Safari Mencari Ilmu ke Jakarta

0
140
Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

Bagian ke-6

Perjuangan mencari penginapan seperti kemarin malam, terulang. Kami bermalam lagi di Jakarta untuk mengikuti acara seminar di kantor Menko Bidang Perekonomian. Tambahan kegiatan yang aku ikuti ini atas ajakan Kang Tarjo. Beberapa waktu yang lalu, dia bersama pegiat desa di Ciamis sudah melakukan safari ke berbagai kementrian. Mereka sedang mempersiapkan sebuah even yang diberi nama: “Festival Kopi”.

Selepas kegiatan di hotel Bidakara, kami meneruskan perjalanan ke daerah Palmerah, Jakarta Barat. Kami menuju rumah salah satu keponakan Pak Cecep. Dia sudah menghubungi keponakannya. Rencananya kami akan bermalam di sana. Kali ini kami hanya bertiga. Pak Agus balik ke Bandung, sedang Pak Nanang ada urusan di Ciamis.

Pak Cecep sempat bingung arah ke rumah keponakannya itu. Pasalnya dia baru sekali ke rumah itu. Pun sudah agak lama. Bajaj yang mengantar kami pun sempat putar-putar. Alamat yang dikirimkan via SMS kurang lengkap. Alhamdulillah, akhirnya kami sampai juga di rumah itu. Sebelum dipersilakan masuk, iseng aku bertanya ke tukang bajaj. Dari intonasi bicaranya, aku merasa tidak asing. Ternyata dia asli Pemalang. Aku katakan kalau kami bertetangga, hanya dipisahkan oleh Gunung Slamet. Senang rasanya bisa bertemu orang Jawa di Jakarta. Meski jarak Purwokerto ke Pemalang cukup jauh, saat itu kami merasa dekat.

Rupanya penghuni rumah itu masih bekerja. Yang ada hanya pembantu. Keponakan Pak Cecep salah satu dokter di RSCM, sedang suaminya bekerja sebagai desain interior. Biasanya mereka pulang sehabis maghrib. Sayang, rumah megah itu hanya dijadikan tempat tidur dan liburan pada hari Minggu.

Setelah pembantu menyiapkan kamar di lantai dua, kami pun pindah ke sana. Segera kami membersihkan badan. Kemudian istirahat sembari menunggu dibuatkan kopi. HP dan android pun kami cas. Mumpung ada listrik.

Ternyata kami belum berjodoh. Kami mesti pergi dari rumah itu. Pasalnya, selepas maghrib Pak Cecep mendapat kabar kalau istrinya keguguran dan sedang berada di rumah sakit. Mau tidak mau dia harus kembali ke Tasik. Dia menyuruh Kang Tarjo dan aku untuk tetap tinggal. Tapi kami tolak. Tak enak. Kami ke sini kan nebeng Pak Cecep. Masak kami tinggal di rumah tanpa dia.

Selepas Isya, keponakan Pak Cecep dan suaminya pulang. Saat itu kami sedang makan sore. Pak Cecep langsung berpamitan. Dia ceritakan soal kejadian yang dialami istrinya. Si keponakan menyayangkan. Tapi apa mau di kata. Akhirnya kami pun berpamitan. Pak Cecep menuju ke Kampung Rambutan, sedang kami menuju seputaran Monas.

Sesampainya di Monas, hujan turun deras. Saat itu kami masih belum tahu harus ke mana. Kalau menginap di hotel, pengalaman kemarin, tidak mungkin. Maka pilihan mencari wisma menjadi kesepakatan kami. kang Tarjo mencoba bertanya kepada petugas di halte Transjakarta. Dia tak tahu dimana ada wisma atau penginapan yang dimaksud. Dia hanya menunjukkan jalan kemana kami mesti berjalan. Kami disarankan untuk berjalan ke arah barat, kemudian belok kiri. Mencoba bertanya kepada orang-orang di sana.

Bergegas kami berjalan ke arah yang ditunjukkan petugas Transjakarta tadi. Saat itu hujan mulai mereda. Hanya gerimis yang membasahi baju. Kami terus berjalan. Rupanya naik angkot, berganti bus transjakarta, dan berjalan kaki membuat perutku keroncongan. Aku katakan ke Kang Tarjo untuk berhenti di warung depan. Selain makan, bertanya menjadi tujuan yang lebih penting.

