Semangat Laskar Pelangi Untuk Laskar Desa

0
148
Domain milik desa

Bagian ke-4

 

Lega rasanya mendengar statemen Pak Rudiantara soal pendaftaran domain desa.id. Sesaat sebelum melakukan videoconference, beliau menyampaikan bahwa pendaftaran domain desa.id cukup dilakukan oleh desa, dalam hal ini Sekdes. Surat pendaftaran domain desa.id cukup ditembuskan saja ke Sekda. Artinya polemik yang sempat mencuat kemarin soal pendaftaran domain yang harus melalui Sekda, selesai sudah. Pak Menteri mengaku sudah mengirimkan surat edaran terkait hal itu.

Kebayang nggak sih jika registrasi domain desa.id harus melalui Sekda. Tahu kan, bagaimana ruwetnya urusan birokrasi kita. Untuk sekedar mendapatkan tanda tangan Sekda, kita harus melalui jalan panjang, harus mengantri. Belum lagi soal jarak tempuh dari desa ke kabupaten. Untuk desa-desa di pulau Jawa saja cukup sulit, apalagi mereka yang berada di luar Jawa. Dimana kondisi geografisnya yang lebih sulit. Maka sekedar untuk registrasi saja butuh biaya perjalanan yang tak sedikit.

Kalau dengan alasan agar mempermudah registrasi demi mengejar angka statistik desa-desa memiliki website, itu pun tidak pada tempatnya. Yang di kejar semestinya bukan soal jumlah desa memiliki web, tapi pengelolaan konten lanjutan. Untuk aplikasi bagi para nelayan yang tadi disampaikan oleh Pak Menteri dalam sambutannya, itu soal pendampingan. Dibutuhkan banyak relawan agar para nelayan mampu mengoperasikan aplikasi yang telah dibuat. Soal konten website pun tak jauh berbeda. Siapa yang akan mengisi konten web desa, jika bukan warga desa itu sendiri. Lalu apa yang terjadi saat warga desa enggan, atau belum bisa mengisinya. Tentu hanya web-web hantu bertulisan: “Hello world” yang bertebaran.

Yang menjadi PR kita adalah bagaimana mampu menyadarkan pemangku kebijakan di desa dan masyarakatnya akan kebutuhan memiliki web. Kita harus sering berdiskusi dan memberikan wawasan kepada mereka, hingga muncul lah kemauan untuk belajar. Minimal melakukan posting berita-berita di website desa dan terus memperbaruinya. Bukan mengejar jumlah website desa di dunia maya. Kalau tujuannya sekedar mengejar angka statistik itu sih proyek namanya.

Aku percaya ini soal perbedaan cara dan sudut pandang saja. Mereka yang mengusulkan domain desa.id didaftarkan oleh Sekda pasti juga punya alasan. Tapi bagi ku tak penting. Sudah jelas website itu milik desa, lha kok yang mendaftarkan malah orang lain. Mana kebanggaan orang desa. Maka kalimat provokatif yang tertera di stan GDM, perlu dibaca:

“Domain milik Desa, yang daftar ya Desa!”

Sayangnya acara videoconference gagal. Kata Om Jo, laptop milik panitia yang ditempatkan di belakang panggung guna menangkap suara dari daerah, tidak berfungsi. Alhasil, kami yang ada di sini tak bisa menerima suara dari teman-teman di daerah. Sedang suara Pak Menteri jelas terdengar di sana. Interaksi pun akhirnya batal. Untung saja Pak Menteri bisa berimprovisasi. Beliau tidak lantas mempertanyakan soal itu. Malahan beliau menunjukkan kepada para tamu undangan bahwa komunikasi dengan cara demikian sangat memungkinkan, dan ini dilakukan oleh desa. Menteri yang satu ini pancen oye!

