Semangat Laskar Pelangi Untuk Laskar Desa

0
249
Anak-anak Laskar Pelangi. Sumber: Dok. kapanlagi.com

Bagian ke-5

 

Rencananya selepas maghrib aku ingin bergegas pergi ke lokasi acara. Aku ingin menonton hiburan khas Belitong. Soal jenis hiburannya, aku tak tahu. Aku hanya melihat jadwal acaranya demikian. Tapi itu urung. Aku terlibat obrolan dengan tiga orang jama’ah yang sedang mengaji di sana. Mereka adalah Pak Ramdani selaku Imam masjid, Pak Sadiman, dan Pak Kaharudin, kalau tak salah. Mereka ingin tahu siapa dan apa yang sedang kami lakukan di sini.

Aku katakan bahwa kami sedang mengikuti kegiatan Festival DesTIKa di kompleks SD Laskar Pelangi. Kami datang dari 8 provinsi, begitu yang aku tahu. Tapi teman-teman yang menginap di gedung seberang masjid hanya 25 orang dari 4 provinsi: Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten. Semua yang hadir di sini adalah para pegiat desa. Aku katakan kalau tadi siang Menteri Kominfo hadir untuk membuka acara dengan didampingi pejabat pusat dan daerah, termasuk Gubernur Babel dan Bupati Belitung Timur.

Mereka mengaku tak tahu kalau acara tersebut dihadiri Pak Menteri. Yang mereka tahu hanya ada kegiatan ramai-ramai di sana. Apa pemberitahuan dari panitia kurang jelas atau bagaimana, aku tak menanyakan itu. Tapi menurut cerita dari salah seorang ibu yang jalan bareng saat jalan sehat besok pagi, penduduk di sini memang kurang respek terhadap berbagai kegiatan. Bukan mengapa, sebab biaya hidup yang tinggi mengharuskan mereka bekerja keras. Apa-apa harus beli. Pendapatan dua ratus ribu sehari itu artinya harus sangat berhemat, pun dengan catatan anak belum sekolah. Wow.

Tapi informasi kegiatan ini sebenarnya sudah menyebar kok. Cuma tidak merata. Yah, wajar saja. Di daerahku yang agak kota saja demikian. Apalagi di sini yang mungkin akses informasi dan komunikasinya agak kurang. Lihat saja di foto udara drone yang diterbangkan oleh teman-teman BP2DK, pemukiman penduduk tersebar. Tidak menggerombol. Jalan yang menghubungkan antara lokasi acara dengan pemukiman dipisahkan dengan tanah kosong yang panjang (bulak).

Kemarin malam, saat aku bersama Juniar mencari makan, kami sempat ngobrol dengan pemilik warung. Informasi yang mereka dapat, bahwa Pak Menteri akan hadir pada hari Senin, 15 Juni. Kabarnya berita itu sudah terdengar lama. Ya mungkin karena itu, soal kesibukan bekerja demi mencukupi kebutuhan hidup, sehingga mereka tak sempat memanfaatkan indera pendengaran dengan baik.

Mendengar penuturanku soal keterbukaan informasi dan komunikasi yang hampir tanpa sekat dengan pejabat, memancing obrolan lanjutan. Pak Kaharudin sempat bercerita bahwa dia pernah mengajukan proposal ke Pak Ahok belum lama ini. Proposal itu dia ajukan karena saat Koh Ahok pulang, beliau sendiri yang menyuruh. Akan tetapi sampai saat ini proposal itu belum jua terealisasi. Dengar-dengar informasi, orang yang mereka percayai membawakan proposal tidak amanah. Proposal itu tidak sampai ke Pak Ahok. Padahal rencananya untuk membantu pembuatan jalan desa. Kenapa tak mengajukan lagi? Sungkan katanya.

Dengan website, kita bisa meyakinkan pemerintah akan transparansi publik. Kita tak perlu berbusa-busa menyampaikan hasil pembangunan kepada pejabat, karena mereka juga tak punya banyak waktu untuk itu. Kita tinggal posting saja apa yang kita kerjakan, lalu disampaikan kepada beliau-beliau. Baik melalui sosial media atau via HP. Kita minta beliau-beliau untuk melihat alamat website desa. Cepat atau lambat, insya Allah akan dibaca juga.

Saat aku mulai menyinggung bisnis online, Pak Kaharudin menambahkan. Katanya dia pernah mendengar cerita dari anak keponakannya yang kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Selain kuliah, dia juga memanfaatkan internet untuk berjualan. Katanya produk-produk yang di jual awalnya di foto dan dimasukkan ke internet. Kemudian saat ada yang berminat, dia cuma kirim produk dan terima pembayaran via bank. Aku katakan, sekarang dengan program internet desa, semua bisa dilakukan oleh orang desa. Termasuk berjualan lewat internet.

