Safari Mencari Ilmu ke Jakarta

2
199

Bagian Ke-1

 

Dulu para orang tua berkata, jika kita sulit buang air besar tatkala tinggal di tempat yang tak biasa, itu artinya kita tidak kerasan. Mungkin ada benarnya. Paling tidak, itu yang aku alami beberapa hari yang lalu. Jangankan buang air besar, sekedar kentut saja susah. Bahkan, saking susahnya kentut, sering aku muntah-muntah. Ini reaksi tubuh untuk mengeluarkan angin dari dalamnya.

Bising, panas, dan tempat tinggal tak menentu, membuat aku merasa tak nyaman di Jakarta. Senin sampai Kamis kemarin, itu yang aku rasakan. Tapi, keinginan untuk menimba ilmu mengalahkan semuanya. Meski berkali-kali ke toilet, hanya sekedar untuk muntah, aku tetap bersemangat melakukannya.

Aku berangkat bersama rombongan para Kepala Desa (Kades) di Kec. Kebasen bersama Pak Camat. Rencana ini sudah kami susun sejak bulan Februari kemarin. Hanya saja, kesibukan para Kades membuat sulit mencari jadwal ke Jakarta. Kami berencana bersilaturahmi ke Kementrian Desa, dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Komisi 2 DPR RI, dan kantor Kemitraan.

Tujuan bersilaturahmi ke Kementrian Desa akhirnya dibatalkan. Padahal surat permohonan yang aku emailkan, sudah mendapat jawaban. Jawaban kesediaan ditemui disampaikan pada rabu (25/3/2015), namun pada Sabtu (28/3/2015) dibatalkan. Kesibukan di sana membuat mereka tak bisa menyisihkan waktu meski sebentar. Tak mungkin aku membatalkan rencana ini kepada para Kades. Mereka sudah sangat haus akan informasi mengenai implementasi UU Desa. Maka, belajar langsung ke Jakarta menjadi pilihan.

Perlu diketahui, bahwa kepergian ke Jakarta ini merupakan lanjutan dari pelatihan Kepala Desa beberapa bulan yang lalu. Ide ini muncul ketika aku berkoordinasi dengan para Kades, dan mengatakan ada sedikit anggaran untuk itu. Para Kades bersedia berswadaya untuk pergi ke Jakarta. Sebab biaya yang tersisa hanya cukup untuk sewa kendaraan. Sedang kebutuhan makan, minum, rokok, dan lain-lain sanggup mereka penuhi.

Rencananya kami akan berada di Jakarta pada Senin dan Selasa. Hari Senin akan bersilaturahmi ke Kemendesa dan Komisi 2 DPR RI di Senayan. Hari Selasa, kami akan berdiskusi dengan Pak Sujana Royat di Kantor Kemitraan. Kegiatan ini difasilitasi oleh Mba Ade dan Mas Sani. Sedangkan untuk transit dan rencana bermalam, aku sudah minta kesediaan Kang Irman untuk memfasilitasi. Rumahnya yang berada di Kalibata, akan kami jadikan transit dan menginap semalam. Aku juga sudah minta bantuan Kang Irman untuk sedikit memberikan wawasan kepada para Kepala Desa.

Namun rencana tinggal lah rencana. Selain pembatalan dari Kemendesa, rencana berdiskusi dengan Pak Sujana Royat dan bermalam di rumah Kang Irman, batal. Pak Sujana Royat sedang menemani istrinya yang sedang cuci darah di rumah sakit. Kang Irman malah sedang pergi ke Jogja. Kata Nova, Kang Irman rencananya mau ke Surabaya, dan NTT, atau kemana lah.

Perjalanan yang cukup lambat membuat kami terjebak kemacetan di Tol Cikampek. Hari Senin menjadi momok yang tak bisa dihindari. Kemacetan panjang tak teratasi. Maka dalam perjalanan, jalur menuju ke Jakarta diputuskan melalui jalan lingkar luar.

Sayangnya hanya Pak Trisno, Kepala Desa Kalisalak, yang agak paham dengan jalan-jalan di sana. Itu pun terkadang lupa. Maka untuk memutuskan belok kanan atau kiri pun mesti di pikir-pikir. Kadang salah mengambil keputusan, atau keputusan itu terlambat karena kendaraan sudah harus belok. Yah, begini lah orang desa.
Setelah masuk Tol Cikampek, mobil keluar di daerah Bekasi. Kemudian menyusuri jalan yang sempit di daerah Pondok Gede. Mobil terus berjalan hingga kami melewati jalan dekat Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, di kecamatan Makasar, Jakarta Timur. Kemudian kami melewati jalan di depan pintu masuk Lubang Buaya, terminal Pinang Ranti, dan Taman Mini Indonesia Indah.

