Semangat Laskar Pelangi Untuk Laskar Desa

0
210
Melepas penat

Bagian ke-11

 

Pantai menjadi salah satu kekayaan alam di pulau Belitung. Pantai yang masih relatif bersih ini menjadi tujuan wisata lain selain replika SD Muhammadiyah Gantong itu. Tercatat ada… pantai di Belitung Timur. Pantai-pantai itu menawarkan keindahan tersendiri. Kedamaian hati bisa didapatkan saat kita bisa mentafakuri kebesaran Ilahi melalui keindahan pantai. Apalagi pasir putih di pantai-pantai di Belitung Timur pasti menarik untuk dikunjungi. Ke sana jua lah kami melepaskan kepenatan setelah ngopi bareng di museum Andrea Hirata.

Sebelumnya kami agak bingung. Apakah langsung ke Manggar atau ke pantai dulu. Atas saran Pak Sopir, kami putuskan pergi ke pantai, baru ke Manggar. Kalau berhenti di Manggar, kita tak bisa leluasa di pantai. Sebab malam sebentar lagi akan datang. Tapi kalau menikmati malam di Manggar sambil ngopi malah asyik. Akhirnya kami ikuti saran Pak Sopir. Dia lebih tahu keadaan di sini.

Tapi sebelum ke pantai, kami berhenti di sebuah taman di dataran tinggi. Di sana sudah menunggu Bang Elfandi dan Pak Kuwu Tanjungsari. Dari situ pula kami bisa melihat pemandangan indah ke pantai di bawah sana. Tak usah disuruh, teman-teman langsung pasang aksi. Mengabdikan pemandangan indah itu. Kalau tak salah lokasi itu bernama Bukit Samak. Karena berada tak jauh dari rumah dinas Pak Bupati. Rumah itu yang sempat beliau tawarkan jika ingin bermalam di sana. Tawaran itu tidak diterima. Nggak enak.

Tak lama kemudian kami dibawa ke bawah. Hamparan pasir putih dengan ombak yang cukup besar, dan tiupan angin sore menyambut kami. Suasananya tenang, aman, dan damai. Sisa-sisa kepenatan dilepaskan di sini. Teman-teman berlari di hamparan pasir yang lembut. Tak peduli sandal, sepatu, dan celana kotor, basah karena air laut. Pose sambil melompat dan berteriak seakan menjadi hal yang wajib. Seakan ingin melepaskan beban yang ada. Sedang aku sudah mulai terserang penyakit 4 L: lemah, letih, lesu, dan loyo. Pagi dan siang hari aku tak makan. Konsumsi yang disediakan panitia tak bisa menggoda nafsu ku. Akhirnya aku hanya duduk-duduk saja.

Keindahan pantai tak bisa aku nikmati penuh. Lemas mulai terasa. Padahal aku lihat Kang Siwi begitu senangnya merekam keindahannya. Dia gemar sekali merekam berbagai momen. Yang dari salinan rekamannya itu lah aku bisa menyusun tulisan ini. Rambutnya yang gondrong dibiarkan terurai di sapu angin. Sepertinya dia sangat menikmati. Begitu juga istrinya, Bunda Tjut pun kembali beraksi laksana reporter. Katanya untuk oleh-oleh dalam mengisi acara siaran radio di sana. Sip lah.

Aku, Juniar, dan Bu Kuwu Tati memisahkan diri dari rombongan. Kami ingin mencari warung makan. Siapa tahu menu yang disajikan bisa menggugah selera. Bu Kuwu sejak kedatangan di sini juga penasaran. Dia ingin mencicipi air kelapa muda. Cuaca yang relatif panas memang membuat dahaga terus berdatangan. Tapi mungkin masih segar air kelapa muda Sidamulih, Bu. Mungkin sih. Wong aku juga belum pernah ke sana… hehe….

Kami tak bergabung dengan kumpulan Pak Budi, Mas Sani, Yossy, dan yang lain. Menu makanan yang tertulis di kaca masih sama. Hanya ada kopi, nasi goreng, dan mie instan. Maka kami lanjutkan berjalan. Sampai aku melihat tulisan besar, “Nyiur Melambai”. Oh, ternyata ini, pantai Nyiur Melambai itu. Nama lain dari pantai ini adalah Lalang karena terletak di Desa Lalang Kec. Manggar Kab. Belitung Timur. Rencananya aku akan pose di depan tulisan itu, tapi urung. Perut terus meminta haknya. Alhamdulillah, kami temukan menu yang berbeda. Pampi.

Pampi adalah sejenis mie mirip kwetiau. Bahannya terbuat dari tepung beras. Ada dua pilihan, Pampi rebus atau goreng. Aku dan Bu Kuwu pesan Pampi rebus, sedang Juniar memilih yang goreng. Penasaran kayak apa bentuk dan rasanya nanti. Yang membuat aku mengiyakan adalah bahan dasarnya, yakni tepung besar. Meski saat disajikan hampir mirip mie rebus, tapi tetap beda. Ini lebih bisa diterima oleh perut. Apalagi ditambah air kelapa. Sayangnya sudah setengah baya. Dagingnya sudah terlalu keras.

