Ramah dan Meriahnya Festival Destika

2
153
Tower hidup... hihi....

Edisi ke-5

Ingatanku berkelana menyusuri jalan menuju grumbul Majegan dan Curug Bunglon di Desa Kaliwedi dan Sawangan. Ada sang abdi masyarakat sejati di sana, Nini Tayem. Nenek yang sudah puluhan tahun menjadi tenaga bantu persalinan (dukun bayi) ini tak bisa menikmati masa senjanya dengan harta berlimpah. Pengabdiannya benar-benar tulus. Meski menjadi satu-satunya tenaga ahli pada jamannya di seputaran sana, ia tak lantas memanfaatkan guna menumpuk-numpuk harta. Setiap kali ia dimintai bantuan tenaga oleh masyarakat di grumbul Majegan, Legok, Curug Bunglon, dan bahkan Karangbanar di Desa Kalisalak, tak pernah pasang tarif. Tempat-tempat yang aku sebutkan tadi hingga kini masih sulit akses jalannya. Hanya grumbul Karangbanar dan Legok yang sudah lumayan bagus akses jalannya. Itu pun jika kita naik ke sana dari Kebasen. Jika turun dari grumbul Curug Bunglon, dimana Nini Tayem tinggal, masih sama sulitnya.

Cerita tentang Nini Tayem, pernah aku ulas dan posting di http://banyumasmandiri.or.id/2013/02/04/nini-tayem-abdi-masyarakat-sejati/

Untuk sampai ke grumbul Curug Bunglon, kita akan melewati jalan Desa Sawangan yang sangat tak bersahabat. Hampir satu kilometer, jalanan menanjak dengan konstruksi jalan makadam yang harus dilalui dengan sangat hati-hati. Sebelah kanan, ada tebing yang bisa tiba-tiba ada batu yang jatuh mengelinding. Sedang di sebelah kiri ada jurang yang dalam. Jalan itu sudah diperlebar dengan dana BLM PNPM tahun 2009. Jalan setapak yang lebar awalnya cuma satu meter, kini sudah lebih dari 2,5 meter. Pelebaran jalan tak bisa dilakukan dengan alat berat. Bebatuan di tebing-tebingnya, hanya bisa di kikis dengan peralatan manual. Bersyukur aku menjadi salah satu saksi semangat masyarakat kala itu. Pak Kadus tak hanya memberi komando untuk kerja bakti, ia pun turun tangan ikut memecahkan batu.

Bareng Nini Tayem
Bareng Nini Tayem

Sekarang, jalan itu kembali tak bisa dilalui, walau menggunakan sepeda motor sekalipun. Hanya bisa dilakukan dengan jalan kaki. Pasalnya, jembatan di 300 meter pertama sejak titik nol pelebaran jalan, ambrol. Hantaman air bah dari tebing menghancurkan dan menghanyutkan bangunannya. Butuh sentuhan teknologi dengan peralatan yang lebih canggih dan dana yang tak sedikit.

Jalan lain yang bisa ditempuh yakni dengan memutar melalui grumbul Legok. Hingga kini aspal jalan baru sampai di grumbul Majegan yang masuk wilayah Desa Kaliwedi. Itu pun belum semua. Masih harus disambung melalui jalan makadam dengan batu-batu besarnya. Kita mesti ekstra hati-hati. Aku tak berani berboncengan ke sana. Pintar-pintar memilih jalur, agar ban motor tak bocor. Persediaan bensin di tangki pun perlu diperhitungkan. Jika tidak, bersiaplah untuk mandi keringat menuntunnya nanti, jika ban bocor atau bensin habis.

Untuk sampai ke grumbul Curug Bunglon, aku dan teman-teman tak berani naik dengan motor. Motor akan kami parkir di salah satu rumah warga di Majegan. Setelah itu jalan kaki sepanjang 800-an meter dengan sudut elevasi hampir 45 derajat. Pada tahun 2013 yang lalu, jalan itu diperbaiki pula dengan dana BLM PNPM. Konstruksinya masih makadam. Hanya 50 meter diatas sana yang di rabat, dengan pertimbangan kecuraman jalan yang ekstrim.

Ada solusi lain sebenarnya. Yakni masyarakat harus naik dulu hingga Desa Binangun Kec. Banyumas, kemudian menyusuri jalan aspal hingga ke Karangbanar Desa Kalisalak, baru masuk ke Desa Sawangan. Lebih jauh lagi. Tapi setelah di Desa Binangun, jalannya lebih bagus. Sudah beraspal pula. Jalan menuju ke Desa Binangun dari rumah Nini Tayem, masih berupa makadam dengan jarak sekitar satu kilometer.

