Semangat Laskar Pelangi Untuk Laskar Desa

0
108
Desa melek IT. Foto: Dok. rtikbanyumas.or.id

Bagian ke-8

 

Sesi terakhir pada serangkaian kegiatan Festival DesTIKa 2015 akan diisi oleh Pak Onno W. Purbo atau yang biasa dipanggil Kang Onno. Bapak internet Indonesia yang sempat dijagokan menjadi Menkominfo ini kembali hadir untuk menyampaikan materi tentang bagaimana upaya guna memperluas jaringan internet di desa dengan biaya yang relatif lebih murah. Materi ini hampir sama dengan yang beliau sampaikan saat acara serupa di Majalengka, yakni DesTIKa 2014. Kayaknya penyusun konsep acara lupa nih. Kok materinya sama. Tak apa lah, toh audiens-nya beda.

Materi ini disampaikan setelah pembagian doorprize peserta jalan sehat dan hiburan selesai. Para peserta jalan sehat yang berasal dari warga Desa Lenggang, pejabat SKPD kabupaten Belitung Timur, dan peserta Festival DesTIKa, tumpah berbaur menjadi satu. Suasana menjadi ramai dengan teriakan anak-anak SD yang menginginkan hadiah. Meski panas sudah mulai menyengat, sebagian dari mereka tetap setia menunggu di depan panggung. Sebelum itu, semua peserta di hibur organ tunggal. Hampir semua ikut bergoyang. Tak terkecuali Pak Basuri. Sayangnya beliau tak bisa mengikuti acara hingga usai. Masih ada pekerjaan lain yang sudah menunggu. Beliau pulang terlebih dulu setelah memberikan hadiah utama kepada peserta jalan sehat.

Setelah semua hadiah doorprize dibagikan dan persiapan sebentar, pengisian materi pun dimulai. Kali ini yang jadi moderator adalah Kang Gery. Kalau tahun lalu, Yossy dengan kacamata hitamnya. Tapi ya gitu, audiens kali ini kebanyakan anak-anak SMK dan gurunya, sedang masyarakat umum hanya satu dua. Nggak apa-apa ding. Paling juga nggak mudeng-mudeng banget. Sama kayak aku. Eh, itu cuma perasaanku saja kok… hehe….

Sedikit ada perkembangan. Kalau dulu menyebutkan istilahnya saja aku nggak bisa, sekarang sudah bisa sedikit-sedikit. Apalagi Kang Onno menyampaikannya lebih telaten. Maklum, pesertanya kan anak-anak sekolah. Beda saat di Majalengka. Kebanyakan justru relawan TIK, yang sedikit banyak paham dengan urusan begitu. Aku mulai familier dengan istilah Buntut Babi (Pigtail), router, dan pemancar sektoral. Betul kan? Asiik.

Selayaknya orang desa yang masih kesulitan soal akses internet, Kang Onno mencoba membantu masyarakat dengan mengotak-atik agar sinyal dari modem yang ada bisa menjangkau lebih jauh lagi. Salah satunya nanti, dengan memanfaatkan parabola bekas sebagai pemantul agar pancaran sinyal bisa lebih jauh. Termasuk dengan cara memprogram sendiri router yang ada. Sebab jika masih menggunakan software bawaan, maka rangkaian yang dia buat, tak berfungsi.

Cara penyambungannya dimulai dari modem. Tentu modem ini berisi pulsa yang sinyal awalnya cukup bagus. Minimal ada dulu lah. Kemudian untuk memperkuat sinyal diperlukan antena penguat sinyal. Antena ini disambungkan melalui kabel coax, yang sisi ujung satunya (bernama Pigtail) disambungkan ke modem tadi. Lubang modem yang berbentuk USB dicolokkan ke router yang softaware-nya sudah dioprek oleh Kang Onno.

Menggunakan kabel LAN yang disambungkan dengan router, salah satu ujungnya disambungkan pula ke lubang LAN yang ada pada kabel power. Kabel power yang berfungsi untuk menyalurkan daya listrik ke modem sektoral memiliki dua lubang. Satu lubang LAN dan satu lagi POE. Lubang POE ini disambungkan dengan kabel ke modem sektoral sebagai pemancar wifi. Model sektoral dilengkapi dudukan di belakang agar bisa dipasangkan ke tiang dengan kabel tis. Manfaat penggunaan modem sektoral ini untuk memancarkan jaringan internet sejauh 5 kilometer.

