Semangat Laskar Pelangi Untuk Laskar Desa

0
130
Tak bisa memungkiri khas orang ndeso... hihi....

Bagian ke-2

Tak ada yang menyangka bahwa kami terbang bersama Bu Septri. Ibu Dirjen Aptika Kominfo yang namanya tertera dan bertanda tangan dalam surat undangan, duduk di barisan depan pada pesawat yang sama. Kalau beliau tak menghampiri kami setelah turun dari pesawat, kami tak tahu. Mungkin beliau bukan hanya hafal wajah beberapa dari kami, tapi gaya ndeso yang benar-benar tak bisa dikhianati. Ramai-ramai kami berpose setelah menuruni tangga. Rasa-rasanya, meski banyak yang baru naik pesawat, nggak ada yang merasakan jetlag. Semua baik-baik saja. Mungkin jika gaya norak khas orang desa muncul saat masih didalam pesawat, bisa saja Bu Septri tahu. Tapi karena agak malu-malu, jadi gaya noraknya tidak totalitas. Agak jaim-jaim gimana gitu.

Narsis dengan latar pesawat dan papan nama bandara H. Hanandjoeddin menjadi sebuah kewajiban. Saling bergantian menjepretkan kamera. Seakan berkata kepada teman-teman di kampung melalui media sosial: “woiy, kami sampai di sini”. Narsis itu wajib, demi menegakkan eksistensi. Hasyah.

Kayaknya tak ada puas-puasnya berpose. Di ruang tunggu barang bawaan, masih ada yang menyempatkan narsis. Terlihat Bang Syafei dengan kaos merah bertuliskan desa.id yang disebar fotonya via twitter, sudah menunggu kami. Dia bertugas menjemput para tamu di bandara. Bis sudah disiapkan untuk mengantar kami dari bandara ke lokasi acara. Sedang Bu Septri dijemput dengan mobil.

Perjalanan dari bandara Tanjung Pandan ke lokasi acara cukup jauh. Kurang lebih satu jam perjalanan. Padahal jalan halus mulus yang kami lewati sangat sepi. Hampir-hampir tak ada kendaraan lain. Tak takut disalip. Tinggal tancap gas dan mainkan setir. Seingatku tak pernah berhenti karena lampu lalu lintas. Lancar. Tak ada istilah macet di sini. Kendaraan baik motor maupun mobil masih menjadi barang langka sepertinya. Tak terlihat patroli polisi juga. Kayaknya nggak punya SIM pun oke-oke saja… hehe….

Meski rasa kantuk mulai menyerang, aku tetap bertahan. Ingin melihat-lihat keadaan. Beberapa teman yang duduk di depan sudah mulai terpejam. Awalnya sih masih saling bercanda. Sayang karena duduk di barisan belakang, tak tahu apa materi banyolannya. Aku terus menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Warna tanahnya seperti kapur putih. Bekas-bekas galian timah terlihat di beberapa titik. Upaya reklamasi belum terlihat benar. Baru pembangunan infrastruktur dasar berupa jalan raya. Terlihat aspal dan talud di pinggir kanan kiri jalan masih baru. Sepertinya masih senang membangun fisik demi mengejar ketertinggalan dengan daerah lain.

Tanda-tanda kehidupan manusia meski di dekat-dekat rumah hampir tak ada. Apa mata pencaharian penduduk setempat, belum jelas. Lahan pertanian tak terlihat. Hanya perkebunan sawit di beberapa titik saja. Pasar tradisional pun belum nampak. Lupa aku tak membaca tuntas brosur-brosur yang aku bawa sepulang dari FesTIK di Bandung tentang Belitung Timur.

Sampai lah akhirnya di lokasi acara. Kami disambut panitia. Sembari rehat dan menunggu kesiapan tempat istirahat, kami duduk-duduk di rumah panggung sebelah ruang panitia. Pesan kopi dan es teh sebagai pelepas dahaga sambil menyesuaikan diri. Kondisi di siang hari itu panas sekali. Untung saja jarang mobil lewat. Jadi hampir tak ada debu yang beterbangan. Sepanjang perjalanan tadi memang hampir tak ada perbukitan. Landai semua.

