Semangat Laskar Pelangi Untuk Laskar Desa

0
423

Bagian ke-13

 

Untung saja aku mendapat oleh-oleh dua buah kaos dari panitia, satu kaos DesTIKa dan satu lagi Asadessa. Terima kasih panitia. Kaos itu benar-benar membantu ku. Yah, udara panas di Belitung Timur membuat keringat banyak yang keluar. Persediaan baju dan kaos yang aku bawa rasanya tak cukup jika tak ada dua kaos itu. Meski akhirnya ada dua pakaian yang masih bersih. Berhubung agenda terakhir pergi ke pantai Tanjung Tinggi, maka aku pilih kaos. Kalau pakai kemeja nanti di kira mau kondangan… hehe….

Rasanya sudah lama kaos ini tak aku pakai. Kaos kebanggaan alumni SMADA 98. Dulu saat kami masih sering kumpul-kumpul, bangga rasanya memakai kaos itu. Saat diantara kami berada di luar kota, sering posting foto mengenakannya. Niatan narsis mengenakan kaos itu pula yang membuatku menyertakannya. Kebetulan momen itu tepat. Sampai saatnya aku minta di foto dengan memamerkan bagian belakangnya.

Kadang aku merasa bersalah. Aku terlalu sibuk dengan urusan sendiri. Padahal teman-teman telah memberikan amanah agar aku mengkoordinirnya. Tapi aku yakin mereka akan paham juga. Semua masih belum mapan. Masih harus berkutat dengan urusan dapur. Saat aku ikut reuni tahunan setiap tanggal 3 Syawal, Nining berujar: “Itu biasa, Kis. Kapan-kapan pasti mau kumpul-kumpul lagi”. Adem. Makasih, Sister.

Aku sempat berseloroh ke Soep, “Ini lulusan SD Muhammadiyah Gantung yang melanjutkan sekolah di SMA 2 Purwokerto”. Hihi… sebab aku tahu Soep pun bangga pada almamaternya: SMECON Purwokerto.

Aku tidak sedang menghilangkan jejak sekolah ku di SD. Bukan pula tidak berterima kasih pada para guru ku. Nyatanya SDN III Mandirancan dimana aku menuntut ilmu dulu, statusnya sekarang sudah almarhum. Bangunan gedungnya sudah rata dengan tanah. Kebijakan dari Dinas Pendidikan untuk menghapuskan SD ku bisa dimaklumi. Angka rata-rata kelahiran di Desa Mandirancan, tidak memungkinkan jika di buka tiga ruang kelas. Andai dipaksakan, murid tiap kelasnya terlalu sedikit. Maka saat terjadi rehab sekolah, gedung tempatku belajar dulu, dihilangkan dan dijadikan halaman sekolah. Kebetulan SD di Mandirancan masih satu komplek, baik SDN I, II, maupun III.

Kebijakan lain dari Dinas Pendidikan pun mengakibatkan dihapusnya nama SDN I, II, dan III. Demi efisiensi, dua SD yang digabung sekarang bernama SDN Mandirancan dengan kelas A dan B. Kepala Sekolahnya pun hanya satu.Mungkin satu-satunya ruang kelas kenangan yang tersisa adalah kelas I dan II. Itu pun sudah beralih fungsi menjadi perpustakaan. Karena dulu saat kelas I dan II, ruang kelasnya sama, hanya beda jam masuknya.

Aku masih ingat, guru yang mengajariku membaca dan menulis saat itu. Namanya Daryati. Ibu yang sampai sekarang posturnya tetap langsing ini, perjuangannya hampir mirip dengan Bu Mus. Beliau harus menempuh jarak cukup jauh dari rumahnya di Desa Papringan Kec. Banyumas. Meski Desa Papringan bersebelahan dengan desa ku, tapi aku tahu tiap pulang mengajar, beliau harus menuntun sepeda onta-nya di selepas perbatasan. Jalan di sana agak menanjak. Perjuangan beliau yang setia mengajari sangat layak diacungi jempol. Sebab saat beliau mengajari kami, statusnya masih guru honorer. Terima kasih, Ibu. Perjuanganmu akan selalu aku kenang. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan yang terbaik buat Ibu, aku, dan kita semua. Aamiin.

Maka saat aku menonton film Laskar Pelangi aku sering terbawa emosi. Selalu terkenang perjuangan guru-guru kami. Aku ingat, dari enam guru kelas ditambah guru agama dan kepala sekolah, hanya dua orang yang sudah PNS. Yakni Bu Suciati, guru kelas 6, dan Bu Kasmirah, sang Kepala Sekolah. Yang lain masih honorer. Akan tetapi beliau-beliau lah yang menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada kami. Mereka adalah guru-guru hebat yang layak di gugu dan di tiru. Tak ada yang bisa kami sampaikan, kecuali ucapan terima kasih padamu, wahai Pahlawan ku. Ah, kok jadi melankolis gini.

