Semangat Laskar Pelangi Untuk Laskar Desa

0
118
Foto: Dok. Lilik Darmawan

Bagian ke-10

 

Untuk melengkapi tulisan, aku merasa perlu melihat film Laskar Pelangi lagi. Ada beberapa penggalan adegan atau dialog yang perlu untuk di kutip. Nyata demikian. Sering aku selipkan penggalan dialog yang aku rasa perlu untuk dituliskan. Meski sudah berulang kali menontonnya, aku masih saja larut dalam film itu. Kadang ikut tertawa, merasa konyol, dan ikut sedih sampai mengeluarkan air mata. Film ini benar-benar menguras emosi.

Azis pun melakukan hal yang sama. Dia menyetel film itu di laptopnya. Malah dia mengaku baru pertama nonton film ini. Walah. Lha kemarin ikut foto-foto di sana berarti nggak paham dong. Jadi tahu nggak sih apa arti rumah reyot itu. Oalah. Gubrak.

Saat menonton itu lah aku banyak menerima informasi dari Bang Elfandi. Soal lokasi SD yang sebenarnya, SD PN Timah yang lokasi syutingnya di SDN 1 Lenggang, pemeran figuran yang sekarang menjadi Kepala Desa Lenggang, sampai tentang meninggalnya Verrys, pemeran Mahar dalam film itu. Andai aku tak melihat film itu lagi, mungkin informasi-informasi itu tak aku dapatkan. Tetapi imbas dari menonton televisi ini, aku hanya tidur sekitar dua jam saja. Aku baru bisa terlelap sekitar jam 3 dini hari dan bangun pada jam 5 pagi. Untung selama mengikuti jalan sehat, rasa kantuk itu tak menyerang. Terinfeksi virus semangat dari Pak Basuri kali ya?

Karena hanya tidur kurang lebih dua jam itu, aku nggak berani mandi. Lagi pula kami diminta datang lebih awal karena jalan sehat itu. Sedang mobil pembawa kiriman air untuk mandi belum datang. Kamar mandi yang bisa dipakai buat mandi hanya ada satu di komplek masjid An-Nur. Meski warga sekitar katanya siap dimintai bantuan, misalkan untuk mandi, rasanya sungkan. Sebagian besar dari kami sepertinya pun mandi pada siang nanti setelah mengikuti jalan sehat. Begitu juga aku… hehe….

Aku putuskan kembali ke tempat penginapan saat Kang Onno mulai berbicara soal setting wifi di laptop. Wah, meski sudah mencoba memahami, aku tetap nggak ngerti. Maka lebih baik pergi mandi dan berbenah persiapan pulang. Sesaat setelah mandi dan beres-beres aku tak kembali ke lokasi acara. Aku menikmati obrolan antara Yossy dengan Kumbang. Intinya Yossy ingin mengajak Kumbang lebih banyak berkontribusi untuk memberdayakan masyarakat desa. Keasyikan menikmati obrolan itu, membuat aku dan Yossy tak mengikuti acara penutupan. Saat kami berboncengan motor ke sana, acara penutupan sudah usai.

Aku bergabung dengan teman-teman yang sedang ngobrol dengan Pak Basuri. Sampai pada masa aku bisa pose bareng beliau itu. Sayangnya aku tak ikut foto bareng dengan banner berkalimat provokatif itu. “Domain milik Desa, yang daftar ya Desa!”

Setelah Pak Basuri berpamitan, orang yang aku cari adalah Om Caesar. Kemarin dulu saat aku mendapat kepastian bisa ke Belitung Timur, aku sudah berniat untuk minta foto bareng dia. Aku merasa perlu karena Om Caesar mirip Agung Aji, teman SMA ku. Tinggi dan tambun badannya mirip sekali. Bedanya kalau Om Caesar agak lebih terang kulitnya dan tak berkaca mata, Agung Aji kebalikannya. Hihi… sori ya, Bro Agung.

Sesaat kemudian aku minta ijin padanya untuk minta diantar ke Manggar. Teman-teman ingin mencicipi kopi dan mencari oleh-oleh yang bisa dibawa pulang. Kota Manggar yang terkenal karena banyaknya kedai kopi membuat kami penasaran. Apalagi kedai-kedai kopi di Manggar sudah masuk rekor MURI. Nah, keren kan?

Nanti saat naik mobil ELF yang biasa mengantar jemput kami dari penginapan ke lokasi acara, suasana begitu cair. Pak Sopir yang sayang aku nggak tahu namanya, terbawa kebiasaan ngocol teman-teman. Beberapa kali dia ikut becanda bersama kami. Rasa canggung itu sudah hilang. Asik malahan. Padahal aku sempat was-was, jangan-jangan dia tak mau mengantar kami. Seharusnya dia merasa capek karena tugasnya memang antar jemput peserta dari penginapan ke lokasi acara. Belum lagi tugas-tugas lain. Untung lah itu cuma perasaanku saja.

