Semangat Laskar Pelangi Untuk Laskar Desa

0
141
Bukan pemberkatan

Bagian ke-3

 

Denyut nadi ekonomi warga Desa Lenggang Kec. Gantung terasa saat kami jalan pagi ke Pasar Tradisional Gantung. Letaknya yang tak terlalu jauh dari tempat kami menginap, membuat kami memutuskan berjalan kaki dari gedung serbaguna ke sana. Aku, Mas Siwi, Bunda Tjut, dan Bu Kuwu Tati sengaja jalan-jalan ke pasar. Penasaran ingin tahu kondisi Pasar Gantung dan mencari jajanan pagi. Siapa tahu ada pilihan lain.

Tertarik kami melihat dermaga di sungai Lenggang. Masyarakat memanfaatkan perahu yang ada di dermaga dekat pasar untuk berdagang ke pulau Buolong. Yakni pulau terluar dari kabupaten Belitung Timur. Perahu ini juga dimanfaatkan untuk mencari ikan dengan cara memancing atau menjaring. Kata Bang Beni, pengepul ikan dari Manggar, mereka pergi ke laut sekitar satu minggu. Biasanya mereka pulang dengan membawa ikan sekitar 300 – 400 kilogram.

Selain menambang bijih timah, mata pencaharian penduduk Desa Lenggang memang mencari ikan di laut. Sektor perdagangan masih belum begitu banyak, apalagi pertanian dan peternakan. Kekayaan alam berupa bijih timah yang lama dieksploitasi oleh penjajah Belanda menjadi mata pencaharian andalan. Mereka yang ikut menambang timah bisa menghasilkan bijih timah sekitar 15 kg tiap hari dengan harga jual 75 ribu per kilogramnya. Bisa dihitung pendapatan kotor mereka tiap bulannya. Sayangnya besarnya pendapatan itu hampir tidak seimbang dengan biaya hidup di sini. Untuk satu kilogram wortel saja, penduduk harus merogok kocek sampai 13 ribu. Sedang sayuran lain tidak dijual per ikat, tapi per ons. Sayuran memang menjadi barang mahal di sini. Belum banyak penduduk yang menanam sayuran.

Kata Pak Ramdani, selaku imam masjid An-Nur yang lokasinya berada di seberang Gedung Serbaguna yang kami tempati untuk menginap, tingginya tingkat keasaman air di Kulong (danau) membuat pertanian dan perikanan tak bisa berkembang di sini. Perlu sentuhan teknologi pertanian untuk mengkonversi bekas-bekas peninggalan tambang timah menjadi lahan yang siap tanam. Salah satu kesulitan ya soal tingkat keasaman itu. Tanah berpasir putih yang mirip pasir batu gamping ini juga kurang subur. Rintisan perbaikan tanah sudah dimulai dengan membiarkan rerumputan tumbuh di sana. Butuh waktu lama memang.

Sayangnya jajanan yang ada tak jauh berbeda dengan di Jawa. Tak ada jajanan khas. Entah di tempat lain. Akhirnya kami mengalihkan perhatian dengan banyak bertanya kepada warga di pasar. Termasuk melihat pemilahan cumi-cumi yang berukuran besar, sedang, dan kecil. Soal harga cumi-cumi maupun ikan, aku tak bertanya. Malu kalau tanya-tanya, nggak niat beli juga. Bunda Tjut aktif bertanya, sedang suaminya, Mas Siwi senang memotret dan merekam semua perbicaraan. Mereka membutuhkan data guna ditulis ulang di blog dan bahan belajar saat diminta mengisi kegiatan-kegiatan di Tulungagung. Aku bersama Bu Kuwu Tati hanya mengikuti sambil melihat-lihat.

Setahu ku, ada tiga etnis besar yang tinggal di sini. Suku asli Belitung, Tionghoa, dan Jawa. Suku Tionghoa datang saat masih masa penjajahan Belanda. Mereka datang untuk berdagang dan menjadi pekerja di perusahaan timah. Sedang kedatangan orang-orang Jawa, menurut informasi, saat digalakkan program transmigrasi oleh Presiden Suharto. Kalau tak salah tahun 1979-an. Saat itu kejayaan timah masih bisa diandalkan. Tapi tak lama kemudian harganya anjlok di pasaran dunia.

Saat kami berjalan-jalan di pasar tadi, ada seorang penjual mie ayam keliling yang minta foto bareng. Itu kata Mas Siwi. Aku hanya ikut pose saja. Menurut ajakan Mas Siwi. Baru tahu kalau dia yang tak berseragam tadi adalah orang Wonogiri. Dia sudah berjualan mie ayam sejak tahun 80-an. Sedang salah satu petugas Dishub di pasar, ikut berfoto karena menganggap kami tamu. Ya, memang tamu. Wisatawan domestik. Ihir….

