Semangat Laskar Pelangi Untuk Laskar Desa

0
100
Bersama Bupati Belitung Timur, Basuri Tjahaya Purnama

Bagian ke-9

 

Sebelum menginjakkan kaki di tanah Belitong, yang aku tahu apa keistimewaan Belitung Timur. Hanya karena kesuksesan film Laskar Pelangi lah, aku kenal nama Belitung Timur. Nama pulau Bangka dan Belitung yang aku ingat saat masih duduk di bangku SD adalah pulau yang menghasilkan Timah terbesar di dunia. Hal lain aku tahu adalah Bupatinya. Pak Basuri adalah adik kandung Ahok, Gubernur DKI. Tak ada keterangan lain sebagai pelengkap. Aku pun tak berupaya mencari tahu. Baik bertanya kepada teman atau berselancar di internet. Rasanya tak perlu.

Bahkan sempat terbersit dalam pikiran bahwa dia menjadi terkenal karena kakaknya itu. Bagaimana caranya memimpin, kebijakan-kebijakan apa saja yang telah diambil, serta prestasi apa saja yang telah di raih setelah Belitung Timur dipimpinnya. Aku tak tahu dan tak berusaha mencari tahu. Jika dibandingkan dengan kepala daerah yang lain, menurutku dia masih kalah dengan Kang Emil, Kang Aher, dan Bu Risma. Tak terdengar sesuatu yang patut dibanggakan kecuali ya itu, adiknya Koh Ahok. Mungkin karena aku kudet kali ya?

Aku mulai respek saat beliau didaulat memberikan sambutan pada acara pembukaan Festival DesTIKa 2015. Sambutannya tidak panjang. Simpel. Tidak ikut kebanyakan orang yang gemar lomba pidato. Saat Pak Basuri meninggalkan lokasi kegiatan bersama Pak Menteri, aku tak heran. Biasanya memang begitu. Setelah acara seremonial, mereka pergi.

Aku mulai terkesan pada beliau saat malam kedua. Selepas shalat maghrib, jama’ah masjid An-Nur berujar bahwa kepedulian pemerintah kepada masyarakat baru-baru ini saja. Dulu hampir tak tersentuh. Memang sepanjang jalan saat menuju lokasi dari Bandara, banyak jalan baru. Bahkan jalan yang menghubungkan antara lokasi acara dengan penginapan, terlihat jelas. Bahu jalan di kanan kira, tanahnya masih baru. Pun bukan pasir warna putih seperti kebanyakan. Sedang aspalnya masih halus mulus.

Sayangnya saat aku tahu bahwa SD Muhammadiyah Gantung yang menjadi tempat syuting film Laskar Pelangi sudah dibongkar, tak aku pastikan kapan tepatnya. Apakah saat beliau sudah menjadi Bupati atau era sebelumnya. Kalau pembongkarannya terjadi pada masanya, sangat disayangkan. Secara fisik, bangunan SD Muhammadiyah Gantung memang sangat tidak layak. Tapi dari situ lah orang lebih mengenal tanah Belitong setelah Timah. Tapi yah, mungkin mereka punya pemikiran lain. Toh, meski sekedar replika saja masih mampu menarik wisatawan untuk datang ke sini.

Aku tambah terkesan saat Pak Basuri datang dan ikut jalan sehat bersama kami. Beliau mau berbaur dengan masyarakat. Selfi bareng masyarakat dan kami juga. Menyapa akrab kami sembari memamerkan cincin batu Satam khas Belitong. Kayak lagi ketemu teman saja. Tidak canggung. Sambutan peserta jalan sehat dari masyarakat Desa Langgeng pun hangat. Kalau boleh menilai, apa yang Pak Basuri lakukan pagi itu bukanlah pencitraan. Setahu ku pencitraan atau tidaknya seorang pejabat dapat dilihat dari bahasa tubuh yang bersangkutan. Canggung atau tidak. Kemudian tatkala berbaur, masyarakat terlihat heran atau tidak. Dari situ kita bisa menyimpulkan. Sebab biasanya jika aktifitas itu bukan sebuah kebiasaan, akan terkesan canggung atau masyarakat akan heran. Ini orang habis makan apa ya. Kok tiba-tiba sok akrab. Kira-kira begitu.

