Semangat Laskar Pelangi Untuk Laskar Desa

0
144
Bintang Iklan

Bagian ke-14

 

Kota Tanjung Pandan lebih ramai daripada Manggar. Itu yang aku lihat. Lalu lalang kendaraan di sini lebih banyak. Meski sama-sama tidak menyebabkan macet. Di sini berdiri banyak bangunan-bangunan modern. Akses dari kota ke pantai pun lebih dekat. Bahkan sepanjang perjalanan dari Tanjung Tinggi ke Tanjung Pandan, di satu sisi kami melihat pantai yang memanjang. Jalanan yang dibuat sepertinya sengaja ingin memanjakan mata dengan indahnya pantai di Belitung. Jalannya pun lebih halus daripada jalan yang kami lalui saat berangkat tadi. Tak perlu khawatir pintu belakang bis terbuka sendiri.

Sepanjang perjalanan dari Tanjung Tinggi ke kota Tanjung Pandan, aku tak banyak ngobrol. Soep yang duduk bersebelahan terlalu sibuk dengan urusannya. Dia sibuk ngetwit urusan ucapan-ucapan terima kasih atas partisipasi semua pihak ikut mensukseskan festival DesTIKa 2015. Itu salah satu tugasnya. Dia sempat berujar bahwa ketika melakukan survei lapangan pra kegiatan, jalan ini yang dilaluinya bersama mobil dinas dari Pemkab Belitung Timur.

Ramainya lalu lalang kendaraan membuat bis tidak bisa berjalan seenaknya. Kata ramai dimaksud hanya jika dibandingkan dengan kota Manggar, bukan kota-kota besar di Jawa. Kondisi jalan tetap lancar. Oleh karenanya, waktu yang diberikan saat kami berada di gerai KUMKM nanti, cukup banyak. Kami tak perlu khawatir dengan keterlambatan di bandara. Pak Sopir sudah bisa memperkirakan.

Menurut informasi, paling tidak ada ada 4 kali jadwal penerbangan dari Jakarta ke Tanjungpandan. Pelayanan penerbangan itu dilakukan oleh maskapai Sriwijaya Air (3 kali) dan Batavia Air (1 kali). Tak heran jika kota Tanjung Pandan lebih ramai. Pintu masuk pengunjung, baik wisatawan maupun pebisnis, ada sini. Karena selain bandara, ada juga pelabuhan. Kemudahan akses transportasi seperti ini menarik investor untuk membuka di sini. Mau diakui atau tidak, novel dan film Laskar Pelangi memiliki andil.

Terlihat di tengah kota ada tugu dengan replika batu Satam. Ingin menunjukkan bahwa batu Satam memang identik dengan Belitung dan Belitung Timur tentunya. Memang dari berbagai penelitian yang dilakukan di tempat-tempat penambangan Timah di dunia, batu Satam hanya bisa ditemui di pulau Belitung. Ini keunikan pulau Belitung yang menjual. Yang penting pandai mengemasnya agar menjadi daya tarik tersendiri.

Kekayaan alam di pulau Belitung merupakan anugerah. Memanfaatkannya untuk meningkatkan kesejahteraan menjadi tanggung jawab bersama. Ketika Pemprov Babel dan Pemkab setempat sudah gencar mempromosikan, tugas masyarakat adalah menjaga agar para wisatawan terkesan dan berniat berkunjung kembali. Menunjukkan keramahan sebagai ciri khas bangsa Indonesia, memberikan banyak alternatif makanan, dan memperkaya pilihan cindera mata. Tentu bertujuan agar pengunjung merasa aman dan nyaman serta menginginkan kembali ke sini. Dengan begitu, pengunjung akan ikut mempromosikan pulau Belitung.

Kita tahu bahwa yang namanya pariwisata membutuhkan banyak hal. Selain tujuan wisata itu sendiri, diperlukan sarana transportasi yang mudah, pelayanan yang ramah, kenyamanan jika dibutuhkan tempat menginap, keterangan-keterangan tentang tujuan wisata itu sendiri, cindera mata, dan tentu kenangan yang bisa di bawa pulang. Bila mana perlu, sampaikan pula keterangan tentang destinasi wisata lain yang belum mereka ketahui. Agar yang wisatawan tertarik dan ingin mencobanya.

Pengembangan pariwisata menjadi bisnis kreatif saat ini. Sekarang pariwisata menjadi salah satu andalan karena dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Menyusutnya lahan pertanian dan semakin sulitnya mencari lapangan pekerjaan, maka pariwisata bisa menjadi alterntif solusinya. Selain dampak positif, tetapi pariwisata juga bisa membawa dampak negatif. Contohnya lingkungan yang bisa rusak. Langkah antisipasi perlu diperhatikan.

