Ramah dan Meriahnya Festival DesTIKa

0
101
Sukseskan...!

Edisi ke-1

Tak menyesal aku menunggu bis selama hampir 1,5 jam di depan Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman di Karanglewas. Bis mikro yang aku tumpangi dari perempatan Tanjung aku mintakan berhenti di sana. Sebenarnya sepanjang pasar Karanglewas mataku awas mencari Pak Manto, perangkat Desa Kalibagor. Aku di suruh menunggunya di sana. Tapi kok tak kelihatan. Maka aku turun di depan museum itu. Walah, ternyata Pak Manto masih di Kalibagor. Itu jawabannya saat aku telpon memastikan dimana posisinya.

Aku kenal Pak Manto sudah lama. Nama lengkapnya Sumanto. Wah, kamu pasti ingat nama Sumanto dari Purbalingga ya? Hehe….

Sukseskan...!
Sukseskan…!

Perangkat Desa Kalibagor yang satu ini memiliki penampilan yang khas. Jenggot lebat mirip pasukan Taliban kala memakai sorban. Mirip rocker andai dia masih berambut panjang atau pakai wig. Senyumnya yang selalu mengembang itu lah yang membuat kesan sangar darinya hilang. Tak mudah tersinggung kala ada yang sedikit nakal padanya. Obyek guyonan tak lain dari penampilannya itu.

Saat aku konfirmasikan dengan Kang Dirin, Kadus Desa Karangnangka, jawabannya malah lebih parah.

“Ngonoh ngenteni dela de nganti ngoyod”.

Ini artinya aku harus mengisi waktu agar tak terasa lama menunggu. Untung saja aku bawa buku yang di beli saat kegiatan lokakarya di Jogja. Memahami bahasa tinggi dalam buku: Desa Membangun Indonesia. Tanda tangan sang penulis, Pak Sutoro Eko, sengaja aku mintakan dulu. Takut susah mintanya kalau sudah jadi menteri. Begitu alasanku dulu… ahihi….

Buku setebal 288 halaman dengan 7 bab pembahasan ini, baru aku baca hingga pertengahan Bab ke-3. Kemarin aku berhasil membaca sekitar 69 halaman saja. Isinya lebih memahamkan aku tentang adat kebiasaan di desa-desa dengan contoh-contoh di luar Jawa yang dijadikan panutan masyarakat. Adat kebiasaan yang ditaati oleh masyarakat terbukti menjadi modal sosial masyarakat membentuk pola kehidupan mereka. Intervensi pemerintah dalam hal ini Pemdes dilakukan semata untuk mencegah agar adat kebiasaan tak membebani masyarakat. Sedang adat kebiasaan yang masih dianggap baik dan bisa dilakukan oleh masyarakat, dilindungi. Inovasi lain yang dilakukan ialah dengan menuliskan adat kebiasaan tersebut agar bisa dipahami oleh seluruh masyarakat.

Aku sempatkan mencari makanan atau minuman di sana. Tukang es buah baru saja pulang, yang ada hanya bakso. Maka aku putuskan untuk menyeberang. Minum kopi sambil membaca buku sembari menunggu bis datang. Coba aku cari-cari pulpen dan buku untuk mencatat sementara tulisan yang akan aku buat ini. Sayangnya tak ketemu. Bertanya kepada penjaga toko, pun tak ada. Smartphone yang aku bawa sudah lowbat. Penyakit ini hanya bisa disembuhkan dengan pertolongan charger desktop. Huh.

Aku bergegas berangkat selepas shalat ashar. Pemberitahuan pemberangkatan dari Pradna dan Soep membuatku tak ingin tertinggal. Aku di antar istri sampai pasar Patikraja. Sengaja aku tak membawa motor. Motor sengaja aku tinggal agar istri mudah antar jemput Ata nantinya. Aku tahu jalur yang akan ditempuh oleh bis. Yang aku tahu, jalur tengah via Bumiayu, Prupuk, masuk pantura.

Bis yang akan mengangkut kami sebenarnya bergarasi di Tanjung Purwokerto. Tapi pemberitahuan yang aku terima, peserta berkumpul di Karangnangka. Wah, kalau ke sana nanti juga akan kembali ke jalan utama. Aku pikir bisa menunggu bis di perempatan Tanjung. Kang Dirin menyuruhku menunggu di komplek Pasar Karanglewas saja. Bareng rombongan dari Kalibagor. Andai tak membawa buku, mungkin jenuh yang aku rasakan.

Sedikit kaget dan bingung saat Soep dan Bu Santi bilang, kenapa yang itu tak di ajak. Yang mana ya, aku kan sendirian. Tawa riuh dari penumpang yang lain membuatku penasaran. Aku pun menoleh. Oalah jebule. Tak aku sadari saat aku asyik membaca buku di pinggir jalan, tak jauh dari tempat duduk ku ada seorang gadis ABG. Seingatku tadi, ada dua ABG di sana, sedang menunggu bis. Lha kok sekarang dia sendirian. Biar di urus sama Krishna (Phorot) aja… hihi….

