Semangat Laskar Pelangi Untuk Laskar Desa

0
177

Bagian ke-7

 

Pagi itu menjadi awal keberkahan buat Aji Panjalu. Imbas semalam disebut-sebut sebagai sutradara, banyak ibu dan cewek yang mendekatinya. Mereka ingin diikutsertakan menjadi artis. Mau saja mereka diajak selfie bareng. Ditambah lagi, saat kami datang tadi, Kang Fajar Eri juga mengatakan kalau pemeran film Asadessa adalah penduduk lokal, seperti Laskar Pelangi. Artinya memungkinan sekali mereka jadi artis film juga. Akhirnya mereka menempel ke Aji. Lengket kayak perangko. Aji pun tak melewatkan kesempatan itu… hahaha….

Acara jalan sehat bersama warga ini rencananya menyusuri pemukiman di Desa Lenggang. Katanya rute yang akan kami lewati adalah Museum Kata Andrea Hirata, kompleks pabrik Timah, Pasar Gantung, dan berbagai tempat lain yang pernah menjadi tempat syuting film Laskar Pelangi. Acara-acara yang ringan nan santai memang diperlukan. Sebab tidak semua orang suka dengan acara-acara yang membutuhkan kemampuan berpikir lebih. Di bikin sik asik aja. Saat finish nanti, kami pun disambut oleh organ tunggal dengan nyanyian dangdut. Yeah, dangdut is a music of my country. Hasyah.

Pancingan Kang Fajar Eri bahwa sebagian dari kami adalah para bintang film semalam, membuat mereka heboh. Ikut-ikutan selfi saat kami berpose. Padahal aku tak yakin mereka semua melihat film semalam. Sepertinya wajah-wajah mereka tak aku temui tadi malam. Mereka pun mungkin nggak paham kalau film yang diputarkan tadi malam sepertinya nggak masuk kategori box office… hahaha….

Kehebohan bertambah saat Pak Basuri datang. Beliau yang kemarin tak sempat memakai cincin Batu Satam, kali ini dipakai. Sembari memamerkan koleksi kesukaannya, Pak Basuri mau saja kami ajak foto bareng. Kamera dengan tongsis dari atas dan dari depan, beliau ikuti. Kami pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Apakah Pak Basuri tahu kalau kami sebenarnya orang-orang desa? Tak tahu. Yang pasti begitu lah salah satu cara beliau menghormati tamu-tamunya. Tak terkecuali kami, orang-orang desa yang suka narsis agar terlihat eksis… hihi….

Beberapa dari kami memanfaatkan kedekatan Pak Bupati untuk foto berdua. Kang Topan yang jauh-jauh dari Maros mengajak beliau foto bareng. Bu Tati dan Pak Didi pun demikian. Foto bareng tokoh yang sumeh seperti Pak Bupati memang menyenangkan. Aku ingin juga sih. Ah, nanti aku juga bisa foto bareng dengan awalan cerita yang menarik. Penasaran? Ikuti saja cerita ini. Aye!

Adalah Soep, Yossy, Aku, dan Azis yang bergaya konyol. Sesaat sebelum Pak Basuri mengibarkan bendera tanda start, kami mengambil posisi paling depan dengan gaya awalan mau berlari. Padahal aku yakin, jika diadakan lomba lari, paling jauh 100 meter kami sudah kepayahan. Apalagi Soep yang kemana-mana selalu membawa galon… haha…. Saat bendera dikibarkan, kami berempat melompat. Kemudian… jalan kaki juga. Caper ya?

Gagah kami jalan kaki di barisan depan. Arya dan Kang Siwi yang memegang kamera berlari ke depan. Mereka jeprat-jepret mengambil gambar. Tak lama kemudian anak-anak berseragam SD pun merangsek ke depan. Mereka tak mau kalah. Dengan santainya Om Jo mendaulat diri menjadi gurunya. Ramai-ramai berlari dan berpose saat Petugas Polisi di depan mengambil gambar. Semua gembira, begitu judul yang Soep pilih. Ya iya lah, apa guna bersedih hati. Biar di Gantung, orang-orang di sini kan tetap hidup.