Efek Pampi dan air kelapa begitu terasa. Satu porsi Pampi dan air kelapa mampu mengembalikan stamina. Penyakit 4 L pun mulai pergi. Alhamdulillah. Sampai saat teman-teman mencari kami dengan ELF, sudah aku rasakan lebih bugar. Siap melanjutkan perjalanan kemana pun. Ahay.

Perjalanan dilanjutkan. Pak Sopir sengaja melewatkan kami di jalan raya depan rumah Yusril Ihza Mahendra. Nama pakar ilmu Tata Negara ini aku kenal saat masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Adalah Pak Paulus Widadi yang mengenalkannya. Beliau adalah guru mata pelajaran ilmu Tata Negara. Kebetulan, dulu aku mengambil jurusan IPS. Mau ke IPA takut cepat tua. Enggak ding. Aku merasa tak mampu bersaing dengan teman-teman yang otaknya encer. Masuk ke jurusan IPS artinya siap untuk awet muda. Halah.

Mantan Menkumham ini kini jarang sekali terdengar kiprahnya. Keputusannya untuk terjun di dunia politik praktis membuatnya kini seakan tenggelam. Seiring kalahnya partai yang pernah dia pimpin, Partai Bulan Bintang. Padahal dulu, dia termasuk orang yang sering jadi rujukan untuk urusan tata negara. Entah dimana kini. Wajahnya sudah jarang terlihat di layar kaca.

Rumah dan halaman mantan calon Ketua MPR ini besar dan asri. Halamannya pun luas. Rumah kayu yang di cat dengan warna coklat itu sepertinya sepi. Untung saja tembok keliling itu terbuat dari jari-jari besi, hingga masih tampak dari luar. Andai ada orangnya pun kayaknya nggak mampir juga. Tak ada yang kenal. Kayak seisi ELF pun nggak ada yang anggota atau simpatisan PBB… hihi….

Ah, jadi ingat. Tadi saat perjalanan dari Gantung ke Manggar ada yang bertanya. Dimana rumah Sandra Dewi. Kalau bisa nanti diantar sekedar melintas rumahnya. Artis cantik yang awal kemunculannya sekilas mirip Dian Sastrowardoyo ini memang berasal dari Provinsi Bangka Belitung. Tapi sayang, kata Pak Sopir, doi bukan asli Belitung. Rumahnya ada di Bangka. Mesti naik kapal atau pesawat ke sana. Ngik Ngok.

Rupanya pantai Nyiur Melambang belum cukup memuaskan. Mobil dikemudikan menuju pantai Serdang. Pantai ini terkenal karena pasir putihnya yang lembut. Hamparan pohon cemara laut menghiasi sisi pantai. Di sini lah aku melihat banyak berjajar perahu kater. Perahu kater adalah perahu kecil milik nelayan untuk mencari ikan ke laut. Bentuknya kecil dengan kater bergagang bamboo sebagai penyeimbang di kanan dan kiri. Kater ini juga berfungsi untuk menjaga agar perahu tidak mudah terbalik saat di hantam ombak. Dulu perahu ini memanfaatkan angin dengan layar terkembang sebagai tenaga dorong. Sekarang lebih mengandalkan motor sebagai penggeraknya. Miniatur perahu kater menjadi salah satu souvenir khas Belitung Timur.

Kedua pantai ini menghadap ke laut Cina Selatan sehingga masih ada ombak yang cukup besar. Beda dengan pantai Tebing Tinggi yang kami datangi besok. Pantai Tebing Tinggi menghadap ke selat Karimata sehingga airnya lebih tenang. Bedanya lagi, pantai Tebing Tinggi masuk wilayah kabupaten Belitung. Sudah beda teritori meski satu pulau.

Sebenarnya kemarin Bang Elfandi sempat menyarankan kami pergi ke pantai Burung Mandi. Pantai itu paling bagus katanya. Selain itu, di bukit pantai ini ada Vihara Dewi Kuan Im. Nama Dewi Kuan Im aku kenal saat masih suka nonton serial Sun Go Kong. Kuil pemeluk agama Budha ini merupakan tempat pemujaan Dewi Guan Yin, yakni Dewi Kesuburan. Konon masyarakat Tionghoa percaya bahwa dengan memuja Dewi Guan Yin, akan bisa membantu memiliki keturunan. Begitu keterangan yang aku kutip dari buku panduan wisata pulai Bangka – Belitung.

Di pantai Serdang ini kami tak lama. Hari sudah petang menjelang maghrib. Maka Sopir mengantarkan kami ke Manggar. Memenuhi rasa penasaran kami akan kedai kopi di Manggar. Kota dengan julukan 1001 kedai kopi ini sudah masuk rekor MURI. Di sini pula dulu Ikal dan Lintang mengambil kapur. Lebih tepatnya bon kapur tulis. Lagi-lagi jadi ingat kisah percintaan anak ingusan macam Ikal dan Aling. Pintar Andrea Hirata membumbui novelnya itu.