Biasanya, masyarakat di grumbul Curug Bunglon itu akan mendatangkan matrial bangunan dari Banyumas. Itu lebih realistis. Kesulitan dropping matrial hanya di satu kilometer dari Desa Binangun ke lokasi. Sejak dari Desa Binangun kemudian ke Pasinggangan, lalu turun ke Banyumas, jalan aspalnya sudah bagus. Ke pasar Banyumas pula mereka akan menjual hasil pertanian, karena lebih dekat. Tapi bayangkan saja kesulitan mereka kala sedang berurusan dengan administrasi yang harus berhubungan dengan balai desa. Susahnya minta ampun.

Kondisi yang aku gambarkan adalah sekarang. Coba kita bayangkan apa yang terjadi pada masa-masa sebelumnya. Apalagi listrik desa baru masuk pada pertengahan tahun 2013 yang lalu. Permasalahan lain yang masih sulit mencari solusinya ialah air bersih. Masyarakat grumbul Curug Bunglon masih harus menyalurkan slang-slang dari sumber mata air di Desa Binangun.

Ingatanku ini muncul saat Pak Onno menyampaikan materi tentang internet desa. Pelopor dunia IT yang menggagas program RT/ RW-Net ini adalah orang yang berjasa dengan adanya internet di Indonesia. Bapak yang senang berbagi ilmu untuk mencerdaskan bangsa dalam dunia IT ini banyak berpihak pada kesejahteraan masyarakat kecil. Melalui cyberlearning.web.id, Pak Onno menyebarkan ilmunya secara gratis. Jarang-jarang seorang pakar mau memberikan ilmunya secara cuma-cuma.

Tower hidup... hihi....
Tower hidup… hihi….

Aku tak begitu ngeh dengan penjelasan beliau. Mengingat nama alat-alatnya saja aku tak bisa. Meski pada prinsipnya paham bahwa jaringan internet yang belum banyak merambah ke desa-desa, masih bisa diakali. Teknologi yang murah itu pun masih mahal sebenarnya. Untuk router atau terminal, yang berfungsi untuk menyalurkan dan menyebarkan sinyal yang di tangkap melalui modem, pun harganya tak sedikit. Tapi mau bagaimana lagi. Itu saja sudah paling murah.

Dari router bisa disambungkan dengan modem. Jika sinyal masih kurang kuat, bisa ditambah dengan antena. Kekuatan sinyal yang bisa di tolerir masih hitungan meter. Jelas ini masih belum cukup. Maka, Pak Onno menambahkan sebuah alat lagi yang pancaran sinyalnya masih bisa di tangkap dengan wajan. Lalu disambungkan dengan cara begitu seterusnya. Walah jan, susah menyebutkan nama dan mendeskrispikan penjelasannya. Padahal untuk mendukung tulisan ini, aku sudah banyak cari referensi. Mencari banyak informasi dengan berselancar di internet.

Tidak praktis. Itu yang masuk di otakku. Model-model penguatan sinyal itu terlalu ribet. Belum lagi soal keamanan dan jarak pancar dimana pada lokasi-lokasi sulit yang penuh dengan pohon-pohon tinggi misalnya. Aku hanya fokus pada pertanyaan yang aku ajukan saja. Pertanyaan lain, bingung apa maksud dan jawabannya. Belum puas sebenarnya. Tapi jika ditanyakan lebih lanjut, dan kemudian Pak Onno mengeluarkan jurus-jurus lebih spesifik dengan bahasa teknis, belum tentu aku mudeng juga. Ahaha….

Aku sih tetap yakin, ada teknologi yang lebih canggih dari itu. Hanya saja, aku berpikir, teknologi yang lebih canggih jelas memakan banyak biaya. Orang-orang desa sulit menjangkaunya.

Maka dalam pikiranku hanya satu: Dukung orang ini jadi Menteri Kominfo!

Beres urusan.

Presentasi
Presentasi

Kuliah umum dari Pak Onno menarik. Penjelasannya memberikan pencerahan, utamanya bagi pegiat-pegiat desa yang membutuhkan layanan internet. Bahwa tak ada yang susah. Yang penting mau belajar dan menguasai ilmunya. Sesi pertanyaan tak bisa dibuka lagi mengingat waktu mendekati jam 3 sore. Padahal, meski sudah tak ada hadiah, masih banyak yang mengacungkan tangan tanda ingin bertanya. Acara pendalaman materi ini dan kelas-kelas lain yang sudah di susun panitia telah menanti. Dimana aku mesti mengisi salah satu kelas bersama Mba Grace.

