Semangat Laskar Pelangi Untuk Laskar Desa

0
122
Menikmati hidup

Bagian ke-12

 

Saat asyik ngobrol dengan Juniar dan Pak Hardi, pemilik kedai kopi mendekat. Dia ikut nimbrung bersama kami. Mungkin dia tahu kalau kami bukan penduduk asli Belitong. Dari aksen bicara kentara sekali. Dia ingin tahu apa yang kami lakukan di sini. Aku sampaikan bahwa kami baru selesai acara di SD Laskar Pelangi. Acara untuk desa-desa agar melek IT. Saat aku sampaikan bahwa kemarin Pak Menkominfo hadir, dia tambah respek. Dia pun bertutur tentang kegiatannya yang lain. Katanya selain buka kedai kopi dia sering menemani tamu-tamu dari luar pulau berkeliling. Semacam biro jasa perjalanan wisata. Pernah dia mendampingi beberapa pejabat dan artis yang berkunjung ke sini. Saat kami hendak berpamitan nanti, aku tanyakan namanya. Sayang aku tak bisa mengeja nama Tionghoa-nya. Aku cuma ingat nama Indonesia-nya, yakni Yusnia.

Wanita paruh baya ini mengaku sering ke Jakarta dan Bogor. Anaknya masih kuliah di Jakarta, sedang saudaranya tinggal di Bogor. Perjalanannya dari Belitung sampai ke Jakarta memang lebih cepat. Dengan asumsi dari Manggar ke Tanjung Pandan hanya satu jam dan naik pesawat 50 menit, maka tiba di Jakarta hanya butuh waktu sekitar 3 jam saja. Sedang waktu tempuhku dari Purwokerto ke Jakarta paling cepat 6 jam jika naik kereta. Tentu dengan asumsi perjalanan dari Tanjung Pandan menggunakan pesawat juga.

Tapi dengan perhitungan standar pendapatan masyarakat Belitung yang minimal diatas 200 ribu per hari, menurutku urusan tiket pesawat bukan masalah besar. Pendapatan sekelas kuli tambang timah saja bisa 375 ribu per hari. Maka dengan bisnis kedai kopi yang dimiliki ditambah dengan biro jasa perjalanan wisata, aku yakin pendapatan Bu Yusnia, diatas rata-rata. Untuk urusan biaya perjalanan dari Manggar ke Jakarta atau Bogor, mungkin tak terlalu menjadi masalah. Buktinya mampu membiayai kuliah anaknya di Jakarta.

Untuk urusan pendapatan, mungkin secara nominal mereka lebih besar daripada kita di Jawa. Akan tetapi dengan tingginya biaya hidup, sepertinya juga harus bijak menggunakan uang. Mungkin bisa dikatakan pendapatan masyarakat Belitung secara nominal memang besar, tapi secara riil kecil. Karena apa-apa harus beli. Sedang pendapatan kita di Jawa secara nominal kecil tapi secara riil lebih besar. Intinya sih tetap mesti bersyukur dengan keadaan yang ada. Belum tentu apa yang kita sangkakan terhadap orang lain benar adanya. Hidup ini mung sawang sinawang, begitu petuah orang tua.

Saat aku bertanya dimana letak toko Sinar Harapan. Bu Yusnia bilang dekat di sana. Sana mana ya? Aku nggak ngerti arah mata angin di sini. Katanya, tokoh bernama Aling itu pun nyata. Tapi aku tak bertanya lebih lanjut. Apakah benar kalau Andrea Hirata itu dulu pernah suka sama Aling. Atau itu hanya imajinasi pengarangnya saja. Dia juga menunjukkan lokasi lain tempat syuting film itu. Saat Ikal dan Lintang mampir ke sebuah kedai kopi. Kedai itu tak jauh dari kedai milik Bu Yusnia. Posisinya ada di seberang jalan agak masuk. Saat syuting itu, Bu Yusnia bilang, ramai sekali.

Bagi ku ngobrol non formal dengan penduduk setempat seperti ini mengasyikkan. Kita bisa tahu sisi lain sebuah wilayah berdasarkan perspektif masyarakat. Tidak mengandalkan informasi dari pejabatnya saja. Bahkan kita bisa mengambil kesimpulan sementara dari hasil obrolan-obrolan bersama mereka. Termasuk menyimpulkan bahwa Pak Basuri pun disukai oleh warganya. Jadi lambaian tangan kepada masyarakat dan elusan di kepala anak-anak SD itu bukan sebuah pencitraan. Itu sudah biasa beliau lakukan kayaknya.