Keinginanku untuk mencicipi makanan lokal pun aku sampaikan. Sebab sejak kami datang hingga sore itu, hanya ada nasi goreng dan mie rebus serta kopi yang kami jumpai. Aku sampaikan juga bahwa pendatang yang berkunjung ke sini selalu ingin mencari sesuatu yang unik. Entah itu makanan khas, pakaian, rumah adat, atau cindera mata lain. Bagi pendatang, bisa menunjukkan bukti bahwa mereka sudah pernah ke Belitung adalah kebanggaan tersendiri.

Aku tanyakan pula keberadaan situs-situs bersejarah peninggalan Belanda. Biar pun hanya bekas pabrik timah atau yang lain, bagi pendatang itu penting. Bukan secara fisik yang dicari, tapi nilai instrinsik yang ada didalamnya. Aku contohkan soal batik. Ketika batik itu hanya dimaknai sekedar kain dengan berbagai motif, maka harga jualnya murah. Tapi jika si penjual bisa menceritakan nilai intrinsik atau sejarah sebuah motif batik, maka nilai jualnya pun akan tinggi.

Mendengar obrolanku, mereka bertiga kemudian bercerita tentang Belitung. Sejarah penambangan timah yang dulu begitu terkenal, kini sisa-sisanya memang masih ada. Tapi tak sedikit yang terbengkalai. Banyak gedung-gedung yang sudah beralih fungsi. Rumah-rumah adat memang masih ada, tapi tak begitu banyak. Bahkan kata mereka, pernah ada seorang Belanda yang datang ke Belitung, kemudian dia berkeliling ingin bernostalgia, dia menangis. Dia yang masa mudanya menjadi pekerja di sini selama masa penjajahan, ingin mengenang masa lalu. Kenangan itu hilang seiring hilangnya bangunan-bangunan tempatnya mereka bekerja dulu. Sayang kan?

Mereka pun bertutur. Dulu saat timah masih menjadi andalan, tak pernah ada istilah mati lampu. Pembangkit listrik yang pernah menjadi yang terbesar di Asia Tenggara, kini hilang sudah. Pembangkit listrik itu sudah dibongkar, besi-besi yang ada diloakkan. Padahal pembangkit listrik itu juga menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Belitung. Eman-eman ya?

Yah, keadaan serupa pun aku sampaikan. Apalah arti seonggok pabrik gula pasir di daerah Kalibagor. Pabrik yang sudah tidak berfungsi ini memang mengganggu pemandangan jika kita tak tahu kandungan sejarah didalamnya. Saat pabrik gula tersebut dibongkar, masyarakat protes. Akhirnya, pembongkaran itu pun dihentikan.

Setelah timah yang semakin tahun semakin berkurang, maka perlu dipikirkan sumber pendapatan masyarakat lain. Bisa dengan mengangkat potensi wisata atau merintis jalan beralih ke bidang pertanian dan peternakan. Andai saja negeri ini kaya, bisa saja mereka membawa tanah subur dari daerah lain. Rawa-rawa dan tanah berpasir di timbun tanah. Mirip seperti apa yang dilakukan di Saudi Arabia.
Mereka sebenarnya ingin mencoba beralih ke mata pencaharian lain. Tidak cuma mengandalkan menambang timah dan melaut. Mereka sadar, cepat atau lambat timah akan habis. Timah adalah sumberdaya alam yang tak bisa diperbarui. Menggali timah pun sebenarnya merusak alam. Kerusakan peninggalan jaman Belanda hingga kini belum bisa diperbaiki. Tapi mereka merasa tidak berdaya.

Kata Pak Ramdani, pernah dilakukan penelitian oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan cara menabur benih ikan di beberapa Kulong. Tapi tetap gagal. Benih-benih ikan yang ditabur tidak berkembang biak. Ya mungkin karena pencemaran akibat penambangan timah itu.

Menurut mereka hanya orang-orang Jawa di daerah Selingsing, kalau tak salah, yang sering bercocok tanam. Tapi tak ada informasi bagaimana mereka mengakali kondisi tanah yang seperti ini. Hanya saja mereka mengakui kalau orang-orang Jawa yang bertransmigrasi itu lebih ulet. Mereka mau bekerja lebih keras daripada penduduk setempat. Ah, bapak-bapak ini pasti juga tak tahu kalau di Jawa, orang-orang Padang atau pendatang lain lebih ulet daripada orang Jawa sendiri. Sama saja kok, Pak.

