Ramah dan Meriahnya Festival Destika

2
177
Banyak peserta

(Edisi ke-9)

Aku tak melihat pembagian hadiah saat acara jalan sehat usai. Hanya penyanyi organ tunggal yang sempat aku lihat. Aku kurang tertarik. Sudah sering aku lihat kali ya. Apalagi Om Slamet, OB di kantorku, memiliki usaha wedding organizer ala kampung. Sering dia ajak kami sekedar menonton organ tunggal. Maka saat mereka tampil, aku justru larut dalam obrolan-obrolan ringan sambil melihat Pak Kirman dan Pak Taryono beraksi. Sempat aku berpapasan dengan peserta jalan sehat saat aku keluar dari rumah kos menuju Balai Desa Tanjungsari. Sangat ramai.

Banyak hadiah
Banyak hadiah

Mereka tentu ingin berpartisipasi mensukseskan even besar ini. Tua muda, anak-anak, laki-laki dan perempuan beramai-ramai berjalan mengikuti rute yang sudah disediakan. Terlihat anak-anak Karangtaruna Tanjungmekar sibuk mengatur lalu lintas. Sampai akhirnya aku lihat foto-foto kemeriahan dalam acara pembagian doorprize. Meriah.

Banyak peserta
Banyak peserta

Aku hanya sebentar mengikuti kuliah umum dari Mas Budiman. Dia menyampaikan hasil pertemuannya dengan Pak Jokowi. Dia diminta menjelaskan tentang Desa dan UU Desa. Penjelasan darinya membuat Pak Presiden berpikir soal alokasi dana sesuai amanah UU Desa. Alokasi sebesar 9,1 triliun yang sangat jauh dari angka ideal, akan coba di tambah saat perubahan anggaran. Menurutnya pula, ada alokasi bansos di setiap Kementrian yang bisa dialihkan peruntukannya. Semoga bisa direalisasikan nanti. Aamiin….

Kali ini dia didampingi oleh Mas Sigit dari PANDI. Apa yang disampaikan oleh Mas Sigit, aku tak tahu. Aku ada agenda lain, yakni ke Cingambul. Padahal warna baju kita sudah sama lho, Mas. Maaf ya. Jaka Sembung naik ojek, nggak nyambung Jek. Xixixi….

Kuliah umum hari kedua
Kuliah umum hari kedua

Perjalanan ke Cingambul butuh waktu satu jam lebih. Padahal saat kami tanyakan ke Kang Tarjo, seolah dia enteng menjawab. Ikuti saja jalan besar ini, nanti ada perempatan, belok kanan. Terkesan dekat sekali. Oleh karenanya, saat aku ajak Mba Grace dia bilang akan nyusul nanti. Dia pikir mungkin dekat juga.

Awalnya Mas Sani bilang pakai mobilnya Mba Grace saja. Tapi sudah telanjur pakai mobilnya Gonus. Biar. Mas Sani harus ikut merasakan panasnya mobil tanpa AC ini. Pasti lama dia tak pakai mobil seperti ini. Kenyamanan di mobil-mobil mahal akan membuat kita terlena. Bahkan bisa saja lupa asal usul. Sekedar pengingat buat Mas Sani. Pernah jadi orang desa yang akrab dengan suasana panas seperti ini. Maaf ya, Mas. Baru aku sampaikan sekarang. Ini benar-benar yang ada di hati saat itu… xixixi….

Jalan ini pernah aku lalui. Saat itu aku bersama rombongan teman-teman UPK dari Ciamis sepulang mengikuti acara Musda I Assosiasi UPK Jawa Barat di Kuningan. Sekali melewati jalan ini, masih membuatku bingung. Tidak hafal. Alhasil keempat penumpang didalamnya tak ada yang tahu jalan ke Cingambul. Modal nekat dan fasilitas GPS akan digunakan. Bukan Global Positioning System tapi Gunakan Penduduk Setempat. Alias jangan malu bertanya nanti malah tersesat di jalan.

Semilir angin yang menerpa wajah karena kaca pintu depan sedikit dibuka, membuatku mengantuk. Gonus dan Mas Sani masih asyik berdiskusi. Obrolan-obrolan berat masih lamat-lamat aku dengar. Aku terbangun saat Mas Sani bertanya berapa lama lagi. Mungkin dia kira aku tahu tempatnya. Aku terpejam lagi waktu dia lanjutkan obrolan bersama Gonus. Hampir seperti itu berulang kali.

