Selalu Saja Ada Kenikmatan di Saat Sakit

0
435
Asyik nonton Youtube

Mungkin hanya Syamil yang justru senang dengan keberadaanku di rumah. Padahal empat hari kemarin, kondisi ku tak begitu sehat. Hari Selasa bahkan, aku tak bepergian. Hanya berbaring di rumah. Keluar dari kamar hanya untuk keperluan makan, wudhu, dan buang air. Selebihnya aktifitas terpenjara di kamar. Lelah yang mendera membuat stamina drop dan butuh istirahat.

Istri dan Ibu ku merasa sedih. Ata biasa saja. Mungkin dia malah tak begitu senang. Sebab kalau aku sakit, artinya tak bisa jalan-jalan. Buktinya tadi, saat istriku bilang aku akan berangkat ke Bogor besok, dia menimpali,” Nggak boleh. Nggak boleh kerja adoh-adoh. Mangke sakit malih”.

Yah, beberapa hari ini badan terasa lemas, mengantuk berat, batuk, pilek, pusing, dan perut yang terasa berat membuatku harus beristirahat total. Tak mau ambruk berlanjut dan harus di rawat di rumah sakit, aku putuskan istirahat saja. Aktifitas di luar terpaksa di tunda dulu. Sedikit memaksakan diri berangkat kerja pada hari Kamis, membuat kondisi badan terasa tak karu-karuan di malam harinya.

Pada hari Rabu, aku pergi ke rumah Lik Kartem. Aku ingin di urut. Obat-obatan yang dibeli dari warung tak mempan. Mungkin ada bagian tubuh yang perlu dibetulkan. Biasanya setelah di urut, agak enakan. Lama juga tak ke sana. Kebetulan Ata sedang tes, jadi pulang lebih awal. Aku ajak serta anak-anak bersama istri ke sana, sekalian silaturahmi.

Benar saja. Kepergian beberapa hari lalu dengan membawa beban berat di punggung berakibat terkilir pada bagian bawah ketiak. Masalahnya hampir sama seperti dulu. Selain itu, maag ku pun kambuh. Kebiasaan buruk melupakan sarapan pagi karena merasa cukup dengan meminum kopi susah dihilangkan. Padahal intensitas kegiatan tak jua berkurang. Selalu saja ada yang ingin dan perlu aku ikuti.

Menjerit dan menahan nafas saat di urut menjadi cara ku menahan sakit. Seperti biasa, Lik Kartem mengawalinya dari jari-jari kaki kiri. Posisi tengkurap pada awalnya mempermudah Lik Kartem dalam mengurut. Sisi luar jari kelingking yang dipijitnya langsung membuatku tersentak. Katanya di situ saluran saraf untuk sakit kepala. Benar saja, setelah agak lama aku menahan nafas dan berjingkat jingkut, kepala ini terasa lebih enak. Setelah semua jari kaki kiri di pijat, telapak kaki mulai dijamahnya. Terasa sakit pada telapak sisi dalam. Itu saluran untuk lambung. Artinya maag ku memang kambuh.

Lamat-lamat aku dengar, Ata dan Syamil di luar bersama istri ku. Syamil begitu senang dengan burung yang ada di sangkar-sangkar depan rumah Lik Kartem. Apalagi tak lama setelah itu, Widya, cucu Lik Kartem datang. Dia di jemput oleh Lik Toro, kakeknya dari Kalisalak. Mereka akur.

Saat tangan Lik Kartem mulai memijat daerah lutut, kembali aku tersentak. Katanya itu akibat terlalu lama duduk. Agar pijatan tak terasa sakit, krim panas dioleskan. Sakit itu pun aku rasakan saat menyentuh daerah pinggang. Efek dari beban berat juga. Yang paling sakit ya di bagian bawah ketiak. Kata Lik Kartem, selalu ada benjolan-benjolan berisi angin dengan sedikit terkilir. Akibatnya nafas menjadi susah, terkadang serasa di nyeri di dada saat menghirupnya.

Aku memang pernah merasakan sakit itu saat di Bandung. Saat mengikuti Festival TIK di Sabuga (Sasana Budaya Ganesha). Yah, tulisan keikutsertaan di sana, terpaksa tak bisa diteruskan karena sakit ini. Padahal Bunda Zakyzahra dan suaminya sudah berbaik hati mengirimkan materi-materi berupa foto,video, dan rekaman saat di pembukaan acara. Aku tak fokus saat itu. Tapi apa daya, kata teman, hidup memang tak semulus…. Luna Maya… hehe….

Sebenarnya Lik Kartem ingin menuntaskan hari itu juga. Tapi aku menyerah, rasa sakit di bawah ketiak saat di urut, tak bisa aku tahan lagi. Teramat sakit. Aku berniat kembali dua hari lagi ke sana. Artinya hari Jum’at aku harus balik ke sini. Alhamdulillah, kesampaian dan bisa menahan rasa sakit, hingga kondisi semakin membaik. Salah satu hasilnya adalah tulisan ini.

