Safari Mencari Ilmu ke Jakarta

0
134
Kang Tarjo bersama Bu Sestri

Bagian ke-7 (habis)

 

Pemberdayaan masyarakat khususnya di bidang ekonomi menjadi penting saat berbicara MEA 2015. Masyarakat kita yang sekarang cenderung konsumtif bisa menjadi pangsa pasar produk-produk luar negeri yang menjanjikan. Apalagi gengsi masih menjadi tolok ukur bagi kebanyakan orang. Status sosial masih dilihat dari apa yang di konsumsi. Apakah itu produk dalam negeri atau luar negeri.

Produk-produk dalam negeri sering dipandang sebelah mata. Apalagi produk-produk orang desa yang miskin sentuhan artistik. Oleh karenanya, pembinaan UMKM dalam meningkatkan nilai jual sebuah produk menjadi salah satu yang harus dilakukan.

Ibu Euis mencontohkan sebuah kipas. Bagi kita, kipas adalah barang yang biasa saja. Bahkan, saat kita ditawari, meski dengan harga murah sekalipun, sering kita tolak. Padahal kipas bisa menjadi daya tarik bagi turis asing manakala memiliki nilai seni. Kipas kain bermotif batik dengan dibubuhi keterangan tentang motif yang ada, akan menarik mereka untuk membeli. Para turis tidak membeli kipas dalam wujud fisik, tapi nilai intrinsik dalam motif batik itu lah yang mereka beli.

Aku jadi ingat Pak Ibnu Sudjono. Salah satu pengusaha di Purwokerto pun berkata demikian. Selembar kain batik, akan bernilai tinggi manakala memiliki nilai seni. Tips yang beliau sampaikan kepada kelompok batik, saat kami bertandang ke rumah beliau, bahwa seharusnya semua motif batik yang dibuat memiliki catatan-catatan sendiri. Sebagai contoh batik yang bermotif daun singkong, perlu keterangan apa itu daun singkong. Ceritakan bahwa daun singkong tua berguna untuk apa, daun singkong muda buat apa. Bilamana perlu, ceritakan pula tentang tanaman singkong itu sendiri. Dimana orang-orang desa selalu memanfaatkan batang untuk kayu bakar, sedang umbinya menjadi makanan pokok pengganti nasi. Umbinya bisa diolah menjadi tepung, dan sebagainya.

Peningkatan nilai sebuah produk akan meningkatkan harga jualnya.

Apalagi kita sebagai bangsa Indonesia, bangsa yang memiliki kekayaan budaya, adat, sejarah yang beraneka ragam. Bisa di kemas bersama produk-produk lokal. Ini pula bisa dijadikan sebagai pengetahuan bagi anak cucu kita agar mereka tahu bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar. Bangsa yang memiliki kekayaan budaya yang luar biasa.

Dulu aku pernah ngobrol dengan Kang Tarjo soal Kujang. Katanya, antara Kujang di Cirebon, Ciamis, dan tempat-tempat lain di Jawa Barat, bentuknya berbeda-beda. Aku kemudian berpikir, pasti ada sebab musababnya. Aku yakin para pembuat Kujang, memberi bentuk yang berbeda-beda, ada pesan-pesan moral didalamnya. Andai bisa diungkapkan, Kujang pun akan memiliki nilai jual yang tinggi.

Mas Budiman Sudjatmiko menjadi pemateri ketiga setelah Bu Euis. Paparannya tak jauh-jauh dari UU Desa. Dengan UU Desa, perlindungan negara terhadap desa menjadi nyata. Negara hadir dalam mengurusi orang-orang desa. Orang-orang yang selama ini terpinggirkan dari system ketatanegaraan bangsa ini. Orang desa seolah dibiarkan begitu saja. Program-program yang masuk ke desa terkesan sekali hanya bersifat keproyekan. Setelah program usai, usai sudah cerita di sana.

Menurut Mas Budiman, selama ini ketika pemerintah menembak si miskin dari jarak jauh, pasti meleset. Tapi jika penembak itu ditempatkan di desa, akan lebih tepat sasaran. Kira-kira begitu permisalannya.

Mas Budiman bercerita soal BUM Desa. BUM Desa, disamping koperasi menjadi alat penguatan perekonomian di desa secara kolektif. Masyarakat desa bisa melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi melalui BUM Desa. BUM Desa bisa mengelola sumber daya lokal untuk meningkatkan perekonomian warga. Oleh karenanya, pemerintah harus secara aktif mendorong pengembangan BUM Desa.

Sebelumnya, Mas Budiman mengatakan bahwa gini ratio yang disampaikan oleh Pak Pariaman Sinaga sebesar 0,43 mungkin ada di kota. Sedang gini ratio di desa sudah mencapai angka 0,5. Sangat mengkhawatirkan. Maka, UU Desa menjadi sangat penting dalam upaya mengurangi ketimpangan pendapatan itu.