Sesaat setelah itu, aku maju. Aku ingin menyapa teman-teman di sana. Pasti mereka agak kecewa dengan kegagalan ini. Padahal kemarin saat dilakukan uji coba, tak ada masalah. Selaku penanggung jawab sesi ini, Om Jo pun agak kecewa. Untung saja Pak Menteri nggak ikut-ikutan ngomong, malah ikut menutup-nutupi. Adem deh. Aku pun agak menyayangkan. Sebab laptop yang aku bawa sebenarnya siap digunakan. Tapi memang tak aku bawa, tak ada yang meminta dibawakan juga. Kemarin sempat di pinjam Soep untuk setting ini itu. Hampir sama kayak di FesTIK di Bandung kemarin.

Karena asyik say hello kepada teman-teman di sana, aku dan Kang Irman malah tak mengikut rombongan Pak Menteri mengunjungi stan-stan. Aku mendekat saat terlihat drone siap diterbangkan. Lamat-lamat aku dengar Pak Menteri bertanya saat ditunjukkan peta Desa Lenggang hasil foto udara melalui drone. Nggak begitu jelas. Video yang diunggah Kang Siwi pun demikian. Aku hanya melihat saat Pak Menteri menerbangkan drone yang awalnya kendali dipegang oleh Kumbang. Terlihat Pak Menteri senang. Kumbang hanya memberi pengertian sebentar, Pak Menteri langsung bisa menerbangkannya. Entah apa yang dibicarakan oleh Pak Menteri dengan Kumbang dan Yossy. Yang pasti, Pak Menteri terlihat puas.

Sebenarnya pada waktu itu ada dua drone yang siap diterbangkan. Satu milik GDM, sedang yang satu milik BP2DK. Tak tahu alasan yang pasti mengapa Pak Menteri lebih memilih drone yang dipegang oleh Yossy. Tapi dari putaran video Kang Siwi di youtube, aku dengar kalimat dari Mas Budiman sebelumnya, bahwa drone yang dipegang oleh Yossy pernah digunakan untuk pemetaan di Desa Sidamulih dan Cilacap. Mungkin itu alasan mengapa drone itu lebih beliau pilih. Sudah teruji. Mungkin juga karena tertarik dengan adanya layar android yang ada pada kemudi drone yang bisa mendeteksi kemana perginya drone nanti. Atau ada kalimat lain, Mas Bro?

Aku tidak sampai selesai melihat pertunjukan itu. Sebelum Pak Menteri berjalan menuju stan berikutnya, aku sudah balik kanan terlebih dulu. Aku ajak Pak Ronggo mencari warung makan. Ternyata kita sama. Sama-sama merasa lapar. Tadi pagi sarapan dari panitia tak bisa mengundang selera. Belum ngopi pula. Sebab tadi aku agak terburu-buru. Setelah jalan-jalan dari pasar tradisional, terlihat teman-teman sudah siap. Sedang kami masih harus mengantri mandinya. Yah, selain cuaca yang relatif panas. Masalah air memang menjadi kendala lain. Kalau badan tak bercampur keringat, kayaknya mandi bisa nanti. Soal bau badan bisa diatasi dengan parfum… hehe….

Diskusi-diskusi panjang dengan Pak Ronggo tak bisa aku tuliskan. Yang jelas kami sepakat, bahwa pertemanan itu lebih utama daripada “rebutan balung tanpo isi”. Biarkan orang lain berbeda pendapat, bagi kami itu urusan mereka. Kami tak mau terlalu jauh ambil pusing. Teman adalah teman. Perbedaan pendapat seharusnya tak memisahkan kita sebagai teman. Ingat pepatah lama: “Seribu teman kurang, seorang musuh terlalu banyak”.

Saking asyiknya ngobrol, sampai-sampai kami ketinggalan seminar umum. Seminar yang diampu oleh Mas Budiman dan Pak Bambang dari Dirjen Aptika Kominfo ini membahas tentang “Sistem Informasi Desa menuju Desa Bekerja, Terlibat, dan Mandiri”. Saat itu tinggal Pak Bambang yang sedang berbicara. Yang aku ingat bahwa kemandirian teknologi hanya bisa dilakukan secara bersama-sama antara pemerintah, masyarakat, dan relawan salah satunya relawan TIK. Maka ada kewajiban bagi semua untuk mereplikasikan keberadaan relawan agar bisa membantu masyarakat dan desa. Sebab jumlah relawan TIK yang ada di Indonesia baru sekitar 6 ribuan, sedang jumlah desa yang ada mencapai 74 ribuan. Ini sangat timpang. Pak Bambang pun menyarankan agar merekrut anak-anak muda guna dijadikan relawan supaya bisa mempermudah soal pemberdayaan TIK.

