Ramah dan Meriahnya Festival Destika

0
84
Katanya supporter bayaran

Edisi ke-7

Santap malam itu benar-benar nikmat. Nylekamin pokoke. Mungkin karena ini santap pertama ku dari makanan berat yang disediakan oleh panitia. Kalau makanan ringan saat pertama kali datang dan tadi sore, sudah mencicipi. Aku ambil sayur jengkol, ikan asin, kluban, dan sambal. Jengkol diyakini mampu menambah nafsu makan. Sepertinya memang begitu. Menu jengkol itu pun aku pilih lagi, saat pulang ke Banyumas esok harinya. Sedang kluban, bersama pecel, salah satu menu favoritku.

Dari empat lauk diatas, hanya kluban yang sering aku konsumsi. Sudah lama aku tak makan jengkol. Bau akibat jengkol yang aku makan, sering di protes oleh ibu dan istriku. Sedang ikan asin, sering berakibat mudah haus. Sambal yang aku ambil pun pedasnya pas. Tidak terlalu manis; tidak terlalu pedas. Lahap aku makan. Apa karena lapar ya? Kan siang tadi aku nggak makan… hehe….

Nikmatnya makan bersama
Nikmatnya makan bersama

Makan bersama selalu terasa nikmat. Begitu juga malam itu. Aula tempat kami makan, sudah dipenuhi banyak orang. Kasihan aku lihat Pak Onno. Dari baju dan syal yang masih beliau pakai, sepertinya dia belum sempat mandi. Para penggemarnya masih senang mengajak beliau berdiskusi. Laptop yang mereka pangku, di otak-atik sambil mendengar penjelasan dari pencetus blusukan online itu. Sabar pria berusia 52 tahun ini melayani banyak pertanyaan dari para mahasiswa yang memanfaatkan ilmu gratisnya.

Rasa capek dan sedikit masuk angin mulai terasa. Pening di kepala membuatku berniat balik ke rumah kos. Perut kosong telah terisi. Agenda malam ini pun cuma hiburan saja. Apalagi tadi, baru pindah rumah. Rumah kos bernomor 19 terlalu padat. Rombongan Banyumas yang semalam tidur terpisah masih berjubel di sana. Apalagi tadi pagi, rombongan dari Madiun sebanyak 3 orang bergabung di sana. Mas Sinam dari Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) pun ikut ngumpul bareng. Belum lagi dari Purbalingga.

Sebelum kami pindah rumah, serombongan teman-teman dari Indramayu ikut-ikutan nimbrung di teras rumah. Padahal para perempuan dari Banyumas pun datang ke sana. Amat sangat sesak. Salah satu daya tariknya tentu mendoan. Makanan khas Banyumas ini sejak pagi sudah dipromosikan via facebook maupun twitter. Tak heran mereka merapat. Selain berniat ngobrol-ngobrol, mereka juga ingin mencicipi mendoan ala Chef Pak Kirman dan Pak Taryono. Penasaran kali ya.

Rumah besar yang berjarak sekitar 15 meter dari rumah kos bernomor 20 menjadi tempat tidur baru. Megah. Kami bertanya-tanya apakah rumah ini sengaja dibuat untuk penginapaan sewaan atau ditempati layaknya rumah biasa. Tapi tak ada jawaban untuk itu. Rumah yang di beberapa ruangan dilengkapi kamar mandi dalam, tidak memiliki ranjang maupun kasur. Fasilitas yang disediakan hanya karpet. Padahal yang pindah ke sana bukan cuma yang laki-laki. Rombongan perempuan pun ikut-ikutan pindah. Lebih luas dan terasa bebas memang. Saking nyamannya pula, katanya banyak yang asyik ngobrol hingga subuh atau matahari terbit lagi. Pada ngobrol apa sih?

Sepertinya mereka melanjutkan aktifitas ngoprek. Ruang tengah rumah nomor 19 yang terasa sempit saja mereka begitu asyik mengutak atik laptop. Berbagi ilmu coding untuk operating system berbasis open source. Salah satu yang aku tinggal untuk ngobrol dengan relawan TIK dari Indramayu yang duduk melingkar bersama Kang Dirin ialah Gonus.

Dia sengaja aku kabari untuk datang ke sana. Ingin aku perkenalkan dia dengan Mas Sani, Mba Grace, dan Mba Ade. Padahal menurut pengakuannya, dia baru pulang dari mengurus persiapan pelatihan UPK se-Kab. Cirebon. Dia juga yang sebenarnya ingin aku jadikan guide menuju Cingambul. Meski akhirnya pada perjalanan ke sana, kami sama-sama ragu dan sering-sering bertanya kepada orang-orang yang kami temui di pinggir jalan.