Untuk meningkatkan ketahanan perekonomian di kawasan perdesaan, desa-desa juga bisa membentuk Badan Usaha Milik Antar Desa (BUMADes). BUMADes dimaksudkan untuk memperkuat ruang gerak BUMDes-BUMDes. Semacam korporasi.

Pak Ngadiman selaku Sekjen Assosiasi Pedagang Pasar mengungkapkan bahwa sebenarnya mereka siap membantu pemerintah dalam peningkatan perekonomian. Sebagai contoh, dalam pengendalian harga pasar. Para pedagang pasar, andai di rangkul oleh pemerintah bisa ikut menekan laju harga-harga di pasar. Pertanyaan yang diajukan oleh Pak Ngadiman adalah, apa yang harus kami lakukan.

Keren, Pak!

Sebagai orang desa, pertanyaan apa yang harus kami lakukan adalah wujud rasa cinta tanah air. Sunggu berbeda dengan pertanyaan: apa yang bisa kami dapatkan.

Pada sesi tanya jawab, peserta saling berebut mengacungkan jari. Meski akhirnya hanya beberapa saja yang disilakan. Perwakilan dari Assosiasi Nelayan menyampaikan keluhannya terkait kebijakan dari Menteri Kelautan, Bu Susi. Menurutnya operasi terhadap perahu-perahu yang ikut mencari ikan seharusnya hanya untuk perusahaan-perusahaan besar saja. Sedang nelayan-nelayan kecil semestinya diberi toleransi. Toh, pendapatan nelayan tidak seberapa.

Aku gagal paham operasi apa yang dimaksud. Maklum, sekarang jarang mengikuti perkembangan berita nasional. Bukan apa-apa, berita-berita yang beredar lebih mempertontonkan saling sikat dan sikut. Malah mengajari yang nggak benar. Malesi.

Kemudian ada seorang ibu pedagang ayam potong di Jakarta yang mengeluhkan pelarangan berdagang di sebuah pasar. Menurutnya, dia dan teman-teman mau saja berhenti berjualan di tempat biasanya. Asalkan pemerintah menyediakan tempat yang baru. Dia sampaikan katanya sudah disediakan tempat yang baru di luar Jakarta, nyatanya tempat itu sampai sekarang belum siap. Dia minta tolong ke Mas Budiman untuk menyampaikan hal itu kepada Pak Ahok.

Aku tersenyum. Memang mereka lebih pantas diberi kesempatan bertanya atau menyampaikan pendapat, atau keluhan. Mata pencaharian mereka terancam karena kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah. Momen ini benar, mereka manfaatkan untuk mengadu ke Mas Budiman sebagai anggota DPR RI.

Sedang salah seorang akademisi dari UNS menyampaikan bahwa di sana, sudah melakukan pendampingan kepada pelaku UMKM.

Mas Budiman menanggapi untuk melakukan koordinasi terhadap sesama anggota dewan yang menangani masalah kelautan. Sedang urusan dengan Pak Ahok, akan coba Mas Budiman komunikasikan. Mas Budiman juga menambahkan bahwa selain program-program yang akan diluncurkan untuk masyarakat, dimana permodalan menjadi salah satu unsurnya, perlu juga pendampingan. Pendamping bertugas melakukan peningkatan kapasitas masyarakat yang didampingi dan juga mengadvokasi terhadap kebijakan-kebijakan yang merugikan masyarakat dampingannya.

Selepas acara, kami dipersilakan makan siang. Kembali, Kang Tarjo beraksi. Melakukan lobi-lobi guna mensukseskan Festival Kopi. Kali ini sasarannya adalah pengurus LPES. Bu Srinita dan Bu Sestri yang dia dekati. Sempat pula dia berpose bareng Bu Sestri. Politisi sejati nih… hihihi….

Kang Tarjo bersama Bu Sestri
Kang Tarjo bersama Bu Sestri

Alhamdulillah, akhirnya ketemu Soep. Bisa pulang bareng nih. Semalam di status fesbuknya, aku tahu kalau dia akan pulang hari ini. Tapi aku tak menyangka kalau bisa ketemu. Dia datang bersama rombongan Mas Budiman rupanya. Ada Kang Irman, Mba Dina, Mas Naldi, Mas Jarot, dan Amet pula. Kalau Mba Dina sih tadi lihat. Dia jadi operator untuk materi yang Mas Budiman sampaikan.

Aku sempat bingung menghubungi Soep. Nomornya tulalit. Sedang nomor Kang Irman tak jua di jawab meski telponku nyambung. Padahal Kang Tarjo akhirnya berniat pulang bareng rombongan dari Tasik. Aku diajak serta sebenarnya. Tapi aku emoh. Andai ikut, pasti pulang ke Banyumas jadi telat.

Antara ke stasiun Gambir atau ke Pasar Senen. Aku putuskan ke Pasar Senen. Setahuku, stasiun Gambir hanya untuk kereta api kelas Bisnis dan Eksekutif. Sedang di stasiun Pasar Senen, aku berharap bisa dapat tiket kereta Logawa. Apalagi kata sekuriti, jalan kaki ke stasiun Pasar Senen pun bisa. Jaraknya dekat.