Tidak lama kemudian masuk sesi tanya jawab. Jadi, apa yang disampaikan oleh kedua narasumber itu tak begitu jelas. Yang aku ingat saat seorang siswa menanyakan apa manfaat TIK bagi dirinya dan desa. Jawaban dari Mas Budiman cukup jelas. Menurutnya keberadaan TIK akan banyak membantu desa. Sebagai misal, anak-anak SMK yang mampu membuat drone akan banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Karena untuk drone guna pemetaan, tidak harus beli. Anak-anak SMK bisa berlatih merakitnya sendiri. Lantas bisa dijual, atau desa yang akan membiayai perakitannya sedang anak-anak SMK yang akan bekerja, sehingga dana yang diberikan oleh pemerintah tidak lari kemana-mana.

Yang kedua disampaikan oleh salah seorang kepala desa terkait pengawasan oleh KPK, membuat para kepala desa justru ketakutan. Oleh karenanya dia meminta kepada Mas Budiman untuk menyampaikan kepada KPK dan kementrian yang melakukan MoU dengan mereka. Soal keempatbelas indikator yang ditakutkan itu, akan dikomunikasikan. Yang penting desa mau transparan. Salah satunya dengan melakukan posting di website desanya. Sedang usulan dari RTIK Majalengka agar Mas Budiman mau segera “menjewer” Pemkab Majalengka terkait pencairan dana desa, akan segera ditindaklanjuti.

Selepas itu aku pergi ke stan GDM. Sejak kemarin aku malah belum ke sana. Sore kemarin aku tak ikut memasang banner di sana. Pagi tadi pun tidak. Rupanya antusias anak-anak SMK akan pameran ini begitu besar. Mereka tertarik dengan drone dan aplikasi lain di sana. Aku hanya melihat saat Kang Aji Panjalu menjelaskan soal drone secara singkat. Kemudian memperkenalkan yang namanya open source. Dia katakan kalau selamanya pakai jendela, kita tak bisa membuat sistem operasi sendiri. Kita akan mampu membuatnya tatkala mau belajar open source. Adalah Samsul yang kemudian menjelaskan tentang desaOS. Kami undur diri.

Rombongan lain anak-anak SMK pun datang. Mereka ingin pula melihat-lihat stan ini. Kali ini Om Jo yang didaulat menjelaskan soal drone dan yang lain. Yah siapa tahu dengan begitu sedikit mengobati luka hatinya. Tadi kan sempat menikmati lagu-lagu lama ala Fariz RM kan?

Aku tahu nanti akan ada paparan materi dari Marissa Haque. Artis cantik kala itu, masih tetap enak dipandang. Dia akan mengisi untuk kelas ibu-ibu PKK dengan materi soal UMKM. Kelas yang diampu oleh Marissa Haque dan Ibu Septriana ini menjadi salah satu dari enam kelas pararel. Akan tetapi kelas-kelas pararel ini akan digelar nanti paska shalat ashar. Sedang materi setelah ini adalah Interner Cerdas, Kreatif, dan Produktif (Internet CAKAP) yang akan dipaparkan oleh Tim Kominfo dan Dinas Pendidikan.

Menurut jadwal, kelas A berisi materi Sistem Informasi Desa dan Kawasan (SIDEKA) yang akan dibawakan oleh teman-teman dari BP2DK, kelas B berisi materi UMKM dan PKK, kelas C berisi materi Pemanfaatan Pusat Kreatif dan Produktif untuk daerah pesisir (nelayan) dan Promosi hasil produksi nelayan melalui internet untuk nelayan, pemuda, dan RTIK.

