Rekreasi Bersama Tetangga

0
555
Semua gembira.

Rekreasi bareng teman-teman? Biasa. Rekreasi bersama tetangga? Jarang-jarang lho.

Nah, ini yang kemarin kami lakukan. Warga RT 01/01 Desa Mandirancan bersama-sama rekreasi pada hari Minggu (21/08/2016). Mulai dari anak-anak sampai orang tua ikut. Semua ingin bersenang-senang, sejenak melepaskan penat sehari-hari.

Kami berangkat sekitar jam 03.00 dini hari. Sebanyak 60 orang ikut dalam kegiatan ini ditambah beberapa anak-anak. Memang tak semua bisa ikut. Alasannya macam-macam dan bisa dimengerti. Sayang memang.

Saat mendengar akan rencana rekreasi warga RT, aku pastikan bisa ikut. Lokasi yang dituju adalah Candi Borobudur, Kebun Binatang Gembiraloka, dan Malioboro. Bagi ku ini kesempatan langka. Kapan lagi bisa rekreasi bareng seperti ini. Belum tentu setahun sekali. Apalagi sudah lama tak ke Borobudur. Sedang Syamil sudah merengek minta ke Gembira Loka lagi.

Bagi ku, ini kesempatan baik untuk menjaga keseimbangan. Aktifitas yang cukup padat di luar lingkungan sendiri, mesti diimbangi. Meski pada keseharian, aku berusaha menyempatkan ikut pada kegiatan pertemuan rutin RT dan kerja bakti, kesempatan ini penting. Apalagi acara nya kan bersenang-senang.

Aku pernah mendengar cerita menarik tentang pergaulan. Ada seorang yang terkenal dimana-mana. Sering dia dipanggil untuk manggung memberikan motivasi kepada masyarakat. Karena sedang naik daun, jadwal kegiatannya sangat padat. Hampir tak pernah tinggal di rumah. Peserta seminar yang menyimak paparannya, terkagum-kagum.

Sampai pada suatu ketika. Panitia seminar ingin mengantar sang Motivator. Pada awalnya sang Motivator menolak. Tak mau merepotkan panitia. Tapi panitia memaksa. Mereka ingin tahu tempat tinggal sang Motivator idola tersebut. Terkuaklah aib sang Motivator.

Ternyata sang Motivator tersebut tidak disukai oleh para tetangga. Usut punya usut, ternyata sang Motivator jarang bergaul di lingkungan. Kesibukannya membuatnya seperti mengabaikan keberadaan tetangga. Padahal para mengakui bahwa sang Motivator tak punya masalah apa-apa. Masalahnya cuma satu, yakni: tak mau bergaul dengan tetangga.

Nah!

Kisah ini benar-benar aku ingat. Aku yakin, pada suatu saat ini akan terjadi padaku. Sering bepergian dan atau pulang larut, membuatku jarang bertegur sapa dengan para tetangga. Aku tak mau pergaulanku di luar lingkungan, akan memperburuk komunikasi ku dengan para tetangga. Oleh karena nya, aku berusaha menjaga keseimbangan pergaulan.

Kegembiraan dalam bis
Kegembiraan dalam bis

Candi Borobudur

Sebenarnya kami ingin menikmati sunrise di Candi Borobudur. Sayangnya tak kesampaian. Jam keberangkatan kurang gasik. Padahal andai itu bisa, tentu mengasyikkan.

Aku dapati wajah-wajah cerita sepanjang perjalanan. Para orang tua terlihat bersemangat ikut menaiki tangga-tangga candi. Meski tertatih-tatih dan berpegangan, mereka berusaha naik ke puncak. Ada yang sampai dengan terengah-engah, tak sedikit yang menyerah.

Syamil tak kalah semangat. Sejak dari pelataran hingga puncak, dia naik sendiri. Tak minta digendong. Saat di pelataran puncak pun dia berlari-lari kecil bareng Ata. Berkeliling dan melihat ke bawah menjadi keasyikannya. Aku mesti mengawasi mereka. Sesekali kami berpose mengabadikannya.

Sayangnya sejak kami merasa lelah dan memutuskan turun, Syamil minta di bopong. Kaki terasa pegal. Dia terus minta bopong sampai memasuki area pedagang. Setelah aku rayu, dia mau jalan kaki. Tentu ada kompensasi nya. Syamil minta dibelikan mainan parasut.

Saat di pelataran candi, kami berpose bareng tetangga. Sayangnya memang tak semua. Para orang tua yang menyerah menaikinya, tak nampak di jalur keluar. Ini akan menjadi momen berharga. Kami bahagia.

Pak RT dan istri serta Suswati di pelataran Borobudur.
Pak RT dan istri serta Suswati di pelataran Borobudur.
Syamil ceria.
Syamil ceria.
Semua gembira.
Semua gembira.

Gembira Loka

Hampir saja kami batal ke kebun binatang Gembira Loka. Kru bis mengatakan mereka akan merugi kalau ke sana, kecuali kami mau tambah iuran. Ah, ini trik murahan. Aku paham benar cara mereka menciderai perjanjian awal. Modus seperti ini sudah sering. Tapi tak aku katakan ke Pak RT dan para peserta. Biar lah nanti kalau sudah pulang.