Tak tahu arah mata angin mana yang aku tuju. Aku hanya berjalan mengikut petunjuk dari sekuriti. Setelah agak jauh aku bertanya lagi ke pemulung di pinggir jalan. Aku ingin pastikan arah jalanku benar. Dia menunjukkan arah di depan. Katanya sebelum jembatan layang di depan, aku harus belok kiri.

Dialek yang pemulung pakai, tak asing bagiku. Mirip seperti supir bajaj yang kemarin mengantar kami di daerah Slipi. Ah, kasihan dia. Pergi ke Jakarta, akhirnya hanya jadi pemulung.

Setelah berbelok menuju Pasar Senen, aku menaiki jembatan laying agar sampai di stasiun. Ah, aku tertegun. Jembatan layang ini tak asing bagiku. Sekitar 14 tahun yang lalu, aku sering melewati jembatan ini. Pandanganku menyapu ke sekeliling. Aku mengingat-ingat apa yang aku lakukan dulu. Setelah keluar dari stasiun Pasar Senen, aku berjalan menyeberang, kemudian melewati jembatan layang ini dan turun di komplek Atrium Senen.

Masih jelas dalam ingatanku. Saat itu aku sedang asyik-asyiknya menjalani bisnis MLM. Dari bisnis MLM itu, pendapatanku bisa dua kali lipat dari UMK di Banyumas. Padahal saat itu bisnis MLM ini aku lakukan sebagai sambilan saja. Statusku saat itu sebagai pramuniaga di Moro Grosir. Ya, tahun 1999-2000 aku memanfaatkan hari libur untuk menjalankan bisnis MLM dengan tiap bulan kulakan ke Atrium Senen. Soalnya waktu itu belum ada stokis di Purwokerto dan Cilacap.

Senang sekali pergi ke Jakarta. Sebab sejak aku kecil, kesempatan pergi ke Jakarta baru terwujud saat itu. Makanya setiap bulan aku pergi ke sini. Yah, memang hanya putar-putar di komplek Pasar Senen. Meski pernah naik bus ke Tangerang, dimana Mbak ku pernah bekerja di sana.

Lamunanku buyar saat HP ku berbunyi. Kaget. Sampai-sampai HP itu lepas, jatuh, dan casingnya lepas. Masih beruntung tidak jatuh ke jalan raya. Ah, kenangan itu memang indah.

Sesampainya di terminal Pasar Senen, HP kembali berbunyi. Ternyata Soep. Dia katakan kalau tiket kereta di Pasar Senen sudah habis. Aku ajak dia ke terminal Pulo Gadung. Dia aku tunggu di pintu keluar terminal. Kasihan dia. Mimiknya menandakan kelelahan yang amat sangat. Dua tas gendong menambah kepayahannya.

Ah, kami mesti harus bersabar. Angkot yang membawa kami ternyata berputar-putar dulu. Biar pun tujuan akhir di terminal Pulo Gadung, kami harus mengikuti angkot ke daerah-daerah yang belum pernah aku lewati. Yang aku ingat ada di daerah Sunter dan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Di daerah-daerah yang kami lewati, tidak begitu padat. Kemacetan hampir tak ada. Gedung-gedung bertingkat pun jarang. Apa karena daerah Jakarta Utara ini sering banjir, hingga tidak menarik untuk didiami. Entah lah.

Sebagai orang desa, yang aku tahu hanya bus Sinar Jaya yang pelayanannya memuaskan. Jika tak ada, aku lebih memilih Damri. Pengalaman sering di oper di tengah jalan membuatku kapok memilih bus lain.

Sayangnya kedua bus tadi tak ada di sana. Kata para penawar jasa, bus sudah habis. Karena Jum’at esok memang tanggal merah. Banyak yang memanfaatkan untuk mudik, liburan panjang. Akhirnya kami naik bus Laju Prima. Bus ini yang membawa aku, Pak Khoerudin, Dodiet, dan Anton, saat kami mengikuti Workshop SIDeKa di Gunung Sahari beberapa waktu yang lalu.

Alhamdulillah, keputusan kami tepat. Meski harga tiket untuk bus kelas eksekutif ini dinaikkan, kami tak menyesal. Pasalnya di luar sana, para penumpang berebut saat bus Sinar Jaya datang. Banyak yang tak terangkut. Yang penting sampai di Purwokerto.

Cerita Soep di bus sebenarnya menarik. Ini terkait pemanfaatan dana guna pengembangan usaha ekonomi desa di beberapa desa di Belitung Timur. Insya Allah akan aku ceritakan pada kesempatan lain.

Syair lagu Koes Plus yang berbunyi: “ke Jakarta aku kan kembali”, bagi kami, hanya berlaku sesekali saja. Desa dan hanya Desa yang membuat kami betah tinggal di sana.

Merdesa!

BAGIKAN
Berita sebelumyaSafari Mencari Ilmu ke Jakarta
Berita berikutnyaBerbagi itu Menyenangkan
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here