Kebetulan pemilik warung berasal dari Kuningan, Jawa Barat. Dia menunjukkan sebuah hotel sederhana ke arah selatan. Kami mesti naik angkot dulu. Setelah sampai di lampu merah kedua kami turun. Kang Tarjo kembali bertanya. Setelah ditunjukkan arah ke barat, kami pun berjalan kaki. Alhamdulillah, terpampang tulisan hotel Tugu Asri di daerah Petojo Selatan.

Hotel ini secara fisik mirip hotel Gunung Slamet kalau di Purwokerto. Soal harga tetap masih tinggi. Lebih dari dua kali harga sewa hotel Citra Dewi di Bandungan. Tak apa lah daripada binggung mau menginap di mana. Lagi pula jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Sudah saatnya istirahat. Besok harus bersiap lebih pagi. Lokasi seminar belum tahu secara pasti.

Aku telat bangun pagi. Kang Tarjo sudah lebih dulu. Aku dapati dia sedang duduk di lobby hotel untuk sekedar nge-cas HP. Dia sudah rapi. Sudah siap berangkat. Aku pun bersiap diri. Katanya acara seminar akan dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Sedang kami masih harus mencari lokasinya.

Bajaj menjadi pilihan. Selain relatif lebih murah, Bajaj tidak memiliki jalur trayek seperti metro mini atau angkot. Bajaj ibarat taksi… hihihi….

Alhamdulillah tidak perlu waktu lama. Pengemudi Bajaj bisa membawa kami ke daerah yang kami maksud. Sebentar berkeliling di lapangan Banteng, tulisan kantor Menko Bidang Perekonomian terlihat. Gedung AA Maramis I dimana tempat seminar berlangsung, pun sudah kami temukan sesaat setelah masuk halaman kantor.

Acara seminar belum dimulai. Pameran produk-produk ungulan pun belum semua di gelar. Kami berdua masuk ke ruangan dan mengambil kursi baris kedua dari depan. Biar mempermudah dalam menerima materi dan interaksi dengan pembicara nantinya. Kang Tarjo menemui teman-temannya. Meski aku sudah diperkenalkan, aku tak nimbrung pada obrolan mereka. Hanya duduk manis membaca hard copy materi yang diberikan panitia.

Aku mencoba mencari wajah-wajah yang aku kenali. Tak ada. Peserta yang kabarnya berasal dari berbagai elemen ini diundang dalam rangka ikut mensukseskan program pemberdayaan UMKM. Mereka berasal dari pelaku UMKM, organisasi pedagang pasar, nelayan, akademisi, pendamping UMKM, dan pejabat dinas terkait di daerah. Menguping pembicaraan di belakang, ternyata Rektor Universitas Sriwijaya, Prof. Dr. Hj. Badia Perizade M.B.A, hadir. Ingin sih berkenalan, sayang bingung mau ngobrol apa.

Mba Grace dan Pak Ahmad Yusuf katanya mau hadir. Sayangnya belum kelihatan. Maka untuk menunggu waktu, aku keluar dan melihat stan pameran yang sudah mulai ramai. Sponsor utama Mustika Ratu memamerkan produk-produk kecantikan beserta bahan baku yang berasal dari rempah-rempah di Indonesia. Ada pameran bunga, buah-buah segar asli Indonesia, BRI, kerajinan tas, dan batik.

Saat melihat stan batik, aku tertarik dengan motif batik yang berbeda. Ternyata motif itu hasil modifikasi dari sebuah software pemadu berbagai motif. Namanya acroBatique. Sepertinya software itu berbayar. Sebab saat aku bertanya kepada Mba Shanti, penjaga stan, dia bilang kalau versi trial nya bisa di unduh. Kreatif dalam menciptakan beragam motif dengan software sepertinya mudah kali ya.

Kata Kang Tarjo, Mas Budiman Sudjatmiko juga menjadi salah satu pemateri pada seminar ini. Itu yang membuat aku agak lega. Paling tidak nanti ada beberapa orang yang aku kenal. Tidak merasa sendiri. Pasalnya Kang Tarjo sering berpindah-pindah mencari teman ngobrol. Dia punya misi di sini. Dia asyik melakukan lobi-lobi guna mensukseskan Festival 16-17 Mei mendatang di Ciamis. Datang ya?!