Banyaknya stok tempe mendoan yang dibawa dari Banyumas membuat kami cukup was was. Kalau sampai tempe mendoan menjadi sangit, tak lagi enak di konsumsi. Padahal pagi dan sore ini, tangan lincah Pak Kirman dan Pak Taryono terus meracik bumbu, mencampur adonan dengan tempe, dan menggorengnya. Sore itu, kami rakus makan mendoan. Teman-teman dari Madiun dan Indramayu pun membantu menghabiskan stok.Ibaratnya, sekali angkat mendoan dalam wajan langsung habis. Begitu seterusnya.

Sayang kalau stok tempe mendoan yang sudah jauh-jauh dibawa akan terbuang percuma. Tempe tak enak di konsumsi ketika tempe menjadi sangit. Tempe dikatakan sangit jika sudah berbau khas, bau amoniak. Tanda-tanda fisik saat tempe menjadi sangit ialah ditandai dengan berubahnya warna putih pada mendoan menjadi agak coklat busuk di beberapa titik. Ini terjadi karena proses fermentasi yang dihasilkan dari jamur tempe (Rhizopus sp) sering diikuti oleh mikroorganisme lain. Mikroorganisme lain yang ikut dalam proses fermentasi itu lah yang mempercepat proses pembusukan (sangit).

Oleh karenanya, sore itu secara gotong royong teman-teman memasak mendoan banyak-banyak. Pesanan dari teman-teman Ciamis siap dipenuhi. Terbagi konsentrasi kelompok sore itu. Kelompok pertama asyik diskusi di teras rumah. Ada Soep dan rombongan dari Indramayu. Kelompok kedua di ruang tamu terdiri dari para perempuan, aku dan Anton. Kelompok ketiga di ruang tengah. Mereka sedang asyik berbagi ilmu dan saling tukar dokumen kegiatan. Kelompok keempat berada di dapur. Mengolah mendoan yang di konsumsi oleh ketiga kelompok pertama, serta di bawa ke tempat panitia nantinya.

Saat berjalan kaki ke lokasi kegiatan, kami bercanda dan tergelak. Pak Kades Dodiet dan Sekdesnya terlihat membawa klanthing dan mendoan hangat satu tas plastik besar. Saling lempar joke kami berjalan. Ada yang mengatakan mau jualan di pasar lah, ada yang bilang mau berbesanan lah. Maklum saja, meski usia Pak Kades Dodiet dan aku sepantaran, hingga kini dia masih suka menjomblo. Kok bisa ya. Dia kan ganteng.

Ndang gagian, Pak Kades. Jajal golet nang kene mbok olih sing mloes… xixixi….

Mbesan heboh
Mbesan heboh

Saat aku memasuki tarub tempat hiburan, penonton berjubel. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Penduduk setempat bercampur dengan peserta kegiatan. Kursi-kursi hampir semua terisi. Mereka bahkan rela berdiri untuk melihat pertunjukan. Rasa sungkan dan malu membuat kursi di deretan paling depan sering kosong. Ke sana lah kami berjalan. Apalagi terlihat para ibu rombongan dari Banyumas pun duduk di sana. Kursi-kursi paling depan di sebelah kanan, berhadapan langsung dengan panggung utama.

Lincah lima penari memperagakan tarian dengan iringan  musik yang rancak. Sejenis lengger kalau di Banyumas. Kostum yang cerah dan dandanan yang mewah memancarkan aura penari yang eksotik. Apalagi mereka memang cantik-cantik. Soal kecantikan, sepertinya gadis-gadis bumi Priangan sudah takdir. Lebih banyak produk unggulan ketimbang produk gagalnya. Mungkin. Tertarik aku pada mimik ekspresif mereka. Tidak sekedar senyum, apalagi merengut. Bibir yang dimainkan seakan sedang mengkomunikasikan sesuatu. Terkadang senyum, seolah tertawa tapi tanpa suara, dan sedikit membuka mulut. Sensual.

Atraksi menarik
Atraksi menarik

Kalau pertunjukan ini di Banyumas, aku akan menahan diri. Gerak tangan kanan dan kiri ku ikut meliuk-liuk mengikuti irama. Beberapa teman menyuruhku berdiri dan ikut berjoget. Aku gelengkan kepala. Tetap menari pada posisi duduk. Masih ada rasa malu berjoget di depan banyak orang. Dulu waktu masih SD, aku sering ikut menari. Biasanya kuda lumping… hehe….

Aku dan teman-teman datang sudah terlambat. Sebelumnya sudah ditampilkan hadroh. Cekatan benar panitianya. Setelah penari undur diri, gamelan yang menyertai pun diundurkan. Panggung dibuat bebas untuk pertunjukan selanjutnya, yakni calung. Empat orang bapak berseragam mulai unjuk gigi. Gerakan awal yang terlalu lamban, seperti akan membosankan. Beda dengan lincahnya penari. Pening yang sempat ku rasa mulai hilang saat para penari beraksi.