Untuk mencapai jarak pancar yang lebih jauh, Kang Onno memberikan tips lain, yakni memanfaatkan parabola bekas. Parabola ini dimaksudkan untuk memantulkan sinyal. Tapi parabola yang dimaksud, jaring-jaringnya harus dalam kondisi utuh. Kalau terlanjur rusak, ya perbaiki dulu. Caranya dengan menghadapkan modem sektoral ke LNB sebagai titik fokus pada parabola, maka jaraknya bisa mencapai 50 kilometer. Wuih.

Kang Onno bilang, teman-temannya di Italia bahkan bisa memancarkan sinyal internet mencapai 290 km jauhnya. Sayangnya Kang Onno tidak menjelaskan bagaimana caranya. Paling tidak otak-atik ala orang Indonesia bisa lebih memaksimalkan dari daya yang ada. Pokoknya soal akal mengakali, kayaknya negara kita nomor wahid deh. Nggak papa sih, asal untuk tujuan positif saja.

Tapi aku nggak tahu apakah sinyal yang dipancarkan itu tetap kuat atau tidak. Dulu saat aku minta penjelasan soal gangguan pepohonan, beliau menyampaikan bahwa pepohonan memang akan sedikit mempengaruhi. Teknologi ini memang salah satu cara mengakali susahnya mendapatkan sinyal khususnya di desa-desa. Semoga ke depan akan muncul inovasi-inovasi lain untuk mempermudah mendapatkan akses internet dengan cara yang lebih sederhana. Akan lebih maksimal memang saat kebijakan Pak Rudiantara bisa benar-benar terealisasi.

Sebagai contoh, Menkominfo bekerjasama dengan Provinsi Kalimantan Utara dan Timur. Yakni di desa-desa yang berada pada perbatasan dengan Malaysia. Bentuk kerjasamanya berupa pendirian tower-tower guna mempermudah akses internet di sana. Pembagian tugas yang dilakukan untuk itu, urusan pengadaan tanah menjadi tanggung jawab Pemkab. Pengadaan tower oleh Pemprov, sedang Kemenkominfo bertanggung jawab untuk urusan subsidi menutupi kerugian vendor yang mau mendirikan BTS di sana. Sebab untuk urusan untung rugi, bisa dikatakan tak ada vendor yang mau membuka jaringan di sana jika pendapatannya minus. Nah, disinilah Kemenkominfo berperan.

Tapi tentu saja tidak bisa kita mengandalkan Kemenkominfo saja. Rasanya sangat musykil jika urusan perluasan jaringan khususnya di daerah-daerah yang pendapatannya minus bagi para vendor, hanya bergantung pada pemerintah saja. Kita masih beruntung Pak Rudiantara paham betul akan kebutuhan masyarakat akan akses internet. Apalagi pembangunan dari pinggiran atau desa menjadi prioritas pemerintahan sekarang.

Seperti semalam, Pak Yudo mengingatkan akan kewajiban Pemerintah Desa memberikan informasi kepada masyarakat serta berhak pula mendapatkan informasi dari Pemkab. Bahkan, urusan pengadaan perangkat keras, lunak, jaringan, dan peningkatan SDM menjadi kewajiban Pemda. Poin ini pun menjadi penting. Sebab belum semua Pemda melakukan rintisan untuk itu. Apakah karena kebiasaan top down dalam urusan birokrasi dimana belum ada instruksi dari pemerintah pusat untuk melakukannya, sehingga mereka masih menunggu. Masih bingung, atau ada kendala lain. Masih belum jelas.

Lalu bagaimana mekanisme pemberian informasi itu nantinya. Jika masih mengandalkan pola lama, yakni dengan melakukan sosialisasi keliling, mengundang para kepala desa, atau memberikan surat edaran, apakah malah tidak efisien. Sebab kondisi geografis di beberapa daerah itu sangat sulit. Maka, sebenarnya pilihan memanfaatkan teknologi dan informasi menjadi langkah yang tepat. Sayangnya kendalanya pun tak mudah ditemukan solusinya. Soal SDM dan infrastruktur berupa kemudahan akses menjadi kendala utama saat ini.

