Saat Ata Merengut, Syamil Justru Gembira

0
208
Main di Kids Fun

Mungkin hanya Syamil yang ceria dengan herpes yang menjangkit di tubuhku. Bintik-bintik merah yang kemudian tumbuh menjadi benjolan-benjolan kecil berair karena virus terasa menganggu. Panas, perih, pegal, dan membuat kepala pusing ini membuatku tak berdaya. Apalagi herpes (dompo=dampa) ini tumbuh di punggung kanan, lengan dan dada sekitar persendian. Akibatnya pergerakan tangan kanan menjadi kaku. Gerak tangan kanan dari satu sisi ke sisi lain harus dilakukan sangat berhati-hati. Pegal sekali.

Tanda-tanda herpes sebenarnya sudah dicurigai sejak hari Senin. Akan tetapi karena tak dianggap, maka herpes semakin menyebar dan berakibat begini. Beberapa orang menyarankan pengobatan tradisional yang sebenarnya aku sendiri tak percaya. Tapi tak urung aku coba juga. Campuran babal (kelapa) dengan gula merah dikunyah oleh janda yang menikah dengan bujang atau sebaliknya. Kemudian disemprotkan dan dioleskan ke bagian yang sakit. Entahlah. Aku cuma tak ingin mengecewakan mereka.

Main di Kids Fun
Main di Kids Fun

Pegal di persendian itu yang membuat aku kembali ngewe (ngiwe). Tak bisa aku gunakan tangan kanan. Pun pusing yang amat sangat membuat aku tak bisa masuk kerja. Hanya tidur, tiduran, dan aktifitas ringan lainnya.

Lagi-lagi janji tinggal janji. Ata yang sudah aku janjikan refreshing pun kembali batal. Padahal Sabtu kemarin, dia libur. Para guru di sekolahnya ada rapat. Untung saja, Kikin, adikku yang tinggal di Kebumen, pulang pada Jum’at sore. Sedikit bisa menghiburnya. Kemana saja Kikin dan istrinya pergi, dia pasti di ajak. Meringankan rasa bersalahku.

Mungkin yang menjadi lebih repot ialah istri dan ibu ku. Keadaan seperti ini jelas membuatku tak bisa membantu mereka. Eh, tapi jangan disamakan cara membantuku di rumah dengan yang lain. Paling banter aku akan mengajak keduanya jalan-jalan atau bermain agak jauh dari rumah. Sekedar menghindarkan istri atau ibu ku dari gangguan anak-anak. Tak lebih dari itu. Urusan domestik aku bukan jagonya. Hanya keterpaksaan saat tak ada perempuan di rumah saja yang membuatku seolah bisa. Mendadak aku bisa masak, cuci baju, piring, menyapu, dan beres-beres lainnya saat istri dan anak-anak di rumah ibu mertua. Setelah mereka kembali. Aku gagap lagi. Hehe….

Momong di Andhang Pangrenan
Momong di Andhang Pangrenan

Dua hari pertama, yakni Jum’at dan Sabtu, Syamil tak pergi jauh atau lama. Sering dia masuk untuk memastikan aku di rumah. Dia pun masih sering lupa kalau aku sedang sakit. Tiba-tiba menubrukku saat aku sedang duduk dan memeluk erat, membuat senut-senut bertambah. Apalagi jika dia naik dari belakang dengan mengkaitkan kedua tangan di leher, dan kedua kaki ke perut sambil berkata minta di gendong. Serta merta aku berseru memanggil istri agar membopongnya. Istri ku memberi pengertian kalau aku sedang sakit. Baru dia ingat.

Malam hari saat mereka berdua harus tidur, aku lebih memilih menyingkir. Kamar ibu yang di belakang menjadi tujuan. Pasalnya Syamil dan Ata akan menata 4 bantal dan 3 guling secara berurutan di kedua ranjang. Kadang berbentuk huruf U atau melingkar. Mereka akan berjalan diatasnya seolah lokomotif yang sedang melaju di atas rel. Ata akan menyanyikan lagu naik kereta api, sedang Syamil akan menirukan sekenanya. Aku harus waspada. Syamil akan menjatuhkan diri di dekatku. Bukan tidak mungkin akan menubrukku. Tapi aku memang baru menyingkir saat masa bermain mereka di kasur sudah dianggap cukup oleh istriku.