Tempat pertama yang kami tuju adalah Museum Andrea Hirata. Sebab masih banyak yang belum sempat main ke sana. Mereka penasaran dengan museum yang katanya merupakan museum literasi pertama di Indonesia. Mereka penasaran, apa yang ada didalamnya. Tadi pagi mereka memang tak ikut berhenti dan melihat-lihat ke dalam. Setelah dirasa cukup nantinya, perjalanan dilanjutkan ke pantai Nyiur Melambang dan Serdang. Baru menuju kota Manggar.

Museum ini tidak begitu menonjol posisinya karena sejajar dengan rumah warga. Bahkan jika tidak ada tulisannya, kita tak tahu kalau rumah kayu yang sudah tua itu adalah sebuah museum. Istilah yang pernah aku pakai adalah: “Ora mitayani”. Tapi begitu lah. Justru dari kesan “ora mitayani” ini, museum itu menarik perhatian. Apa sebenarnya yang menarik dari museum ini hingga dikunjungi oleh banyak wisatawan. Harus masuk dan melihat-lihat ke dalam terlebih dulu sebelum berkomentar.

Gerbang depan museum terbuat dari pasangan batu bata tanpa semen berbentuk rumah-rumahan. Pasangan batu bata yang demikian, seperti kubus yang meninggi itu dulu dijadikan pilar rumah sebelum ada model cor beton. Gerbang itu di cat warna kuning. Sedang tulisan: “Museum Kata Andrea Hirata”, terpampang pada sebelah kiri gerbang yang digantungkan pada kayu tua yang masih bentuk batang pohon. Di situ lah kami bergantian berpose. Seakan ingin mengingatkan bahwa kami pernah datang ke sana.

Didepan museum bagian kiri ada perahu kater yang sudah tak memiliki penyeimbang di kanan kirinya. Sudah tak dipakai lagi. Di atasnya ada tulisan selamat datang di museum sastra pertama di Indonesia. Sedang bagian kanan ada banner dan foto-foto mengenai kegiatan Festival Laskar Pelangi yang idenya dicetuskan sendiri oleh Andrea Hirata. Tercatat sudah dua kali festival ini dilaksanakan. Yakni pada tahun 2010 dan 2014 kemarin. Festival ini bertujuan untuk melestarikan spirit dan nilai-nilai moral yang dipesankan dalam novel dan film Laskar Pelangi, sekaligus menjadi ajang untuk melestarikan sastra, budaya dan kesenian Belitung.

Begitu memasuki museum ini, kita akan diingatkan kembali akan film yang novelnya sudah diterjemahkan ke 30 bahasa itu. Didalamnya ada beberapa ruangan yang diberi nama untuk para pemain film Laskar Pelangi. Ada ruangan Ikal, Lintang, dan Mahar. Pada ruangan Ikal, fotonya saat berteriak memanggil sahabatnya kala Lintang berpamitan tidak bisa meneruskan sekolah. Lintang terpaksa berhenti sekolah demi menghidupi adik-adiknya karena sang ayah meninggal di laut. Foto ini benar-benar menguras emosi. Saat adegan ini diputar ulang, aku menangis. Betapa sedihnya berpisah dengan seorang sahabat yang kita masih bergantung padanya. Padahal Lintang adalah murid paling cerdas di sana.

Tema percintaan Ikal terhadap Aling pun diabadikan di ruangan ini. Ikal yang jatuh hati sempat pula menuliskan puisi patah hati saat mengetahui kekasih hatinya pergi ke Paris. Ah, konyol benar fragmen ini. Masih kecil juga sudah cinta-cintaan. Tapi asyik sih. Jadi daya tarik tersendiri. Sampai-sampai Mahar harus menghibur Ikal saat dia pertama jatuh hati pada sepupu Ahyong ini. Padahal kamu tahu kan saat mereka berjalan berdua. Postur Aling lebih tinggi daripada Ikal… hihi….

Ruang sebelah Ikal adalah ruangnya Lintang. Anak pesisir yang menjadi murid pertama Bu Mus ini kemudian menjadi andalan sekolah saat mereka menjadi juara pertama cerdas cermat. Lintang mampu menguraikan jawaban saat di final jawabannya disalahkan oleh tim juri. Lintang pula yang menggantikan posisi Bu Mus, saat dia masih enggan berangkat mengajar. Masih belum bisa melupakan Pak Harfan yang meninggal di sekolah. Bu Mus merasa tak sanggup mendampingi anak-anak sendirian. Sebab Bakri sudah pindah mengajar di sebuah SD di pulau Bangka. Hanya saja, faktor keberuntungan tidak berpihak padanya. Tapi dia berhasil menularkan semangat belajar pada anak perempuannya agar bisa mengikuti langkah Ikal kelak.

Di ruangan ini terpampang foto Ikal dengan sepeda yang dia pakai ke sekolah. Ada juga foto saat Ikal membonceng Lintang saat harus mengambil kapur di Manggar. Ikal sempat mengeluh karena harus jauh-jauh ke Manggar untuk sekedar mengambil kapur tulis. Mungkin dia belum terbiasa menempuh perjalanan jauh seperti Lintang. Karena Aling lah nantinya Ikal yang justru menawarkan diri mengambil kapur ke sana.