Seksama kami mendengar penuturan Wa Aboer cerita perjalanannya kemarin. Dia memang berangkat lebih awal dari kami. Kemarin saat di Bogor sudah dia sampaikan kalau berangkat lebih awal. Tapi jadwal pulang bisa bareng. Semalam juga dia sudah mulai posting foto-foto di sana. Termasuk acara briefing panitia. Bagi kami, sepertinya hampir di setiap kegiatan pemberdayaan ada Wa Aboer. Dia pula yang membantu mempermudah urusan kami dengan panitia. Semisal bertanya soal makan, kaos, atau ada keperluan lain di sekitar. Wa Aboer sudah pasti survei ke sana sini.

Lucu dan kasihan Wa Aboer. Dia mengaku berangkat terlalu awal ke bandara. Saat di sana, saat kantuk menyerang, seenaknya saja Wa Aboer merebahkan badan. Rupanya sial baginya. Dia berkali-kali dibangunkan dan di usir oleh pihak sekuriti bandara. Saat pindah tempat tidur, eh di suruh pindah lagi. Sampai tiga kali katanya. Untung saja saat ditanya, dia bisa menunjukkan identitas diri dan bukti pesanan tiket. Kalau tidak, bisa-bisa dikira gelandangan. Wah, pejabat Satker bayangan level nasional sekelas Wa Aboer di kira orang hilang. Bahaya itu… hahaha….

Cerita itu belum selesai rupanya. Saat di bandara Tanjung Pandan, ternyata dia tak bertemu petugas penjemput tamu. Terpaksa Wa Aboer naik kendaraan umum. Bingung saat ditanya sopir angkot. Akhirnya dia menelpon ke salah satu panitia. Baru dia katakan lokasi yang ditujunya. Sayangnya saat dia mendapat jawaban, angkot telanjur berbelok arah entah kemana. Alhasil, angkot itu pun harus berbalik arah. Lucunya lagi, ternyata panitia sudah mengirim orang untuk menjemput Wa Aboer. Singkat cerita, baik Wa Aboer maupun si penjemput sama-sama bingung. Wa Aboer bingung mencari lokasi karena merasa tak di jemput, eh si penjemput juga bingung. Orang yang mau di jemput ini mana, kok nggak ada… hahaha….

Meski julukan kota dengan seribu kopi disematkan di ibukota kabupaten, yakni di Manggar, ternyata kopi yang aku pesan, mantap. Racikan antara gula dan kopinya pas. Kentel. Itu pula yang dirasakan Pak Budi. Mungkin soal kebiasaan ya, kalau Bunda Zaky, peserta dari Tulungagung mengatakan terlalu manis.

Tak lama setelah makan, Kang Aris, Kang Fajar, dan Om Caesar menemui kami. Ini kali ketiga aku bertemu Om Caesar. Pertama saat acara seminar BP2DK di Inkopdit, kedua saat di FesTIK Bandung. Karyawan PNS di Kominfo Kab. Belitung Timur dengan posturnya yang tinggi besar mengingatkan aku akan teman SMA: Agung Aji Prasetyo. Bedanya kalau Om Caesar agak putih, Agung kebalikannya… hihi….

Aku terlibat diskusi dengan Bunda Zaky dan suaminya, Mas Siwi. Kami takjub, hanya sebuah novel yang difilmkan, Laskar Pelangi mampu mengangkat nama Belitung Timur. Replika SD Muhammadiyah Gantung yang reyot mampu menyedot wisatawan datang ke sana. Booming film yang ditayangkan pada tahun 2008, dengan latar belakang kisah asli penduduk Belitung, masih terasa hingga kini. Terlihat masih banyak pengunjung yang datang dan berpose di depan atau didalam ruang kelas itu. Novel dan film yang inspiratif ini benar-benar diakomodir dan dipoles oleh Pemkab. Belitung Timur untuk menjadikan Belitung Timur menjadi salah satu destinasi wisata. Pemkab. Belitung Timur pun menggarap potensi-potensi wisata lain seperti pantai-pantai alami dan kearifan lokal lain agar wisatawan betah dan lama tinggal di sini. Kolaborasi yang cantik.

