Ramah dan Meriahnya Festival Destika

0
158
Ehem....

(Edisi ke-8)

Rupanya aku penonton pertunjukan malam yang terakhir dari Banyumas. Teman-teman sudah pulang terlebih dulu. Saat aku masih bergabung dengan panitia di sisi kiri, aku sudah di ajak pulang. Aku bilang nanti dulu. Masih terpesona dengan Konser Kampung. Aku susul Yossy dan Dodiet yang berjalan di depan. Tak tahu ada agenda apa. Malam ini Yossy bergabung dengan rombongan setelah semalam dia tidur di Stasiun Cirebon bersama rombongan dari Madiun. Kasihan banget, Direktur  Gedhe Foundation sampai kapiran. Hehehe….

Gonus datang dengan mobil APV warna silver yang selalu menemani perjalanan pergi jauh keluar kota lewati desa-desa. Aku kira dia tak jadi datang. Atau datang lebih awal tadinya. Malam sudah larut. Mungkin Mas Sani, Mba Grace dan Mba Ade sudah pulas. Rasa capek karena kegiatan sehari penuh pasti mereka rasakan. Aku pun demikian. Hiburan di panggung berhasil menghilangkan pening gejala masuk angin. Aku ajak saja dia ke rumah kos. Dia bergabung dengan Yossy, Kang Dirin, dan relawan TIK dari Indramayu. Tak lama Yossy tidur di kamarnya. Demikian juga aku. Aku hanya sebentar bersama mereka.

Pagi-pagi aku dapati teman-teman tidur di luar. Hanya aku dan Gonus yang menempati karpet di kamar. Biar Gonus tahu bagaimana teman-teman GDM tidak latah dengan gaya orang-orang kota. Model homestay tanpa kasur dan AC seperti di hotel-hotel berbintang, meski kegiatan ini tingkat nasional. Beda sekali dengan gaya pelatihan di yang biasa diadakan. Kang Timbul, Pak Manto, dan Pak Taryono yang sedianya tidur di kamar itu, bergabung dengan teman-teman yang tidur di ruang tengah. Ini yang dinamakan kamar mandi dalam tidur di luar… xixixi….

Ternyata hari sudah siang saat aku bangun. Dini hari sebenarnya aku sudah bangun. Melihat langit masih gelap, dan mata masih mengantuk, aku pun tidur lagi. Aku ajak Gonus ke rumah kos nomor 20. Aku katakan padanya, semalam tidak enak menganggu mereka. Jalan kaki hanya beberapa langkah saja. Di ruang depan lantai pertama, ternyata para tukang coding sudah memelototi laptop. Semangat belajar dan berbagi mendasari gerakan pemberdayaan ini. Ilmu sudah menjadi kebutuhan.

Mba Ade, Mba Grace, dan Mas Sani sudah bersiap-siap. Setelah sesi kuliah umum yang nanti akan di isi oleh Mas Budiman Sudjatmiko menjadi tanggung jawab mereka dan kru. Aku biarkan Mas Sani berdiskusi dengan Gonus. Materinya tetap sama seperti malam sebelumnya. Jawabannya pun hampir sama. Ini bekal buat Mas Sani nanti. Saat aku bawa dia ke rakor UPK se-Jawa Barat. Mba Grace dan Mba Ade pun nimbrung. Mba Ade heran dengan perubahan-perubahan yang terjadi di UPK. Strategi dan kebijakan yang dilakukan sudah berbeda jauh dari konsep yang mereka pahami. Sedianya Mba Grace akan bergabung bersama kami ke Cingambul. Akhirnya nanti hanya Mas Sani.

Banyak pihak yang berdiskusi denganku, memiliki kesamaan komitmen. Bahwa ke depan siapa saja pelaku PNPM, baik itu fasilitator maupun UPK harus mau memperbaiki diri. Fasilitator jangan lagi mendikte, menjadi decision maker, manajer, dan menggunakan tangan besi orang lain kala UPK dan masyakat tak mengikuti kemauannya. UPK pun demikian. Tidak lagi merasa bahwa keberhasilan mencapai surplus, idle money, dan minim kemacetan adalah prestasi yang membanggakan. Keberhasilan itu tak lepas dari kebaikan masyarakat dan perlindungan oleh program. Tanpa mengesampingkan peran dari UPK sendiri.

Kebiasaan buruk pelatihan-pelatihan yang terkesan sekedar menggugurkan kewajiban dengan meniru gaya para pejabat pun perlu di tinjau ulang. Ironis sekali. Saat kita berteriak-teriak pejabat suka menggunakan fasilitas negara untuk diri sendiri, ternyata kita setali tiga uang. Ada hak masyarakat yang seakan terampas. Contoh saja gaya teman-teman di Gerakan Desa Membangun ini. Ihir.