Setelah puas melahap daging kelapa muda, aku pun beranjak. Saat itu aku dapati Bu Kuwu sedang diwawancarai sambil direkam. Begitu juga Kumbang. Tak tahu pasti. Kayaknya sih nggak jauh-jauh amat soal pemanfaatan drone untuk pemetaan desa. Selama ini perencanaan desa masih menjadi kendala. Proses perencanaan yang dilakukan oleh teman-teman fasilitator PNPM MP dulu belum maksimal.

Bukan salah pada proses pendampingannya, tapi setelah program selesai, belum semua desa memanfaatkannya lagi. Tidak semua paham akan pentingnya perencanaan. Sebab di masa lalu, sebaik-baik perencanaan, jika tidak memiliki koneksi dengan pejabat, sulit mendapatkan dana untuk pembangunan desa. Musrenbangdes maupun musrenbang kecamatan tak lebih dari rutinitas tahunan saja. Belum tentu prioritas-prioritas usulan akan terdanai.

Selain itu, perencanaan menggunakan sistem transek sebagai data awal pada saat Musdus pun kurang akurat. Sekali lagi aku tidak sedang menyalahkan mereka. Karena saat itu, teknologi drone memang belum cukup dikenal. Tapi dari hasil evaluasi proses perencanaan sistem transek itu lah, bisa diketahui kekurangan-kekurangan yang perlu disempurnakan. Salah satunya menggunakan drone. Tidak menutup kemungkinan di masa yang akan datang, drone pun sudah tidak bisa dipakai lagi. Yang penting kita selalu terbuka. Menerima perubahan demi perubahan yang mengarah pada kebaikan demi kepentingan masyarakat. Kuncinya asal mau belajar dan move on.

Hasil pemetaan wilayah menggunakan drone yang dilakukan di Desa Sidamulih Kec. Pamarican Kab. Ciamis, membuktikan bahwa peta desa yang selama ini diyakini benar, ternyata keliru. Wilayah Desa Sidamulih ternyata lebih luas daripada yang tergambar di peta. Belum lagi hasil foto udaranya. Tergambar bagaimana indahnya Desa Sidamulih. Termasuk nantinya desa-desa yang lain. Pemetaan kawasan akan lebih mudah jika menggunakan foto udara hasil penerbangan drone.

Foto-foto yang dihasilkan bisa di pampang dan dijadikan dasar perencanaan pada musyawarah desa. Dari situ kita akan melihat wilayah desa secara keseluruhan. Tergambar potensi-potensi yang ada. Baik itu potensi yang bisa membawa kesejahteraan maupun potensi bencana. Paling tidak bisa dilakukan tindakan lanjutan. Pemanfaatan potensi desa untuk kesejahteraan dan antisipasi atas bencana yang mungkin datang.

Hal lain yang diharapkan adalah meminimalkan ego kewilayahan. Para ketua RT dan RW tidak saja memperjuangan aspirasi warganya, tapi melihat secara nyata bahwa masih ada daerah lain yang lebih membutuhkan. Sering kali masyarakat menginginkan daerahnya di bangun, dengan mengesampingkan kepentingan saudaranya di tempat lain. Dengan foto udara itu, kita berharap semua ikhlas menerima apapun keputusan musyawarah. Tinggal nanti bagaimana meningkatkan kualitas musyawarah desa itu. Agar semua kepentingan di desa bisa terakomodir. Tak ada yang merasa ditinggalkan, yang kadang malah menjadi kontraproduktif.

Keterlibatan Kumbang dan teman-teman Bukapeta dari UI tentu akan banyak membantu. Transfer ilmu dan teknologi dari anak-anak bangsa yang cerdas kepada orang-orang desa sangat diperlukan. Dan aku yakin, demi melihat kiprah mereka beberapa waktu lalu, tidak ada niatan menjadikan ini sebuah proyek. Begitu kan, Bro?

Saat kami datang, memang ada beberapa keluarga yang sedang mandi di sana. Ternyata mereka adalah orang-orang Garut yang mencari nafkah di Belitung. Dari informasi yang aku dapat, mereka berjualan kerupuk. Selisih harga kerupuk di Jawa dengan Belitung pasti cukup tinggi. Cukup pula untuk menghidupi keluarga di sini. Jika tidak, tak mungkin mereka mau jauh-jauh berdagang ke sini. Jadi ingat terjemah bebas surat An-Nisa ayat 100 yang kira-kira begini bunyinya: “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, maka akan kamu dapati bumi yang luas dan rizki yang banyak”.