Pada kelas D akan dilatihkan soal pengoperasian drone oleh BP2DK, kelas E berisi tentang Sosialisasi UU ITE dan Tata cara pendaftaran system elektronik untuk instansi negara. Ini bagian Kominfo dan Kang Sigit dari PANDI. Kelas F yang berisi paparan tentang Desa OS, SiKoMAR dan optimasi web desa. Ini jatahnya Anton dan teman-teman Gedhe Foundation.

Saat masih di stan GDM, aku dapati Mas Budiman mendekat. Aku tanya soal ketidakhadirannya pada acara Rakernas BKAD di Bogor. Dia bilang sedang sakit benar. Dia pun tanya soal hasil kegiatan di sana. Pasti dia sudah tahu kegaduhan yang terjadi di sana. Untung saja ada Wa Aboer. Aku minta dia bicara soal itu. Apalagi kemudian nimbrung Kang Irman dan Pak Ronggo. Obrolan ini tak jauh berbeda dengan tulisanku yang berjudul: “Belajar Bersama Untuk Merevitalisasi Diri bagian ke-4 sampai ke-6”.

Pada akhirnya aku hanya menagih janjinya untuk melaksanakan pelatihan Social Entrepreneur bagi UPK dan BKAD. Janji itu pernah dia ucapkan saat kami bertemu di hotel Inkopdit dulu. Bagiku pelatihan itu menjadi salah satu alternatif yang bisa dilakukan untuk mengembalikan dan menjaga ruh pemberdayaan. Persoalan ini sebaiknya tak dibiarkan begitu saja.

Sembari menunggu kelasnya Marisa Haque, aku putuskan kembali ke penginapan dulu. Ingin beristirahat sebentar. Stan di sini masih panas. Ah, sayangnya aku sempat tertidur. Aku tak bisa mendapati kelas Marissa Haque. Untung masih bisa mengejar melihat dan berpose bareng. Hadeuh, rupanya cuci muka dan sisir rambut tak bisa menghilangkan bekas-bekas tidur. Foto ku bareng bersama istri Ikang Fauzi ini terlihat pucat, kuyu.

Tapi bukan berarti aku tak bisa menyimak obrolan artis cantik ini. Suara merdunya masih bisa didengar melalui rekaman. Dari rekaman ini lah aku bisa menuliskan apa-apa yang dia sampaikan. Siapa lagi kalau bukan Kakak Siwi yang baik hati, yang mau menyalinkan rekamannya agar aku bisa menulis. Sekali lagi, terima kasih kakak Siwi… hehe….

Anggota DPR RI dari fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) ini mengingatkan kita akan bahaya internet. Oleh karenanya dia menyarankan kepada peserta untuk bisa selektif memilih teman. Jangan sampai teman yang kita pilih justru akan menjerumuskan kita kepada hal-hal yang negatif. Meski internet bermanfaat, tapi sisi negatif selalu ada. Salah satu langkah bijak mengantisipasinya ialah dengan pandai-pandai memilih teman.

Dia juga mengajak kepada peserta untuk bisa memanfaatkan internet untuk kegiatan-kegiatan positif yang menghasilkan uang. Marissa Haque mencontohkan ada sebuah aplikasi yang dibuat oleh dua orang anak kecil untuk menjawab aplikasi yang bernama tanya.com, yang mampu menjawab pertanyaan sederhana, semisal dimana lokasi rumah makan di peta hanya dengan SMS gateway. Kemudian dicontohkan juga Raditya Dika, seorang blogger yang sekarang terkenal, hanya karena hobi menulis di blog.

Untuk urusan keamanan berinternet, artis yang mengawali karir politik di PDIP dan PPP ini mengajak kepada para peserta untuk berhati-hati dalam menyebarkan informasi. Sebab informasi di internet mudah sekali disadap dan bisa disalahgunakan oleh para penjahat. Tapi kita jangan terlalu risau, sebab sekarang di Indonesia ada UU ITE. Maka saat kita membuat status pun mesti berhati-hati.

“Think before you post!”

Domain milik desa
Domain milik desa

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here