Safari Mencari Ilmu ke Jakarta

0
201
Bersama Pak Rusnadi

Bagian ke-4

Rupanya Pak Rusnadi Padjung, staf Menteri Desa bidang Perekonomian, masih mengenaliku. Saat beliau sedang duduk di sofa paling depan. Iseng aku SMS yang mengatakan bahwa aku berada di barisan kiri depan pula. Setelah menjawab SMS ku, beliau memandang ke arah yang aku tunjukkan. Beliau tersenyum dan melambaikan tangan membalas lambaianku. Alhamdulillah, aku kira sudah lupa.

Kami berkenalan belum lama. Waktu itu beliau mewakili Pak Marwan Ja’far mengisi materi pada pelatihan Sistem Informasi Desa dan Kawasan (SIDeKa) di Pusat TIK Nasional di daerah Ciputat, Jakarta Selatan. Sesaat sebelum beliau meninggalkan lokasi, aku memburunya. Aku perkenalkan diri sebagai pengurus UPK PNPM MP. Saat itu aku manfaatkan untuk menyampaikan aspirasi teman-teman terkait kebijakan exit strategy khusus perihal dana bergulir. Beliau berjanji akan memfasilitasi dan kami saling bertukar nomor kontak dan alamat email. Baru kesempatan ini nomor kontak aku gunakan.

Pak Rusnadi Padjung menjadi moderator pada sesi setelah paparan dari BPK dan Menteri Keuangan. Soal pendampingan, exit strategy PNPM MP, dan program Desa Mandiri Pangan menjadi materi yang disampaikan oleh para narasumber. Soal nama aku lupa, kecuali Pak Yoga. Paparan demi paparan tak bisa aku simak dengan baik. Pasalnya aku duduk bersebelahan dengan Bupati Samosir, Pak Nanang, dan Pak Cecep. Sering kami terlibat diskusi kecil. Aku berpikir, biar saja nanti aku akan minta softcopy materi pada panitia.

Bersama Pak Rusnadi
Bersama Pak Rusnadi

Aku tertarik dengan paparan soal Desa Mandiri Pangan. Salah satu yang menjadi target dari program itu adalah soal mandiri benih. Padahal beberapa waktu yang lalu, aku baca di facebook, ada seorang warga yang dimejahijaukan gara-gara menjual benih tak bersertifikat. Padahal untuk mendapatkan sertifikat benih tidak lah mudah. Begitu kata Bu Wagini, PPL Pertanian di Kec. Kebasen, beberapa waktu yang lalu saat kami terlibat diskusi tentang CPCL Kedele. Kebetulan selain menjadi Ketua BKAD, aku juga menjadi Ketua Gapoktan di desa, dan sekretaris RT. Soal pertanian menarik bagiku.

Sebenarnya pemaparan soal exit strategy juga dipaparkan dengan jelas oleh Pak Yoga. Tapi Pak Nanang Mulyana, Ketua Assosiasi BKAD Jawa Barat sudah menyampaikan aspirasi sesuai hasil RakorNas Assosiasi UPK Nasional di Solo beberapa hari sebelumnya. Pak Nanang meminta agar pengelolaan dana bergulir tetap di kecamatan dengan UPK sebagai pengelolanya di bawah naungan BKAD. Pertimbangan yang beliau sampaikan ialah soal keberhasilan UPK dalam mengelola dan menjaga dana tersebut. Sangat disayangkan jika aset yang sudah terjaga dengan baik akan hilang begitu saja saat regulasi yang dikeluarkan tidak tepat. Applaus dari peserta RakorNas, aku artikan sebagai bentuk persetujuan mereka.

Karena soal itu sudah disampaikan, maka aku berencana menanyakan soal program Desa Mandiri Pangan tadi. Persoalan sertifikasi benih, soal pelestarian aset yang dikelola oleh Kelompok-kelompok Tani, dan yang terkait dengan pelestarian sumber mata air.

Aku tiga, Pak Bupati Samosir dua. Aku nggragas apa ya? xixixi....
Aku tiga, Pak Bupati Samosir dua. Aku nggragas ya? xixixi….

Permasalahan kesulitan sumber mata air menjadi salah satu kendala di musim kemarau. Apalagi di desa ku yang notabene-nya sawah tadah hujan. Sumber mata air yang berada di kawasan hutan Perhutani sekarang sudah tidak bisa diandalkan. Pergantian jenis tanaman dari tanaman yang masih bisa menyimpan air menjadi tanaman produktif semisal Pinus membuat mengeringnya sumber mata air di hutan sana. Pemdes Mandirancan pernah berkomunikasi dengan pihak Perhutani, tapi jawabannya sudah jelas: Itu perintah dari atas. Mau bagaimana lagi?