Sebenarnya masih banyak informasi yang ingin aku gali dari Pak Hardi dan Bu Yusnia. Pengalaman Bu Yusnia saat menjadi pemandu bagi wisatawan pasti banyak. Dia pasti tahu banyak soal Belitong. Tentang batu Buyong, tentang Dul Muluk, dan masih banyak lagi. Sayang teman-teman sudah beranjak. Siap kembali ke penginapan guna persiapan check out besok pagi. Hari memang sudah malam, sedang perjalanan dari Manggar ke Gantung cukup lama. Apalagi nantinya, sepanjang jalan menuju Gantung masih minim lampu penerang jalan. Lumayan lah dapat materi tambahan.

Entah bagaimana awalnya. Tapi kalau ingat kejadian ini aku masih suka senyum-senyum sendiri. Adalah Aji Panjalu yang menjadi lakon. Sutradara film Asadessa ini malah tertinggal di kedai. Ada yang beranggapan kalau dia ikut rombongan Mas Aris dan teman-temannya di mobil lain. Tapi kami tak yakin dengan asumsi itu. Apalagi HP miliknya dititipkan. Maka Aji tak bisa di telpon. Sedang HP milik Mas Aris pun susah dihubungi. Kami putuskan kembali ke kedai tadi. Rupanya dia benar-benar tertinggal di sana. Saat Soep turun dan bertanya ke Bu Yusnia, dia bilang memang tadi ada yang minta ijin ke belakang. Kalau sampai dia benar-benar tertinggal bisa-bisa repot urusan. Kok bisa, orang se-gede Aji bisa hilang… haha….

Perjalanan dari Manggar ke Gantung sepi. Sebagian besar, termasuk aku sudah benar-benar lelah. Maka tak ada lagi celotehan seperti saat berangkat. Apalagi perut sudah kenyang. Maka nikmat kantuk yang datang, kami sambut dengan mesra. Memejamkan mata untuk mengistirahatkan jiwa, raga, dan pikiran adalah pilihan bijak. Sempat aku terlelap. Aku baru terjaga saat mobil memasuki jembatan Gantung yang penuh dengan lampu warna-warni. Kayaknya romantis buat mancing. Kalau bilang buat pacaran takut ada yang protes… hehe….

Tubuh loyo dan kusut tak membuat aku merasa risih. Karena kantuk berat, aku langsung terkapar. Tak peduli dengan buku, brosur, dan tetek bengek peralatan lain yang masih berserakan. Laptop yang belum tersimpan pun belum aku tutup juga. Lagi pula laptop ini sengaja dijadikan tempat pengumpulan foto-foto. Siapa saja yang memiliki foto-foto silakan digabungkan jadi satu. Nanti tinggal menyalin hasil gabungan itu. Termasuk rekaman-rekamannya.

Aku rasa malam itu nyenyak sekali. Karena nanti saat bangun esok, badan terasa lebih segar. Rasanya tidurnya pun cuma sebentar. Tapi malam itu aku tak bermimpi apa-apa. Tak ada lagi pendekar Kung Fu bernama Chusnul Chotimah. Rasa penat itu telah hilang bersama deburan ombak di pantai Nyiur Melambai dan Serdang. Pagi itu saatnya mengembalikan keceriaan dan kegembiraan. Karena kami akan pergi ke pantai Tanjung Tinggi. Salah satu lokasi syuting film Laskar Pelangi yang lain.

Keceriaan tergambar pada wajah-wajah kami. Bukan apa, kesuksesan pelaksanaan Festival DesTIKa 2015 akan menjadi kenangan tersendiri. Salah satu kesuksesan itu adalah tentang pendaftaran domain desa.id. Pernyataan resmi dengan tindak lanjut berupa surat edaran membuat kami senang. Pernyataan politik ditegaskan dengan kebijakan politik. Pasalnya banyak pernyataan politik yang tidak dilanjutkan dengan kebijakan politik. Saat diwawancarai bilang A, tapi nanti ya begitu. Tak ada tindakan apa-apa.