Aku punya Yossy, Soep, Anton, dan Pradna. Akan aku tanyakan lebih lanjut pada mereka, jika aku membutuhkan keterangan lebih mendalam tentang materi ini. Ya mbok, Bro?

Teknologi penguatan sinyal ini diperlukan untuk wilayah-wilayah seperti di Curug Bunglon, Majegan, dan beberapa grumbul lain di Kecamatan Kebasen. Masih ada grumbul Semingkir dan Celiling di Desa Kalisalak, Siluk di Desa Kebasen, serta beberapa tempat lain di Desa Karangsari, Bangsa, dan Adisana.

Namun sebelum teknologi ini masuk, yang perlu aku lakukan adalah penyadaran. Memberi pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya teknologi, baik buruknya untuk mereka. Utamanya kepada para Kades yang belum paham tentang ini. Andai saja pemerintah berbaik hati mendukung program pengembangan jaringan internet, sedang masyarakat masih awam soal ini, ya hasilnya tidak maksimal. Terbukti dari beberapa program Kemenkominfo, seperti Pusat Layanan Internet Kecamatan di tempatku. Mangkrak. Hanya digunakan oleh pengelolanya saja. Masyarakat tidak memanfaatkan karena merasa tidak butuh.

Asik, entuk hadiah
Asik, entuk hadiah

Aku dan Mba Grace bertugas mengampu kelas C. Materi yang disampaikan tentang Pemberdayaan 2.0. Materi ini pernah disampaikan oleh teman-teman GDM pada acara pelatihan BKAD dan UPK di Desa Melung, awal tahun 2013. Salah satu hasilnya ialah adanya website www.banyumasmandiri.or.id, yang hingga kini aku lebih banyak berkontribusi. Jadi, materi ini sekedar pengulangan saja. Di kelas lain, di isi materi Sistem Informasi Desa, Optimalisasi Website Desa, Internet Sehat dan Aplikasi Pramuka, serta pendalaman materi dari Pak Onno.

Jika melihat materi-materi yang disampaikan, kemudian disusun klaster-klaster, maka kelas yang aku ampu, masuk kategori kelas paling awam. Kelas ini tidak berbicara soal teknis. Lebih kepada bagaimana mengubah pola pikir para pelaku agar bisa melakukan kerja-kerja pemberdayaan sesuai keinginan masyarakat. Model-model pendampingan yang menempatkan posisi pemberdaya sebagai mandor, manajer, eksekutor atau yang lain, harus dihilangkan. Ini merugikan masyarakat. Model pendampingan seperti ini, justru akan menimbulkan ketergantungan masyarakat kepada pendamping. Tujuan masyarakat mandiri akan sulit dicapai.

Ingin sebenarnya aku mengintip materi yang disampaikan di kelas C. Dimana Bu Santi Herlina mengampu. Aku ingin lihat gayanya berbicara di depan kelas. Bukan tidak yakin dengan kemampuannya. Gayanya yang selama ini aku tahu, kok tidak mirip seorang orator. Kalau dikatakan provokator, lha iya. She is so cool. Maka yang ingin aku lihat kala dia memberi materi adalah karo mesam mesem apa menjap menjep… hihi….

Kelas paling awam yang aku ampu sudah aku tebak apa yang akan terjadi. Sepi peminat. Aku sudah tidak berharap banyak dengan kehadiran teman-teman UPK di Jawa Barat. Meski sudah jauh-jauh hari aku mengajak mereka hadir di sini. Termasuk saat aku dengar kabar bahwa mereka akan mengadakan kegiatan di Cingambul. Dimana besoknya aku menculik Mas Sani ke sana.

Dulu aku bayangkan, teman-teman UPK akan hadir. Interaksi selama 2 hari antara mereka dengan pegiat-pegiat desa yang lain, akan banyak membantu. Terlebih untuk perumusan kebijakan paska program. Mungkin para pegiat desa yang hadir di sini tidak memiliki kewenangan apa-apa terhadap pelestarian aset. Akan tetapi, kedekatan mereka dengan para pemangku kebijakan, akan mempermudah perjuangan penyelamatan aset itu. Ada Yossy dan Kang Budi yang bisa masuk ke hampir semua kementrian yang berhubungan dengan masyarakat desa dan pembangunan kawasan tertinggal. Mas Sani, Mba Grace, dan Mba Ade pun demikian. Informasi berimbang sangat mereka butuhkan untuk membantu bersuara di sana. Belum pegiat-pegiat desa yang lain.