Kedai kopi yang dipilih dekat hotel Guest. Kami di suruh ke kedai itu oleh Mas Aris dan teman-teman panitia yang lain. Sempat kami berpisah tadi setelah keluar museum Andrea Hirata. Tak tahu mereka kemana tadi. Mereka menumpangi kendaraan yang berbeda. Kayaknya sih mampir dulu ke Kampung Ahok. Duh, aku malah belum ke sana.

Perut yang sudah nyaman karena Pampi dan air kelapa itu bisa diajak kompromi. Aku memesan nasi goreng dan kopi hitam. Rasanya kopi ini mirip kopi “O” seperti yang disediakan di warung-warung di Gantung. Informasi yang aku dapat, kedai-kedai kopi yang ada di sini hanya sekedar menyajikan seduhan kopi. Sedang kopinya sendiri diambil dari Lampung. Yah, kopi Lampung memang terkenal. Enak.

Di sana lah aku bertemu dengan Pak Hardi. Dia mengaku bekerja sebagai penambang timah. Tapi dia tidak turun tangan sendiri. Dia sudah punya alat dan genset untuk menambang timah. Menurut pengakuannya, satu orang karyawan mampu menghasilkan 15 kg bijih Timah. Dia sendiri memiliki dua orang karyawan. Katanya dia memberi upah kepada karyawannya dengan sistem bagi hasil. Dengan asumsi harga 80 ribu per kilo gram, dia bisa memberi upah 25 ribu per kilo gram pada karyawannya. Maka bisa di hitung penghasilan karyawannya, yakni 375 ribu rupiah per hari. Dengan asumsi diatas, maka bisa dikalkulasikan pendapatanya mencapai Rp 1.650.000,- tiap hari. Tapi itu masih pendapatan kotor, katanya. Dia harus mengurangi untuk biaya solar dan lain-lain.

Mirip dengan keluhan masyarakat. Dia pun sebenarnya sudah mulai berpikir untuk beralih profesi. Tapi belum tahu mau usaha apa. Dia mengaku tak punya ketrampilan apa-apa selain menambang Timah. Banyaknya kejadian tertimbunnya para penambang membuatnya berpikir keras, bagaimana bisa beralih profesi. Apalagi pendapatannya dari tahun ke tahun semakin berkurang. Semakin susah mencari bijih timah dengan kapasitas besar. Semua sudah tereksploitasi oleh Belanda.

Darinya pula aku tahu tentang batu kinyang. Katanya, dulu saat bijih timah masih banyak, tak ada yang melirik batu kinyang. Semua penambang membuang batu kinyang didapati. Karena belum booming waktu itu. Sekarang, mulai banyak masyarakat yang kembali menggali tanah untuk mendapatkan batu kinyang. Meski harganya lebih murah daripada batu Satam. Tapi tidak semua orang bisa menemukan batu Satam. Katanya hanya orang-orang tertentu saja. Apa alasannya, dia sendiri tak tahu.

Nama lain dari batu Satam adalah Billitonite. Menurut informasi, batu Satam ini hanya ada di pulau Belitung. Masyarakat meyakini bahwa batu Satam ini adalah pecahan batu meteor yang jatuh ke Bumi. Benar atau tidak, jangan ditanya. Aku tak tahu. Menurut sejarah yang sempat aku potret dari gerai KUMKM di Tanjung Pandang, pada tahun 1922 ada seorang Belanda yang pernah melakukan penelitian tentang batu Satam. Namanya Ir. N. Wing Easton dari Akademi Amsterdam Belanda. Dia pula yang menamai Billitonite artinya batu dari Belitong. Sedang nama Satam diambilkan dari bahasa China, yakni Sa (pasir) dan Atam (empedu).

Batu ini berwarna hitam. Merupakan campuran dari asam karbon dengan Mangaan (logam). Sedang goresan batu yang indah itu karena proses alamiah. Maka batu Satam ini tak perlu digosok. Sudah mengkilap. Biasanya batu ini tertanam di tanah dengan kedalaman mencapai kurang lebih 50 meter. Dalam juga ya. Kini batu Satam menjadi souvenir khas Belitong yang lain. Harga terendah adalah 500 ribu rupiah. Wuih.

Tak perlu kaget juga sih. Sebab pengolahan batu Satam menjadi perhiasan pun tidak mudah. Untuk membantu memecahkan dan membentuknya, dibutuhkan getah sirih. Rumit, teliti, dan telaten, kecuali yang sudah ahli.

Menurut hasil penelitian antara Pusat Riset dengan Fakultas MIPA Universitas Padjajaran Bandung, batu Satam tergolong batu yang berusia lebih dari 700.000 ribu tahun. Penelitian ini sudah dipublikasikan di harian KOMPAS, Senin, 29/10/2010, dalam rubrik KILAS IPTEK. Wow. Jaman kapan itu. Kayaknya Flintstone aja belum ada… hihi….

Melepas penat
Melepas penat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here