Rencana Liburan Keluarga

0
607

Baik Ata maupun Syamil, selalu ingin agar aku berhenti persis di dekat palang pintu kereta api, saat kereta hendak lewat. Mereka ingin melihat dari dekat kendaraan darat yang selalu diistimewakan. Panjangnya rangkaian gerbong menjadi pemandangan yang mengasyikkan. Meski angin yang terbawa selalu menerbangkan debu, tak membuat mereka ingin menjauh.

Bahkan saat aku libur, sering mereka minta bermain di komplek stasiun. Hanya ingin melihat kereta. Liburan yang irit. Bagi mereka, kendaraan darat ini memang menarik. Jarang berkeliaran di jalanan yang sering kami lalui. Karena rumah tempat tinggal kami agak jauh dengan stasiun atau rel kereta. Padahal tentu bising dan mungkin terganggu saat tiba-tiba melintas kereta di malam buta, jika rumah kami dekat jalur rel.

Syamil sering menanyakan arah yang dituju oleh kereta. Aku hanya menjawab sekenanya.

Saat berhenti di perlintasan kereta di Gambarsari, jika kereta ke arah selatan, aku katakan kereta ke Yogya, Solo, atau Surabaya. Tapi jika kereta menuju utara, aku katakan kereta hendak ke Jakarta. Benar atau tidak, aku tak tahu. Aku menjawab sekenanya. Sebab baik Syamil maupun Ata selalu protes jika aku jawab, tak tahu. Pasti mereka akan bertanya lagi. Bagi mereka, aku atau istri ku harus tahu kemana kereta menuju. Ya, sudah. Aku jawab sekenanya. Toh mereka tak pernah menuduhku berbohong. Kecuali jika mereka meralat jawabanku, aku akan membenarkan jawaban mereka.

Ata atau Syamil akan berujar, “Bapa kesupen nggih (Bapa lupa ya)?”

Pasti aku jawab: “Nggih”. Selesai.

Ata pernah sekali naik kereta. Waktu itu, rombongan keluarga istri pergi ke Jombang. Lik Satam, adik ibu mertua, sedang punya hajat. Aku terpaksa absen. Waktu itu, sedang ujian semesteran. Saat itu, istriku sedang hamil muda. Janin itu bernama Syamil, saat keluar nantinya. Tapi, setelah itu tak pernah lagi dia naik kereta.

Kami hanya berjanji untuk naik kereta bersama saat uang sudah banyak. Itu yang selalu kami jawab saat keduanya merengek minta.

Akhir tahun kemarin (2014), sebenarnya aku sudah bilang sama istri. Aku ingin kami bepergian mumpung harga tiket belum naik. Waktu itu, isu kenaikan harga tiket sudah merebak. Ternyata benar. Awal tahun 2015, harga tiket naik. Sayang keinginanku saat itu tidak disetujuinya. Berbagai pertimbangan membuatnya menolak usulanku. Batal jadinya.

Sempat muncul larangan bermain di komplek stasiun, membuat kami melarang Ata dan Syamil saat mereka memintanya. Untung keduanya mau mengerti. Hingga tulisan ini dibuat, seingatku tak pernah lagi kami bermain di komplek stasiun. Tapi keinginan berhenti di dekat palang pintu, tetap seperti biasa.

Saat melintas di rel kadang Syamil bertanya kereta nya kemana. Terkadang Ata yang menyahut, kadang aku menjawab sekenanya.

Yang tidak bisa aku jawab yakni saat aku harus bepergian naik kereta. Kenapa aku pergi naik kereta, sedang mereka tak diajak. Sering Ata merengut kala aku berpamitan. Syamil bahkan menangis keras. Ata sering protes, katanya uang masih sedikit, kok Bapa naik kereta. Aku berusaha jelaskan kalau ini urusan pekerjaan, tiket kereta dibayari. Kadang Ata mengerti meski tetap merengut. Tapi itu selalu tak berlaku bagi Syamil. Pokoknya dia ingin ikut naik kereta.

Jika ini yang terjadi, kadang aku sedikit menyalahkan istri. Mengapa waktu itu dia menolak usulku. Dia tetap pada pendiriannya. Alasannya waktu itu tetap soal perhitungan pengeluaran kebutuhan. Tapi, bincang-bincang soal ini kami lakukan saat tak ada anak-anak. Kami sudah berjanji sejak awal perkenalan sebelum menikah, tidak boleh membicarakan hal-hal seperti ini di depan anak-anak.

