Semangat Laskar Pelangi Untuk Laskar Desa

0
145

Bagian ke-15 (terakhir)

 

Penerbangan kedua lebih menyenangkan. Kali ini aku duduk didekat jendela. Adalah Om Jo yang berbaik hati menukar tempat duduk. Dia yang menawarkannya. Begitu kami sampai di bandara dan mendapatkan tiket, aku pasrah saja. Nomor kursi yang tertera adalah 20 D. Artinya aku duduk di bangku lebih ke tengah. Tak ada niatan untuk meminta tukar. Sepertinya semua menikmati perjalanan pesawat dengan duduk di dekat jendela. Pandangan mata bebas ke bawah sana. Tapi dasar rejeki, begitu mendapatiku, Om Jo menawarkan berpindah tempat duduk. Langsung aku iya kan. Apa jangan-jangan dia membaca tulisan bagian pertamanya. Syukur lah kalau dia tahu… hihi….

Sebagai ungkapan terima kasih, aku ajak dia foto bareng. Saking senengnya, aku peluk dia. Tapi dia berontak. Mungkin risih kali. Belum pernah di peluk atau memeluk seseorang kali. Yah, dunia coding telah merampas kebahagiaan mencintai seorang makhluk bernama perempuan. Padahal jika sudah kesampaian, pasti dia akan menyesal. Kenapa nggak dari dulu-dulu… hihi….

Perjalanan dari gerai KUMKM di Tanjung Pandan terasa singkat. Tak terasa kami sudah harus meninggalkan Belitung. Aku rasa pengalaman ini sulit dilupakan. Apalagi bagi kami yang baru pertama naik pesawat. Pelayanan dari panitia sangat memuaskan. Keramahan penduduk Desa Lenggang dan petugas yang mengantar kami ke mana-mana membuat kami merasa nyaman. Andai bisa di tunda sampai tanggal 21 Juni kayaknya nggak masalah. Katanya kan Pak Presiden mau hadir. Tapi sudah puasa ding… hehe….

Tak terlalu lama kami menunggu. Kami segera masuk ke ruang tunggu. Bahkan ketika Wa Aboer berniat sekedar ngopi sampai nggak sempat. Untung saja masih ada waktu untuk jeprat-jepret di dalam bandara. Sebab setelah ini, kami pun akan berpisah. Kang Topan akan melanjutkan perjalanan ke Maros. Kang Siwi dan istrinya akan terbang ke Surabaya, lanjut ke Tulungagung. Om Jo balik ke Cempaka Putih – Jakarta. Begitu juga Pak Kuwu Balagawa Ruampes dan teman-teman dari Majalengka. Sedang aku akhirnya pulang nebeng Bu Kuwu Tati dan Juniar ke Ciamis dulu. Tiket kereta api yang di pesan oleh Anton sudah habis. Meski Anton bilang ada kereta lain, aku emoh. Lebih baik ikut Juniar saja. Ada teman dalam perjalanan pulang ke Purwokerto nantinya.

Sembari menunggu pesawat, para ahli hisab memanfaatkan momen untuk memuaskan diri. Sebab besok siangnya sudah puasa. Ini hari terakhir makan, minum, dan merokok sebelum berpuasa esoknya. Aku tak bergabung mereka. Lebih suka membaca surat kabar lokal Belitung. Berita tentang kegiatan yang baru kami ikuti ada juga. Biarpun tidak berada di halaman muka. Yah, berita tentang desa memang tidak terlalu seksi bagi media mainstream. Untuk itu lah kami memilih narsis sendiri. Pakai website desa, radio komunitas, buletin yang dibuat sendiri dan media lainnya. Kalau tak ada yang enggan menyuarakan, ya suarakan sendiri.

Sebenarnya aku sudah di pesan oleh Mba Ambar untuk menghubungi keponakannya yang bekerja di sini. Dia sudah memberi nomor kontak keponakannya itu. Mba Ambar, teman UPK PNPM MP di Sumpiuh, bilang keponakannya bekerja di bandara sini. Aku pun sudah berjanji. Saat itu pun aku sempat berpikiran untuk mencoba menghubunginya. Tapi urung aku lakukan. Aku takut malah mengganggu pekerjaannya. Tak yakin pula apa dia sedang bertugas apa tidak. Maaf ya, Mba Ambar.

Pesawat yang kami tumpangi adalah yang terakhir terbang ke Jakarta hari itu. Jadwal penerbangan yang dipesankan oleh panitia sengaja demikian. Tujuannya agar kami bisa meluangkan waktu berkeliling Belitung. Melupakan sedikit kejenuhan atas rutinitas di tempat masing-masing. Ini juga bonus bagi mereka yang terbiasa mendampingi desa. Begitu ujar, Mas Aris. Meski masih ada yang belum bisa diberangkatkan. Anggarannya memang tak sedikit. Mungkin kapan-kapan, gantian.