Rasa sakit yang mendera kemarin, aku berharap menjadi salah satu cara-Nya menghapus dosa-dosa ku. Entah dimaknai apa, bagiku tak begitu penting. Apakah ini dinamakan azab, cobaan, atau siksaan. Yang paling penting adalah berkurangnya dosa dan waktu yang tepat untuk beristirahat. Mengingatkan bahwa aku masih manusia, bukan robot. Ada hak tubuh untuk berhenti walau sebentar.

Seperti saat aku sakit beberapa waktu lalu, Syamil masih mengacuhkanku di hari pertama. Meski pun istriku bilang kalau Bapak libur, dia tetap cuek. Dia asyik dengan film-film kartun di notbuk. Kebetulan per tanggal 30 Mei kemarin, akses wifi mati, karena belum bayar selama 2 bulan. Maka dia tak bisa menikmati video alat berat atau truk-truk besar yang ada di youtube. Begitu juga Ata, dia harus bersabar menunda keinginannya melihat film BoboiBoy di sana. Rumah agak sepi, tak ada tangisan Syamil saat kalah berebut dengan Ata. Atau Ata yang mengambek karena Syamil tak mengijinkannya melihat BoboiBoy.

Asyik nonton Youtube
Asyik nonton Youtube

Aku merasa beruntung, keduanya bisa mengerti. Bapak belum gajian, makanya tak bisa bayar internet, begitu alasan istriku. Maka nikmat yang mana lagi yang akan aku dustai.

Syamil baru yakin saat hari kedua aku tak kemana-mana. Dia mau bahkan minta ditemani atau diambilkan sesuatu yang biasanya harus dilakukan oleh istriku. Kasihan memang dia, sudah sibuk urusan dapur dan sumur, untuk sekedar membuatkan susu atau minum pun, Syamil emoh jika aku atau ibu ku yang melakukannya. Padahal berkali-kali aku atau ibu ku selalu menawarkan diri. Kali ini dia mau. Mungkin karena dia yakin, aku tak akan meninggalkannya hari itu.

Meski pun batuk, pilek, dan rasa meriang masih ada, tapi setelah di urut, kepala sudah membaik. Aku lebih bebas bergerak. Termasuk menemani Syamil. Tapi urusan antar jemput Ata sekolah, istri ku yang melakukan. Kebetulan motor di rumah sekarang ada dua. Satu milik kami, jenis matik, yang satu punya adikku yang sengaja dia tinggal. Sekarang dia sudah bekerja di Bali, sebagai PNS. Untuk operasional sehari-hari, dia berencana mencari kendaraan berplat nomor sana.

Tentu aku senang dengan adanya motor lagi. Istri ku bisa melancarkan naik motornya, tak perlu menunggu ku kalau ada keperluan. Bisa sebentar-sebentar ke Patikraja kalau ada kebutuhan mendadak. Entah ke pasar, ke bengkel, belanja perlengkapan menjahit, dan lain sebagainya. Sebelum itu, dia harus pinjam sepeda ke tetangga. Bukannya manja, sempitnya jembatan Serayu membuatku malah khawatir saat dia bersepeda. Kalau berpapasan dengan mikrobus atau mobil berhenti mengalah. Takut terjadi apa-apa. Saat naik motor, dia bisa perkirakan kapan masuk ke jembatan, kapan pula menunggu. Apalagi sekarang, ada relawan yang mengatur keluar masuknya kendaraan di jembatan Serayu itu.

Pagi hingga siang ini, aku dan benar-benar menikmati kebersamaan. Sejak pagi, aku bersamanya. Dia menemani ku membuka laptop untuk bersosialita. Dia tak menganggu ku, karena dia pun asyik dengan notbuknya. Kenyamanannya bersamaku ditandai dengan acuh tak acuhnya terhadap semua aktifits istriku. Dia tak lagi merengek atau memanggil istriku saat membutuhkan sesuatu. Dia akan menurut saja saat aku tawarkan diri. Saat dia minta dibuatkan susu, aku sajikan. Dia minta minum, aku ambilkan. Padahal biasanya selalu menolak sembari berkata,” Teng Mama”. Itu artinya semua harus di ulang dan dilakukan oleh istriku.

Saat istri ku pergi menjemput Ata, dia hanya bertanya kemana. Dia hanya minta dibelikan jajan. Ibu ku beranjak dari depan TV dan mencoba mencarikan ke warung terdekat. Sayangnya tak ada. Tapi Syamil tak menangis. Dia asyik melihat video alat berat, truk-truk besar, atau kereta bersamaku. Dia pun bermanja saat minta minum dan buang air atau mengambil sesuatu. Tak mau berjalan kaki, tapi di bopong. Kadang pun permintaannya nyleneh. Di bopong dengan posisi terbalik, kepala di bawah. Ah, ada-ada saja.