Untuk urusan peningkatan SDM, teman-teman pegiat desa baik yang menamakan diri RTIK atau yang lain, sudah lama bergerak. Gerakan ini pun semakin meluas. Namun urusan pengadaan infrastruktur ini membutuhkan dana yang tidak sedikit. Bagaimana solusinya. Padahal kata Pak Yudo, masih banyak Kementrian yang lemah di koordinasi. Pak Yudo mengibaratkan dengan kalimat: “ini dataku itu datamu, ini anggaranku itu anggaranmu”. Lagi-lagi ego sektoral.

Tapi sebenarnya persoalan terkait pemanfaatan TIK di desa, digambarkan dalam sebuah piramida yang bernama hierarki akses TIK. Ada beberapa persoalan yang harus diperhatikan saat kita masuk ke desa. Masyarakat desa biasanya lebih menyukai konten lokal ketimbang yang lain. Namun konten lokal itu sebenarnya hanya bagian dari konten sebuah website. Akan tetapi konten-konten yang di dalam sebuah website tak akan terbaca jika tak ada internet. Betul kan?

Urusan koneksi internet pasti tergantung dengan yang namanya infrastruktur atau perlengkapan pendukung semisal BTS dan jaringan untuk mengaksesnya. Ini pun memerlukan alat kerja yang bernama laptop atau komputer. Nah, kemudian diperlukan lagi yang namanya daya listrik. Apakah di sebuah daerah memiliki daya listrik dimaksud. Entah dari PLN atau pembangkit listrik milik masyarakat. Yang pasti itu harus ada.

Anggap saja persoalan listrik dan komputer nggak ada masalah. Pertanyaan selanjutnya, sudahkah masyarakat memiliki kemampuan mengoperasikan komputer jika tidak ada yang melatihnya. Lapisan paling bawah dari piramida tersebut adalah ada tidaknya sumber dana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan di atas. Lalu darimana mendapatkannya. Ini pertanyaan yang cukup rumit.

Bukan sedang meremehkan pemerintah baik pusat maupun daerah atau masyarakat, sebenarnya untuk urusan dana, sedikit-sedikit kita ada lah. Apalagi banyak lembaga donor yang bersedia membiayai program-program pemberdayaan. Yang paling penting lembaga donor tersebut tidak lantas mengotak-atik tata aturan di negara ini sehingga kedaulatan negara akan terusik karena bantuannya. Contoh lama ya, semacam IMF lah.

Kita tahu bahwa pembangunan infrastruktur untuk layanan internet masih sangat timpang. Di satu sisi pemerintah menginginkan semua terlayani secara online, tapi pada kenyataannya masyarakat desa dari ujung pulau Nias sampai ke Merauke masih belum bisa menikmatinya secara adil. Di satu tempat bandwith berlimpah, tapi di tempat lain harus berjuang keras untuk sekedar mendapatkan sinyal.

Satu permasalahan soal ketersediaan akses sinyal saja sudah membuat kita perlu bergandengan tangan. Sebab mengandalkan perusahaan jasa layanan internet jelas akan banyak berhitung. Andai mengandalkan subsidi pemerintah, apa ya dana yang ada harus dihabiskan untuk itu. Oleh karenanya, pengisian materi oleh Kang Onno pun menjadi penting. Paling tidak biar agak ribet, itu tetap lebih baik daripada nggak ada upaya sama sekali.

Mungkin yang lebih pas dibicarakan adalah pembagian tugas antara pemerintah, masyarakat, LSM, akademisi, dan stake holder lain. Pembagian tugas itu pun harus dirumuskan bersama. Jika pemerintah lebih berperan pada sisi kebijakan dan dukungan dana sesuai aturan, LSM dan akademisi bertugas melakukan penguatan terhadap diri dan masyarakat. Sedang masyarakat pun akan lebih baik tidak pasif menunggu. Masyarakat diharapkan aktif, terbuka, dan mau belajar untuk terus meningkatkan kapasitas diri.

Semangat gotong royong, berbagi tugas sesuai kapasitas dan kapabilitasnya menjadi salah satu solusi yang memungkinkan. Rasanya tak bijak jika kita ikut terlalu dalam masuk ke ranah orang lain yang belum tentu kita memahami persoalan di ranah itu.

Desa melek IT. Foto: Dok. rtikbanyumas.or.id
Desa melek IT.
Foto: Dok. rtikbanyumas.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here