Kami berjalan ke arah barat laut dari garis start, kemudian di perempatan depan kami belok kiri memasuki jalan Laskar Pelangi. Aku ingat, jika belok kanan, kami akan menuju arah kami berangkat kemarin. Aku agak nggak ngeh, kenapa jalan Laskar Pelangi malah di sini. Tak lama kemudian aku baru tahu, ternyata di depan sana ada Museum Kata Andrea Hirata. Mungkin itu alasannya mengapa jalan ini dinamai Laskar Pelangi.

Saat melintas depan SDN 1 Lenggang, aku ingat obrolan dengan Bang Elfandi. Katanya SD PN Timah yang menjadi tempat syuting film Laskar Pelangi, adalah SDN 1 Lenggang. Wah, berarti di sini tempat syuting juga. Sekolah yang menjadi simbol keangkuhan kaum aghniya jaman itu di sini tempatnya. Jadi ingat bagaimana Bu Mus menolak ajakan mengajar di sini. Idealisme untuk ikut berjuang bersama Pak Harfan menjadi alasannya. Padahal salah satu guru SD PN Timah yang diperankan oleh Tora Sudiro mengharapkan dia mau mengajar di sana. Kalian pasti tahu, dia sebenarnya naksir berat sama Bu Mus yang cantik itu. Begitu lah, bumbu percintaan memang selalu hadir dalam hampir semua cerita. Rasanya hambar kalau tak ada tema percintaan. Malah konyolnya lagi, tema itu ditonjolkan saat Ikal jatuh hati pada Aling. Gubrak deh.

Aku ikut bersama teman-teman yang mampir ke Museum Andrea Hirata. Setelah masuk dan melihat koleksi serta bentuk fisik bangunan museum, keningku malah berkerut. Kok bisa ya, bangunan reot kayak gini bisa jadi tujuan wisata. Kalau aku bandingkan, kondisi rumah dengan papan kayu berbentuk potong gudang, langes ada dimana-mana mirip rumahku dulu. Papan-papan kayu berwarna putih timbul bercak-bercak coklat kehitam-hitaman karena asap pembakaran tungku saat memasak menggunakan kayu bakar. Bedanya kalau di sini nggak ada ramat (bekas jaring laba-laba). Lantainya pun hanya di semen, bukan keramik. Terkesan “ora mitayani”. Tapi mungkin itu lah uniknya.

Aku jadi ingat museum Naladipa di Desa Dermaji. Saat aku berkunjung ke sana, aku pun berpikir hampir sama. Bisa-bisanya museum seperti ini mendapat kunjungan banyak orang. Sampai-sampai Pak Wabup, Budhi Setiawan, mau meresmikannya. Isinya pun bukan barang yang istimewa. Kalau sekedar kusan, kudi, dan lain-lain ditempatku juga ada. Apa pula istimewanya. Susah dimengerti kalau kita memposisikan cara berpikir kebanyakan orang. Mesti Bapermas kata Soep. Bawa perasaan, Mas.

Ternyata bukan itu alasannya. Keberhasilan sebuah ide yang diimplementasikan itu lah yang sebenarnya menarik. Mungkin bagi kebanyakan kita, apa yang ada di museum Naladipa bukan apa-apa. Karena kita sering menemuinya sehari-hari. Tapi bagi anak-anak itu menjadikan tanda tanya. Kusan itu apa, fungsinya buat apa, bagaimana cara membuatnya, mengapa dibuat dari bambu, dan pertanyaan-pertanyaan lain. Kalau dalam ilmu sejarah, benda-benda tersebut bisa dikategorikan menjadi artefak. Yang dalam ilmu antropologi bisa menjadikan sebuah penemuan bagaimana manusia di jaman itu melakukan perikehidupan mereka.