Pantai-pantai yang ada juga menjadi sandaran hidup sebagian masyarakat. Melalui pantai-pantai itu, mereka pergi ke laut untuk mencari ikan. Maka tepat sekali jika aplikasi M-Fish harus dilatihkan kepada para nelayan. Menurut Pak Rudiantara, aplikasi ini akan banyak membantu. Nelayan akan mengetahui perkiraan cuaca di laut paling tidak dalam tiga hari ke depan. Selain itu, aplikasi M-Fish juga bisa mendeteksi keberadaan plankton. Dimana lokasi plankton yang banyak. Karena secara otomatis ikan-ikan akan memburu plankton-plankton itu.

Kendala yang kemarin disampaikan oleh Pak Rudiantara terkait keterbatasan SDM bisa dibantu oleh teman-teman RTIK. Sayangnya anggota RTIK sendiri masih belum bisa menjawab kebutuhan masyarakat. Tapi pengalaman selama kurang lebih 7 tahun mendampingi masyarakat, tantangan paling berat justru bukan pada transfer ilmu semacam aplikasi M-Fish. Membangun kesadaran akan pentingnya aplikasi M-Fish terhadap hasil tangkapan itu lah tantangannya. Sebab tidak memperkenalkan hal yang sama sekali baru itu tidak gampang. Bisa saja mereka enggan dan cukup puas dengan apa yang mereka dapatkan selama ini. Belum lagi jika aplikasi ini tidak sesuai dengan harapan para nelayan. Yang namanya perkiraan kan belum tentu benar adanya. Jangankan begitu, andai sudah ada contoh nyata, kadang-kadang masih mau tak mau. Tapi itu lah seni pemberdayaan. Mengasyikkan.

Bis harus parkir di seberang jalan di depan gerai. Halaman gerai KUMKM tidak cukup bila bis masuk ke sana. Ini pusat industri UMKM yang kedua yang aku datangi. Kemarin saat di Manggar, sebelum ikut bergabung bersama teman-teman, aku bersama Juniar ikut menemani Bu Kuwu Tati ke pusat UMKM juga. Letaknya di jalan Bioskop Mega Desa Baru Kecamatan Manggar. Cukup jalan kaki dari kedai kopi tempatnya Bu Yusnia. Pengelola gerai UMKM di Manggar adalah koperasi Mitra Sehati. Begitu yang tertulis pada buku administrasi penjualan yang sempat aku ambil gambarnya.

Sedang gerai KUMKM di Tanjung Pandan berada di jalan Sriwijaya. Isinya lebih banyak daripada gerai di Manggar. Lebih luas juga. jenis-jenis produk yang di pajang hampir sama. Kedua gerai ini menyediakan batu Satam, kerajinan dari kerang, Madu, Kopi khas Belitong, makanan ringan, perahu kater mini, kaos, dan masih banyak lagi.

Stan batu kinyang dan Satam menarik beberapa teman. Pak Kuwu Tanjungsari, Gian, Redi, dan Mas Topan mengelilinginya. Aku pun mendekat, melihat, dan menanyakan harga termurahnya. Ingat omongan Pak Hardi. Kalau sudah masuk ke toko pasti mahal. Kalau mau murah, asal mau sedikit repot, harus mencari ke penduduk.

Kang Siwi kembali merekam isi gerai. Sedang Wa Aboer malah asyik ngobrol dengan sopir dan temannya yang mengantar kami. Teman-teman lain berpencar melihat-lihat. Aku pun demikian. Saat mata ku tertuju pada keterangan tentang batu Satam, aku segera ambil gambarnya. Keterangan yang ada menambah pengetahuanku tentang batu Satam.

Madu juga menjadi salah satu incaran para wisatawan. Masyarakat menyebutnya Madu Belitung. Keistimewaan dari madu Belitung yakni dari cara mendapatkannya. Madu yang didapat bukan dari hasil peliaraan lebah. Akan tetapi berasal dari sarang lebah yang ada di hutan. Jadi terjamin keasliannya. Aktifitas ini banyak dilakukan oleh masyarakat di kecamatan Membalong. Memperolehnya masih secara tradisional dalam bahasa Belitong disebut sebagai “muar madu”.

Meski bukan penghasil madu Pelawan secara khusus, gerai juga menyediakannya. Madu pahit pelawan adalah madu hutan yang diperoleh dari pulau Bangka dan pulau Sumatra. Keberadaan madu pahit pelawan ini sudah sejak lama terkenal diseluruh Indonesia karena keampuhannya melawan segala macam penyakit. Madu ini adalah hasil kerja lebah hutan liar Apis Dorsata bersarang pada pohon Pelawan (Cyanometra Cauliflora). Pohon ini adalah pohon langka yang di hutan pulau Bangka dan pulau Sumatera. Lebah Apis Dorsata mencari madu dari bunga pohon pelawan dan bunga bunga hutan lainnya. Karena hanya bisa di panen setahun sekali, maka harga madu Pelawan lebih mahal daripada yang lain. Tak tahu persis apakah madu Pelawan yang ada di sana asli dari Bangka atau hasil muar penduduk Belitong.
Promosi wisata budaya pernah dilakukan oleh Andrea Hirata. Promosi itu bertajuk Festival Laskar Pelangi. Sampai saat ini sudah dua kali festival itu digelar. Festival ini pertama kali digelar di Museum Kata Andrea Hirata. Pada waktu itu festival diadakan satu bulan penuh. Pada waktu itu, Andrea Hirata menampilkan sosok Ibu Muslimah. Guru yang sangat dihormatinya itu. Festival ini mampu menyedot perhatian publik. Kesuksesan festival yang pertama ini kemudian dilanjutkan dengan festival yang kedua.