Menjalin hubungan baik dengan mitra strategis, meminjam istilah dari Mas Sani, harus dilakukan. Perjuangan itu tak bisa dilakukan sendiri. Menggandeng mereka untuk mendukung perjuangan ini, mutlak di lakukan. Pertanyaan yang sulit di jawab saat dengan berbusa-busa aku menceritakan tentang UPK, adalah:

“Itu kan kamu. Mana UPK yang lain?”

Andai saja, masing-masing UPK memiliki website sendiri guna menyuarakan aktifitas pemberdayaan yang selama ini dilakukan, aku masih bisa menjawab. Terus terang, aku kesulitan pada sarana. Aku hanya bisa menunjukkan website yang aku pegang, yakni banyumasmandiri, atau milik pnpmmajalengka. Sedangkan yang lain, aku tak punya bukti.

Bukti-bukti yang tergambar dalam tulisan dan foto-foto sangat berarti. Para pemangku kebijakan di Jakarta akan melihat secara nyata kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan, tanpa harus berkeliling di setiap kecamatan. Praktis. Hanya buka alamat-alamat website saja. Sayangnya ini pun belum bisa dilakukan. Meski sejak dideklarasikan di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, aku sering sampaikan pentingnya website. Konten-konten di website akan banyak menghilangkan stigma negatif terhadap UPK. Sering aku sampaikan kala berkunjung ke banyak tempat dimana mereka berkumpul, atau via sosial media.

Bukan sedang mengunggul-unggulkan website. Tapi memang demikian kenyataannya. Perjuangan teman-teman perangkat desa dan pegiat-pegiat desa hingga dikeluarkannya UU Desa, pun tak jauh-jauh dari cara demikian. Tidak cukup dengan berpanas-panasan dan berteriak lantang saat demo. Tidak cukup dengan berdebat di sosial media. Tapi menunjukkan kerja-kerja positif yang terdokumentasi dalam dunia maya itu perlu.

Mengapa harus website, apa tak cukup dengan facebook. Aku katakan, tulisan dan foto-foto di website akan terarsip dengan baik. Setiap orang akan dengan mudah membuka tulisan yang kita posting pada bulan Oktober 2013 misalnya. Tak perlu waktu yang lama. Tinggal klik bulan Oktober 2013, maka semua postingan akan keluar. Kalau facebook, butuh waktu lama untuk mencari psotingan pada bulan itu. Lebih simpel, cepat, dan terlihat keren.

Ah, mungkin belum sampai logika ku ke alam pikiran teman-teman. Aku yakin, suatu saat mereka akan pahami ini. Semoga.

2 KOMENTAR

  1. sayang sekali..kamu gak benar2 ngintip kelasku…bagaimana peserta terbengong-bengong..sesekali senyum..dan tertawa terbahak-bahak karena saat ditengah kelas..kusuruh ibu2 untuk memegang dagu..ehh malah pada pegang jidat! hahahaa…..
    Membaca tulisan kamu ini…aku jd berpikir…kenapa kemarin aku nggak ngajak duet kamu yaaa…kamu kan kesehariannya selalu dikelilingi ibu2..kalau aku malah selalu dikelilingi bapak-bapak!hahahaa….colek pradna, soep, arya n anton (ini marah gak ya dibilang bapak?hehe>>)
    Kikis..berbicara di depan orang banyak…tentu butuh ilmu,nanti aku nimba sama kamu yaaa.Tapi yang terpenting adalah…menurut akuu..niat kita ikhlas untuk berbagi ilmu, tahu materi yang akan disampaikan… siapa yang akan diajak bicara, dan yang terpenting tahu apa yang harus kita lakukan ketika…antara materi dan peserta ternyata tidak match!
    Ketika berhadapan dengan mereka…aku melihat muka-muka polos yang…….
    Maka,,karena mereka adalah ibu-ibu PKK…kuajaklah mereka untuk nyanyi Mars PKK…Aman dan Bahagia Keluarga berencana…Hidup Jaya PKK!!heheehe…
    setelah itu..bla bla bla bla…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here