Andai saja novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari diperlakukan sama seperti Laskar Pelangi. Mungkin Banyumas bisa seperti ini. Novel fenomenal itu sudah lebih dulu terkenal ketimbang Laskar Pelangi. Sayangnya peluang itu belum tersentuh. Bisa saja dibangun replika tempat latihan menari Srintil. Atau pemerintah membina masyarakat agar melestarikan kesenian Ronggeng sebagai salah satu kekayaan budaya Banyumas. Nanti bisa dikolaborasikan dengan Desa Melung dan Dermaji yang sudah menjadi ikon sebagai desa internet. Belum lagi Baturaden yang sudah terkenal lebih dulu. Kemudian ada Tahu Kalisari, gethuk dan batik Sokaraja, makam Joko Kahiman untuk mengeksplorasi asal mula Banyumas, dan masih banyak lagi. Siapa tahu, pejabat Pemkab. Banyumas membaca tulisan ini dan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama… hihi….

Kesibukan panitia sudah terasa. Berkali-kali Kang Aris dan Kang Fajar berdiskusi soal setting acara. Termasuk Om Jo yang didaulat bertanggung jawab untuk urusan SiKomAR dan acara video conference dengan desa-desa perwakilan di seluruh nusantara. Di satu sisi, petugas dari Telkom masih sibuk memasang jaringan wifi. Luar biasa pengaruh DesTIKa ini. Pelayanan wifi yang mungkin belum bisa digarap, harus segera dilakukan untuk mendukung acara ini. Sebuah kegiatan yang mampu mendorong kebijakan publik yang menguntungkan masyarakat. Tinggal nanti paska kegiatan, apakah jaringan wifi akan dimanfaatkan oleh warga sekitar, atau ditinggal begitu saja.

Kami ditempatkan di kantor dengan ruangan luas agak jauh dari lokasi acara. Kurang lebih 5 menit naik motor agak kenceng. Kalau mau jalan kaki bisa, takutnya nanti kakinya pegel. Di sekitar lokasi replika SD Muhammadiyah Gantung tak ada rumah warga atau gedung untuk istirahat. Aku tak tahu, sebaran penduduknya mengikuti pola apa. Apa mengikuti jalan raya, dekat perkebunan, bergerombol sesuai keturunan atau apa. Dari atas tadi tidak fokus melihat rumah-rumah warga.

Sambutan dan dukungan pemerintah setempat patut diacungi jempol. Tak lama kami diantar oleh panitia, dua orang pegawai kecamatan datang. Mereka menanyakan soal kenyamanan dan kesan pertama kami. Mereka mengatakan kalau kami ada butuh apa-apa silakan menghubungi panitia atau penduduk sekitar jika kekurangan air. Masyarakat sekitar sudah diberitahu. Salah seorang malah ditinggal menemani kami. Namanya Pak Suseno, Sekcam Gantung. Dia yang memandu Pak Kuwu Balagawa Ruampes jalan-jalan ke Kolong di sebelah selatan rumah singgah kami. Kolong itu rawa atau danau. Katanya bekas peninggalan kapal keruk saat Timah masih berjaya di sini. Tapi dia wanti-wanti agar tak gegabah, di kolong itu masih ada buayanya. Beberapa waktu lalu, seorang penduduk setempat yang sedang memancing, melihat 3 ekor buaya di sana. Ngeri. Meski begitu, danau itu masih dimanfaatkan oleh warga untuk sekedar mencuci pakaian dan memancing ikan.

Minimnya tanaman buah-buahan di sini membuat kesepakatan awal antara Pak Kuwu Balagawa Ruampes dengan Pak Sekcam. Mereka berdua mencoba bekerjasama untuk mendatangkan bibit-bibit dari Majalengka. Yah, agribisnis untuk bibit-bibit tanaman di Majalengka memungkinkan untuk itu. Siapa tahu berjodoh ya, Pak Kuwu. Keren lah.