Pelaksanaan festival yang kedua diadakan di Tanjug Pandan. Salah satu tujuannya untuk mempermudah akses para peserta festival. Festival yang mampu menyedot minat peserta ini jelas berimbas pada bidang pariwisata di pulau Belitung. Yang jelas Andrea Hirata tidak ingin kegemilangan novel dan film Laskar Pelangi terlupakan. Tentu dengan mengenang romantisme film itu, dia berharap khalayak ramai tidak melupakan pulau Belitung.

Promosi wisata juga dilakukan oleh Pemprov Babel, Pemkab Belitung, dan Belitung Timur. Berbagai macam brosur, buku-buku panduan wisata, dan CD keindahan pulau Bangka Belitung sudah di cetak massal. Mereka mendistribusikan kepada siapa saja dan dalam berbagai even. Informasi-informasi yang aku tuliskan pun berasal dari sana. Selain mencari di internet juga.

Dengan promosi wisata yang sedang dilakukan oleh pemerintah, ini menjadi peluang bagi masyarakat. Mereka bisa mengembangkan diri. Bisa dilakukan secara mandiri atau melalui usaha bersama. Sebagai misal mengadakan pelatihan bagi pembuatan souvenir-souvenir. Pembukaan warung-warung makan di pinggir pantai. Akan lebih bagus lagi jika ada komunikasi yang bagus antara pemerintah dengan masyarakat.

Pemerintah atau masyarakat desa bisa mengajukan penawaran terkait pengembangan itu. Bisa dengan meminta soal pengelolaan warung makan atau kantin menjadi urusan masyarakat desa. Pengelolaan ini selayaknya menjadi salah satu usaha BUMDes atau BUMDes Bersama. Jika semua pengelolaan masih terkonsentrasi ke Pemprov atau Pemkab, maka cepat atau lambat masyarakat akan tersisih. Biasanya saat semangat mendatangkan investor sebagai tumpuan utama, maka masyarakat desa hanya menjadi karyawan biasa. Kecuali jika tenaganya dianggap mumpuni.

Kita ambil contoh pengembangan pantai Tanjung Tinggi. Pemerintah provinsi Babel. Pemkab Belitung, dan masyarakat desa setempat bisa membangun kerjasama untuk itu. Pengelolaan tiket, parkir, penyediaan jasa layanan kendaraan, penginapan, rumah-rumah makan dan lain sebagainya bisa di konsep bersama. Aku lebih suka jika masyarakat desa, khususnya yang berada di seputaran pantai Tebing Tinggi diajak bermusyawarah juga. Masyarakat desa bisa dilibatkan agar perekonomian mereka meningkat.

Peluang untuk mendukung pengembangan pariwisata di Belitung masih luas. Masyarakat bisa berinisiatif menyewakan peralatan snorkeling. Bisa menjadi pemandu wisata karena pengunjung membutuhkan banyak informasi. Jika para tukang becak di Yogyakarta fasih berbicara tentang kota itu, maka pengemudi perahu Kater semestinya bisa dong.

Kalau sampai sekarang belum, kita berharap ke depan masyarakat cepat tanggap. Ini peluang. Mengandalkan timah selain hasilnya semakin berkurang, bahaya akan tertimbun tanah pun selalu mengancam. Merusak lingkungan pula.

Minimal sekali masyarakat mau melakukan advokasi. Yakni mendorong pemerintah agar mengeluarkan regulasi sebagai upaya untuk menjaga mereka dari pengaruh para pemodal besar. Sebaiknya pemerintah pun tidak jor-joran menerima tawaran investasi. Perlu verifikasi kelayakan dari lembaga-lembaga lain. Pemerintah pun diharapkan mampu melindungi warganya itu. Regulasi yang ada nantinya akan membantu membendung serbuan kaum kapitalis baru. Pembatasan jumlah hotel dan pusat perbelanjaan modern, misalnya. Sebab ijin beroperasi bagi hotel dan minimarket yang seakan di obral, hanya akan menjadikan Belitung sebagai tempat transit uang saja. Uang yang dibelanjakan para wisatawan tak kan pernah singgah di sebagian besar dompet masyarakat Belitung. Uang itu akan kembali pada pemilik modal besar. Masyarakat Belitung hanya bisa gigit jari.

Perubahan demi perubahan adalah yang pasti. Biasanya setiap perubahan akan mendapati dua jenis manusia, yakni pemenang dan pecundang. Kita berharap, bukan menjadi bagian dari pecundang. Semoga.

Bintang Iklan
Bintang Iklan
BAGIKAN
Berita sebelumyaSemangat Laskar Pelangi Untuk Laskar Desa
Berita berikutnyaSemangat Laskar Pelangi Untuk Laskar Desa
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here