Ramah dan Meriahnya Festival Destika

0
124
Peserta diskusi kelas

(Edisi ke-6)

Mempersiapkan even sebesar Festival Destika bukanlah pekerjaan mudah. Butuh waktu lama untuk mempersiapkannya. Berkali-kali rapat, berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk menghitung-hitung anggaran yang ada, kemudian mencari sponsor menjadi kegiatan yang melelahkan. Bukan saja soal tenaga, waktu, pikiran, dan perasaan. Pintar-pintar mengambil hati istri dan anak agar diijinkan bepergian pun tak kalah penting. Andai tak direstui anak apalagi istri, wah bisa repot urusannya.

Bertemu, bersalaman, dan merangkul Yayi Panji, sebagai ketua panita, sejatinya aku ingin mengucapkan, kamu hebat, Bro. Aku bisa membayangkan bagaimana dia merasakan pusing  kemarin, sekarang, dan nanti. Ini pertama kali aku bertemu dia. Obrolan-obrolan di grup Destika Majalengka dan grup PNPM lain, sekedarnya saja. Saat-saat persiapan dulu, aku selalu mengikuti beritanya, baik di facebook maupun twitter. Di tambah keterangan heboh dari Soep saat menceritakan satu dan lain hal. Jika panitia tak seiring sejalan, pasti ini pun susah dilakukan. Ini lah tugas ketua panitia.

Aku yakin, ada kebanggaan tersendiri dalam diri Yayi Panji. Bukan karena level nasional dari kegiatan ini, tapi dari kesuksesannya. Kurang di sana sini, aku rasa wajar-wajar saja. Hal lain yang aku suka darinya, karena dia masih satu gerbong perjuangan pemberdayaan, yakni dalam keluarga besar PNPM Mandiri Perdesaan. Beda komando tak membuat jarak terpisah meski ada gonjang-ganjing isu paska program tahun depan. Sentuhan Kang Tarjo selaku mantan Faskeu di Majalengka, tentu membuat Yayi Panji berbeda dari kebanyakan fasilitator. Kegiatan dengan model seperti ini pasti akan dia bawa sebagai bentuk perubahan di PNPM nantinya.

Gagah aku lihat dia, kala berjalan beriringan bersama Pak Kuwu Tasrip, mendampingi Mas Budiman Sudjatmiko. Walau aku tahu Mas Budiman bukan model orang yang gila hormat. Namun, penyambutan seperti itu pantas dia terima. Demi melihat foto itu, pandai mengambil sudut gambar nih fotografernya.

Para Pendekar
Para Pendekar

Kalem pembawaan dan gestur tubuhnya tak menunjukkan Yayi Panji seorang yang angkuh.  Keberhasilan menjadi komandan penyelenggaraan kegiatan ini, tentu akan menaikan grade-mu di mata pembesar-pembesar di Jakarta. Aku doa kan kamu layak menjadi Faskab nantinya, atau malah Korprov?

Selamat Yayi…!

Seperti yang aku tebak. Kelasku sepi peminat. Tapi bukan berarti sepi dari diskusi-diskusi hangat. Sampai-sampai nanti, Mba Sunu terpancing untuk ikut berbicara. Materi pertama yang dipaparkan oleh Mba Grace langsung menarik perhatian peserta. Isu soal UU Desa langsung nyetel. Khidmat mereka mendengarkan paparan yang sedikit terganggu karena slide di layar tiba-tiba hilang. Karena mati listrik dan proyektor yang terlalu panas. Toh tak mengurangi antusiasme mereka.

Materi yang disampaikan oleh Mba Grace lebih menekankan pada perubahan paradigma tentang Desa. Di sana terlihat bahwa ke depan Desa lebih ditempatkan sebagai subyek pembangunan. Desa memiliki kewenangan untuk mengurus urusannya sendiri. Berbeda dengan program-program sebelumnya, dimana desa lebih ditempatkan sebagai pelaksana saja. Urusan yang di usung oleh UU Desa tidak hanya berbicara soal uang. Memobilisasi sumberdaya lokal sebagai bagian dari partisipasi masyarakat, yang didasari atas hasil identifikasi kebutuhan yang ada di masyarakat, menjadi aktifitas utama nantinya.