Saat masuk ke pesawat, tempat duduk kami mirip seperti saat berangkat. Deretan kursi belakang seakan di borong buat teman-teman GDM. Kecuali Kang Topan yang duduk di deretan kursi depan. Sayang kali ini tak ada Uswatun Chasanah. Biar pun Nuron bilang sempat di senggol Pramugari, tapi itu bukan dia. Pramugari yang ada memang cantik. Tapi tidak jelita. Hasyah.

Kali ini perasaan saat take off sudah tidak deg-degan lagi. Tapi tetap harus menyadarkan kepala ke kursi. Pernah di coba sedikit menegakkan, eh malah pusing. Toh aku masih bisa mengintip ke bawah. Melihat jalan-jalan semakin mengecil. Tanah-tanah bekas eksploitasi tambang Timah menjadi pemandangan yang biasa. Ibarat panu yang tumbuh diantara hijaunya pepohonan. Tapi panu itu besar-besar. Perlu lengkuas yang banyak untuk mengobatinya. Berulang kali, terus menerus, jangan bosan. Kok lengkuas? Iya obat tradisional untuk penyakit kulit, termasuk panu, kan lengkuas. Pengalaman pribadi… hihi….

Setelah hamparan permadani hijau, kemudian warna biru menggantikannya. Bahkan warna biru itu sepertinya lebih dominan. Laut merupakan kekayaan bangsa yang masih belum tergarap sempurna. Pencurian ikan oleh para nelayan asing masih sering terjadi. Partroli TNI AL dan AU memang membutuhkan dana yang tak sedikit, akhirnya kelengahannya bisa dimanfaatkan untuk melakukan pencurian itu.

Beberapa kali pesawat membelokkan arah untuk menuju titik koordinat bandara Soekarno-Hatta di Jakarta. Cuaca terang membuat pemandangan tak terganggu awan. Sama seperti saat berangkat kemarin. Aku bisa dengan bebas melihat ke bawah sana. Kapal-kapal laut terlihat sangat kecil. Beberapa pesawat yang terbang dengan arah berlainan pun terlihat. Terlihat dari kejauhan puncak-puncak gunung menonjol, saat pesawat hampir sampai. Biar pun posisi masih diatas laut, tapi perjalanan sudah lebih dari 30 menit. Artinya kami sudah jauh meninggalkan pulau Belitung.

Saat daratan mulai terlihat, tanah-tanah dekat laut itu seperti tak berpenghuni. Hanya aliran sungai yang terlihat seperti ular yang panjang. Sungai itu mengalirkan air ke laut Jawa. Kalau kita turun ke sana, bisa aku pastikan airnya sangat kotor. Air itu bercampur limbah-limbah pembuangan dari Jakarta. Ikan pun kayaknya nggak ada yang bisa hidup di sana. Paling juga ikan sapu-sapu.

Mendekati bandara, perlahan menurunkan ketinggiannya. Terlihat jelas jalan-jalan yang disibukkan kendaraan. Ada yang terlihat lengang tapi ada yang terlihat macet juga. Atap-atap rumah dan perkantoran pun mulai nampak. Sampai ke bawah nanti, masih juga terlihat proyek-proyek bangunan yang belum selesai. Sering aku berpikir, kenapa hanya Jakarta yang terus-terusan bersolek. Mengapa uang itu tidak disalurkan ke daerah. Pada posisi mana kata pemerataan pembangunan dan keadilan itu ditempatkan. Mungkin jika wacana pemindahan ibukota negara jadi dilaksanakan. Mungkin sih.

Pesawat mendarat dengan selamat. Tidak lama kemudian disusul pendaratan pesawat yang berangkat dari bandara lain. Begini lah jalur penerbangan itu. Dulu aku beranggapan, kenapa sering mesti delay. Bukankah jalur di langit itu bebas hambatan. Nggak ada kemacetan. Ternyata setelah mencari banyak informasi, sekarang jadi tahu, untuk mengatur jalur penerbangan pun butuh perhitungan cermat. Ketepatan waktu perjalanan, kecepatan terbang pesawat, dan ketinggian harus benar-benar tepat. Kalau tidak bisa terjadi kecelakaan. Soalnya pesawat kan tidak mungkin berhenti sesaat di udara untuk memberi kesempatan yang lain lewat jika berpapasan… hehe….

Berbicara soal bandara, aku jadi ingat proyek pengembangan bandara Wirasaba di Purbalingga dan Nyi Ageng Serang di Kulonprogo. Setahuku, pengembangan bandara milik TNI AU di Wirasaba sudah digembar-gemborkan sejak jaman Pak Mardjoko, bupati Banyumas sebelumnya. Pengembangan bandara Wirasaba yang rencananya akan dialihfungsikan menjadi bandara komersil, ternyata dipastikan batal. Rumitnya proses alih fungsi soal kepemilikan dan perijinan dari Menteri Perhubungan yang lama membuat Pemprov Jateng lebih memilih dialihkan lokasinya.