Semalam aku minta kaos berlogo dari PANDI. Terlambat absen di pagi kemarin membuat aku dan Kang Yosep tak kebagian kaos dan tas dari panitia. Padahal aku ingin tas itu. Ata pasti senang. Tas kecil bisa dia manfaatkan kala mengaji di TPQ. Bisa digunakan untuk membawa rukuh kecil dan buku Iqra. Kaos merah itu pun aku kenakan bersama teman-teman dari Banyumas yang lain. Bahannya lembut, enak dipakai.

“Matur tengkiu, Kang Sigit, Kang Afiv. Ngesuk-ngesuk maning nyong gelem… asyik…”.

Mobil yang kami tumpangi parkir di areal pasar. Aku lihat Kang Tarjo sedang asyik berbincang-bincang dengan Korprov Jabar dan Pak Nanang, Ketua Forum BKAD Kab. Ciamis. Pak Nanang dulu ikut mampir ke kantor ku. Sepulang dari pelatihan pelaku PNPM di Baturaden. Beliau pun menjadi salah satu wakil BKAD yang masuk di kantor Dirjen PMD, kala kami melakukan Aksi Damai pada 3 September yang lalu.

Setelah berbasa basi, aku sarapan soto. Atau apa istilahnya. Kalau ditempatku itu disebut Tongyur, Lontong Guyur. Enak. Teman-teman dari Banyumas ternyata sudah sarapan. Lagi-lagi aku jadi peserta telatan.

Aku bawa Gonus ke dalam. Ada Adi Kalintang, Kang Eda dan teman-teman fasilitator nyleneh lainnya. Mereka sekumpulan orang yang tidak membiarkan diri terhanyut dalam gaya pemberdayaan di PNPM yang akhir-akhir ini banyak di kritik orang. Sadar akan ketidaktepatan, mereka pun bergabung dengan pegiat-pegiat pemberdayaan di luar program. Adi yang sedikit temperamental, menceritakan perihal relokasi yang dia alami. Padahal di kecamatan sebelumnya, dia sedang merintis dan mulai menemukan jalan untuk memfasilitasi kelompok masyarakat bekerjasama dengan pihak ketiga. Praktis komunikasi dan upayanya terganggu karena relokasi itu. Di sini dia kembali dari nol lagi. Saat aku tanya bagaimana kelanjutan penjajakan kerjasama itu, dia bilang mangkrak. Sayang sekali.

Gonus asyik berbincang-bincang dengan mereka. Aku keluar setelah selesai sarapan. Di depan, sudah mulai short course mengolah mendoan. Para ibu berbagi peran meracik bumbu, membuat adonan, dan membuka-buka bungkus tempe mendoan. Sang Chef, Pak Kirman dan Pak Taryono kembali beraksi. Namun kali ini, Pak Kirman lebih dominan. Ia kenakan kaos merah dari PANDI dan ikat kepala yang dia beli kemarin. Kaos itu hadiah atas kesediaannya menjadi chef pada rombongan Banyumas.

Duo Chef Master
Duo Chef Master

Dengan tangan telanjang, ia campurkan tempe mendoan dengan adonan yang kemudian dimasukkan ke wajan penggorengan. Cara tradisional mencampurkan tempe mendoan dan adonan dengan menggunakan tangan telanjang, bukan berarti jorok. Alasan tidak higienis selalu risih aku dengar. Bukankah Pak Kirman sudah cuci tangan sebelumnya. Enzim RNase yang terdapat pada jari-jari tangan, dapat menurunkan aktivitas bakteri-bakteri patogen pada makanan yang kita makan. Enzim RNase mendepolarisasi RNA mikroorganisme sehingga mikroorganisme dapat terhambat aktivitasnya. Tuh kan?!

Pertunjukan ini menarik perhatian banyak pihak. Utamanya para ibu dan gadis remaja. Seorang bapak bisa memasak dengan lincah. Mungkin ini pemandangan langka buat mereka. Padahal di Banyumas banyak yang seperti itu. Tugas dapur bukan monopoli ibu-ibu. Para Bapak pun harus bisa menggantikan peran istri saat sakit atau berhalangan. Bekerjasama dan sama-sama kerja di rumah akan meringankan beban keluarga. Mencuci baju, piring, dan masak sebagai aktifitas rutin yang kadang menjemukan bagi perempuan, akan sedikit terobati kala suami tercinta terlibat. Ini salah satu wujud cinta suami kepada istri. Ahihi….

Bagian icip-icip
Bagian icip-icip

Sayangnya aku masih sebatas teori. Aku hanya bisa menjauhkan kedua anakku saat istri masak, cuci baju, dan piring. Kadang berlari ke warung membelikan sesuatu. Nanak nunuk di dapur menjadi alasan mengapa ibu dan istri ku tak melibatkan aku. Lidahku sering tak bisa membedakan enak tidaknya masakan. Hanya perut yang bisa memberi sinyal sudah kenyang apa masih lapar… hahaha….

