas. Tak mungkin dia tidak tahu teknologi yang akan diperkenalkan Pak Onno. Gaya DDR-nya tak lain untuk memancing suasana segar saja. Seorang moderator seharusnya memang begitu. Pura-pura nggak tahu, padahal sudah belajar lebih dulu. Cuma heran, kenapa mesti pakai kacamata hitam. Kalau dulu beralasan sakit mata ya wajar saja. Apa sekarang matanya merah karena kurang tidur? Tak tahu lah. Mungkin itu gayanya.

Gayamu lho....
Gayamu lho….

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here