Meski harus bersiap lebih awal, bagi kami tak masalah. Semua sudah ingin pulang ke rumah juga. Kabar bahwa awal puasa bersamaan antara NU dan Muhammadiyah pun menjadi berita menggembirakan. Paling tidak buat aku. Perbedaan cara pengambilan keputusan yang sebenarnya sama-sama ada dalilnya, kadang menimbulkan friksi di masyarakat. Kebanyakan kita masih belum dewasa. Masih ingin memaksakan kebenaran versi sendiri. Masih belum bisa menerima perbedaan. Padahal perbedaan yang berdampingan itu indah. Laksana pelangi dimatamu. Halah.
Perjalanan kali ini memakai bis yang sama saat kami di jemput kemarin dulu. Pagi ini tak aku dapati sang sutradara Asadessa. Dia sepertinya berangkat lebih awal tadi. Tiket pesawatnya memang lebih awal. Saat bis melewati lokasi acara, panitia lokal masih disibukkan dengan kegiatan beres-beres tenda. Jadi panitia kadang enak, kadang juga enggak. Sudah resiko.

Sebelum menuju ke pantai Tanjung Tinggi, kami sempat mampir ke bandara dulu. Mengantarkan seseorang yang ternyata adalah pejabat Kominfo kabupaten Purbalingga. Waduh. Kenapa tadi selama perjalanan nggak ada yang menyapa ya. Padahal kan kesempatan bagus untuk pembicaraan awal. Bisa membantu teman-teman di Purbalingga juga. Namanya juga belum jodoh. Mau gimana?

Lokasi pantai Tanjung Tinggi ternyata lebih jauh. Karena lokasinya dengan Manggar antara ujung barat dan timur pulau Belitung. Jalan ke sana pun tidak begitu bagus. Beda dengan jalan di Belitung Timur. Sering kami terguncang. Sampai pintu belakang bis terbuka berkali-kali. Memang sudah rusak atau nggak ada yang tahu cara menguncinya. Untung saja tak terjadi apa-apa sampai di pantai Tanjung Tinggi.

Selama perjalanan sebenarnya Pak Kuwu Tanjungsari tak henti-hentinya melawak. Suasana menjadi ramai lagi. Tapi karena posisi duduk ku ada di belakang bareng Soep, aku tak begitu jelas mendengarnya. Kadang ikut tersenyum atau partisipasi tertawa saja saat teman-teman ikut tertawa… hihi….

Pulau Belitung terbagi menjadi dua kabupaten, yakni kabupaten Belitung dan Belitung Timur. Kabupaten Belitung beribukota di Tanjung Pandan, sedang Belitung Timur ibu kotanya di Manggar. Belitung memiliki 5 kecamatan, yakni: Tanjung Pandan, Badau, Sijuk, Membalong, dan Selat Nasik. Sedang Belitung Timur hanya memiliki 4 kecamatan, yakni Manggar, Kelapa Kampit, Dendang, dan Gantung. Dulunya pulau ini masuk wilayah Provinsi Sumatra Selatan. Tapi sejak tahun 2000, pulau ini mengalami pemekaran bersama pulau Bangka. Maka terbentuk provinsi yang ke-31 du Indonesia dan diberi nama Bangka Belitung atau disingkat Babel.

Belitung pernah dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya, kemudian Kerajaan Majapahit. Saat kerajaan Majapahit berjaya yakni pada tahun 1365, pulau ini menjadi salah satu benteng pertahanan lautnya. Hanya beberapa waktu bebas dari kekuasaan kerajaan lain, tidak lama kemudian Palembang menancapkan kekuasaannya.

Lazimnya wilayah Indonesia di masa lampau, di Belitung pun pernah berdiri beberapa kerajaan. Kerajaan yang pertama adalah Badau. Raja pertama bernama Datuk Mayang Geresik. Wilayah kekuasaaannya meliputi daerah Badau, Ibul, Bange, Bentaian, Simpang Tiga, hingga ke Buding, Manggar dan Gantung.