Alasan kebutuhan sehari-hari, tak bisa aku bantah. Memang saat itu, kami lebih membutuhkan biaya kebutuhan hidup daripada bepergian bersama. Saat itu memang tak ada bayangan pendapatan lain. Tidak membuat pusing saja sudah alhamdulillah.

Bagaimana pun, niat baik selalu akan menemui jalan. Niat baik untuk bepergian bersama akhirnya menemui solusi. Informasi akan turunnya harga tiket di bulan Maret ini, aku tunggu-tunggu. Alhamdulillah bisa kesampaian. Harga tiket benar-benar turun, dan aku ada uang lebih. Maka niatan itu pun kami wujudkan.

Aku sempat lupa mengecek harga tiket kereta api. Baru pada pertengahan bulan aku ingat. Maka segera aku googling mencari informasinya. Benar. Ternyata harga tiket, khusus bulan Maret, sudah kembali seperti pada tahun 2014. Segera aku bicarakan hal ini pada istriku. Aku yakinkan padanya. Rencananya sudah aku buat. Alhamdulillah, istri setuju.

Meski saat googling dan melihat adanya tiket pada website PT. KAI, belum aku kabarkan soal ini pada anak-anak. Aku ingin mengatakan pada mereka saat tiket sudah di tangan.

Segera aku sempatkan ke stasiun besar Purwokerto untuk membeli tiket. Aku ingin memastikan tempat duduk kami bersamaan. Jika pesan tiket via online, takut nantinya terpisah. Tak nyaman nanti jadinya.

Sekali lagi, aku bersyukur. Apa yang aku pesankan masih ada. Kursi yang aku pesan masih ada yang bersamaan, baik saat pergi maupun pulangnya nanti. Hanya saja, saat perjalanan berangkat, kami harus duduk di gerbong terakhir. Tak apa lah yang penting masih bisa bersama.

Awalnya ibu enggan. Dia bilang lebih baik tinggal di rumah saja. Aku bilang sesekali. Akhirnya dia mau.

Saat istriku bertanya, nanti tujuannya kemana, aku pun googling. Aku cari peta dan tujuan terdekat dan termurah di sana. Ada tiga pilihan, yakni: Dufan, Ancol, dan TMII. Pilihan pun jatuh pada TMII. Setelah turun di stasiun Jakarta Kota, rencananya naik taksi ke TMII. Menghabiskan waktu di sana hingga sore. Kemudian balik ke stasiun, menunggu kereta, dan pulang.

Pilihan hari jatuh pada hari Sabtu, tanggal 21 Maret. Kebetulan hari libur. Rencananya, kami berangkat pada Jum’at sore. Kemudian berjalan-jalan di sana pada hari Sabtu. Minggu pagi diharapkan sudah sampai di rumah lagi.

Sengaja aku pilih hari itu, dengan pertimbangan agar pada hari Minggu, Ata masih bisa istirahat.

Kereta yang akan kami naiki melalui jalur selatan. Kereta Serayu Malam, sengaja aku pilih. Selain harga tiket yang murah, waktu kedatangan di stasiun Jakarta Kota pun bisa pagi. Demikian pula saat pulang. Sesampainya di Purwokerto sudah agak siang. Tak terlalu lama menunggu di stasiun nantinya.

Terbayang Ata dan Syamil akan bernyanyi-nyanyi sepanjang perjalanan. Akan berceloteh menanyakan ini dan itu. Ata akan bercerita pada teman-teman sepulang dari sana. Begitu pula Syamil. Tutur bahasanya yang masih belum jelas, selalu membuat tetangga rindu. Mereka merasa kehilangan saat Syamil menginap di rumah ibu mertua.

Setelah bepergian ini, Syamil akan punya banyak bahan bercerita. Mereka berdua lebih mirip aku soal ini. Suka bercerita.

Aku berharap, kepergian kami bisa sesuai rencana. Selamat sampai tujuan dan pulang dengan senang. Semoga anak-anak, istri, dan ibu bisa bahagia. Bangga rasanya bisa membuat mereka bahagia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here