Safari Mencari Ilmu ke Jakarta

0
153
Bersama Pak Richard

Bagian ke-3

 

Acara RakorNas ini ibarat silaturahmi besar. Dalam satu kesempatan, aku bisa bertemu para Pendekar Pemberdayaan. Mereka adalah guru dan teman bagi ku. Dari mereka aku banyak berguru tentang pemberdayaan. Kadang lewat tatap muka, media sosial, atau membaca tulisan-tulisan mereka. Meski berbeda Padepokan, berbeda cara melakukannya, tapi tetap satu kegiatan: Pemberdayaan Masyarakat.

Dalam berbagai kesempatan, aku sering berpindah-pindah tempat duduk guna mendekati dan berbincang-bincang dengan mereka. Kadang aku duduk di barisan belakang, di depan sendiri, dan masuk di tengah. Bertatap muka dengan para guru seperti ini menjadi kepuasaan tersendiri. Karena aku bisa berdiskusi dengan memperhatikan mimik mereka.

Ah, jadi ingat bagaimana dulu aku belajar di kelas. Aku selalu duduk di bangku paling depan. Cara belajar ku cukup unik. Aku merasa lebih bisa menangkap paparan dari guru saat memperhatikan gerak bibirnya. Setiap kalimat yang keluar dari bibir beliau-beliau seakan mudah dipahami tatkala aku ikuti gerak bibirnya. Entah sejak kapan itu berlangsung, dan kapan pula tak berlaku. Yang aku ingat, beberapa saat setelah aku kuliah, cara unik itu mulai hilang.

Ada Mba Grace, Pak Ibnu, Ahmad Yusuf, dan teman-teman IPPMI lain di barisan belakang, Kang Tarjo, Pak Cecep, Pak Nanang di barisan depan. Ada Mba Ade dan suaminya, Mas Bambang, Mas Sani, Pak Sutoro Eko, dan sempat narsis bareng Pak Richard pula. Memang masih banyak yang lain yang tidak ikut dalam acara ini. Semoga di lain kesempatan bisa bertemu. Aamiin.

Bersama Pak Richard
Bersama Pak Richard

Awal-awal perkenalan pun dimulai dari banyak cara. Kang Tarjo dimulai dari saling komentar di fesbuk, dilanjutkan pertemuan pada acara Harlah GDM yang pertama. Saat itu pula aku bertatap muka pertama kali dengan Yossy, Kang Budi Ragiel, Kang Gino, Mas Budiman, Kang Dirin, dan pegiat-pegiat GDM yang lain.

Kang Budi Ragiel yang memperkenalkan aku dengan Mas Sani. Melalui fesbuk, aku membaca komentar-komentarnya. Yang aku tahu, Mas Sani berasal dari Kebumen. Kerja di bagian apa, aku tak tahu. Sedang tatap muka pertama kali dengan Mas Sani dan Mba Ade juga, saat aku ikut acara Festival Desa TIKa di Majalengka.

Mungkin awal perkenalan dengan Mba Grace dan Pak Ibnu Taufan yang paling berkesan. Semua diawali dengan perdebatan via twitter. Saat itu aku tidak sepaham dengan apa yang mereka argumen kan. Bahkan, apa yang kami perdebatkan masih aku simpan file-nya. Lucu. Tapi begitu lah. Dari perdebatan-perdebatan itu aku tahu, aku harus belajar banyak. Yang pada akhirnya, beberapa TL dan tulisanku, mereka tanggapi. Termasuk konsep BUMADes yang dulu aku sebut BUMDes yang Dikerjasamakan. Komentar Pak Ibnu Taufan dalam setiap poin yang aku sampaikan masih tersimpan aman.

Maka saat petunjuk teknis exit strategy bagi aset dana bergulir yang dikelola oleh UPK, sedikit banyak aku sudah tahu. Karena banyak poin yang dituliskan dalam juknis tersebut merupakan materi diskusi-diskusi yang pernah kami sampaikan. Tidak kepada Pak Ibnu saja. Konsep-konsep itu pernah aku sampaikan ke Bang Yando Zakaria, Yossy, Kang Budi Ragiel, Kang Tarjo, dan yang lain.

Pada acara harlah pertama GDM di Desa Melung pada akhir 2011, gagasan transformasi UPK menjadi BUMDes yang Dikerjasamakan, sempat tidak disepakati oleh Mas Farid Hadi. Alasan beliau saat itu, karena banyak desa yang tidak mengenal apa itu BUMDes, apatah lagi mesti dikerjasamakan. Tapi dari kesempatan itu lah, aku bisa berkenalan dan berguru dengan beliau.

Saat mengikuti acara di STPMD “APMD” di Jogja, pada sesi tanya jawab, aku pun menyampaikan pertanyaan yang hampir senada. Saat itu aku tanyakan kepada Pak Kholiq Arif, Bupati Wonosobo, untuk menjadikan UPK sebagai bagian dari Bank Wonosobo, dengan pembagian surplus bagi desa-desa di satu kecamatan. Sedang softcopy tentang transformasi UPK menjadi BUMADes, aku berikan ke Bang Yando Zakaria.

