Semangat Laskar Pelangi Untuk Laskar Desa

0
150
Film Asadessa Foto: Dok. Siwi Sang

Bagian ke-6

 

Nonton bareng film Asadessa menjadi agenda malam itu. Seingatku, rencana pembuatan film itu pernah dibicarakan oleh Kang Banyumurti bersama teman-teman di Pusat TIK Nasional di Kampus 2 UIN Syarif Hidayatullah di Tangerang. Waktu itu kami sedang mengikuti kegiatan bersama BP2DK sekaligus peluncuran Pandu Desa. Pembicaraan tentang film yang berkisah tentang upaya desa dalam mengentaskan diri dari keterbelakangan diobrolkan di sela-sela kegiatan. Saat duduk-duduk pada waktu istirahat setelah materi.

Kata Bang Donny dari Internet Sehat, film ini lebih banyak bercerita tentang success story desa-desa di Aceh, Jawa, dan daerah lain. Ini bermula dari kesadaran Bang Donny setelah menggarap film Linimassa 1, 2, dan 3. Menurut pengakuannya, dia baru ngeh saat melihat film Linimassa kedua. Katanya banyak sekali contoh-contoh perikehidupan di desa yang sebenarnya bisa diambil oleh pemangku kebijakan di Jakarta untuk dipraktikkan. Selain itu, kenyataan bahwa terjadi ketimpangan layanan internet di pusat dan di daerah membuatnya terpacu untuk mengungkapkan kegalauannya melalui sebuah film.

Sayangnya film yang berdurasi 48 menit itu belum bisa diluncurkan, masih perlu diedit di sana sini katanya. Padahal aku sudah berencana minta sofcopy-nya. Akan aku putarkan pada kegiatan pesantren kilat TIK di Kebasen sana. bersama teman-teman UPK, aku memang sudah berniat mengadakan kegiatan itu. Andai film itu sudah bisa di salin, akan aku putarkan agar peserta pesantren kilat lebih termotivasi lagi. Kalau sudah bisa di salin aku minta, Bro.

Informasi akan diputarnya film Asadessa ini sudah aku dengar. Foto Juniar bersama Kang Hasan Sani sebagai salah satu adegan di film tersebut, sudah beredar di grup WA. Penasaran. Bahkan Yossy sempat memamerkan kaos film itu. Untungnya aku dapat juga. Bagian belakang yang masih polos akan aku tuliskan alamat blog ku, ah. Sayang kalau dibiarkan kosong.

Salah satu adegan yang masih aku ingat adalah bagaimana susahnya masyarakat desa untuk sekedar mencari sinyal telepon. Seorang bapak di Malinau – Kalimantan Utara menceritakan juga tentang kesedihan tatkala dia baru mengetahui kabar kematian anaknya, karena pemberitahuan yang masuk terlambat. Padahal saat anaknya dinyatakan meninggal dunia sekitar jam 7 malam, baru dia ketahui sekitar jam 1 dini hari. Lagi-lagi faktor koneksi.

Kemudian perjuangan seorang Dahlan dan rekannya Shafwaturahman yang terus memberdayakan masyarakat di Aceh dari sisi teknologi. Maka seakan film ini akan meminta pertanggungjawaban kepada pemerintah, bahwa orang-orang desa sudah berupaya keras mewujudkan keinginan mereka. Tinggal uluran tangan pemerintah untuk mempermudah urusan mereka. Biar bisa bertemu dua kepentingan, yakni kepentingan masyarakat dan pemerintah.

Adegan lain yang aku ingat adalah Ruli, seorang peternak Gurameh, yang berasal dari Desa Karangnangka Kec. Kedungbanteng Kab. Banyumas yang sudah memanfaatkan website desa untuk memasarkan produknya. Ruli mengaku untuk menjual produknya, dia tak pernah bertemu dengan konsumennya. Transaksi keuangan dilakukan melalui internet banking, sedang pengiriman produk dia manfaatkan layanan jasa pengiriman. Ini lah salah satu manfaat teknologi informasi dan komunikasi bagi masyarakat desa. Tapi yang paling menarik justru kaosnya, Bro… ahihi….