Untung saja dugaanku salah. Setelah menata posisi, kelompok calung mulai memainkan peranan. Lagu-lagu dengan bahasa lokal berakibat roaming. Aku yakin roaming ini dialami oleh kebanyakan peserta. Yang membuat kami betah adalah banyolannya, bodor. Bahasa tubuh dan aksi-aksi lucu mirip Srimulat. Sebenarnya aksi dan materi lawakan sudah biasa. Tapi karena dibawakan dengan totalitas oleh pemain calung. Gelak tawa dan tepuk tangan meriah selalu mengiringi.

Salah satu atau bahkan yang terlihat paling heboh, kelompok dari Banyumas ini. Kata Pak Yoso pula, aku dan Pak Manto yang paling keras tawanya. Ibu-ibu di sampingku pun ikut tertawa. Bukan hanya mentertawakan pemain calung, mereka juga mentertawakan cara ku tertawa. Saat mereka bertanya padaku, apa kamu tahu maksud dari lawakan itu, aku bilang partisipasi tertawa saja. Hahaha….

Katanya supporter bayaran
Katanya supporter bayaran

Beberapa adegan memang membuatku terpingkal-pingkal. Tertawa sambil mendongakkan kepala tanda amat lucu sudah sering. Karena sakit gemas dan lucunya, tubuhku sampai bergetar. Kedua tangan meremas dan kaki bergerak cepat menginjak-injak tanah, Tenggorokan pun terasa sakit. Meski pun sakit, aku terus terbahak dan terpingkal-pingkal saat pemain calung melawak lagi. Roaming tak lagi jadi kendala.

Kelompok kami dijuluki sebagai suporter bayaran oleh Akang Iman. Semua pertunjukan yang ditampilkan, termasuk beberapa orang yang didaulat maju, kami sambut dengan tepuk tangan dan teriakan ramai. Saat Mba Grace diminta memberikan kesan dan pesan sebagai perwakilan dari IPPMI, kami pun merespon. Standing applaus kami lakukan kala dia berjalan naik ke panggung dan setelahnya. Tepuk riuh saat dia mengakhiri pidatonya pun pasti. Sedikit kikuk Mba Grace, tapi dia nikmati saja. Benar-benar mirip suporter bola. Ultras. Hasyah.

Intro ciamik dari grup band Karangtaruna Tanjungmekar membius sebagian penonton. Peserta dari Aceh sampai terpesona. Dia katakan, pemuda-pemuda desa di sana belum seperti itu. Ini oleh-oleh berharga buat mereka. Seperti yang aku sudah dituliskan, penampilan mereka sedikit aku singgung. Aliran reggae yang mereka sajikan asyik didengar. Dulu aku sempat tak bisa membedakan antara aliran reggae dan ska. Keduanya hampir mirip. Seiring kini, aku agak bisa bedakan. Aliran Ska, musiknya agak lebih cepat. Sama-sama asyik. Andai aku masih belia pun pasti suka. Sekarang menikmati saja.
Penampilan Konser Kampung sebagai sajian penutup, terlalu larut. Setelah menikmati dua lagu, beringsut perlahan, penonton bubar. Tersisa segelintir orang saja. Aku sudah bergabung dengan kelompok panitia. Mereka duduk di kursi paling depan di sebelah kiri. Berhadap-hadapan langsung dengan panggung utama. Aku tertarik dengan Konser Kampung. Aku tanya banyak informasi ke Ima Rohima sebagai seksi acara. Syair-syair yang dinyanyikan bukan syair murahan. Penuh makna. Mungkin ini pula yang membuat peserta pulang ke rumah kos. Atau karena capek, tak tahu pasti.

Konser Kampung
Konser Kampung

Terpukau aku melihat kreatifitas alat musik, syair, dan lirik yang mereka ciptakan sendiri. Apalagi ini di desa. Bertahan dengan idealisme musik yang tidak sesuai selera pasar, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang bermental kuat. Biasanya kelompok-kelompok seperti ini akan bubar dengan sendirinya saat idealisme musiknya tidak digemari oleh penonton. Nyatanya tidak demikian dengan kelompok yang satu ini.

Apalagi saat aku mencari informasi di fanpage-nya. Luar biasa. Kegiatan mereka tidak sekedar membuat alat musik, menciptakan lagu, dan mengaransemen. Lebih banyak lagi. Biar lebih jelas, silakan baca tulisanku yang khusus mengulas tentang pertunjukan malam ini. Tulisan itu aku posting pada tanggal 28 September 2014 dan diberi judul: “Membongkar Tirani Lewat Musik”.

Sukses untuk KONSER KAMPUNG…!

Sukses untuk Akang IMANSABUMI…!

Bareng artis
Bareng artis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here