Aku memilih duduk bersama Pak Manto. Lama tak terlihat bersua secara offline atau onlen  di FB maupun twitter membuatku sedikit penasaran. Lagi sibuk apa dia. Pengakuannya sih nggak ada kesibukan apa-apa. Cuma belum sempat saja. Saling bertanya kabar dan kegiatan dia di desa dan aku di UPK. Aku pun bertanya soal embung yang dibuat beberapa waktu yang lalu. Aku belum sempat melihatnya. Saat Pak Manto bilang bahwa embung itu di belakang SMK Pertanian, aku jadi semakin ingin ke sana. Insya Allah saat istri mulai kursus menjahit tas lagi.

Pak Manto pun bertanya tentang UPK paska program. Saat itu aku ceritakan kegiatan ku keliling-keliling. Soal konsep menjadi BUMADes dengan kontribusi surplus untuk desa. Termasuk kesulitan-kesulitan memahamkan kawan-kawan UPK akan perubahan paradigma pemberdayaan. Bagiku apapun bentuk akhir UPK bertransformasi, tak ada gunanya jika pola kerja sebagian UPK masih begini-begini saja. Paradigma keliru akibat kesalahan di sistem yang diterapkan, semestinya di rubah. Nah, jika kawan-kawan UPK ingin perubahan sedang mereka sendiri tak mau berubah ya sama saja.

Persinggungan antara UPK dengan Kades terkait kemacetan pun aku bicarakan. Tak adil memang, di saat ada kemacetan mereka diwajibkan melunasi atau menagih. Namun, tatkala mulus-mulus saja, sedang di MAD LPJ UPK tahu ada sekian ratus juta surplus, tak ada bagian bagi mereka. Ada punishment, tapi tanpa reward. Sangat tidak adil. Aku bilang ke Pak Manto, kasihan dengan desa yang terkena sanksi lokal gara-gara kemacetan SPP. Termasuk 3 desa di Kecamatan Kebasen.

Andai bisa surplus UPK diberikan kepada desa, aku yakin hubungan antara UPK dan para Kades ke depan akan lebih baik. Para Kades pasti tahu konsekuensinya. Karena ada keseimbangan antara reward dan punishment. Jika terjadi kemacetan, Pak Kades bisa minta tolong perangkat desa untuk melakukan penagihan dengan mudah. Surplus yang diterima bisa saja digunakan untuk bantuan transport yang bersangkutan. Bahkan jika tanpa kemacetan, bisa dipergunakan untuk yang lain. Dengan catatan itu semua sudah disepakati dalam Musyawarah Desa. Untuk urusan penggunaannya, UPK tak perlu ikut campur urusan internal desa. Biarkan mekanisme musyawarah desa yang menentukan. Sepertinya gambaran itu lebih mendekati ideal.

Aku suka perjalanan ini. Canda tawa mengiringinya. Saling lempar joke membuat suasana ramai. Apa saja bisa jadi bahan candaan. Menunjukkan guyub rukun sesama wong desa. Tak ada sekat penghalang. Entah dia pejabat, kades, sekdes, perangkat desa, maupun tokoh nasional (tonal), semua membaur dalam guyonan-guyonan yang kadang materinya sangat garing. Untuk urusan makanan pun tak perlu pusing. Kebiasaan orang desa yang gemar berbagi membuatku senang. Entah makanan apa akan saling ditawarkan. Bukan basa basi. Senang mereka jika makanan yang ditawarkan kita terima. Bandingkan dengan yang sudah kena virus individualisme. Wah repot.

Mungkin hanya Soep yang kemudian disibukkan dengan smartphone-nya. Urusan kegiatan Destika di sana. Banyak yang telpon, SMS, BBM, twitter, atau media lain yang intinya menanyakan jalur ke Desa Tanjungsari Kec. Sukahaji Kab. Majalengka. Sebenarnya panitia sudah banyak menyebar peta lokasi dan berbagai alternatif jalan menuju ke sana. Baik dari arah Jakarta, Bandung, maupun dari arah timur. Yah, namanya juga pegiat teknologi, ya memanfaatkan kecanggihan teknologi dong. Cuma sayangnya, banyak calon peserta yang belum bisa memanfaatkannya. Terlebih mereka yang baru bergabung. Biar kan, toh urusan ribet-ribet seperti ini, Soep sudah terbiasa. Sabar saja, maka subur benar dia… hihi….

Soep, Anton, Pradna, dan Arya adalah makhluk-makhluk kocak yang menjadikan guyonan sebagai obat penawar. Saat tuntutan banyak desa meminta segera diselesaikan urusan website, stress seharusnya menjangkiti mereka. Nyatanya mereka masih senang-senang saja. Salah satu kuncinya ya, banyak guyonan itu. Sayangnya kegiatan kali ini Arya tak bisa ikut. Kata Anton selain mungkin visa-nya merah, Arya sedang sakit kayaknya.

“Gagian mari, Vroh. Ben bisa tek aniaya. Website Mandirancan durung rampung koh”.