Sepanjang jalan, ayah tiga anak ini hampir tak berhenti berbicara. Dengan semangat dia menerangkan kepada kami tentang kabupatennya. Staminanya masih kuat meski sudah berusia 47 tahun. Tak terlihat tanda-tanda capek. Wajahnya tetap berseri sembari melambaikan tangan kepada penduduk yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan. Tak terkecuali anak kecil. Beliau menyempatkan diri menyalami anak-anak SD yang berada di pinggir jalan. Postur tubuhnya yang tinggi besar membuat langkah kakinya mantap. Berbeda dengan kebanyakan pejabat yang biasanya terjadi pengerahan massa atau anak sekolah saat pejabat datang, kehadiran Pak Basuri tak terlalu diistimewakan. Penduduk pun santai-santai saja tapi tetap menghormati Pak Bupati kala di sapa.

Sempat aku tertinggal rombongan peserta jalan kaki karena asyik di Museum Andrea Hirata. Hingga tak menyambangi Kampung Ahok. Sayang memang. Tapi dari foto-foto yang aku salin dari Kang Siwi, terlihat Pak Basuri mengajak Bu Septri untuk bertemu dengan orang tuanya. Penghormatannya kepada orang tua patut di tiru. Berkali-kali beliau mengutip pesan yang Papah-nya sampaikan. Bangga sekali beliau mengutipnya. Salah satu pesan dari Papahnya adalah agar Pak Basuri tetap low profile jika sudah berhasil dan wajib membantu pada sesama. Pesan-pesan moral dari orang tuanya, ibarat wasiat yang harus dijaga benar-benar. Maen ya?

Setelah aku bergabung dengan rombongan Pak Basuri. Aku sering kalah langkah. Hampir berlari mengejar langkah-langkah panjangnya. Ah, ini kayak jalan cepat saja. Tapi langkah panjang dan cepatnya tetap diimbangi dengan berbagai obrolan. Salah satunya soal ketidakcocokkannya akan konsep home stay. Alasannya sudah pernah aku tuliskan. Yakni rumah sebagai benteng terakhir dari masuknya budaya asing seharusnya dibuat nyaman. Apabila itu tidak dilakukan maka tanpa disadari, budaya lokal akan terkikis. Disamping kekhawatiran beliau akan anak gadis pemilik rumah jika turisnya nakal.

Pertanyaanku akankah rencana pengembangan konsep perkampungan penginapan bagi turis akan terealisasi. Mengingat ini adalah tahun terakhirnya menjabat sebagai Bupati. Beliau menjabat sebagai Bupati sejak tahun 2010. Sedang kakaknya, Koh Ahok menjadi Bupati Belitung Timur pada periode 2005-2006. Pak Ahok mengundurkan diri sehubungan akan mencalonkan diri sebagai Gubernur Bangka Belitung. Tapi akhirnya kalah dengan Eko Maulana Ali yang kemudian dilantik menjadi Gubernur Provinsi Bangka Belitung yang pertama setelah kepulauan ini dimekarkan dari Provinsi Sumatra Selatan.

Saat kami melintas di bekas komplek perumahan pegawai tambang timah, beliau bercerita tentang rumah-rumah dinas itu. Katanya rumah-rumah yang dulu menjadi milik perusahaan kini sudah menjadi milik warga secara sah. Mereka membeli bekas rumah-rumah itu. Ada pula pegawai tambang timah yang berasal dari luar pulau Belitung yang sudah menetap di sana. Bentuk rumah-rumah itu sudah ada yang di rehab, tapi tak sedikit yang masih sama kayak dulu. Bentuk rumah yang besar dan halaman luas, dulu dimiliki oleh pegawai tinggi. Sedang rumah yang agak kecil dengan halaman sempit bekas pegawai biasa atau rendahan. Yang namanya penggolongan derajat layaknya kasta tetap ada, kata suami dari dr.Linda Julistiani ini.