Bandara ini diharapkan bisa mempermudah akses transportasi ke wilayah Jawa Tengah bagian barat dan selatan. Memang, meski akses transportasi darat dengan kereta dan bis sudah cukup baik, tapi masih di rasa kurang. Waktu perjalanan dari Banyumas dan sekitarnya lebih lama daripada Jakarta ke kota-kota di luar Jawa. Ini menjadi kendala pengembangan daerah-daerah seputaran Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen (Barlingmascakeb). Oleh karenanya, pemilihan letak lapangan udara Wirasaba sangat strategis. Lokasinya berada di tengah-tengah kelima kabupaten tersebut.

Jika melihat rencana pengembangan bandara, sebenarnya alokasi anggaran ada. Yakni pengembangan bandara Tunggul Wulung di Cilacap. Namun Pemprov berkeberatan. Sebab lokasi bandara Tunggul Wulung terlalu ke barat. Untuk menjangkau Banyumas saja sudah cukup jauh, apalagi sampai ke Kebumen atau Banjarnegara. Pilihan tempat memang perlu menjadi bahan pertimbangan. Jika dipaksakan pengembangan di bandara Tunggul Wulung, sepertinya imbasnya tidak terlalu signifikan. Gubernur Jateng berjanji akan segera berkoordinasi terkait hal itu. Maka berdasarkan hasil pertemuan dengan kelima Bupati di Barlingmascakeb, akhirnya pembangunan bandara akan diusulkan di Desa Karangcengis Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga.

Jika rencana pengembangan atau pembukaan bandara di Purbalingga kesannya adem ayem, beda dengan yang di Kulon Progo. Beberapa bulan lalu ketika aku bersilaturahmi ke rumah Mba ku di Bantul, di sepanjang jalan sana aku melihat banyak poster bernada protes. Masyarakat di Brosot menolak pengembangan bandara itu. Mereka beralasan bahwa pengembangan bandara akan menghilangkan lahan pertanian yang selama ini menjadi andalan mereka. Poster-poster itu berjajar di pinggir jalan dengan tampah sebagai medianya. Protes yang unik.

Rencana pengembangan bandara di Kulon Progo diambil karena bandara Adisutjipto sudah tidak layak. Bukan karena apa, lonjakan pengunjung ke Yogya yang memanfaatkan pesawat terus meningkat. Maka diperlukan bandara baru yang kapasitasnya lebih besar lagi. Pemilihan tempat di Kulon Progo pun dengan pertimbangan masih cukup longgar, tidak terlalu padat penduduk.

Ya, begitu lah. Setiap kebijakan pasti akan ada yang dirugikan. Bisa jadi para petani di Kulon Progo merasa terancam karena untuk beralih profesi memang tidak mudah. Sedang penduduk di Purbalingga sepertinya justru melihat ini adalah peluang. Dari sudut mana memandang itu sah-sah saja. Mungkin akan lebih mengena jika dalam banyak hal masyarakat dilibatkan, sehingga merasa ikut memilikinya.

Tidak lama setelah aku, Juniar, dan Bu Kuwu membawa tas masing-masing, kami segera mencari mobil yang akan mengantar. Tak lupa berpamitan dengan teman-teman. Tidak semua sih, karena yang lain sepertinya masih mengantri mengambil tas. Ada dua pilihan bagi ku nanti. Mampir ke rumah Juniar dulu, baru melanjutkan perjalanan, atau langsung mencari bis ke Purwokerto. Perkiraannya, kami tiba sampai di Ciamis pada dini hari. Alhamdulillah, nantinya bis naik bis juga. Tak perlu merepotkan Juniar di rumahnya. Tengkiu, Bro.

Kami terjebak macet selepas bandara. Jam-jam pulang kerja seperti ini memang sibuk. Sambil mengusir jenuh kami sempat ngobrol-ngobrol. Tentang kesulitan Bu Kuwu mencari tenaga pengelola website desa dan keinginannya untuk menunjukkan prestasi desanya. Dia ingin, dengan prestasi Desa Sidamulih, akan membuat pemerintah daerah dan desa-desa sekitarnya akan terpacu. Ah, belum tentu juga, Bu. Ini soal hidayah kok… hehe….

Kegiatan Festival DesTIKa 2015 kemarin, menjadi tempat kita untuk saling berbagi dan menguatkan. Semoga kita benar-benar dikuatkan agar tetap istiqomah mendampingi masyarakat desa. Aamiin.

Terima kasih atas keceriaan dan kebersamannya, Bu Septri, Mas Aris, Pak Basuri, Om Caesar, Yossy, dan semuanya saja. I Love You All….

Sampai jumpa di DesTIKa 2016 di Maros (mungkin)… hehe….

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here