Kerajaan kedua adalah Kerajaan Balok. Raja pertamanya berasal dari Jawa. Yakni bangsawan Kerajaan Mataram Islam. Namanya bernama Kiai Agus Masud atau Kiai Agus Gedeh Ja’kub, yang bergelar Depati Cakraningrat I. Beliau memerintah dari tahun 1618-1661. Selanjutnya pemerintahan dijalankan oleh Depati Cakraningrat II yang bernama asli Kiai Agus Mending. Beliau memerintah kerajaan Balok sejak tahun1661 hingga tahun 1696. Kemudian pemerintahan dipegang oleh Kiai Agus Gending yang bergelar Depati Cakraningrat III.

Kerajaan ketiga adalah Kerajaan Belantu. Rajanya yang pertama adalah Datuk Ahmad (1705-1741), yang bergelar Datuk Mempawah. Sedangkan rajanya yang terakhir bernama KA. Umar.

Sedang kerajaan keempat atau yang terakhir yang pernah berdiri di Belitung adalah Kerajaan Buding. Rajanya bernama Datuk Kemiring Wali Raib. Menurut sejarah kerajaan-kerajaan di Belitung, yang aku akses dari Wikipedia, kerajaan terbesar yang pernah berdiri adalah kerajaan Balok.

Pantai Tanjung Tinggi masuk wilayah kecamatan Sijuk Kabupaten Belitung. Pantai ini menghadap ke selat Karimata. Yakni selat yang memisahkan pulau Bangka Belitung dengan Kalimatan. Oleh karenanya, air laut di sini lebih tenang daripada di pantai Nyiur Melambai dan Serdang kemarin. Tapi kayaknya belum ada jalur pesawat langsung dari Belitung ke Pontianak. Kemarin aku sempat ngobrol dengan ibu-ibu perwakilan dari Kominfo Provinsi Kalimantan Barat. Dia bilang, untuk sampai ke Belitung harus dua kali naik pesawat. Pertama dari Pontianak ke Jakarta, baru melanjutkan perjalanan ke sini. Begitu juga sebaliknya.

Di pantai ini terdapat bebatuan yang tinggi dan besar. Kami agak kesulitan untuk naik diatasnya. Bahkan untuk batu yang lebih besar lagi, kami tak mampu memanjatnya. Andai mampu pun, kayaknya sulit saat turun nanti. Di beberapa tempat diantara bebatuan besar ini lah Ikal, Lintang, Mahar, Bu Mus dan yang lain berlarian yang akhirnya melihat indahnya pelangi.

Misi mengembalikan keceriaan dan kebahagiaan benar-benar kami lakukan. Meski dengan cara yang berbeda-beda. Kumbang dan Yossy kembali menerbangkan drone, teman-teman yang lain mencari lokasi batu belah dimana anak-anak Laskar Pelangi berdiri menatap pelangi, sedang aku, Juniar, dan Bu Kuwu kembali makan. Apalagi buah kelapa mudanya masih benar-benar muda. Sampai bersih pokoknya.

Saat itu, makan menjadi pilihan cara mengembalikan keceriaan. Beberapa hari lalu aku kurang nyaman soal makanan. Entah apa sebabnya. Hak perut akan asupan makanan tak bisa aku penuhi. Selera makan yang enggan datang ditambah keasyikan mengikuti acara, ngobrol, atau mendengar cerita-cerita pemberdayaan di tempat lain, membuat aku lupa. Maka saat selera makan kembali hadir, mesti aku penuhi.

Tapi keasyikanku melahap mie gelas dan buah kelapa muda membuat aku alpa mengikuti teman-teman. Tak lama kemudian aku dapati mereka sudah kembali. Tadi setelah turun dari bis, sebagian dari mereka berhamburan. Termasuk mencapai batu dimana Ikal, Lintang, dan teman-teman takjub memandangi keindahan pantai Tanjung Tinggi. Saat itu Bu Mus mengajak anak-anak untuk belajar di luar. Karena saat hujan yang mengguyur Desa Lenggang membuat ruang kelas basah. Atapnya bocor di sana sini.

Keceriaan dan kebahagiaan yang kadang tersisih karena kepenatan membuat kita sering mati gaya. Otak encer pun sering buntu. Tak heran jika kemudian sering diikuti oleh tindakan yang aneh-aneh. Maka berhenti sebentar dari aktifitas yang terlalu padat, perlu dilakukan. Tarik nafasmu dalam-dalam, hembuskan perlahan. Nikmati lah indahnya hidup ini.

Menikmati hidup
Menikmati hidup

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here