Saat aku menulis rute ini, aku melihat peta Jakarta. Ingin rasanya tertawa sendiri. Kami benar-benar berputar-putar di Jakarta. Dimana rute-nya menjauhi arah yang kami tuju. Baik lah, aku teruskan saja.

Setelah berjalan ke selatan, akhirnya kami berjalan ke barat. Sampai lah kami di daerah Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Kemudian mobil berjalan ke arah utara melewati Rumah Sakit Fatmawati. Hingga memasuki wilayah Kebayoran Baru, kami baru memutuskan berhenti guna sarapan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 siang.

Berputarnya jalur yang kami ambil, membuat beberapa orang sudah mulai mengeluh. Panas, bising, dan perut yang keroncongan penyebabnya. Meski keluhan-keluhan itu selalu diucapkan dengan bahasa guyon, agar suasana tidak terlalu kaku.

Pak Kuat, Kepala Desa Bangsa, berkata: “Dulu saat mencalonkan diri menjadi Kepala Desa sudah duduk seharian, eh sekarang malah semalam suntuk masih ditambah lagi”.

Pak Arif, Kepala Desa Gambarsari pun berujar: “Memang bagaimana pun juga tetap enak hidup di desa. Tak kena stress gara-gara macet seperti ini”.

Semua ucapan-ucapan itu selalu jadi bahan tertawaan. Menghibur diri.

Selepas makan pagi, kami bergegas menuju Senayan. Mas Budiman Sudjatmiko yang berjanji menemui kami, sudah menunggu. Dia menyempatkan diri menerima telpon. Padahal saat kami sampai di sana, dia sedang rapat. Agendanya sangat padat hari itu.

Prosedur yang berbelit-belit dari Pengamanan Dalam (PAMDAL), menyulitkan kami. Meski sudah aku hubungkan langsung mereka dengan Mas Budiman atau Mas Naldi, staf-nya Mas Budiman. Berkali-kali aku langsung telponkan, ternyata mereka malah berkomunikasi entah dengan siapa melalui HT. Aku sodorkan HP yang sudah terhubung dengan Mas Naldi, tak diindahkan. Ini lah sebabnya mengapa kami terlambat menemui Mas Budiman.

Akhirnya dia menyempatkan diri menemui kami. Pak Camat dan Pak Sarno tak ikut. Maklum, sebagai seorang PNS, dia rentan jika ikut menemui Mas Budiman. Bisa-bisa di cap jelek oleh orang-orang yang iseng. Maka mereka bersama Sopir menunggu di parkiran saja.

Langsung aku sampaikan terkait Siltap dan Siltam yang selama ini dikeluhkan. Tidak saja oleh Kepala Desa yang memiliki bengkok luas, tapi yang bengkoknya kecil juga. Termasuk keluhan dari para Perangkat Desa.

Diskusi tentang UU Desa
Diskusi tentang UU Desa

Keluhan ini ditanggapi lugas oleh Mas Budiman. Memang masih perlu perbaikan di sana-sini. UU Desa yang diterbitkan awal tahun 2014 kemarin, salah satunya mengakomodir perihal kesejahteraan Kepala Desa dan Perangkatnya, bukan malah mengurangi. Namun demikian, tafsiran masing-masing kabupaten terhadap pasal 72 UU Desa memang beragam. Maka sering jauh panggang dari api. Keluhan ini sudah sering dia dengar. Oleh karenanya, perlu adanya komunikasi kembali antara para Kepala Desa dengan pemangku kebijakan di kabupaten tentang hal ini.

Aku bertanya soal kewenangan desa atas hutan. Yang menjadi sorotan soal kelestarian sumber mata air. Kebetulan Mba Fikri ikut menemui kami. Aku sampaikan tentang kemungkinan desa bisa bernegosiasi dengan pihak Perhutani soal sumber mata air. Saat kemarau tak sedikit sumber mata air di desa-desa yang mati. Ini karena Perhutani dengan bebasnya menanam Karet dan Pinus yang tidak bisa menyerap air saat hujan.

Memberi kenang-kenangan Batik
Memberi kenang-kenangan Batik

Mba Fikri siap membantu. Akan dia komunikasikan dengan pihak Perhutani soal ini. Bahkan dia menjanjikan akan memfasilitasi pertemuan kami dengan KPH Banyumas Timur saat reses nanti. Pembahasan soal kelestarian sumber mata air akan dibicarakan.