Saat di Alun-alun Purwokerto
Saat di Alun-alun Purwokerto

Siang hari, saatnya tidur pun dia minta aku temani. Meski hingga kini hanya istri dan ibu ku yang bisa menidurkannya, aku harus terlihat di sana. Begitu juga saat dia terbangun. Dia akan mencariku. Memastikan aku tak pergi ke mana-mana. Fasih dia berkata: “Bapa Kikis”.

Pamer kebisaan pun dia lakukan. Saat mandi misalnya. Dia akan memanggilku agar melihat caranya mandi. Dia unjuk kemampuan mengguyur tubuhnya dengan gayung. Bermain sabun, dan menggosok gigi. Menggosok gigi menurutnya tentu beda dengan apa yang kita mengerti. Baginya, memasukkan sikat yang berisi pasta gigi dengan di emut mirip permen sudah dikatakan gosok gigi. Baginya pula, ini sebuah kemajuan. Pasalnya beberapa waktu yang lalu dia enggan dan sering menangis jika dipaksa gosok gigi. Tak heran kalau empat gigi depannya sudah rusak. Hampir gupis. Beda dengan Ata yang sejak kecil mau dan rajin gosok gigi. Giginya putih terjaga. Kebiasaan makan permen dan coklat pun Syamil lebih susah di kontrol. Beda dengan Ata.

Bersama Syafira (ponakan) dan Mba Ata
Bersama Syafira (ponakan) dan Ata

Syamil pun memamerkan kebisaannya buang kotoran di closet. Untuk urusan ini, Syamil memang lebih bisa daripada Ata saat seumuran. Syamil akan jongkok saat pipis. Ia ikuti apa yang istri ku katakan. Posisi jongkok saat kencing bagus untuk kesehatan. Semua kotoran akan terbuang. Oleh karenanya, kebiasaan ini tak berlaku hanya untuk anak perempuan, anak laki-laki pun harus. Mungkin posisi kencing sambil berdiri hanya dia lakukan saat tak di kamar mandi. Dia akan turunkan celana. Basah di celana karena air seni memang masih sering. Terkadang juga tak terkena celana. Biar saja.

Jika dibandingkan dengan Ata pada usia 2 tahunan, Syamil lebih mandiri. Selain cara pipis, Syamil bisa makan sendiri. Dia pun tunjukkan itu. Tak mau dia disuapi. Bahkan saat di mulutnya masih ada nasi, dia akan berbicara kepadaku. Dia bilang makan sendiri sembari mengulangi caranya menyuap. Tergopoh-gopoh dia mengambilkan ku obat dan menyuruhku segera meminumnya. Aku  harus pura-pura minum serta menyimpan obat itu. Jika tidak, dia akan ulangi adegan itu nantinya. Tadi sore sudah kejadian yang ketiga kalinya.

Sekedar melihat kereta
Sekedar melihat kereta

Ciri kedua anakku yang mungkin sama denganku saat kecil adalah gemar bercerita dan cengeng. Bahkan untuk Ata ditambah: penakut. Makanya aku tak pernah menegur keras pada keduanya karena itu. Tepak awak. Hanya memberi pemahaman saja. Beda dengan istri ku yang kadang perlu menegur agak keras. Terlebih untuk Ata.

Ata akan bercerita apa saja yang baru dia alami saat bertemu aku. Saat menelpon Kikin, Mba Eci (kakakku), dan Dita (keponakkanku), Ata akan mendominasi pembicaraan. Dia kuat berbicara sendiri lebih dari setengah jam. Pun dengan Syamil. Suaranya yang masih cadel hanya bisa dipahami oleh kami yang sering bersamanya.