Tak lama kami di pasar. Kami ingat harus bersiap. Rencananya kegiatan ini akan dibuka oleh Pak Menteri Kominfo, Rudiantara. Serangkaian Festival DesTIKa 2015 yang dipusatkan di Desa Lenggang Kec. Gantung Kab. Belitung Timur atau tepatnya di komplek Replika SD Muhammadiyah Gantung akan dihadiri oleh tiga menteri. Yakni Menteri Kominfo, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Menko Perekonomian. Tapi nanti, hanya Pak Rudiantara yang ikut hadir. Dua menteri lain hanya mengirimkan wakilnya.

Jalan pulang ke penginapan terasa lebih jauh. Berbeda saat kami berangkat tadi. Rasa-rasanya tadi dekat kok. Tapi memang biasanya begitu. Saat berangkat tadi masih semangat, maka seberapa jauh pun tak masalah. Giliran balik sudah semangat berkurang, capek pun mulai merayapi. Beda kalau naik kendaraan. Pas berangkat serasa jauh, karena nggak tahu tempat, tapi saat pulang, kayaknya cepat banget. Gitu kan ya?

Saat kami sampai di lokasi kegiatan, terlihat Om Fajar Eri masih sibuk mengatur persiapan upacara pembukaan. Ketua RTIK Prov. Jabar ini selalu heboh dan menghebohkan diri. Berkali-kali via mik dia memberi komando kepada petugas penyambutan tamu. Rupanya gladi bersih kemarin sore di rasa belum cukup. Apalagi tim paduan suara kemarin tak ikut. Meski nantinya, tim paduan suara membawakan lagu dengan semangat di depan Pak Menkominfo dan tamu undangan lain. Kabar tentang keberadaan Pak Menteri dan rombongan terus dia pantau guna persiapan.

Rombongan Pak Rudiantara disambut oleh tari Sambut khas Belitong dan upacara sekapur sirih, yakni para tamu diminta untuk mengunyah sirih sebagai tanda selamat datang. Kira-kira rasanya gimana ya. Pernah sih aku mengunyah sirih. Kayaknya kok nggak pas di lidah. Mungkin Pak Rudiantara dan tamu-tamu yang lain harus menahan diri meludahnya. Takut dikira nggak menghormati… hihi….

Untung saja sambutan-sambutan dari para tokoh tidak terlalu panjang. Tidak seperti lomba pidato. Sambutan Mas Budiman Sudjatmiko selaku ketua pantia, beliau mengibaratkan desa sebagai telapak kaki. Dimana semua persoalan bangsa akan bisa diselesaikan dengan cara memijatnya pada bagian telapaknya. Pijat refleksi yang beliau maksudnya merupakan salah satu cara pengobatan yang alami. Mas Budiman menyampaikan juga bahwa persoalan-persoalan di desa akan dibantu penyelesaiannya oleh para pegiat desa. Salah satunya pegiat yang fokus pada pengembangan TIK di Desa. Nah, kalau pas telapak kakinya bau, kita mesti bersiap diri. Kira-kira begitu ya, Mas Bud?

Dalam sambutannya, dr. Basuri Tjahaja Purnama, M.Gz, Sp Gk, selaku Bupati Belitung Timur menyampaikan bahwa desa-desa di kabupatennya sudah mendapatkan stimulus berupa alokasi dana desa sebenar 1 milyar tiap tahunnya. Katanya pula, ini sudah tahun ke-3. Beliau percaya bahwa Desa lah yang akan membangun kota, desa pula yang akan membangun Indonesia. Jika desa maju, kota akan maju, dan Indonesia akan hebat. Dengan sistem informasi, semua profesionalitas, transparansi dari semua sistem akan terjaga dan mempermudah dalam pembangunan. Sepakat, Pak Basuri!

Mungkin sambutan yang agak panjang, hanya disampaikan oleh Gubernur Bangka Belitung. Pasalnya Pak Rustam Efendi dalam menyampaikan sambutannya, beliau membaca konsep yang mungkin sudah disusun oleh ajudannya. Tapi pantun yang dibawakan oleh Pak Gubernur nanti, akan memancing Pak Rudiantara berpantun pula. Kira-kira begini pantun, Pak Gubernur:

Tomat matang gurih di makan
Lebih gurih arun digulai
Selamat datang kami ucapkan
Di negeri kami, serumpun sebarai

Perbedaan aksen dan gaya tutur bahasa membuat aku kadang nggak ngeh apa yang beliau sampaikan. Cara menyampaikannya pun sepertinya terlalu cepat. Atau mungkin karena baru mendengar dan butuh kejelasan intonasi, aku perlu memutar ulang suaranya. Untung saja, Kang Siwi merekam dan aku sempat meminta salinannya. Jujur apa yang aku tuliskan ini memang berdasar rekaman darinya. Terima kasih, Kakak Siwi… hihi….