Tapi kondisi bangunan museum Naladipa jauh lebih baik. Bangunannya sudah permanen. Hanya luas tempatnya yang masih lebih longgar di sini. Pengunjung bisa menikmati suasana museum sambil menikmati Kupi Kuli khas Belitong. Yang kalau aku rasakan ini jenis kopi arabika. Racikannya berasa kopi. Pahit. Beda dengan kopi “O” yang biasa di jual di warung-warung sana.

Pagi itu, museum masih sepi. Mas Lilik berkali-kali mengambil gambar. Hasil foto wartawan senior ini selalu bagus. Dimana salah satu hasil jepretannya akhirnya di muat di metronews.com. Wah, ada Pradna, Sodara. Pakai kaos bloggerbanyumas lagi. Ihir….

Keasyikan melihat-lihat koleksi di museum ini membuat kami tertinggal jauh dari rombongan jalan sehat. Aku berlari mengejar teman-teman ke arah timur. Masih beruntung bisa mengejar mereka. Meski aku yakin tak akan tersesat, rasanya agak sungkan kalau harus bertanya-tanya. Tapi kalau terpaksa, apa boleh buat. Rasa-rasanya jalan yang kami ambil bukan rute jalan sehat yang ditentukan. Pada perempatan yang ada di sebelah timur, kami belok kiri. Sampai akhirnya nanti kami bertemu rombongan di pertigaan dekat Kantor Pos. Rombongan jalan sehat berjalan dari arah timur. Yakni dari arah Pasar Gantung.

Mas Lilik sempat memberi kesempatan pada kami untuk berpose di depan salah satu rumah adat Gantong yang masih bagus. Rumah panggung dengan cat warna coklat dengan tanaman hias di halaman rumah yang dipenuhi rerumputan. Jaman dulu, rumah-rumah panggung biasanya dibuat oleh manusia untuk menghindarkan dari gangguan binatang. Jika panggungnya tinggi, biasanya gangguan berasal dari binatang besar seperti babi hutan atau yang lain. Tapi jika panggungnya tak begitu tinggi seperti di Belitung ini, biasanya hewan melata sejenis ular yang mereka hindari.

Sebenarnya kami melewati komplek pabrik timah. Tapi tak ada yang mengajak untuk melongok. Aku pun jalan kaki saja. Komplek pabrik itu menjadi salah satu tempat pengambilan gambar film Laskar Pelangi. Itu kata Bang Elfandi. Ini salah satu kehebatan novel Laskar Pelangi yang lain. Novel yang hanya menceritakan sebuah kejadian di desa, bisa menghebohkan begitu. Latar belakang novel tak jauh-jauh dari kondisi Desa Lenggang. Salut.

Sampai di pertigaan depan, kami bertemu dengan rombongan Pak Bupati, Bu Septri, dan yang lain. Kami ikuti jalan ke arah barat menuju tempat finish. Nantinya akan melewati jalan di depan penginapan kami. Ada yang memutuskan untuk berhenti di sana untuk bersiap diri mengikuti acara selanjutnya. Sedang aku putuskan untuk mengikuti rombongan sampai finish. Tapi benar salah seorang ibu saat berangkat, start paling depan, finish paling belakang. Itu aku banget. Eh, enggak ding. Biar pun termasuk terakhir masuk finish, tapi bukan yang paling belakang kok.

Aku terjajar di belakang dari rombongan depan. Sebab aku pun ragu antara ikut ke lokasi kegiatan atau berkemas. Baju-baju kotor masih aku tumpuk di luar. Akhirnya aku ikut berjalan mengikuti rombongan ibu-ibu dari Dinas Perhubungan Kabupaten Belitung Timur. Dari mereka lah aku bisa menggali banyak informasi. Salah satunya tentang kondisi masyarakat Desa Lenggang yang sibuk dengan urusannya sendiri karena faktor ekonomi.

Sejak jalan di depan penginapan hingga lokasi acara, kami saling berdiskusi. Aku tertarik dengan adanya sapi yang kalau tak salah itu jenisnya Simental. Warna kulitnya yang dominan coklat dengan badan proposional, tampak kokoh dan lebar, tubuhnya panjang dimana tinggi tubuh bagian depan dan belakang hampir sama. Sapi yang kalau dipelihara dengan baik, bobotnya bisa mencapai satu ton lebih. Kayaknya sih di tempat yang cenderung tandus, sulit mendapatkan bobot segitu.