Foto udara yang tergambar merupakan hasil pemotretan via drone di Desa Sidamulih Kec. Pamarincan Kab. Ciamis, dimana Bu Tati Karyati sebagai Kuwu-nya. Pengambilan gambar itu dilakukan beberapa hari sebelum pelaksanaan Festival Kopi di Sukamantri – Ciamis. Pemetaan wilayah dengan drone menjadi langkah maju. Dulu masyarakat dikenalkan metode pemetaan dengan transek yang selama ini dilakukan melalui program PNPM MP.

Saat perjalanan pulang nanti, tatkala Bu Kuwu Tati mengatakan ingin mendapatkan sebuah prestasi demi menunjukkan kepada masyarakat, aku katakan, menjadi salah satu aktor di film itu juga sebuah prestasi. Tidak semua desa bisa masuk dalam pembuatan film itu. Mereka telah melakukan seleksi desa-desa mana yang layak dimasukkan dalam film itu. Jika Desa Sidamulih terpilih, artinya itu penghargaan tersendiri. Sayangnya memang, belum bisa di salin. Nanti jika sudah diperbolehkan, bisa ditonton bareng-bareng di desa, agar masyarakat bangga. Kira-kira begitu yang aku sampaikan.

Sempat aku melemparkan pandangan ke sekeliling. Wajah penonton tak jauh-jauh dari para pelaku yang datang ke acara ini, termasuk para aktor film tersebut. Meski ada beberapa yang tidak Nampak juga. Sepertinya partisipasi penduduk masih belum terlihat. Apalagi malam hari. Mungkin mereka sibuk sendiri-sendiri.

Setelah acara nonton selesai, dilanjutkan acara diskusi. Malam ini Kang Banyumurti bertugas sebagai moderator. Narasumber yang didaulat untuk menjadi narasumber ada Bu Tati Karyati (Kuwu Sidamulih), Kang Sigit Widodo (PANDI), Pak Yugo (akademisi UI), dan Kang Aris Kurniawan (Kominfo). Nantinya akan ada masa dimana Kang Aris ini dikerjai teman-teman. Utamanya saat Bu Septri datang. Gaya duduknya jadi serba salah. Kikuk kali ya… hihi….

Saat Bu Kuwu Sidamulih diberi kesempatan pertama menyampaikan kesan akan film ini, beliau bertutur merasa sangat terharu bisa masuk menjadi salah satu pemerannya. Desa dimana beliau tinggal berada di daerah gunung yang akses jalannya sulit. Namun demikian, sepertinya dianggap sudah cukup layak oleh pemerintah setempat. Oleh karenanya, saat pemetaan wilayah desa dengan menggunakan drone, beliau bisa berargumen kepada pemerintah perlunya peningkatan jalan khususnya jalan kabupaten dan provinsi. Saat beberapa kali Ibu Kuwu menyebut nama Yossy, GDM, dan Dedemit yang selalu membantu dalam hal perencanaan, tepuk tangan pun menyambut. Cieh….

Permasalahan domain desa.id yang dinisbatkan kepada Kang Sigit untuk menjelaskannya, dia beralasan karena domain ini relatif baru. Karena peluncuran domain desa.id sendiri baru pada tanggal 1 Mei 2013, bertepatan dengan hari Buruh. Baru pada tahun 2014, perkembangan domain desa.id cukup pesat. Dukungan yang diberikan oleh PANDI terhadap perkembangan internet desa karena desa dianggap telah dianggap mampu memanfaatkan internet secara positif dibandingkan dengan orang kota yang sukanya nyinyir. Nah!

Kang Sigit menambahkan bahwa domain desa.id diharapkan mampu memberikan sumbangan berupa konten-konten positif. Terbukti memang praktik-praktik positif dalam pemanfaatan internet lebih banyak dilakukan oleh orang-orang desa. Selain itu, orang-orang desa telah menjadikan internet sebagai sarana meningkatkan produktifitas. Seperti contoh dalam film Asadessa, dimana Ruli mampu memasarkan ikan gurameh melalui internet. Karena cara menangkal pengaruh negatif dari internet, selain memblokir situs-situs berbahaya, memberikan alternatif dengan memperkaya konten positif adalah salah satu upayanya.