Informasi tentang penyaluran dana desa disampaikan oleh perwakilan dari Kementrian Desa dan PDT, Pak Joshua. Beliau menjabat sebagai Dirjen Pembangunan Desa dan Kawasan. Menurut beliau, penyaluran dana desa hampir seratus persen sudah disalurkan ke kabupaten. Kurang lebih tinggal sekitar 40 kabupaten saja. Ini terkendala karena belum diterbitkannya regulasi di kabupaten atau kotamadya terkait proses penyaluran dana. Ini terjadi di daerah Papua dan Maluku Utara. Beliau sampaikan bahwa tugasnya sekarang adalah memastikan dana itu tersalurkan dari kabupaten ke desa. Ayo ikut membantu mengawasi, Kawan. Ketakutan akan penyelewangan dana bukan hanya di desa, tapi kekuatan supra desa pun memiliki potensi untuk itu.

Ini kali ketiga aku bertemu dan mendengarkan sambutan dari Pak Rudiantara. Kesan humanis dan sederhana masih tertanam dalam diri beliau. Sambutannya pun simpel karena tak membawa kertas contekan. Santai. Tidak membosankan.

Menurutku, Pak Rudiantara merupakan salah satu menteri yang mendukung dihilangkannya ego sektoral antar kementrian. Beliau sadar bahwa untuk urusan desa, tidak cukup ditangani oleh satu kementrian saja. Maka kolaborasi antar kementrian yang mengurusi desa pun perlu dilakukan.

Statemen beliau: “Bagi kami sebetulnya tidak peduli, kementrian mana yang melakukan, yang penting desanya menjadi tambah maju, lebih tambah makmur”.

Pada lanjutan pidatonya, beliau pun berujar lagi:

“Pemikirannya, bagaimana teknologi informasi dan komunikasi ini dimanfaatkan oleh… katakan lah desa untuk lebih meningkatkan dirinya. Terutama apakah dari sisi ekonomi, sosial, dan lain sebagainya, sehingga bagi kami desa itu bukan obyek tetapi harus subyek dalam arti bagian dari pembangunan”.

Mantap kan?

Hampir saja kejadian di FesTIK 2015 kemarin di Bandung terulang. Rekaman video saat Pak Rudiantara menggotong sendiri meja yang berada di panggung, sempat menghebohkan para pegiat TIK. Kali ini Pak Rudiantara memang tidak jadi menggotong podium. Sigap panitia menggotongnya. Tapi Pak Menteri masih saja memindahkan sendiri sandaran mik. Haha….

Setelah pembukaan Festival DesTIKa 2015 secara resmi, penyerahan penghargaan desa.id award. Pada DesTIKa kali ini diberikan penghargaan untuk dua kategori. Pertama, kategori Inisiatif, Kreatifitas, dan Semangat dalam Pemanfaatan TIK serta Penggunaan Domain desa.id, dan kategori kedua berupa Dukungan dan Komitmen pada Pemberdayaan TIK Pedesaan serta Penggunaan Domain desa.id untuk desa.

Pemenang untuk kategori pertama adalah: 1) Desa Tanjungsari Kec. Sukahaji Kab. Majalengka-Jawa Barat, 2) Desa Moncongloe Lappara Kec. Moncongloe Kab. Maros – Sulawesi Selatan, 3) Desa Sungai Kapita Kec. Kumay Kab. Waringin Barat – Kalimantan Tengah, 4) Desa Pejeng Kec. Tampaksiring Kab. Gianyar – Bali, 5) Desa Sedahkidul Kec. Purwosari Kab. Bojonegoro – Jawa Timur, dan 6) Desa Nagari Koto Laweh Kec. Kotabesar Kab. Dharmasraya – Sumatra Barat.

Sedang pemenang untuk kategori kedua diraih oleh: BPMPD Kab. Pemalang – Prov. Jawa Tengah dan Dishubkominfo Kab. Belitung Timur – Prov. Bangka Belitung.

Deneng Mandirancan ora ya… xixixi….

Penyerahan hadiah kepada para pemenang yang dilakukan oleh para pejabat sepertinya itu biasa. Kejadian lucu dan menarik justru saat Pak Kuwu Tanjungsari memberikan kenang-kenangan kepada Pak Rudiantara. Pak Kuwu yang dengan cueknya naik ke panggung tanpa alas kaki ini mengalungkan kenang-kenangan itu kepada Pak Menteri. Momen ini tak disia-siakan oleh para pengambil gambar. Di sana terlihat, Pak Rudiantara menundukkan kepala saat Pak Kuwu mengalungkannya. Kalung dengan liontin berupa akik khas Majalengka menjadi kenang-kenangan yang diberikan. Menurut pengakuan Pak Kuwu, dia sudah meminta ijin Pak Menteri untuk menunduk. Kalau kamu lihat fotonya pasti lucu. Mirip seorang menteri yang mendapat petuah dan wejangan dari seorang Tetua Suku. Pakaian Pak Kuwu itu lho, mirip Tetua Suku… haha….

Bukan pemberkatan
Bukan pemberkatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here