Pertemuan dengan Mas Budiman tak bisa lama. Dia sudah harus meninggalkan ruangan guna kepentingan lain. Mas Naldi bilang, kalau Mas Budiman sudah menunggu kami lama. Dia sudah bolak balik ke pintu depan dan belakang untuk mencari kami. Rupanya negosiasi lama dengan PAMDAL, membuat waktu terbuang percuma.

Foto Bersama
Foto Bersama

Rupanya, Pak Trisno punya hubungan dekat dengan staf-nya Pak Khatibul Umam Wiranu. Dia mengajak kami naik ke lantai 9, ke ruang kerja anggota dewan dari Partai Demokrat. Kebetulan, Pak Khatibul juga berasal Banyumas. Sayangnya beliau masih rapat. Tak mengapa, toh kami di suguh Soto dan makan. Agak lama kami di ruangan itu. Lumayan, bisa beristirahat meski sebentar.

Tidak lama kemudian, kami pun berpamitan. Pak Khatibul masih belum selesai. Sedang kami merasa kasihan dengan Pak Camat dan Pak Sarno di bawah. Kami melongok lewat jendela, mereka sedang duduk-duduk di rumput. Baru kali ini ada bos yang menunggu anak buah… hihi….

Kabar bahwa Pak Sujana Royat tidak bisa menemui kami, dan kepergian Kang Irman ke Jogja membuat para Kades memutuskan untuk mencukupkan kunjungan ini. Merasa tidak enak untuk nebeng tidur di Wisma Garuda, sedang tuan rumah tak ada. Apalagi rencana bertemu dengan Pak Sujana Royat pun sudah dipastikan gagal.

Di ruangan Pak Khatibul Umam
Di ruangan Pak Khatibul Umam

Kami menghibur diri untuk mampir ke Blok M. Sekedar memanjakan mata dengan barang dagangan di sana. Termasuk makan siang Pak Camat, Pak Sarno, dan Sopir. Perut kami masih kenyang dengan suguhan tadi.

Pak Tamzis, Kepala Desa Randegan, membeli mainan buat anaknya. Pak Sahud, Kepala Desa Kaliwedi, membeli tas kerja kecil seperti yang lain. Yang lain juga membeli oleh-oleh untuk keluarga. Sedang aku membelikan jilbab untuk istri. Baju anak perempuan untuk Ata dengan warna pink dan bergambar Masha and The Bear. Syamil aku belikan baju satu stel dengan gambar mobil.

Tujuan kami selanjutnya adalah Tangerang. Pak Camat membawa kami ke rumah adiknya di Bumi Serpong Damai. Kebetulan rumah mertua Pak Amin, Kepala Desa Mandirancan, dekat dari situ. Dia memang ada rencana untuk ke sana. Semalam dia berujar untuk memisahkan diri sebentar.

Menunggu Pak Khatibul Umam
Menunggu Pak Khatibul Umam

Perjalanan ke sana pun menggelikan. Beberapa kali kami harus memutar karena salah mengambil jalan. Termasuk saat di jalan Tol, kami harus mencari jalan masuk lagi, karena keluar sebelum tempat yang ditentukan. Aksi putar memutar di Jakarta memang membingungkan. Sekedar balik arah saja harus mencari petunjuk diperbolehkan balik arah yang jauh di depan sana.

Pak Camat dan Pak Amin sibuk telpon kepada saudaranya masing-masing. Semua minta ditunjukkan arah yang benar. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di Serpong.

Masing-masing kami memanfaatkan untuk bersih-bersih dan istirahat. Tak sedikit yang nantinya memejamkan mata meski di lantai. Rasa lelah selama berputar-putar di sana memang menguras energi. Stres melihat kondisi Jakarta yang macet parah ini memang perlu menaikkan level kesabaran. Tak heran jika di sini banyak aksi kejahatan. Kami baru sehari saja di sini sudah begini. Apalagi mereka yang lama tinggal di sini.

Mencicipi Bebek Kaleyo menjadi menu makan malam. Kalau di Purwokerto mirip Bebek H. Slamet. Perut pun semakin terisi. Kopi, rambutan, dan makanan ringan yang disuguhkan di rumah adik Pak Camat, sudah habis tadi. Beberapa bahkan keluar sendiri mencari makan. Naik kendaraan lama memang membuat perut ini keroncongan. Sepanjang perjalanan tadi, tak ada yang memikirkan soal perut. Sebab keluar masuk tol, salah arah, hingga berputar membuat kami lupa akan kewajiban mengisi perut.

Ini pengalaman berharga. Sampai pada kesimpulan: hidup di Desa memang lebih nyaman.

Merdesa!

BAGIKAN
Berita sebelumyaKonsep Penanggulangan Kemiskinan
Berita berikutnyaSafari Mencari Ilmu ke Jakarta
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here