Dukungan yang dilakukan oleh PANDI adalah berupa pemberian domain gratis pada tahun pertama. Menyambung program dari Menkominfo yang akan menggratiskan domain .id, Kang Sigit berharap paling tidak 50 ribu domain dimaksud adalah desa.id. Dia pun berharap teman-teman GDM ikut terlibat didalamnya. Apalagi sudah ada Wa Aboer, manusia yang hampir selalu ada dan siap siaga di semua even. Hidup Wa Aboer…!

Menurut Kang Aris dalam hal ini Kominfo lebih menempatkan posisi sebagai regulator dan fasilitator. Artinya dengan Kominfo akan menerbitkan regulasi yang pro desa dan memfasilitasi bagaimana bisa mempercepat proses-proses pemberdayaan dan pembangunan. Beberapa kegiatan seperti Community Acces Point (CAP) yang sudah berhasil di Desa Melung Kec, Kedungbanteng Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah dan Desa Harapan Jaya Kec. Tempuling Kab. Indragiri Hilir Prov. Riau, bisa menjadi contoh pemanfaatan bantuan dari pemerintah agar tidak mubadzir. Bahkan sekarang program Pusat Kreatif dan Produktif yang secara konsep mirip dengan CAP, tapi lebih menekankan pada sisi kreatifitas masyarakat desa. Salah satu yang sedang dijadikan contoh adalah di Desa Hanura Kec. Padangcermin Kab. Pesawaran Prov. Lampung, dimana program Pusat Kreatif dan Produktif sedang dimanfaatkan untuk pengelolaan pasar desa.

Paparan dari Pak Yudo lumayan panjang. Dia pakai slide show juga. Maklum, orang pintar. Begitu sebutan dari teman-teman. Judul yang terpampang pun keren: “Keberpihakan Pemberdayaan TIK bagi Masyarakat Desa”. Ini. Ini yang harus dicermati benar. Jarang-jarang lho ada kesempatan mengikuti kuliah gratis ala UI. Pencerahan menggunakan gambar seperti ini memang lebih mudah di ingat. Lanjut!

Kalimat pembuka dari Pak Yudo yang menekankan pada konten dari website-website yang ada, aku sepakat. Biasanya setelah diregistrasikan domain dan disettingkan oleh teman-teman teknisi, urusan konten menjadi tak terurus. Bukan salah pada teman-teman, akan tetapi mungkin belum adanya kesadaran dari masyarakat dan Pemdes akan pentingnya sebuah website. Biasanya memang seseorang akan melakukan sesuatu tatkala dia memandang ada keuntungan yang akan dia peroleh. Baik keuntungan secara financial atau pun eksistensi. Ini masih menjadi PR yang belum terpecahkan.

Kalau mau ambil contoh, tak perlu jauh-jauh. Website desa ku saja, masih sering alpa jika bukan aku yang mengisi. Padahal sejak domain desa.id diluncurkan, seingatku, Desa Mandirancan menduduki urutan ke-16 saat registrasi. Sampai sekarang sudah dua kali perpanjangan, masih belum ada partisipasi dari masyarakat. Beberapa kali aku sampaikan ke Kepala Desa, selalu terkendala soal SDM. Soal sosialisasi, dulu sudah pernah aku sampaikan pada pertemuan di balai desa. Secara personal pun sudah melakukan pendekatan. Apa mungkin aku yang kurang meyakinkan atau bagaimana, nggak jelas. Tapi aku yakin, akan tiba saatnya. Aamiin….