Selama perjalanan itu, si ibu mengatakan soal kebiasaan buruk penduduk. Katanya berbagai macam bantuan selalu hilang. Padahal itu salah satu upaya pemerintah dalam melakukan pemberdayaan ke masyarakat. Pernah diberi bantuan kambing, entah kemana. Bantuan lain-lain pun demikian. Sapi-sapi ini pun hasil bantuan. Alhamdulillah masih ada, walau tinggal sedikit.

Sedikit aku bercerita tentang pola bantuan. Aku tanyakan apakah jenis bantuan yang diberikan sesuai keinginan masyarakat atau kemauan pemerintah. Hampir bisa dipastikan jika bantuan itu merupakan kemauan pemerintah, lebih banyak yang hilang daripada yang lestari. Sebab masyarakat akan berujar, “ini kan bantuan pemerintah. Uang pemerintah kan uang kita juga”. Maka rasa tanggung jawab akan bantuan itu hampir-hampir tidak ada. Coba ubah pola pemberian bantuannya. Tanyakan apa yang mereka inginkan. Bilamana perlu, berikan saja uangnya secara tunai. Biarkan mereka membeli apa yang menjadi pilihan mereka. Yang penting kesepakatannya jelas, termasuk sanksi-sanksinya. Sepertinya dengan model begitu, masyarakat akan lebih bertanggung jawab. Mereka merasa ikut memiliki dan mengharuskan untuk melestarikannya. Tapi, soal pengawasan ya tetap dilakukan.

Aku katakan, pola pemberian bantuan dansos dari UPK PNPM MP ditempatku demikian. Kami hanya mengalokasikan besaran bantuan untuk desa. Urusan penggunaan buat apa, kami serahkan kepada masyarakat melalui musyawarah. Dari hasil musyawarah itu, kami verifikasi kelayakan calon penerima. Saat itu lah kami lakukan kesepakatan-kesepakatan dengan mereka. Termasuk jenis sanksi apa yang siap mereka terima jika ingkar.

Saat bantuan itu turun, misalnya buat membeli bibit kambing, mereka yang benar-benar berminat, tak segan untuk menambah uang sendiri jika bantuan yang diterimakan kurang. Uang yang mereka tambahkan itu dengan senang hati mereka lakukan karena bibit kambing itu lah yang mereka butuhkan. Demikian juga jika jenis bantuan yang mereka inginkan diperuntukkan guna rehab Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Biasanya si calon penerima sudah bersiap diri dengan membeli material yang tidak dapat terbeli dari dana bantuan yang ada. Entah dengan cara apa. Warga sekitar si calon penerima pun dengan antusias membantu. Utamanya dari tenaga dan makanan ringan.

Alhamdulillah pula, sejak tahun 2009 hingga sekarang, bantuan-bantuan itu masih ada. Untuk bantuan yang mereka konversikan menjadi kambing, sekarang sudah beranak pinak dan bibitnya sudah diserahkan kepada orang lain. Tak lupa pula kami melakukan pengawasan. Saat ada kegiatan di desa, kami sempatkan untuk melongok ke penerima bantuan tahun-tahun sebelumnya. Menurut kami, jika masyarakat dilibatkan dalam hal perencanaan dan eksekusi bantuan, mereka lebih bertanggung jawab.

Terlihat si ibu manggut-manggut. Aku tak tahu pasti apakah dia mengerti apa yang aku bicarakan. Atau risih karena merasa digurui. Sebab tak berselang lama berpisah. Dia bergabung dengan teman-temannya yang sudah sampai finish, sedang aku terus berjalan mendekati panggung utama. Prinsipnya yang penting aku menyampaikan apa yang menurutku benar. Jika menurutnya salah, itu urusannya.

Sukir ngeburna dara… hihi….

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here