Demi melihat struktur organisasi LPER, aku sedikit penasaran. Bagaimana sih wajah-wajah pengurusnya. Saat acara dimulai baru lah aku mulai mengenal, paling tidak dua orang pengurusnya. Satu bernama Ibu Srinita, selaku Wakil Ketua Umum, dan Bu Fransisca Sestri selaku Sekjen dan panitia acara seminar ini.

Ada 4 narasumber pada seminar kali ini. Pak Pariaman Sinaga selaku staf hubungan antar lembaga, Bu Euis sebagai salah satu Dirjen di sana, Mas Budiman Sudjatmiko, dan Pak Ngadiman, selaku Sekjen Assosiasi Pedagang Pasar Indonesia.

Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat
Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

Pak Pariaman Sinaga menjelaskan perlunya penguatan UMKM guna menghadapi MEA 2015 ini. UMKM telah terbukti tangguh dalam menghadapi krisis ekonomi yang pernah menghantam negeri ini. Sayangnya kebijakan yang pro UMKM belum terwujud dengan baik. Indikasinya ditandai dengan Gini Ratio yang sudah mencapai dua digit, yakni 0,43. Kondisi ini sangat riskan. Biasanya orang akan mudah tersinggung pada angka tersebut.

Gini Ratio adalah alat mengukur derajat ketidakmerataan distribusi penduduk. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan pendapatan secara menyeluruh. Menurut teori, jika G < 0,3 berarti ketimpangan rendah, antara 0,3 ≤ G ≤ 0,5 ketimpangan sedang, dan jika G > 0,5 berarti ketimpangan tinggi.

Memang beberapa tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat. Sayangnya pertumbuhan itu hanya terjadi pada bisnis skala besar dimana pemodal besar lah yang menguasai. Sedang UMKM masih belum bisa menyumbang dalam pertumbuhan ekonomi ini. Padahal sektor UMKM lah yang banyak menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. Oleh karenanya perlu upaya pemerintah dalam memberdayakannya. Negara harus hadir di sini.

Pak Pariaman Sinaga menuturkan pengalamannya saat beliau melakukan kunjungan kerja di sana. Saat itu beliau sempat sakit dan pergi ke rumah sakit. Beliau sempat kaget karena para perawat dan dokter di sana fasih berbahasa Indonesia. Tadinya beliau mengira mereka adalah orang-orang Indonesia yang bekerja di sana. Riang hati Pak Pariaman. Sayangnya itu salah. Perawat dan dokter yang fasih berbahasa Indonesia itu asli penduduk Singapura. Menurut mereka, sebentar lagi perdagangan bebas ASEAN akan diberlakukan. Maka salah satu persiapan orang-orang Singapura adalah penguasaan terhadap bahasa bangsa-bangsa di ASEAN. Mereka sudah siap untuk berinvestasi atau bekerja di negara lain, termasuk Indonesia.

Bayangkan saja, negara-negara lain sudah bersiap diri melakukan perdagangan bebas ASEAN tersebut. Apa yang sudah dilakukan negara kita?

Jika negara kita tidak bergegas bersiap diri, maka bisa-bisa tergilas. Menurut Pak Pariaman, maka perlu penguatan pada sistem perekonomian rakyat, khususnya UMKM, dengan Koperasi sebagai bentuk badan hukumnya. Pemerintah harus melakukan pemberdayaan di bidang ekonomi rakyat. Agar bisa sedikit membendung aliran produk-produk luar negeri yang sebentar lagi akan berkeliaran di Indonesia.

Pemerintah sudah melakukan beberapa terobosan, ujar Pak Pariaman. Pengurusan badan hokum koperasi sudah dipermudah dengan biaya nol rupiah. Bagi koperasi-koperasi kecil yang masih kesulitan modal, bisa mengajukan bantuan modal hingga 50 juta rupiah. Pemerintah juga menyediakan pinjaman lunak dengan bunga 6% per tahun dan menurun. Selain itu, pemerintah menggandeng akademisi guna membantu mentransfer teknologi bagi penguatan UMKM tersebut.

Tantangan ada di depan mata, Kawan. Mari kita lakukan!

BAGIKAN
Berita sebelumyaSafari Mencari Ilmu ke Jakarta
Berita berikutnyaSafari Mencari Ilmu ke Jakarta
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here