Saat jarak sudah terasa lama, kami akan bertanya kepada penduduk. Kemudian mobil berjalan lagi. Tanya lagi, jalan lagi. Begitu sampai beberapa kali. Aku tak sempat menghitung. Masih sibuk menahan kantuk yang menyerang hebat. Mas Sani semakin resah karena dia sudah berjanji mengantar Mba Grace ke Bandung sekitar jam 1 siang. Sedang perjalanan belum jua sampai, padahal waktu sudah menunjukkan jam 12 lebih. Untung nanti Mba Grace hanya pura-pura ngambek. Nah, biar nggak jadi ngambeknya terobati, giliran traktir aku ya. Kan Mas Sani sudah… hihi….

Jalan berkelak kelok dan naik turun menjadi sensasi goyah pinggang. Sopir harus lihai. Baginya jalan seperti ini sudah biasa. Apalagi mobil APV ini masih bisa dia kendalikan. Dia terbiasa bawa truk dengan muatan penuh. Yang penting hati-hati dan waspada. Utamakan keselamatan. Ada anak dan istri menanti di rumah. Kira-kira begitu pesan moralnya.

Akhirnya sampai lah kami di gedung UPK Cingambul. Gedung berlantai 3 yang diresmikan pada tanggal 5 Juni 2014 kemarin menghabiskan dana sekitar Rp. 223.878.000,- untuk biaya pembuatannya. Bupati Majalengka H. Sutrisno, SE, M.Si berkenan meresmikan gedung dengan luas ukuran 12 x 6 m ini. UPK yang dipimpin oleh Akang Ajat Sudrajat ini memiliki visi yang bagus, yakni “Terciptanya Masyarakat yang Mapan dan Mandiri”. Salah satu misi mulianya adalah membebaskan masyarakat dari keterkaitan dengan rentenir.

Keren!

Teman-teman UPK sudah berkumpul di lantai tiga. Di luar, kendaraan sudah berjajar rapi. Lantai pertama diperuntukkan pelayanan pemanfaat, lantai kedua untuk ruang kerja Ketua UPK beserta Kelembagaan (BKAD, BP-UPK, TV) sedangkan lantai ketiga sebagai ruang rapat bersama. Mungkin karena pertimbangan harga tanah, sehingga lokasi gedung agak masuk ke jalan desa. Padahal jika bisa mendapatkan lokasi di jalan raya yang menghubungkan Majalengka ke Ciamis, tentu gedung ini akan terlihat lebih mentereng.

Assosiasi UPK Jawa Barat
Assosiasi UPK Jawa Barat

Rapat dipimpin langsung oleh Pak Ujang selaku Ketua Assosiasi UPK Jawa Barat, didampingi oleh Akang Ajat dan Pak Iyus Yusuf selaku Sekjen Assosiasi UPK Nasional. Pembahasan yang dirasa tanggung, membuat kami harus menunggu sebentar. Acara rapat pun sempat terhenti kala kami masing-masing bersalaman. Lalu aku dan Mas Sani duduk di kursi deretan depan, Gonus lebih memilih di belakang. Dekat jendela.

Sedianya acara akan dihentikan untuk istirahat. Waktu memang sudah mendekati jam 1 siang. Tapi aku bilang dilanjutkan saja. Mas Sani masih ada kegiatan. Setelah dipersilakan, aku mulai membuka pembicaraan yang kemudian dilanjutkan oleh Mas Sani. Klarifikasi tentang hasil diskusi perwakilan Assosiasi UPK Nasional bersama Dirjen PMD pada 17 September aku lakukan. Tak ada kata sepakat. Soal tak diikutsertakannya perwakilan dari Jawa Barat pun aku sampaikan. Surat yang kirim ke Pak Dwi Purnomo sudah menentukan nama-nama pesertanya. Bahkan sebenarnya aku tak masuk di daftar undangan. Tetapi karena ajakan Pak Dwi, aku pun ikut.

Diskusi berjalan hangat. Kehausan teman-teman UPK akan gambaran mau bagaimana ending program ini membuat Mas Sani harus berhati-hati memberikan informasi. Mas Sani bukan pemangku kebijakan. Dia aku ajak ke sini untuk mendengar sendiri apa kata teman-teman UPK. Biar nanti dia yang menilai. Gemas memang, demi melihat tak ada perkembangan baik. Tapi apa mau di kata, transisi kepemimpinan di masa lalu pun memunculkan banyak spekulasi-spekulasi. Membingungkan.