Ternyata bukan hanya desa yang sudah memiliki inisiatif-inisiatif baik. Beberapa kabupaten pun sudah mulai menggeliat terkait persiapan pelaksanaan UU Desa. Melalui dinas-dinas yang menangani urusan pemberdayaan TIK di desa, ada beberapa Pemkab atau Pemkot yang sudah melakukan kegiatan guna mendukung itu. Ada kabupaten yang fokus pada pembenahan infrastruktur guna mempermudah akses internet masyarakat desa, ada yang fokus pada peningkatan sumberdaya manusia, dan ada pula yang sudah mengembangkan aplikasi sistem pelayanan untuk masyarakat desa. Meski pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh masing-masing Pemkab/Pemkot berbeda, tapi pada intinya sama. Yakni ingin melakukan pemberdayaan di bidang TIK untuk masyarakat desa.

Sebagai contoh di kabupaten Malang (Jatim), mereka punya program peningkatan SDM berupa pelatihan kepada 3 (tiga) telecenter, perangkat desa, dan anak sekolah. Ini dilakukan karena tenaga ahli di kabupaten sebenarnya memang minim. Jadi menurut Pak Yudo, peran yang bisa diambil oleh teman-teman adalah membantu dalam hal peningkatan kapasitas di sana. Selain itu, mereka juga sudah mengklaim memiliki jaringan data yang menghubungkan 329 desa dari 378 desa yang ada di Malang. Ada juga aplikasi yang bernama Sistem Pelayanan Administrasi Desa dan Kelurahan (Siladeskel). Artinya peran-peran pendampingan terhadap pemberdayaan TIK bagi masyarakat desa di Malang sebenarnya sudah relatif lebih mudah karena sudah adanya kepedulian Pemda Kab. Malang.

Untuk Pemkab yang sudah masuk dalam ranah kebijakan dalam pelaksanaan pemberdayaan TIK untuk desa adalah Kendal. Mereka membentuk Tim Pengelola Pengembangan Desa Online yang dikukuhkan dengan Surat Keputusan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kendal. Dengan adanya SK ini, memang untuk urusan penganggaran sudah bisa dikatakan legal. Ini menjadi kesempatan teman-teman pegiat TIK untuk bisa masuk ke dalam tim tersebut.

Bupati Sukoharjo malah sudah menerbitkan Perbup No. 11 tahun 2014 yang berisi Pedoman Pengelolaan TIK Desa dan Kelurahan. Sedangkan Perbup terkait pengelolaan e-government di desa masih dalam proses. Untuk urusan infrastruktur, katanya seluruh balai desa dan kelurahan sudah memiliki akses free hotspot dengan bandwith 1 Mbps. Mantap!

Beberapa kabupaten lain yang sudah memiliki kepedulian terhadap desa adalah Gresik, Bojonegoro, Banyuwangi, Kebumen, Kudus, Sragen, Sukoharjo, dan Tangerang. Jadi iri. Mengapa kabupaten Banyumas sendiri masih belum terlihat geliatnya. Padahal Yossy, Pak Budi, dan teman-teman GDM lain sudah melakukan pendekatan. Entah apa alasannya. Belum mendapat hidayah kali ya?

Untuk urusan aplikasi, Pak Yudo mempersilakan untuk mendiskusikan. Apakah akan memakai satu atau banyak aplikasi. Tapi beliau tidak bisa membayangkan jika ada banyak aplikasi yang digunakan. Ini memang dilema. Jika memaksakan memakai aplikasi yang sama, artinya investasi daerah-daerah yang sudah berinisiatif akan hilang begitu saja. Akan tetapi sulit pula memadukan jika terlalu banyak aplikasi yang dipakai. Tapi kata Om Jo, asalkan platform-nya sama, beragam aplikasi tidak menjadi masalah. Ini pekerjaanmu Om Jo. Asal jangan melupakan hak asasi mu sebagai seorang laki-laki. Ayo seimbangkan urusan pribadi dan orang lain… hehe….

Benar kata Pak Rudiantara. Urusan desa memang tidak bisa ditangani sendiri. Perlu sinergi dari berbagai pihak. Pekerjaan akan menjadi ringan jika dikerjakan secara bersama-sama. Kerjasama dan sama-sama kerja. Ayo!

Film Asadessa Foto: Dok. Siwi Sang
Film Asadessa
Foto: Dok. Siwi Sang

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here