Kalau aku boleh memberi masukan, ini boleh diterima boleh ditolak, mungkin perlu upaya menggenjot sektor pariwisata terlebih dahulu. Nama besar Laskar Pelangi, situs-situs bersejarah jaman Belanda, dan pantai-pantai di Belitung bisa dimanfaatkan untuk itu. Tinggal bagaimana masyarakat dan pemerintah setempat bisa mempromosikannya kepada dunia luar. Selain itu, ada baiknya meniru keramahan orang-orang Jogja. Mengapa demikian. Jogja sebenarnya dari tahun ke tahun sudah mulai membuat penat, akan tetapi turis-turis mancanegara masih suka ke sana, alasannya orang Jogja ramah-ramah.

Untuk urusan penginapan bagi turis, sebenarnya aku lebih sepakat model home stay. Tapi, saat aku mendengar penuturan Pak Bupati Belitung Timur, memang ada sisi baik dan buruknya. Beliau kurang sepakat dengan model home stay karena sisi buruknya. Beliau mengakui dengan home stay, warga bisa ikut merasakan hasil dari penginapan para turis. Tapi beliau khawatir apabila saat turis yang menginap di home stay adalah turis mancanegara yang budayanya berbeda dengan kita. Tak terlalu mengkhawatirkan jika pemilik home stay sudah tua. Beliau khawatir jika didalam rumah itu ada anak-anak. Terutama anak gadis. Perbedaan budaya barat dengan Indonesia ditakutkan akan membawa pengaruh negatif. Akhirnya beliau mengatakan sedang mengkonsep sebuah perkampungan khusus buat penginapan para turis yang datang ke Belitung Timur. Bukan hotel.

Yah, Pak Basuri tentu lebih paham dengan daerahnya. Apa-apa yang baik untuk warganya, beliau pasti tahu.

Berbicara soal pengembangan usaha lain, ketiga jama’ah mengeluhkan akan kurangnya dukungan pemerintah, coba aku tengahi. Memang jika pemerintah kurang mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat, maka akan sulit. Tapi bukan berarti kita harus menyerah. Bisa dimulai dengan desa kita sendiri. Kita manfaatkan musyawarah-musyawarah di desa untuk mengawali. Apalagi alokasi dana desa sekarang kan sudah 1 milyar. Bisa dimanfaatkan.

Tidak sedang memuji diri sendiri. Tapi klu yang aku sampaikan tadi mereka sambut dengan baik. Mereka sepakat dengan apa yang aku sampaikan. Akan mereka coba berdialog dengan Kepala Desa Lenggang. Yang kata Bang Elfandi, penanggung jawab penginapan kami, Kepala Desa Lenggang yang sekarang adalah aktor figuran dalam film Laskar Pelangi. Dia berperan sebagai pembawa acara saat Festival Kesenian di kecamatan Gantung, dimana Mahar dan teman-teman menjadi juara satu.

“Perlu kita coba. Apalagi Kepala Desa nya masih muda”, demikian sahut Pak Kaharudin.

Jika masyarakat sudah mempraktikkan hal-hal positif, cepat atau lambat pasti akan di respon oleh pemerintah. Tak salah juga memanfaatkan website desa untuk unjuk kerja. Sah-sah saja, kan.

Sebenarnya saat jalan-jalan pagi tadi, kami sempat melihat ada sayuran terong dalam polibag. Tapi kami tak sempat bertanya. Pemilik rumah dimana di halamannya ada sayuran terong itu, tidak kelihatan. Mas Siwi hanya memotretnya saja. Jadi, sebenarnya memungkinkan untuk budidaya sayuran. Yah, mungkin pilihan untuk bertani belum terlalu seksi. Timah dan ikan laut masih menjadi idola karena sisi pendapatannya.

Perbedaan manusia dengan makhluk lain pada akalnya. Manusia diberi anugerah berupa akal untuk berpikir. Salah satu keunggulannya pun pada kemampuan menyesuikan diri dengan alam. Bagaimana masyarakat Belitung Timur bertahan dan berkembang, tergantung dari kemauan menggunakan akal secara optimal.

Keberhasilan Andrea Hirata menjadi penulis terkenal yang kemudian menjadi pembuka jalan masuknya turis asing maupun domestik ke Belitung Timur merupakan salah satu optimalisasi akalnya. Sebeum ada Laskar Pelangi, kebanyakan orang tahu bahwa kepulauan Bangka Belitung hanya lah penghasil timah. Seorang Andrea Hirata mampu mengubah pandangan itu. Apalagi kebesaran nama Koh Ahok yang sekarang menjadi Gubernur DKI Jakarta pun turut melambungkan nama Belitung Timur.

Hidup memang berawal dari mimpi. Dan hanya dengan keyakinan yang kuat yang mampu mewujudkannya. Mari….

Anak-anak Laskar Pelangi.  Sumber: Dok. kapanlagi.com
Anak-anak Laskar Pelangi.
Sumber: Dok. kapanlagi.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here