Pemberdayaan 2.0
Pemberdayaan 2.0

Akan tetapi, uang tetap terlihat lebih seksi. Lebih-lebih sejak dulu, desa selalu ditempatkan sebagai obyek dari proyek-proyek yang dilaksanakan oleh dinas-dinas terkait. Desa hanya diberikan jatah uang bernama Anggaran Dana Desa, yang jumlahnya sangat kecil. Bisa dikatakan sisanya sisa. Kenyataan ini tak lebih dari pandangan “orang-orang pintar” yang menganggap orang desa tak bisa mengelola uang. Orang desa tak lebih dari segerombolan manusia yang selalu harus di bina, di bimbing, dan di awasi. Maka tak heran, banyak pihak yang kemudian menakuti-nakuti akan ancaman penjara bagi para Kades seiring disahkannya UU Desa.

Ini lah pangkal hangatnya diskusi di kelasku. Adalah Akang Imansabumi yang menyangkal. Ia tak setuju dengan statemen itu. Upaya menakut-nakuti seperti itu, menurutnya, merupakan bukti setengah hati pemerintah dalam mengimplementasikan amanah UU Desa. Alokasi dana yang dipersiapkan dalam menyongsong penerapan UU Desa, hanya 9,1 triliun. Jauh dari angka ideal untuk mencukupi kebutuhan sekitar 72 ribu desa di Indonesia sesuai nomenklatur dalam UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa. Pernyataan ini didukung oleh peserta lain. Dia mencontohkan dua desa yang begitu menonjol, yakni Melung dan Dermaji. Kedua desa tersebut mampu mengelola dana lebih dari 1,4 milyar tiap tahunnya. Sampai kini tak pernah tersangkut kasus korupsi.

Kang Timbul selaku artis di cuplikan film dokumenter yang pernah ditayangkan di Liputan6.com ikut bicara. Menurutnya, hal tersulit memang merubah perilaku perangkat desa dan masyarakatnya. Apapun bisa dilakukan jika masyarakat mengerti dan memahami makna pemberdayaan yang sekarang di usung dalam UU Desa tersebut. Salah memaknai pemberdayaan, akan salah pula dalam berperilaku, yang ujung-ujungnya akan salah dalam memanfaatkan dana.

Tertarik aku urun bicara. Aku berbicara dari sudut pandang orang desa. Orang-orang Jakarta yang kadang sok tahu urusan desa membuatku gemas. Bagaimana mungkin mereka bisa mendefinisikan orang-orang desa, sedang mereka tinggal di kota. Sekedar mendengar informasi sepihak, atau hanya sesekali blusukan ke desa, tak bisa dijadikan dasar menjustifikasi definisi yang mereka buat. Orang-orang desa memiliki modal sosial yang besar. Gotong royong, saling tolong menolong, bahu membahu membangun desa, dengan tidak menjadikan uang sebagai tolok ukur. Keadaan ini sekarang sulit ditemukan di masyarakat perkotaan. Sejatinya, masyarakat desa lah yang telah menjaga nilai-nilai luhur bangsa, sehingga disegani oleh bangsa-bangsa lain.

Aku memberikan masukan kepada peserta bahwa untuk melawan stigma itu, satu-satunya cara ialah protes. Protes yang dimaksud bukan dengan berteriak-teriak di jalanan. Menunjukkan kepada mereka melalui website, perikehidupan yang ada di desa, menurutku cara paling tepat. Biarkan mereka tahu bagaimana kita, selaku orang desa, selalu bisa mensikapi persoalan-persoalan yang ada dengan arif. Tunjukkan pula prinsip transparansi ala orang-orang desa.

Terus, terus, dan terus lah bersuara. Sebagai bentuk perlawanan akan keraguan mereka.

Pak Sugeng, selaku TPK Desa Kaliori Kec. Kalibagor Kab. Banyumas ikut urun rembug. Pengalaman yang katanya pernah tak diijinkan oleh fasilitator mengajukan pembuatan jamban keluarga, dia paparkan. Tak patah semangat, dia bersama perangkat desa mencari cara lain. Dia tuliskan pentingnya jamban-jamban keluarga bagi warga Desa Kaliori di website desanya. Kebiasaan buruk masyarakat yang suka buang air besar sembarangan, berimbas pada kesehatan lingkungan. Alhamdulillah, tulisan di website desa dibaca oleh jurnalis media massa lokal. Isu itu kemudian diangkat. Yang akhirnya mereka mendapatkan bantuan jamban dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas. Mantap, Pak Sugeng!

Fakta ini tak bisa dipungkiri. Hanya orang-orang desa lah yang tahu akan kebutuhannya. Maka jangan remehkan mereka. Jangan pernah mengukur baju orang lain dengan badan sendiri.