Sedikit beda mensikapi situasi antara aku dan Mas Sani di satu pihak dan mereka di pihak lain, aku maknai sebagai dinamika. Beda sikap adalah hal biasa asal masih dalam koridor yang sama. Masing-masing akan menempuh jalan yang ujungnya sama. Pelestarian aset. Sekali-kali beda pendapat nggak papa, kan? Selama ini kan memang sudah beda pendapatan… hehehe….

Ajakan makan siang terpaksa kami tolak. Saat teman-teman UPK bertanya atau mengajukan argumen, aku lirik Mas Sani sibuk melayani BBM dari Mba Grace. Dia pasti sudah bertanya-tanya, kapan pulangnya. Tak ada maksud apa-apa dari penolakan itu. Ini murni demi menjaga hati Mba Grace dan Mba Ade juga. Biar besok-besok acara culik menculik seperti ini diperbolehkan… ahaha….

Perjalanan pulang terasa lebih cepat. Karena sudah tidak perlu jasa GPS. Diskusi masih terus berlanjut. Salah satunya bercerita tentang Mba Erna. Gonus dulu sering berkomunikasi dengannya via facebook. Tapi akhir-akhir ini sejak audiensi di Kemenkokesra, tak pernah lagi. Sayangnya pula aku tak minta nomor HP saat bertemu di sana. Padahal saat aku tahu dia asli Magelang, sudah aku agendakan untuk membawanya pada acara-acara UPK di Magelang. Biar dia dengar sendiri apa yang terjadi dan apa yang diinginkan oleh teman-teman di sana. Aku berharap kesamaan asal usul bisa lebih mencairkan komunikasi.

Setelah agak bosan dengan diskusi-diskusi berat, kami beralih ke topik lain. Apa lagi kalau bukan soal cewek. Biasa kan kalau para cowok kumpul, salah satu bahasannya pasti cewek. Demikian juga sebaliknya. Ini hanya sekedar guyonan. Salah satu topik pembahasannya ya soal lagu Hitam Putih-nya Shaggy Dog. Lagu wajib selain “Jalan-jalan” yang selalu menemani perjalananku mbolang bersama Gonus. Prinsipku tetap sama, mencintai produk lokal Jawa Tengah… hahaha….

Gonus berpamitan saat kami sudah sampai di Desa Tanjungsari. Agenda menghijaukan visa harus dia lakukan. Sebentar lagi dia masih harus pergi. Itu pula yang sering aku lakukan saat di rumah. Prinsipnya menjaga keseimbangan. Antara bepergian dan urusan rumah. Anak dan istri tidak membutuhkan nafkah materi saja. Perhatian, kasih sayang, dan kemesraan menjadi modal berharga untuk mendidik keluarga menjadi sakinah mawaddah wa rohmah. Aamiin.

Mas Sani tak minta diantar ke rumah kos. Via BBM dia tahu kalau teman-teman masih di lokasi kegiatan, meski acara sudah usai. Bergegas kami berjalan ke tempat kuliah umum pagi tadi. Aku dapati Kang Budi dan yang lain masih di sana. Mas Sani mendekati rombongannya. Sedang aku bersama Kang Budi sebentar. Ada rasa tidak enak menyelinap saat aku tahu jam sudah menunjukkan pukul 16.00 lebih. Molor selama 2 jam dari toleransi waktu bagi mereka untuk kembali ke Jakarata, sudah terlalu lama. Masih beruntung Mas Sani diijinkan mencari makan bersama ku.

Menu lele goreng, sambel dan lalapan, terasa nikmat. Lapar yang mendera membuatku enak saja makan. Mba Grace dan Mba Ade menyusul kami. Mungkin mereka juga berpikiran, makan kok lama banget. Aku pun merasakan itu. Penjual yang sendirian itu melayani kami dari mematikan lele, membersihkan, menggoreng, membuat sambal dan teh, yang kemudian meladeni.

Saat itu aku baru dengar Mba Ade lancar berbicara. Dia bahkan meladeni obrolan penjual lele goreng yang mengaku asli Parakan, Temanggung. Sejak aku datang, kemudian diskusi bersama Mba Grace dan Mas Sani, dia hanya mendengarkan seperlunya saja. Antusias mendengarkan baru dia tunjukan tadi pagi. Eh, kok sekarang lancar ngomong. Aku kira dia pendiam. Biasanya seorang penulis seperti dia kan memang lebih banyak mendengar. Apa itu cuma perasaanku saja. Mungkin baru kenal kali ya. Makasih ya, Mba Ade kartu namanya. Aku belum sempat beli novelmu. Tapi sudah berkunjung ke blog-mu.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here