Pak Basuri sepertinya ingin menjaga diri dari sifat angkuh. Profesinya sebagai mantan sales Auto 2000 di Jakarta tetap dicantumkan pada daftar pengalaman kerjanya. Data pribadi yang dicatat dalam website resmi kabupaten Belitung Timur, pada bagian pengalaman kerja, akan kamu temui itu. Ada kah kenangan masa lalu yang begitu indah saat menjadi sales mobil di sana. Atau ingin memberikan motivasi kepada kita bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Seorang mantan sales bisa menjadi pejabat, yang penting berani bermimpi dan berusaha keras merealisasikan mimpi-mimpi itu.

Dari riwayat hidupnya, kita jadi tahu bahwa beliau pun sempat mengalami masa-masa yang tidak mengenakkan. Tidak semua keturuna Tionghoa itu hidupnya enak. Coba lihat saja film Laskar Pelangi. Orang tua Ahyong yang juga sepupu Aling pun tak mampu membiayai anaknya bersekolah di SD PN Timah. Kesejahteraan dan kemakmuran kita hanya bisa dicapai dengan kerja keras dan kerja cerdas. Belum tentu mereka yang orang tuanya berada, mampu menjaga harta warisan yang ditinggalkan. Sedang anak seorang janda miskin bisa saja menjadi tokoh hebat. Semuanya serba mungkin.

Pak Basuri mengawali karirnya sebagai Kepala Puskesmas Mengkubang, masih di Manggar juga yakni pada tahun 1999-2001. Kemudian menjadi dokter di Puskesmas Manggar (2001-2003), dokter di RSUD Beltim (2008). Pada tahun 2008-2009 menjadi Kasubbag Kepegawaian Beltim. Posisi terakhirnya sebelum maju menjadi calon Bupati Belitung adalah Kepala Bidang Binkesmas dan Promosi Kesehatan Dinkes Belitung Timur pada tahun 2001-2010.

Aku tak tahu apa prestasi beliau di masa kerjanya dulu. Yang aku tahu beliau pernah mendapat predikat sebagai Dokter Teladan peringkat pertama untuk Tingkat Kabupaten Belitung Timur tahun 2001 dan sebelumnya juga pernah menjadi Dokter Teladan Peringkat Pertama sewaktu mengabdi sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Puskesmas Mengkubang-Belitung. Memang hanya dua atau cukup ditulis dua saja, tak tahu. Yang jelas begitu informasi yang aku dapatkan dari website resmi Pemkab Belitung Timur.

Sesaat setelah acara penutupan Festival DesTIKa 2015, kami mendekati beliau. Tepatnya teman-teman. Sebab aku baru bergabung beberapa saat kemudian. Aku terlambat datang ke lokasi kegiatan karena harus beres-beres di penginapan. Pakaian-pakaian kotor yang ada masih berserakan di luar. Aku tak ingin besok pagi terburu-buru. Katanya besok pagi akan memanfaatkan waktu untuk pergi ke pantai Tebing Tinggi. Lokasi syuting film Laskar Pelangi yang lain. Saat Bu Mus berteriak, “Laskar Pelangi… ayo kita pulang!”

Aku dapati beliau sedang berbicara tentang kebijakan-kebijakan yang diambil selama ini. Kebijakan yang beliau ambil merupakan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebab untuk tambang Timah, di masa yang akan datang, sudah tidak bisa lagi diandalkan. Maka perlu terobosan baru. Salah satu yang sedang beliau genjot adalah tentang peningkatan sumber daya manusia melalui bidang pendidikan.

Beliau sempat memberhentikan program beasiswa bagi mahasiswa Belitung yang kuliah di Jawa. Pasalnya beliau pernah kecewa. Pernah Pemkab Belitung Timur mengirimkan 12 siswa untuk kuliah di Jawa dengan biaya dari APBD Kabupaten. Akan tetapi hanya satu yang lulus. Kesebelas yang lain gagal. Ini pengalaman pahit pernah dialami. Oleh karenanya beliau pun mengubah kebijakan itu. Bukan lagi siswa yang diberi dana untuk kuliah, akan tetapi para gurunya. Beliau beranggapan jika kualitas para guru meningkat, maka kualitas siswanya pun akan meningkat. Diharapkan dengan itu, para siswa bisa mendapatkan beasiswa dari lembaga-lembaga lain.