Perubahan kebijakan dari Perhutani terhadap jenis tanaman dimana desa tidak memiliki wewenang apa-apa terhadap hutan menjadi problem sendiri. Belum lagi soal rusaknya jalan desa yang sering dilalui oleh truk-truk pengangkut kayu-kayu dari hutan. Masyarakat hanya melihat gelondongan kayu lalu lalang di bawa entah kemana tanpa menerima hasil. Yah, mungkin ada sedikit kompensasi kepada Pemdes. Tapi aku tidak yakin, kompensasi itu bisa memperbaiki rusaknya jalan desa tersebut.

Perhutani memang berbaik hati dengan membentuk dan membina Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Berbagai bantuan dan kemudahan dalam ikut melakukan tumpangsari, mereka berikan. Kembali lagi soal hasil, cukup kah?

Masyarakat desa hanya bisa menonton sumber daya alam berupa hasil hutan pergi entah kemana. Padahal jika masyarakat desa melalui Musyawarah Desa diberi kewenangan untuk mengatur dan mengurus hutan, masyarakat akan lebih sejahtera. Tentu dengan pendampingan terhadap tata kelola hutan, pemanfaatan, dan pencegahan terhadap bencana jika lalai menjaganya.

Terkait soal BUMDes, aku sebenarnya mendapat titipan pertanyaan entah dari siapa. Intinya, beliau menanyakan apakah alat-alat produksi pertanian yang selama ini dikelola oleh kelompok-kelompok tani sebagai hasil bantuan dari pemerintah, bisa dijadikan modal awal BUMDes juga. Akan lebih baik jika dilakukan dalam satu manajemen. Sayangnya kesempatan untuk bertanya tidak diberikan mengingat waktu dan antusiasme peserta terhadap materi yang diberikan.

Saat materi usai, aku mendekat ke panggung guna minta foto bersama dengan Pak Yoga. Aku tahu Pak Yoga tidak mengenaliku. Yah, tak mengapa. Paling tidak narsis bareng dulu… hehe….

Saya sebelah kanan Anda, Pak Yoga... hehe....
Saya sebelah kanan Anda, Pak Yoga… hehe….

Pak Rusnadi Padjung minta maaf padaku karena tak memberiku kesempatan bertanya. Padahal selaku moderator, bisa saja dia memberikan kesempatan itu padaku. Aku bilang taka pa-apa, Pak. Toh pertanyaan dari peserta lain serta jawaban-jawaban dari narasumber sudah cukup membantu. Kemudian kami pun foto bersama. Saat bertemu di Ciputat, aku belum sempat minta foto bareng.

Selepas penyampaian materi, diskusi-diskusi kecil masih terus berjalan. Sampai akhirnya baru sadar kalau belum kebagian kamar. Kata salah seorang pejabat dari Ciamis, panitia menyediakan kamar di salah satu hotel di daerah Cikini. Kamar hotel di Bidakara sudah habis. Wah. Andai bukan Jakarta, waktu tempuh dari Cikini ke lokasi kegiatan tidak terlalu makan waktu. Lha, Jakarta kok. Macet kan sudah makanan sehari-hari.

Selepas penyampaian materi, diskusi-diskusi kecil masih terus saja. Sampai akhirnya baru sadar kalau belum kebagian kamar. Kata salah seorang pejabat dari Ciamis, panitia menyediakan kamar di salah satu hotel di daerah Cikini. Kamar hotel di Bidakara sudah habis. Wah. Andai bukan Jakarta, waktu tempuh dari Cikini ke lokasi kegiatan tidak terlalu makan waktu. Lha, Jakarta kok. Macet kan sudah makanan sehari-hari.

Kami ragu bisa sampai ke lokasi tepat waktu. Selain persoalan waktu tempuh besok, saat itu tak ada satu pun dari kami yang paham dengan daerah Cikini. Belum lagi masih harus mencari hotelnya. Padahal waktu itu, adzan maghrib sudah terdengar.

Obrolan saat di parkir mobil hasil bertanya tentang kemungkinan ke Cikini atau mencari hotel di sekitar Bidakara, memutuskan lebih baik mencari hotel sendiri. Petugas keamanan merekomendasikan kami berjalan ke seputaran Patung Pancoran. Di sana banyak hotel katanya. Dia pun menyebutkan nama salah satu hotel yang murah di sana.

Letih yang mendera membuat jalan kaki dari Bidakara ke seputaran patung Pancoran terasa jauh. Apalagi membawa tas berisi barang-barang yang cukup berat. Mungkin karena usia, aku lebih sering memperlambat langkah demi menunggu mereka. Apalagi saat itu, selain Kang Tarjo, Pak Nanang, dan Pak Cecep, ada Pak Agus juga. Salah satu pejabat di BPMPD Kab. Bandung ini secara usia memang sudah paruh baya. Tas yang dia bawa pun terlihat berat.