Tak heran jika dulu banyak saudagar Islam berkeliling dunia sambil berdakwah. Entah apa istilah yang tepat, apakah juru dakwah yang berprofesi sebagai pedagang, atau pedagang yang juru dakwah. Hijrah bisa dimaknai perpindahan dari hal yang buruk ke yang baik. Bisa juga benar-benar pindah tempat. Salah satu bentuk hijrah yang berhasil ya mereka itu, berjualan kerupuk di Belitung. Nah kalau hijrahnya gagal, tak ada salahnya balik lagi.

Saat itu kami berhenti di pantai yang lokasinya diapit dua kelompok bebatuan besar nan tinggi. Bebatuan yang di sebelah kanan dimana anak-anak Laskar Pelangi berlarian sudah mereka jelajahi. Ajakan untuk berjalan dan menikmati pantai dari bebatuan yang ada di sebelah kiri aku ikuti. Nantinya Kumbang akan kembali menerbangkan drone-nya memotret dan merekam kami. Jeprat-jepret tak ketinggalan. Tapi kami tak mampu menaiki bebatuan yang paling besar dan tinggi. Tak apa. Cukup puas.

Terpaksa aku melepas sepatu saat kembali ke tempat semula. Air laut ternyata pasang. Tadi saat berangkat, aku masih bisa berjingkat. Eh, ini pasti basah kalau tak di lepas. Tapi melepas sepatu adalah pilihan yang pas. Aku bisa merasakan air laut dengan menyingsingkan celana. Pantai ini dangkal. Tenang. Nah, saat itu lah aku minta di foto bagian punggung dengan menghadap ke laut. Ingin memamerkan tulisan: “Alumni SMADA 98”. Ada kenangan yang sepertinya tak terlupakan. Ahay.

Tak tahu kapan pastinya kejadian itu. Aku baru tahu saat rekaman drone yang sedang diterbangkan oleh Kumbang di unggah. Terlihat saking semangatnya menggambar di pasir, Soep terjerambab. Kemarin sih nulis: Ayah cinta Daanish. Kangen sama Daanish apa ibunya?

Penasaran aku dengan lokasi batu yang terbelah. Sendirian aku menyusuri bebatuan di sebelah kanan pantai. Menurut brosur yang aku dapat di stan Bangka Belitung di FesTIK, ada tulisan tentang batu itu. Salah satu menghadap ke laut, belahan lain menjulang ke langit. Batu yang menjadi tempat berdirinya anak-anak Laskar Pelangi itu masih menjadi misteri. Bagaimana proses terbentuknya. Apa memang karena abrasi. Tapi kok rapi gitu ya.

Prasasti Laskar Pelangi ada di sana. Tempat itu menjadi salah satu lokasi syuting film yang difavoritkan. Pemandangan pantai Tanjung Tinggi yang indah seakan ingin terus mengingatkan akan romantisme film yang fenomenal itu. Eksploitasi film Laskar Pelangi menjadi daya tarik tersendiri. Bukan hanya Desa Lenggang atau Belitung Timur, tapi keseluruhan pulau Belitung.

Aku tidak mendapati adanya persewaan peralatan untuk snorkeling atau peralatan lain. Yang ada hanya ban bekas untuk berenang. Padahal informasi yang aku dapatkan, pantai ini memiliki pesona cantik di bawah air. Ada banyak ikan Bolo-bolo atau Atherinomorus sp yang berkelompok membentuk formasi yang artistik. Setelah itu kita akan menjumpai lapisan lamun atau rumput laut.

Terumbu karang akan terlihat saat kita berenang semakin ke tengah. Tapi terumbu karang di sini akan terlihat saat air surut. Oleh karenanya terlihat kurang menarik. Kecuali yang lebih ke tengah lagi. Seingatku tak ada yang menawarkan diri menjadi pemandu wisata di sana. Padahal bagi pengunjung yang tidak gemar membaca, keterangan-keterangan semacam ini sangat penting. Di sini lah peran pemandu wisata agar pengunjung semakin terkesan. Aku yakin mereka akan dengan menceritakan hal serupa jika pulang nanti.

Bisa jadi pengunjung akan sedikit takut. Kira-kira bahaya nggak kalau berenang ke tengah. Kalau sekedar di pinggir sih, nggak papa. Dangkal. Tadi juga ada pengunjung yang mandi di sana. Apakah ada ikan Hiu-nya, ubur-ubur, atau yang lain. Nah, pertanyaan-pertanyaan seperti itu hanya bisa di jawab oleh pemandu wisata.

“Eh, kemarin aku baru dari pantai Tebing Tinggi, lho. Pemandangannya bagus… bla… bla… bla…”.

Kira-kira begitu.

Tidak lama kemudian aku pun cuci kaki. Aku dapati teman-teman sudah masuk ke bis. Misi itu telah selesai. Keceriaan dan kebahagiaan sudah kembali ke posisi semula. Selamat tinggal penat. Saatnya mencari oleh-oleh.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here