Aku percaya konsep BUMADes ini menjadi diskusi dan kajian dari banyak orang. Tentu banyak orang yang berpikiran sama untuk itu. Toh selama ini SKB 3 Menteri di era SBY untuk mentransformasikan UPK ke dalam 3 bentuk, yakni PT, Koperasi, atau PBH selalu mentok. Menurut banyak pihak, UPK tidak cocok masuk ke dalam salah satu bentuk badan hukum tersebut. Masing-masing memiliki argumen yang berbeda.

Bagi ku, entah yang lain, transformasi UPK menjadi BUMADes merupakan win-win solution. Sebuah pengakhiran yang indah. Tidak mungkin UPK berdiri sendiri dengan berbadanhukumkan sendiri tanpa ada lembaga penaung diatasnya. Andai UPK ingin berdiri independen dengan formatnya yang sekarang, menurutku, hanya ada dua jalan, yakni: Mengusulkan peraturan sendiri, atau melakukan judicial review terhadap UU LKM.

Dua-duanya merupakan pilihan yang tidak mudah. Perlu waktu, energi, dan dana yang besar untuk itu. Konsep kerjasama antar desa dengan BKAD sebagai wadahnya, lebih mempermudah transfomasi itu. Apalagi selama ini, teman-teman UPK tidak bisa menyodorkan alternatif konsep yang lain. Beberapa teman tidak sepakat dengan konsep BUMADes, tapi saat aku minta disandingkan dengan konsep yang mereka ingin secara tertulis, sampai tulisan ini dibuat, belum ada yang bisa menuliskan apa yang ada di otak mereka. Andai mereka bisa menuliskan konsep lain, akan lebih mudah melakukan advokasi. Sayang tidak jua tertuliskan.

Yah, teman-teman UPK terlalu asyik dengan dunianya sendiri. Riuh rendah menjelang dan paska disahkannya UU Desa, teman-teman UPK seakan tidak peduli. Entah karena nggak ngeh, tidak sepakat, atau apa, nggak jelas.

Padahal pada pertengahan 2012, ketika aku sendirian masuk ke Senayan, Mas Budiman Sudjatmiko selaku Wakil Ketua Tim Penyusun UU Desa, membuka kesempatan agar teman-teman bisa beraudiensi. Syaratnya harus mengatasnamakan UPK seluruh Indonesia. Saat itu, aku ditemani Padang Kusumo, staf ahli dari PKS yang kebetulan teman SMA juga.

Padang menemani aku masuk ke ruangan Fraksi PKS di lantai 3, kemudian naik ke Fraksi PDIP di lantai 8, dan naik lagi ke lantai 16 di Fraksi Gerindra. Anggota DPR RI, hanya Mas Budiman yang aku temui. Saat masuk di ruang Fraksi PKS, hanya bertemu dengan beberapa staf ahlinya. Sedang di lantai 16, aku tidak bertemu siapa-siapa. Hari memang sudah sore.

Staf ahli di Fraksi Gerindra yang akan kami temui adalah Handono. Dia masih satu almamater di SMA dulu. Meski tak pernah satu kelas, tapi kami saling kenal. Tujuanku memang ingin mengadukan soal UPK yang selalu nggak jelas statusnya. Akhirnya melalui SMS, Handono minta aku mengirimkan materi kegalauan dan gagasan tentang transformasi UPK via email.
Petunjuk teknis yang diberikan oleh Kemendesa, yang ditandatangani oleh Pak Yoga, memang tidak memuaskan banyak pihak. Masih perlu diskusi-diskusi atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul nantinya. Tapi tak mengapa. Paling tidak ini jawaban dari pemerintah atas desakan yang selama ini dilakukan oleh teman-teman UPK. Salah satu hasil perjuangan mereka termasuk saat menggelar aksi damai di halaman Dirjen PMD pada 3 September 2014 yang lalu.

Apakah BUMADes itu salah satu bentuk badan hukum?

Aku hanya beranalogi. Semisal PT. KAI, PLN, BRI, dan masih banyak lagi, sebutan untuk mereka adalah BUMN. Bahkan ada UU tentang BUMN, tapi bentuk badan hokum dari masing-masing unit itu adalah Perseroan Terbatas (PT). Maka sebutan BUMADes pun bisa berlaku demikian.

Legalitas BUMADes berasal dari UU tentang Desa, PP 43, dan Peraturan Bersama Desa. Sedangkan pilihan badan hukum bagi UPK, yang menjadi rujukan tetap UU LKM, bisa berbentuk PT atau koperasi. Apapun pilihannya nanti, akan lebih baik cukup dilakukan dalam Musyawarah Antar Desa (MAD) dengan meningkatkan kualitasnya.

Terlepas dari sepakat tidaknya teman-teman pembaca, sah-sah saja. Kembali lagi, jika Anda tidak sepaham dengan apa yang aku tuliskan, mohon paparkan via tulisan pula gagasan Anda. Agar kita lebih mudah dalam berkomunikasi. Mana yang lebih bisa diterima oleh khalayak, itu yang patut kita ikuti.

Kepada teman-teman, aku hanya ingin mengucapkan selamat atas kejelasan status UPK. Perjuangan kita sudah menemui titik terang. Tinggal bagaimana kita berbicara dengan para BKAD. Mari bersinergi.

Keep our spirit fighting, Kawan!

BAGIKAN
Berita sebelumyaSafari Mencari Ilmu ke Jakarta
Berita berikutnyaSafari Mencari Ilmu ke Jakarta
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here