Sadar Diri

0
230
Syamil, Haidar, Ata

Ini kali ketiga Syamil kecelakaan. Kecelakaan kecil. Pertama, dia terserempet motor. Ketika dia tahu ada motor lewat, bukannya meminggirkan sepeda. Dia malah ke tengah dan berhenti mendadak. Alhasil pengendara pun kaget dan menyerempetnya. Kedua, Syamil menabrak mobil saat bersepeda. Pelek sepeda rusak. Syamil sendiri sedikit luka. Dia agak trauma. Enggan bersepeda lagi. Tapi hanya berselang dua hari saja. Berikutnya dia asyik bersepeda lagi.

Hampir semua tetangga tahu, Syamil kalau naik sepeda memang tak lihat jalan. Senangnya cepat, tak mau mengerem, dan matanya jelalatan entah apa yang dilihat. Nah, begitu keluar dari gang, dia langsung menabrak bagian belakang mobil dari arah selatan. Dia sendiri bersepeda dari arah barat.

Kecelakaan ketiga ini tanpa bersepeda. Dia berlari menabrak sepeda motor. Kecelakaan ketiga ini agak parah. Pelipis kirinya sedikit sobek, bahkan kata Bu Bidan Erly, baiknya di jahit agak cepat sembuh. Syamil menangis menolak. Untung tak terlalu lebar, butuh satu jahitan.

Bibir atasnya jontor. Telinga kanan memar dan luka lecet. Sedang kepala bagian atas telinga kanan benjol. Pipi sedikit tergores. Luka yang membuatnya kesulitan adalah lecet pada lutut kanan. Lecet-lecet sedikit pada bagian atas jemari kaki ada. Hari itu sampai malam, dan pagi harinya, aku meski membantunya berjalan, bahkan sebelumnya selalu minta di bopong.

Kronologis

Persisnya kejadian tak bisa terekam. Syamil saat ditanya bilang nggak tahu. Pasalnya, paska dia menabrak sepeda motor, sempat pingsan. Kata Lik Narso, Syamil pun bertanya kenapa bisa tiduran di rumah Bu Bidan Erly. Saat kejadian, si pembonceng sigap membopong Syamil. Karena kendaraan tak sedang melaju kencang.

Kecelakaan itu terjadi di jalan desa dekat Pos Ronda, sebelah rumahnya Mas Dirun. Dari cerita yang aku himpun, Syamil sedang asyik bermain bersama Aisyah, Syifa, dan Okta di Pos Ronda. Tiba-tiba Syamil berlari tanpa melihat kanan kiri. Ini kebiasaan buruknya. Sradak sruduk.

Setelah sadarkan diri, Syamil pun enggak menangis. Hanya mengerang. Namun saat melihatku datang, dia mau menangis. Aku bilang nggak boleh menangis, biar cepat sembuh. Saat itu dia sedang disuapi oleh Bidan Erly. Istri ku sedang mencari Haidar yang terus menangis, meski sudah dibopong sama Bibi Salem.

Sadar Diri

Saat istri ku menelpon agar aku pulang sebentar, aku tak punya perasaan apa-apa. Andai benar dia terserempet, aku tahu kalau Syamil memang sradak sruduk. Apalagi mendengar keterangan bahwa Syamil lah yang menabrak motor. Aku hanya tersenyum. Tak mencari kambing hitam.

Saat si pengendara mendekatiku dan minta maaf, aku katakan nggak apa-apa. Jangankan motor, mobil pun pernah dia tabrak. Lalu dia berpamitan. Beberapa orang menyarankan aku minta KTP nya, kalau ada apa-apa. Biar saja.

Aku sadar sepenuhnya. Ini bukan salah siapa-siapa. Murni kecelakaan yang memang sudah digariskan terjadi. Saat istriku bilang sudah mencegahnya bermain, aku pun tak menyalahkannya. Kebetulan pula, pagi hari nya, Ibuku berpamitan hendak ke Slawi. Jadi tentu dia repot mengurusi Syamil dan Haidar sendirian.

Tanggung jawab

Orang-orang yang mengenalku dan istri agak heran. Syamil ini menuruni sifatnya siapa. Padahal bapak ibunya dikenal kalem. Tidak neko-neko. Apalagi istriku, sangat berhati-hati. Aku pun tidak jauh berbeda. Tapi ini lah tanggung jawab. Allah SWT sudah percaya memandatkan Syamil pada kami. Aku yakin, Dia akan memampukan kami. Aaamiin.

Sebagai bentuk tanggung jawab kala Syamil menabrak mobil, pengendara malah memberi uang. Padahal sudah jelas posisinya. Tapi ya, Alhamdulillah buat ongkos pijat urut. Sisanya digunakan untuk tambahan servis sepeda. Meski andai tidak, aku pun bertanggung jawab. Ini bukan salah si pengendara mobil.

Kejadian kali ini, aku pun tak meminta pada si pengendara motor. Alasannya memang mereka tak bersalah dan kalau lihat profesinya, insya Allah aku harus lebih banyak bersyukur. Ini tanggung jawabku sepenuhnya sebagai orang tua. Apalagi Bidan Erly sudah sangat baik. Dia tak mau diganti biaya pertolongan dan obat yang diberikan. Terima kasih, Bu Bidan.

Sehari semalam aku menunggu perkembangan. Kalau-kalau badannya panas atau dia merasa pusing. Aku ingin memastikan tak ada luka dalam.

Tapi dasar Syamil, meski jalannya masih agak terpincang-pincang, dia sudah bersepeda lagi esok harinya. Alhamdulillah hanya luka luar saja.

Fabiayyi ‘ala irobbikuma tukadziban….

Syamil, Haidar, Ata

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here