Malam hari, saat sebagian teman-teman sedang sibuk mempersiapkan stan dan demo aplikasi besok, kami berdiskusi dan bertanya ke salah seorang warga. Dia karyawan kecamatan Gantung juga. Dia bermaksud mengontrol kondisi kami juga. Kami bertanya soal pengambilan film Laskar Pelangi, makanan khas Belitung, souvenir, tempat-tempat wisata lain, sampai ke batu kinyang khas Belitung. Bapak-bapak ini memang selalu tertarik dengan urusan batu kinyang, sebutan lain dari batu akik.

Keterangan soal pengambilan gambar syuting film dia ceritakan. Ada beberapa tempat, termasuk gedung ini menjadi tempat syuting. Ruang aula belakang dijadikan tempat pengambilan gambar saat anak-anak Laskar Pelangi sedang menonton di bioskop. Kemudian pasar Gantung yang lokasinya dekat dari situ, juga tempat syuting saat Kucay dan teman-temannya mengikuti festival dengan dedaunan yang getahnya bikin gatal itu. Tikungan yang sebenarnya kami lewati saat naik bis, tapi nggak tahu di sebelah mana, di sana adegan saat Ikal mengayuh sepeda dengan berdendang sepulang bon kapur tulis. Saat dia katakan, “aku baru melihat jari-jari cantik paling bagus sedunia”.

Peristiwa di Manggar untuk bon kapur tulis itu, memang di Manggar. Yakni di ibukota kabupaten Belitung Timur. Sedang saat anak-anak berlari-lari di pantai, itu sebenarnya ada di pantai dekat Tanjung Pandan. Jauh dari lokasi SD Muhammadiyah Gantung. Nah, malam harinya aku bersama Juniar berkeliling dan melihat jembatan Gantung, saat Bapaknya Kucay berteriak dari jembatan Gantung. Eh, pabrik peleburan timah pun masih ada lho. Asyik kan.

Napak tilas prosesi pembuatan film Laskar Pelangi sepertinya lebih asyik saat kita melihat secara langsung. Tapi mungkin nggak ya. Kalau pose di depan kelas replika SD Muhammadiyah Gantung sih sudah. Bareng Kang Indriyatno malah. Lalu dimana letak SD PN Timah sebagai simbol dan sekaligus pemisah antara orang kaya dan miskin. Dan masih banyak lagi rasa penasaran ini. Seolah film ini memang benar-benar hidup dan ada di jaman dulu.

Untung saja aku masih menyimpan dan membaca brosur-brosur tentang Belitung Timur, meski belum semua. Aku agak sedikit nyambung saat bercerita tentang batu Buyong. Batu besar yang kokoh berdiam meski dalam keadaan miring sampai 45 derajat. Batu yang terus membesar ini menjadi salah satu tempat syuting film itu. Biarpun sudah ditunjukkan, tetap saja bingung.

Keterangan tambahan bahwa di dekat sini ada bendungan. Fungsi bendungan saat itu untuk menahan agar air naik sehingga memudahkan kapal keruk bergerak. Kapal keruk itu dipaka untuk mengeksploitasi tambang timah. Tapi sekarang bendungan difungsikan untuk mengairi sawah seperti di Jawa. Ah, cerita-cerita tentang Belitung Timur hampir tiada habisnya. Dimana rumah Ahok, bagaimana cerita Dul Muluk, tata bahasa penduduk setempat, lokasi transmigrasi penduduk Jawa pada sekitar tahun 1979, dan masih banyak lagi. Penasaran. Siapa tahu besok ada pencerahan baru.

Sekedar novel yang difilmkan mampu mengangkat potensi lokal adalah salah satu wujud bisnis kreatif. Alangkah baiknya jika kita mau melakukannya pula. Mengangkat potensi dan kearifan lokal untuk kemandirian desa. Hayuk menulis.

Merdesa!

Tak bisa memungkiri khas orang ndeso... hihi....
Tak bisa memungkiri khas orang ndeso… hihi….
BAGIKAN
Berita sebelumyaSemangat Laskar Pelangi Untuk Laskar Desa
Berita berikutnyaSemangat Laskar Pelangi Untuk Laskar Desa
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here