Tadi siang setelah aku bangun tidur, dia sampaikan kalau dia habis lari-lari bersama ibu ku. Dia peragakan caranya berlari.

“Mamil ayu-ayu ili ito dede na” (Syamil lari-lari di jalan dekat rumahnya Dede Kina).

Gembira sekali dia. Aku ekspresikan wajah antusias mendengar ceritanya. Aku sambut dia dengan pelukan dan ciuman. Kemarin pun dia pamerkan siku dan kakinya yang sakit. Dia katakan tadi dia jatuh di depan rumahnya Aisyah. Memeragakan cara jatuh dan gaya menangisnya. Hahaha….

Tiga dari enam titik herpes
Tiga dari enam titik herpes

Jarangnya dia berkumpul bersamaku membuatnya merasa perlu melakukan itu semua. Saat-saat bersamanya praktis kala aku dan istri mengantar Ata sekolah. Kemudian aku pergi bekerja yang terkadang hingga maghrib. Andai aku pulang lebih awal, biasanya aku manfaatkan untuk aktifitas lain. Dia pun jarang bersamaku. Selain itu, paling juga saat liburan yang akhir-akhir ini terenggut dengan kegiatan di luar.

Sebenarnya sejak dia di sapih, aku ingin sekali memeluknya saat hendak tidur. Aku sering merayunya. Aku bilang kalau Ata dan istri ku cewek, Syamil dan aku cowok. Makanya cowok harusnya tidur sama cowok. Lantas dia akan membantah dengan sedikit berteriak:

“Mamil ewe…!”

Sekilas tentang Herpes
Sekilas tentang Herpes

Keinginanku untuk selalu bisa dekat dan berkomunikasi dengan anak-anak tak lain karena perkembangan jaman yang tak bisa ditebak. Kasus-kasus kriminalitas anak-anak, ditengarai karena renggangnya hubungan antara anak dengan orang tuanya. Mereka sedang melakukan protes kepada orang yang dicintai. Mereka sedang cari perhatian. Ini yang kami antisipasi. Aku dan istriku ingin agar Ata maupun Syamil sejak dini hingga kelak, akan menjadikan kami sebagai teman bercerita. Apapun yang telah, sedang,dan akan mereka lakukan.

Sepulang bermain bersama ibu ku kemarin, aku bertanya padanya. Dengan semangat dan gaya menggebu-gebu dia memberi laporan.

“Tak Atin alan ili ito ebih (Truknya Om Atin jalan ke sana, jauh)”.

Bahkan dia mengulangi gerakan yang tak aku minta. Dia bilang kalau dulu dia lihat aku bermain voli di lapangan. Dia mengayunkan tangan kanannya ke udara sembari meloncat. Saat memeragakan aku main tenis meja, dia gerakkan tangan kanan setinggi dada. Maka aku tanyakan pula bagaimana gerakan main bola. Giliran dia ayunkan kaki kanan. Puas dia meyakinkanku.

Maka nikmat yang manakah lagi yang akan aku dustakan?

Jika dalam 4 (empat) hari ini istri dan ibu ku sedih melihatku sakit. Ata merengut karena aku kembali ingkar janji. Justru Syamil bergembira. Keterpaksaanku untuk tidak bepergian dia nikmati. Termasuk saat seharusnya aku merapat ke acara pelatihan KPMD dan pelaku PNPM MP Kec. Lakbuk Kab. Ciamis di Baturaden pada malam minggu kemarin. Atau menyertai mereka studi banding ke Desa Melung pada siang harinya.

Maaf ya, Akang Yanto.

Sampai sekarang, yang selalu terbayang saat aku berpamitan untuk pergi adalah tangisan dan rengekannya.

“Mamil lelek (Syamil ikut)”.

Maafkan Bapa Kikis ya, Sayang….

BAGIKAN
Berita sebelumyaTerus Berkarya, Mama
Berita berikutnyaTak Sekedar Transfer Pengetahuan
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here