Kami berhenti di Masjid Baitul Makmur Desa Pagojengan Kec. Paguyangan Kab. Brebes untuk shalat Maghrib. Sesaat kemudian dilanjutkan shalat Isya. Tak jauh di depan, sudah menunggu rombongan dari Ngawen sebenarnya. Meski Kang Dirin sudah mendeskrispikan siapa Kades Ngawen saat aku ikut acara Lokakarya FPPD di Jogja, aku tetap nggak mudeng. Maka saat beberapa orang turun menyalami sang Kades, aku tetap di bis. Janjian makan malam bersama di rumah makan terdekat, tak kesampaian. Rumah Makan Kalisalak di Bumiayu yang kami singgahi, tak lagi bersama rombongan mereka. Wah, gimana nih. Sudah janjian eh, malah pisah lagi. Kasihan juga, nantinya saat kami sudah sampai di Tanjungsari, mereka masih sibuk karena tak tahu arah.

Apakah sudah jadi ciri khas atau bagaimana ya, setelah kenyang, kami tak lagi ramai. Bukan kali ini saja aku temui. Bersama rombongan dari Banyumas pada acara lain, kami akan ramai, tapi begitu habis makan ya sama saja. Tak se-ramai tadi. Masing-masing kelompok hanya berbicara sendiri-sendiri. Aku berkelompok bersama Pak Kades dan Sekdes Wlaharwetan, dan Amrizal di jok paling belakang. Tak ada materi serius, sekedar membangun keakraban saja.

Jalur tengah yang kemarin-kemarin begitu padat, sekarang lebih lengang. Kemacetan hanya di beberapa titik dan sebentar saja. Ekstra hati-hati para sopir menjalankan kendaraan di sini. Apalagi malam hari, saat truk-turk besar itu berjalan. Jalan yang berkelak kelok dengan arah belokan hampir 180 derajat di dua tempat membuat truk-truk besar harus memperlambat lajunya. Yang pasti kemacetan ini tak separah dulu. Perjalanan hanya molor sekitar 1,5 jam dari perkiraan normal.

Memasuki wilayah Prupuk dengan jalan yang lurus tanpa kelak kelok dan naik turun, terlihat lengang. Sopir pun bereaksi dengan menginjak pedal gas lebih dalam. Bis melaju lebih kencang, seolah ingin melampiaskan rasa plong karena tadi harus bersabar menunggu truk-truk terengah-engah berjalan. Melihat stasiun Prupuk aku jadi ingat Rinto. Anak pertama dari pasangan Pak Toro dan Ibu Wati ini sejak kecil tinggal di Mandirancan. Pak Toro lah yang asli Mandirancan. Dulu jaman kejayaannya, Ibu Wati berjualan di stasiun Prupuk. Aku pernah ke sana bersama Ibu ku dan Rinto juga. Sekarang, lama aku tak dengar kabar ibu Wati. Kalau Rinto masih sering komunikasi via fesbuk. Nama bekennya: Rinto Andesmaran. Saat kami kecil, Rinto salah satu musuh yang harus dihindari. Nakalnya minta ampun. Sering dia kami kucilkan karena nakalnya itu. Tapi seiring berjalannya waktu kami akur kembali.

Meski tak memiliki ijazah formal, dia bisa dengan mudah berganti-ganti pekerjaan. Satu pelajaran yang aku ambil darinya, dia pandai bergaul. Meski pergaulannya sering tak baik. Khusus soal ini tak akan aku ceritakan. Aku tak mau mengumbar aib seseorang.

Sejak pertigaan Prupuk yang memisahkan arah ke Tegal dan Jakarta, aku mulai memejamkan mata. Bukan tidur, sekedar mengistirahatkan mata yang lelah. Begitu juga teman-teman yang lain. Lincah sang sopir membawa bis. Jalan yang lurus terasa bergoyang-goyang. Apalagi kalau bukan dia menyalip truk-truk di depan satu persatu. Saat jalan didepan agak kosong dia akan ambil kanan dan menyalip. Segera di merapat ke sebelah kiri jika didapati di depan ada kendaraan yang hendak berpapasan. Aku nikmati saja.

Kami sempat kaget dan terlonjak, saat bis terpaksa melewati jalan berlubang agak besar. Saat itu sang sopir sedang menyalip truk, tak terlihat ada lubang saking cepatnya bis berjalan. Semua penumpang yang sedang asyik terpejam terbangun. Tak ada sumpah serapah yang keluar. Kaget saja. Kemudian kami memejamkan mata lagi hingga bis berhenti di Pom Bensin di wilayah Ketanggungan Brebes.

Ternyata, kelincahan sang sopir saat menyalip truk-truk tadi, minta bayaran. Spion sebelah kiri hancur. Kata Krishna, itu terjadi saat mendadak terlihat kendaraan di depan. Padahal bis telanjur sedang berusaha menyalip sebuah truk. Banting stir ke kiri mengakibatkan spion menabrak bak truk. Remuklah kaca spion itu. Wah, tertidur aku rupanya kejadian yang sempat menghebohkan itu, tak aku dapati momennya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here