Aku yakin, hangatnya diskusi pada kelas ini tidak kalah seru dengan kelas lain. Jumlah peserta yang sedikit, tak mengurangi kualitas. Kenyataan seperti ini sering aku alami saat melakukan kegiatan Belajar Antar Kelompok di Kebasen. Aku tak pernah abaikan berapa pun jumlahnya. Yang penting antusiasme peserta dalam mengikuti kegiatan. Kasihan aku sama Yossy. Dia sempat kesulitan mengambil gambar. Mencari sudut pemotretan yang pas agar kelas terlihat penuh… hihi….

Peserta diskusi kelas
Peserta diskusi kelas

Saat aku keluar ini lah, aku bertemu Panji. Sebagai seorang FK, dia pasti paham dinamika masyarakat. Bahkan kegiatan ini akan membuatnya bisa memodifikasi berbagai macam pelatihan-pelatihan yang dia handle di PNPM. Ini pelajaran berharga bagi kita, Kawan.

Foto-foto narsis di depan kelas, sudah mafhum dilakukan. Terlihat didepan sana, di kelas-kelas yang lain pun demikian. Banyak peserta yang ingin berpose bersama Pak Herman dari Yappen Papua. Perbedaan fisik yang mencolok, membuatnya menjadi bintang. Apalagi dia datang sebagai seorang warga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dimana di sana sering terdengar isu disintegrasi bangsa, dengan munculnya OPM. Nama Muhammad Dahlan, dari Gampong Cot Baroh Kab. Pidie, Aceh pun menjadi idola. Gagah dia.

Banyumas dan Papua
Banyumas dan Papua

Nama lain yang mencuat adalah Yubi Umbu. Kades Tanamodu Kab. Sumba Tengah NTT ini bahkan menerima hadiah berupa laptop dari IPPMI yang diserahkan oleh Mas Sani dan Mba Grace. Menurut pengakuan Mas Sani, laptop itu dibeli dengan cara iuran. Salah satunya Mba Erna. Ah, Mba Erna. Kenapa kamu bilang aku sahabatmu yang suka nakal. Nggak gitu kali… hahaha….

Aku berjalan bersama Kang Tarjo mencari kawan-kawan dari PSF. Buku Berdaya di Kaki Langit Indonesia dan DVD yang ada, sengaja kami mintakan. Kegiatan esok hari dimana Kang Tarjo mesti mengisi materi dan aku berencana ke Cingambul bertabrakan dengan kegiatan dari PSF. Padahal katanya, untuk bisa mendapatkan buku dan DVD tersebut, aku dan Kang Tarjo harus ikut acara mereka. Walah.

Selamat, Pak Yubi Umbu
Selamat, Pak Yubi Umbu

Buku “Berdaya di Kaki Langit Indonesia” berisi kisah-kisah inspiratif dari peran PNPM Mandiri dalam memberdayakan masyarakat di seluruh penjuru Indonesia selama 16 tahun terakhir. Buku ini disusun sebagai salah satu sarana pembuktian program yang terbukti berhasil dan menyentuh masyakarat di lapisan paling bawah. Jauhnya program ini dari hingar bingar publikasi media sedikit ironis. Padahal program ini telah mampu mendorong masyarakat lepas dari jeratan kesusahan yang selama ini menimpa mereka. Keberhasilan program ini pula yang menginspirasi diusulkan dan disahkannya UU Desa. Semangat dan pola kerja di PNPM, diadopsi sebagai model pemberdayaan masyarakat desa di masa yang akan datang.

Sebagai bagian dari pelaku yang ikut berada dalam gerbong besar ini, aku turut berbangga diri. Bersyukur aku bergabung didalamnya. Meski dalam beberapa regulasi perlu perbaikan, tak bisa dipungkiri program ini telah membantuku jadi begini. Pekerjaan yang sekarang harus dilakukan sekarang adalah melakukan banyak perubahan khususnya paradigma pemberdayaan. Apapun skill yang dimiliki, jika paradigma keliru masih bersemayam, skill itu tak akan berdaya guna.

Terus terang, aku juga ingin melihat bagaimana orang-orang desa khususnya di luar Jawa dalam mensikapi alam yang sering tak bersahabat. Apalagi di dalamnya ada Kang Budi dan Kang Timbul. Artis lokal dari Melung yang sudah terkenal itu. Asyik.

Sayangnya sampai tulisan ini dibuat, baik aku maupun Kang Tarjo belum dapat nih. Mau dong… hehe….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here