Melihat cara bicara dan gaya tubuh Pak Basuri, aku berpikir bahwa Bupati yang biasa dipanggil dengan nama Hakka Yuyu ini beda dengan kakaknya. Gaya bahasanya lebih lembut dan tidak suka protes. Tapi ternyata anggapanku salah. Pak Basuri pun hampir mirip dengan kakaknya. Beliau berani protes kepada siapapun, termasuk pejabat provinsi yang menurutnya salah. Pernah beliau lakukan itu. Yakni saat mengurus perijinan perbaikan bendungan peninggalan jaman Belanda.

Waktu itu beliau hendak melakukan perbaikan bendungan yang katanya sudah mau ambruk. Menurut pelaporan dan beliau pun melakukan inspeksi langsung ke lokasi, bendungan yang sekarang berfungsi untuk irigasi itu sudah bergoyang saat debit air tinggi. Oleh karenanya perlu dilakukan perbaikan. Jika tidak, ditakutkan akan membahayakan masyarakat di daerah hilir sungai Lenggang. Ternyata pengurusan itu tidak mudah. Harus menunggu keluarnya ijin ini lah itu lah. Beliau tak sabar. Akhirnya di beliau katakan mengapa untuk mengurus perijinan perbaikan bendungan yang sudah tua harus dipersulit. Bagaimana nanti jika bendungan itu jebol dan berakibat fatal. Dulu jaman Belanda saja tidak ditanyakan soal amdal dan lain-lain.

Saat memperagakan gaya protesnya itu, berulang kali jari telunjuk beliau menunjuk ke arahku. Seolah-olah aku adalah pegawai provinsi yang sedang dimarahi. Kebetulan posisi ku tepat di hadapan beliau. Gaya beliau yang selalu menunjuk-nunjuk aku ini lah yang membuat teman-teman pun kemudian menyoraki aku. Seakan-akan beliau sedang benar-benar memarahi aku. Langsung saja aku sela, “Pak Bupati ini kan sedang mendoakan aku agar jadi pejabat provinsi”. Tuturku yang demikian mengundang tawa kami. Rupanya beliaupun sepakat dengan ucapanku. Cepat beliau mengulurkan tangan. Aku sambut berjabat tangan. Tawa kembali pecah. Nah, kesempatan ini lah yang aku gunakan untuk minta diabadikan. Aku bergaya bersama Pak Basuri menghadap kamera yang dipegang Arya. Jepret. Terabadikan lah momen berharga itu. Alhamdulillah.

Sebenarnya jika pagi tadi saat teman-teman meminta pose bersama, aku bisa saja ikut. Tapi aku pikir, kalau sekedar pose tanpa kesan khusus, kayaknya biasa saja. Maka saat momen ini berlangsung, aku manfaatkan benar. Yah, siapa tahu beliau pun bisa mengingat dengan baik saat melihat foto kami. Apalagi aku sudah berujar bahwa foto itu akan aku cetak dan pasang di kantor sepulang dari sini. Meski pada saat tulisan ini di unggah belum terealisasi. Paling tidak aku sudah minta bantuan Imam, salah satu UPK ku, untuk mencetaknya.

Entah mengapa, beberapa waktu ini aku malah ingin berpose dengan para kepala daerah yang sukses memimpin daerahnya. Setelah pada waktu Festival Kopi di Sukamantri aku bisa foto bareng Kang Dedi, bupati Purwakarta, sebenarnya saat FesTIK aku juga ingin narsis bareng Kang Emil. Sayang kesempatan itu tak bisa aku maksimalkan. Pagi itu migren menyerang. Aku tak berpikir ikut lari ke luar gedung Sabuga demi mengejar Kang Emil. Semoga suatu saat nanti bisa. Aamiin.

Ketahuilah. Setiap dari kalian adalah pemimpin yang akan di mintai pertanggung jawabannya, seorang imam adalah pemimpin bagi masyarakatnya dan akan di mintai pertanggung jawabanya tentang kepimpinannya.

Bersama Bupati Belitung Timur, Basuri Tjahaya Purnama
Bersama Bupati Belitung Timur, Basuri Tjahaya Purnama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here