Tadi pagi saat dia harus mandi, aku suruh, dia langsung mau. Saat harus menyudahi mandinya dan berganti pakaian, dia pun menurut. Padahal biasanya, susah sekali menyuruhnya mandi. Kadang harus berlari-lari menangkapnya, atau dia harus menangis. Tapi giliran di suruh berhenti dan berganti pakaian, selalu saja ada alasan. Emoh mentas. Yah, begitu lah anak-anak.

Aku hanya sebentar beristirahat di kamar bersama istri setelah dia pulang dari bengkel, ganti oli. Saat-saat seperti ini pun menjadi waktu yang berharga. Meski kami tidur sekamar, tapi sangat jarang satu ranjang. Syamil tak mau tidur kalau tak bersama istriku. Dia selalu menyuruhku pindah sampai merengek saat aku mendekati, tiduran, sambil memeluk istriku. Dia pun tak pernah mau tidur bersamaku atau kakaknya.

Saat berdua seperti itu sering kami manfaatkan untuk tetap berkomunikasi. Kadang berbicara yang penting, agak penting, atau sekedar saling curhat saja. Intinya kami ingin komunikasi berjalan terus. Sebab tak mudah bersama meski satu rumah. Kami hanya ada waktu berdua tanpa gangguan saat kedua anak-anak sudah terlelap. Atau sebentar saat pergi keluar. Itu pun tetap harus waspada mengawasi anak-anak.

Aku sedang mendorong istriku agar mau menyalurkan hobinya agar bernilai jual. Hobi menjahit tas anak-anak masih sebatas memenuhi pesanan saudara dan tetangga. Memang belum bisa menyamai hasil pabrik, tapi selama ini belum ada komplein yang berarti dari mereka. Bahkan beberapa orang memesannya lagi. Aku ingin agar dia terus mengasah kemampuannya membuat desain tas yang cantik, kemudian menjualnya secara online. Kemarin saat di FesTIK di Bandung, sudah aku daftarkan domain untuknya berjualan. Sayang belum aku tindak lanjuti dengan instalasi wordpress. Padahal Anton sudah bersedia mengajariku. Insya Allah nanti kalau sudah sempat.

Tadi kembali aku singgung soal bisnis online. Memang semua perlu waktu, maka fasilitas wifi di rumah, aku sarankan agar dimanfaatkan. Sosial media berupa fesbuk dan twitter aku sarankan dioptimalkan dulu untuk mencari teman. Syukur-syukur teman yang memang dia kenal baik masa sekolah maupun saat sudah bekerja dulu, atau saudara yang lain yang berada di luar kota sana. Soal foto-foto tas itu gampang nanti. Bisa memanfaatkan android atau kamdig milik kantor.

Aku katakan juga, bahwa lebih baik berwirausaha sendiri. Mama bisa berjualan via online, Bapa belajar nulis agar tulisannya laku, begitu yang aku katakan. Bahkan aku kenalkan dia dengan Agus Mulyadi, blogger keren dari Magelang. Kemarin saat di Bandung, aku sedikit ngobrol bersamanya tentang aktifitasnya sehari-hari. Katanya cuma menulis. Aku rasa cukup untuk bisa menambah pemasukan nanti. Sekali lagi, butuh proses.

Saat aku menulis tulisan ini pun, Syamil masih bermanja denganku. Pasalnya, Ata masih kadang egois untuk melihat film BoboiBoy, sedang Syamil tak suka. Dia memanggilku dan kemudian berbisik, minta diputarkan video kereta. Geli saat dia membisiki, sebab bukan telinga yang dia tempelkan, tapi pipi. Bibirnya menyentuh pipi layaknya mencium. Kedua tangan mungilnya memegangi kepalaku… hahaha….

Kebersamaan seperti ini memang aku sukai. Akan lebih aku sukai saat sehat sebenarnya. Tapi biasanya itu muskil. Saat sehat, biasanya aku pergi, atau kami bepergian bersama. Baik Ata maupun Syamil pasti mengajakku keluar meski hanya berkeliling kota, kalau tahu aku libur dan sehat. Mengapa kami tak bepergian hari ini? Jawabannya sudah jelas, mereka tahu kalau aku belum sehat benar.

Maka, nikmat yang mana kah lagi yang akan ku dustakan. Setelah sekian lama nikmat yang Dia beri. Berpikir dan bersikap positif dalam menghadapi sesuatu akan berimbas pada hasil positif juga. Insya Allah. Bukan kah dalam sebuah hadist sudah disebutkan, “Aku menuruti apa yang ada dalam pikiranmu”.

Mari berpikir dan bersikap positif, insya Allah positif juga hasilnya.

Wallahu ‘alam bish showab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here