Ruangan yang menghubungkan ruang tengah dengan dapur adalah milik Mahar. Anak yang sedikit nyleneh, yang diperankan oleh (alm) Verrys ini, mendapat ruangan yang cukup lebar. Melebihi lebarnya ruangan Ikal atau Lintang. Ada foto Mahar bersama Flo. Gadis kecil yang cantik yang justru pindah sekolah dari SD PN Timah ke SD Muhammadiyah Gantong. Flo pula lah mengajak teman-teman pergi menemui Tuk Bayan Tula. Dukun sakti yang terletak di pulau terpencil yang diyakini mampu membantu mereka dalam menghadapi ujian. Ajakan itu pertama kali diterima oleh Mahar yang memang tertarik dengan dunia mistik. Tapi entah bagaimana ceritanya, Andrea Hirata menuliskan jawaban nggak nyambung dari Tuk Bayan Tula: “Kalau nak pintar, belajar. Kalau nak berhasil, usaha!”

Hahaha….

Ada lagi tulisan yang membuatku sempat tersenyum. Tulisan itu letaknya masih di ruangan Mahar. Posisinya di atas sebelah kiri dari pintu masuk ke ruangan ini. Tulisannya begini: “Membaca pangkal ganteng”. Masak sih? Ada-ada saja nih orang.

Ruang dapur menjadi tempat kami duduk-duduk sambil menikmati kupi kuli. Kopi yang dipanaskan dengan arang. Kopi pahit agak asam ini pasti jenis robusta. Di sini ada juga sudut yang mirip tempat kerja Pak Pos jaman dulu. Peralatan-peralatan lama masih ada. Termasuk kartu ucapan. Salah satu buruan yang laris manis menjelang Lebaran, Natal dan Tahun Baru jaman dulu. Rasanya asyik memilah dan memilih jenis kartu ucapan yang akan dikirim via pos itu. Nantinya hanya sekedar ucapan “Selamat Hari Lebaran” akan membuat Pak Pos yang kebanyakan masih bersepeda, akan dibuat sangat sibuk. Kini romantisme itu sudah tak ada. Kemudahan berkomunikasi membuat orang beralih ke sana. Lebih mudah dan murah mengirim ucapan via sosial media, SMS, atau telpon langsung. Rasa deg-degan dan bahagia saat menunggu dan menerima kartu ucapan itu sudah nggak ada lagi sekarang.

Kami memesan kupi kuli khas Belitong itu. Sempat kami di hibur dengan pembacaan puisi oleh Kang Siwi. Meski lulusan fakultas hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kang Siwi justru menggeluti dunia sastra dan menulis buku. Tidak memanfaatkan ijazah untuk bekerja di dunia yang berhubungan dengan latar belakang pendidikannya. Tak tahu alasannya. Karena aku pun baru tahu setelah membeli dan membaca biodata suami Bunda Tjut dari bukunya, Girindra.

Rumah yang didiami Andrea Hirata semasa kecil ini dia sulap menjadi museum. Dia ingin mendedikasikan museum ini kepada kedua orang tuanya, yakni Seman Said Harunayah dan NA Masturah. Novel pertamanya ini sebenarnya bertutur tentang pengalamannya sendiri. Dia terpaksa harus bersekolah di sana karena orang tuanya tak punya biaya. Sosok Ikal pada novel dan film ini adalah dirinya. Nama Ikal mungkin diambil karena rambutnya yang memang bergelombang.

Sosok Bu Mus memang nyata. Dia lah sosok yang dijadikannya sebagai motivator. Perjuangan Bu Mus dalam mempertahankan sekolah itu lah yang membuatnya tergerak. Dia ingin mengabadikan kisah seorang guru yang bertekad mempertahankan sekolah yang hampir rubuh itu. Bagi Andrea Hirata, Bu Muslimah adalah sosok yang luar biasa. Rasa hormat kepada gurunya itu dia tuangkan lewat sebuah novel.

Sebenarnya di sebelah selatan dan barat dapur, masih ada ruangan lain. Tapi aku nggak begitu memperhatikan. Aku cuma jalan-jalan sebentar tanpa membaca lebih cermat. Rasa capek karena jalan sehat pagi tadi masih terasa. Maka aku ikut bersama teman-teman ngobrol dan ngopi di sini. Beberapa teman mengambil gambar dengan latar tulisan: “Kupi Kuli” atau pojok tempat bekerja tukang pos. Seingatku tak ada obrolan-obrolan berat saat itu. Capek dan lelah setelah berkutat dengan acara yang cukup padat dan kondisi alam yang berbeda, membuat kami ingin bebas. Lepas. Plong sudah.

Dengan menulis, Andrea Hirata bisa mengubah pandangan orang terhadap Belitung Timur. Daerah yang dikenal tandus karena eksploitasi tambang Timah, sekarang tidak lagi. Ada replika SD Muhammadiyah Gantung, simbol perjuangan pendidikan untuk anak-anak miskin Indonesia.

Jadi, tunggu apa lagi? Mari menulis.

Foto: Dok. Lilik Darmawan
Foto: Dok. Lilik Darmawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here