Selalu ada pemanis dan penyedap mata di hampir setiap kegiatan. Salah satunya Dini. Gadis ini sudah pernah aku lihat di grup BBM Desa Membangun. Sering dia bercanda bersama Anton (Prianton) dan Krishna. Aku sekedar salaman saja. Ayu, langsing, dan manis senyumnya. Tak heran banyak paparazi yang membidiknya. Termasuk Kang Eda. Kayaknya.

Ehem....
Ehem….

Bergegas aku menuju panggung utama. Aku dengar pengumuman bahwa Mas Budiman sudah sampai di Tanjungsari. Sedang transit di rumah Pak Kuwu. Kali ini rombongan Banyumas memilih duduk di deretan kedua dari depan di sisi kiri. Di depan nanti di isi Kang Tarjo, Kang Aji Panjalu, Mas Budiman, dan Pak Kuwu. Sengaja pula aku duduk di situ. Aku sudah berjanji akan ke Cingambul sekitar jam 10-an. Tidak enak meninggalkan tempat saat acara belum usai. Terlalu mencolok pula jika duduk di barisan paling depan.

Sambil menunggu Mas Budiman, aku dekati Pak Nanang. Aku minta bantuannya untuk ngobrol dengan Mas Sani. Biar terjadi keberimbangan informasi, sehingga apa yang sedang di usung oleh Assosiasi UPK Nasional, tidak saja berasal dari UPK. BKAD pun sejalan. Ternyata mereka berdua sudah sempat berdiskusi.

Perwakilan Gampong Cot Baroh
Perwakilan Gampong Cot Baroh

Sembari menunggu Mas Budiman, Yossy mempersilakan perwakilan dari luar Jawa maju guna menyampaikan pengalaman mereka mengelola website desanya. Mohammad Dahlan dan Shafwaturahman di daulat pertama kali. Mereka katakan bahwa sebenarnya mereka tidak tinggal di Gampong Cot Baroh. Akan tetapi kecintaan mereka terhadap desanya membuat mereka tetap memberitakan aktifitas-aktifitas desanya. Meski sebentar lagi ada 2 bendera, yakni Merah Putih dan bendera Aceh, dia bilang Aceh tetap menjadi bagian dari NKRI. Keren!

Berturut-turut pada kades yang lain didaulat untuk maju. Aku tertarik dengan penampilan Kades Harapan Jaya, Provinsi Riau. Jenggot panjangnya mirip Pak Manto. Sampai muncul kata-kata, Pak Manto ketemu saudara kembarnya.

Kakak beradik
Kakak beradik

Aku sempat ke kursi belakang. Gonus SMS kalau Aji Saptaji, FK dari Cirebon datang. Dia salah satu fasilitator yang men-support perjuangan UPK. Bersama para FK yang hadir di acara ini, dia bilang mereka sekawanan fasilitator yang tidak begitu saja mau menjalankan strategi dan regulasi yang kadang tak berpihak pada masyarakat. Zona nyaman yang mereka tempati tak menjadi penghalang untuk ikut mengkritisi kebijakan-kebijakan program. Mengkritisi bukan berarti benci. Mengkritisi justru karena mencintai. Cinta terhadap sesuai yang seharusnya tidak demikian, malah seperti itu jadinya.

Saat aku berjalan dan duduk di sana. Aku tak sempat memperhatikan apa yang terjadi. Sesampainya di rumah, aku lihat bertebaran foto-foto makhluk indah bernama Dini. Setiap gerakannya hampir selalu tertangkap kamera paparazi. Salah satu tersangka pasti Kang Eda. Lihai dia mengambil sudut gambar yang pas. Semalam saat aku dengan penuh penghayatan (ehem) ikut menyanyikan lagu Bongkar-nya Iwan Fals pun tertangkap kamera. Bukan hanya Dini. Mba Yasmin dan beberapa gadis lain pun tak luput dari incaran kamera.

Paparazi dan korbannya
Paparazi dan korbannya

Kapan lagi bertemu dan memandang makhluk-makhluk indah seperti itu memang. Jepretan lensa akan mengabadikan gambar mereka. Aku lihat Dini duduk dua deret kursi di belakang deret kursi yang aku dan teman-teman Banyumas duduki. Aku mawas diri, ini sudah bukan jamanku. Ah, enggak juga ding. Dulu saat aku masih sendiri pun suka gugup dan deg-degan saat ngobrol bersama cewek-cewek ayu macam dia.

Bahkan ketika aku dan istri sedang berdua, masih sering aku tanyakan mengapa dia mau jadi istriku. Dia jawab, tak tahu. Tak ada alasan atau sebab khusus. Apalagi saat itu, sekarang masih kayaknya, badanku cungkring dengan kulit legam. Kusam.

Bagi beberapa orang, sebab atau alasan dalam menjalin sebuah hubungan tidak terlalu dibutuhkan. Cinta tak membutuhkan alasan atau sebab. Yang ditakutkan, kala alasan atau sebab itu sudah tidak lagi bersemayam dalam diri orang yang kita cintai, lambat laun cinta akan pudar. Indah cinta akan terasa saat kita mau berbagi. Oh.

Selamat mencinta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here