Akhirnya disepakati tiap kepala menambah 10 ribu untuk tiket masuk ke Gembira Loka. Aku tak mau ngomong banyak. Selain demi Ata dan Syamil, aku pun tak mau merusak suasana. Kami sedang bersenang-senang. Nyata nya sepanjang jalan dari Borobudur sampai Gembira Loka, karaoke tak pernah putus.

Lama sekali tak melewati jalan Magelang ke Yogyakarta via Muntilan. Muntilan pernah dijadikan kota administratif seperti Purwokerto. Namun seiring berjalannya perubahan pola pemerintahan, Muntilan dikembalikan lagi menjadi kota kecamatan seperti semula. Sedang Purwokerto rencananya malah diperluas wilayahnya. Termasuk beberapa desa di kecamatan Patikraja. Mungkin Pemkab. Banyumas ingin mengembangkan kota Purwokerto agar layak menjadi kotamadya. Tak tahu persis.

Saat di Gembira Loka, aku terpisah dengan Syamil. Dia di gendong Mas Wasono. Aku bareng Ata dan istri tertinggal rombongan. Kami menunggu antrian shalat dhuhur. Ini lah awal masalahnya. Karena terpisah, aku dan istri justru sibuk mencari Syamil. Kami khawatir Syamil menangis dan minta ini itu. Kasihan Mas Sono.

Untung saja beberapa waktu lalu kami ke sini. Aku dan istri tak terlalu ngungun. Hanya Ata yang ngambek. Dia ingin melihat-lihat koleksi hewan di sini. Apalagi sebelum berangkat, aku sudah menjanjikan dia naik perahu. Semua tak kesampaian. Ata akhirnya minta dibelikan jajan.

Saat melihat jam, aku harus bergegas ke bis. Perjanjian awal, kami harus sudah di bis sekitar jam 14.00. Kami terlambat. Syamil sudah di sana. Dia menghambur dan menangis melihat istri ku.

Sesaat sebelum terpisah.
Sesaat sebelum terpisah.

Malioboro

Nafsu besar, tenaga kurang. Mungkin itu gambarannya. Niat nya ingin pulang agak malam. Acara jalan-jalan di Malioboro minta ditambahi. Nyata lelah sudah melanda. Kaki-kaki sudah terasa pegal sangat. Pada akhirnya nanti, kami pulang lebih awal dari jam yang disepakati. Mungkin hanya penasaran dengan Malioboro yang membuat semua berjalan ke sana.

Bagi yang belum pernah, akan bertanya: “kayak apa sih Malioboro itu?”

Bagi yang sudah pernah, akan bertanya: “seperti apa Malioboro sekarang?”

Kali ini aku memisahkan diri. Aku bareng Syamil memasuki areal Taman Pintar. Sedang Ata dan istri ku bareng rombongan ke Malioboro. Aku hanya ingin mencari tahu, dimana lokasi pedagang buku bekas. Yang aku tahu hanya di jalan sebelah selatan menuju Keraton.

Karena tak ada tanda-tanda, kami hanya jalan-jalan saja. Beberapa kali Syamil minta di foto. Tapi setelah itu, gendong lagi. Capeknya terasa banget nantinya. Semoga dia bisa merasakan kelak saat sudah menjadi seorang ayah. Aamiin….

Banyak yang kembali ke bis, saat aku berjalan ke Malioboro. Mereka terlihat kepayahan. Mungkin tak terbiasa jalan jauh. Bisa kamu bayangkan. Jalan kaki di Borobudur dan Gembira Loka, pasti terasa pegal. Panjang, lebar, luas, dan jauh harus ditempuh jalan kaki saat di lokasi wisata.

Aku masih sempatkan menilik koleksi buku di jalan selatan menuju Keraton itu. Kurang menarik. Pajangan yang terlihat hanya novel. Aku lagi nggak mood baca novel.

Jalan-jalan di Malioboro pun sepertinya tak menarik. Awal tahun kemarin sudah ke sini. Lagi pula sudah capek. Syamil masih digendong. Lagi tak ingin beli sesuatu. Iket Baduy baru beli kemarin. Keris kayaknya belum lah. Pilihan akhirnya jatuh pada blangkon.

Saat kembali ke bis, sudah banyak yang di sana. Terjebaknya bis ditengah-tengah parkiran membawa berkah bagi ku. Entah yang lain. Akhirnya aku temukan lapak buku bekas saat iseng jalan-jalan. Koleksinya lebih menarik. Sampai aku bisa membeli dua judul. Relatif murah. Kayaknya masih lebih murah daripada di Pasar Senen.

Penantian keluar dari jebakan parkir membuat sebagian gelisah. Tapi apa boleh buat, bis benar-benar tak bisa keluar. Apalagi waktu kembali ke bis terlalu cepat. Sebab kesepakatan kembali ke bis, sekitar jam 17.00 WIB.

Alhamdulillah, akhirnya kami bisa keluar dan pulang ke Mandirancan. Sepanjang perjalanan pulang, hampir semua terlelap. Kami sampai di Mandirancan sekitar pukul 22.30 WIB.

Bekerja itu penting. Bertetangga itu wajib. Maka imbangi lah.

Sisa-sisa tenaga.
Sisa-sisa tenaga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here