Kami berlima mencari hotel yang disebut oleh petugas keamanan Bidakara tadi. Setelah bertanya ke tukang pedagang kaki lima, akhirnya bisa kami temukan. Kami rehat sejenak di sofa di lobby hotel. Ah, sedikit lega. Melemaskan otot-otot kaki dan menyandarkan punggung sedikit membantu. Sayang di sayang, semua kamar di hotel itu sudah penuh. Wah. Gimana?

Kegalauan pun melanda. Apakah kami harus ke Cikini saja. Memanfaatkan jatah kamar yang disediakan panitia. Tapi keputusan tetap mencari hotel di dekat situ saja. Sebab jatah 2 kamar yang tadinya diberikan, ternyata sudah di isi orang. Sedang harga sewa untuk satu kamar, wih, hampir lima kali lipat standar hotel di Bandungan. Ah. Andai di hotel yang dimaksud petugas keamanan masih ada kamar pun, kami harus berpikir ulang. Harganya.

Akhirnya kami keluar. Coba-coba aku hubungi Dedi atau Nova. Siapa tahu bisa nebeng barang semalam di kantor mereka. Sayangnya tidak bisa. Nova menawarkan untuk menginap saja di wisma Garuda di daerah Kalibata. Masih agak jauh juga.

Sebelum itu, aku bersama Pak Agus mencoba mencari informasi tentang penginapan yang murah kepada pedagang kaki lima yang lain. Katanya ada, di daerah Tebet. Harganya masih terjangkau. Oke. Kami sepakat menuju ke sana.

Meski si pedagang kaki lima sudah berbaik hati menjelaskan jalur dan angkot yang harus kami tumpangi, tetap saja kami salah menaiki. Angkot itu tidak menuju daerah Tebet, tapi berhenti di Kalibata. Lagi-lagi aku hubungi Nova. Dia bilang akan sampaikan ke anak yang ada di Wisma Garuda.

Pikir punya pikir, ternyata nggak enak esok hari untuk balik ke Bidakara lagi. Lumayan jauh Kalibata itu. Maka saat mata Pak Cecep melihat hotel tak jauh dari patung Pancoran, kami pun turun. Segera masuk dan bertanya. Lagi-lagi, kami belum beruntung. Semua kamar hotel sudah terisi. Gubrak.

Perut semakin keroncongan, capek, belum mandi, eh, hotel saja nggak nemu-nemu.

Alhamdulillah ada yang menunjukkan wisma Inkopau (Induk Koperasi TNI AU). Lokasinya dekat, tinggal menyeberang kemudian jalan kaki ke selatan sedikit. Aku sempatkan mampir membeli gorengan. Sekedar pengganjal perut. Capek dan bingung tak jua menemukan penginapan membuat lapar itu cepat datang. Padahal sebelum meninggalkan hotel Bidakara, aku sudah makan.

Kami putuskan untuk menginap di wisma itu. Meski harga menginap masih tetap lebih tinggi dari perkiraan kami. Biarlah. Daripada pusing-pusing cari penginapan lagi. Belum tentu dapat juga.

Yah, soal murah atau mahal memang tergantung harga potensial yang ada di benak konsumen. Sebuah produk akan dinilai mahal jika harga potensial lebih rendah daripada harga nyata, meski harga nyata itu memang sudah pasaran. Sebaliknya, sebuah produk akan dinilai murah jika harga potensial lebih tinggi daripada harga nyata, meski harga nyata itu masih lebih tinggi dari harga pasaran. Ingat pelajaran ekonomi saat di SMA… hehe….

Harga potensial di benak kami berlima, sebagai orang desa, tetap lebih rendah dari harga nyata. Jika dibandingkan dengan harga sewa hotel di Jakarta, wisma Inkopau tersebut memang murah. Tapi jika dibandingkan dengan harga di daerah. Apalagi harus rogoh kocek sendiri. Hitung-hitungan matematis, untuk ukuran wisma, harganya sama dengan sewa kamar di hotel Wisata Niaga Purwokerto.

Masih beruntung tidak dipaksa mencari penginapan lagi. Maka balas dendam dengan merebahkan diri di kamar, kami lakukan. Alhamdulillah.

Barangsiapa mensyukuri nikmat yang Allah SWT berikan, maka akan ditambahkan berlipat. Jika mengingkari, ingatlah bahwa siksa Allah SWT sangatlah pedih.

Maka, nikmat yang mana lagi yang akan kau dustakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here