Semangat Laskar Pelangi Untuk Laskar Desa

4
211
Sebelum naik pesawat

Bagian ke-1

 

Pembukaan tol Cipali ternyata membawa berkah. Perjalanan Purwokerto – Jakarta lebih cepat dari biasanya. Fasilitas gratis masuk tol Cipali paska diresmikan oleh Presiden Jokowi, dimanfaatkan betul oleh pengemudi bis. Padahal jika menghitung biaya membayar tol sejak Palimanan hingga Cikampek sekitar 138 ribu. Ini masih gratis. Kata Arya yang sempat menghitung speedometer, saat bis berjalan di tol Cipali, kecepatannya antara 80-100 km per jam. Wuih. Lancar jaya.

Waktu tempuh Purwokerto – Jakarta lebih sedikit. Sekitar jam 02.30 pagi, bis sudah sampai di Rawamangun. Hitung-hitungan jam, katanya lebih lama perjalanan Purwokerto – Brebes daripada Brebes – Jakarta. Sampai-sampai ada seorang ibu yang ikut di bis kami kebablasan. Seharusnya di turun di Cikopo, malah sampai ke Jakarta. Kasihan benar. Padahal dia sendirian.

Aku tak tahu persis, maka kalimat diatas memakai kata: “katanya”. Ya. Informasi yang aku tulis katanya Arya sama Soep. Pasalnya sejak berhenti makan di Tonjong – Brebes, aku hanya terjaga sampai di pertigaan Ketanggungan. Setelah melewati rel kereta api, aku tertidur. Dimana bis masuk pintu tol aku tak tahu, eh jangankan itu. Saat bis lewat Margasari saja aku tak tahu. Padahal jarak dari rel di pertigaan Ketanggungan sampai Margasari tak begitu jauh. Aku bangun saat bis sampai di Rawamangun.

Entah karena capek atau memang mulusnya perjalanan sehingga dalam tidur aku bermimpi. Mimpinya agak lucu sih. Dalam mimpi itu seolah aku berperan sebagai jagoan Kungfu. Jiah. Enggak banget kan? Tapi begitu lah.

Aku berperan sebagai jagoan Kungfu yang menghajar habis-habisan seorang penjahat. Sampai-sampai si penjahat itu lupa ingatan. Penjahat itu juga jago bermain Kungfu. Ingat sekali adegan, dia sampai payah menghadapi jurus-jurus maut yang aku mainkan. Lemas lunglai. Tapi aku tak tega membunuhnya. Belati tajam yang aku pegang hanya aku gunakan untuk merobek pakaian yang dia kenakan. Aku biarkan dia dalam kondisi sekarat.

Singkat cerita, si penjahat itu bisa sembuh dan terobsesi untuk belajar Kungfu lebih dalam. Dia ingin melampiaskan balas dendam. Balas dendam kepada siapa, tak tahu. Semangatnya dalam bermain kungfu karena dia terinspirasi dari seorang jagoan di masa lalu. Jagoan yang memiliki ilmu tinggi namun berwatak antagonis menjadi idolanya.

Entah daripada asal mulanya, ingatannya kembali. Ternyata jagoan kungfu yang dia idolakan adalah dirinya sendiri. Maka nafsu balas dendam semakin membara. Dia semakin giat berlatih untuk melampiaskan amarahnya padaku. Mendengar itu, aku sendiri ngeri. Karena dia semakin kejam. Jurus-jurus yang dia kuasai pun semakin dahsyat. Aku agak ragu bisa mengalahkannya. Lucunya lagi, nama si penjahat itu adalah: Chusnul Chotimah. Hahaha…. Padahal dia cowok. Aku tertolong dengan teriak kondektur bis: “Jakarta… Jakarta habis”. Alhamdulillah.

Sebelum acara makan di rumah makan di Tonjong, aku sedikit resah. Ingin menonton semifinal antara PSSI U-23 melawan Thailand. Mencari-cari informasi di sosial media baik twitter maupun fesbuk, nggak ada yang posting. Agak senang saat tahu posisi 2:0 di babak pertama. Ah, sayangnya perkiraanku salah. Ternyata posisi itu untuk kemenangan Thailand. Bahkan di akhir pertandingan, Indonesia kembali dikalahkan dengan skor telak 5:0. Thailand memang selalu jadi momok. Sepertinya Timnas selalu kalah mental dulu sebelum bertanding melawan mereka. Lebih sering kalah daripada menangnya.

Susah sekali mengangkat performa olahraga kita di dunia internasional. Kita memang sedang terpuruk. Jangankan sepakbola yang sangat minim prestasi. Cabang bulutangkis yang sempat menjadi andalan pun, kemarin saat perhelatan Indonesia Open, tak ada satu pun medali yang bisa digondol oleh Tim kita. Kembali lagi soal kaderisasi. Lemahnya kaderisasi ternyata tak jua bisa diatasi oleh pemerintah melalui organisasi-organisasi dibawahnya. Sepertinya sulit mencari bibit-bibit diantara ratusan juta penduduk Indonesia.

Aku tak mau berkomentar banyak. Apalagi ikut-ikutan mencari kambing hitam. Karena aku sadar, hampir tak ada kontribusi apa-apa yang bisa kuberikan terhadap kemajuan olahraga di negeri ini. Paling banter jadi supporter dan mendoakan agar Indonesia menang. Senang jika berhasil, ikut kecewa saat gagal, dan selalu deg-degan jika berharap Indonesia menang. Itu saja.

Ada 9 orang yang berangkat dari Purwokerto. Rencananya kami akan bergabung dengan teman-teman dari Majalengka, Ciamis, Cianjur, dan Tulungagung di bandara Soekarno Hatta. Sedang Om Jo berangkat dari Cempaka Putih, Jakarta. Awalnya kami tak tahu kalau bisa satu pesawat. Setelah diperiksa satu persatu, ternyata kami memang bareng. Jumlahnya ada 22 orang dan bergerombol di deretan kursi belakang.

Leluasa kami memakai kursi bis dari Purwokerto. Bis eksekutif yang membawa kami cuma mengangkut 11 orang termasuk si ibu yang kebablasan tadi. Satu penumpang lain yang naik dari Cilongok, seumuran ku, mau terbang ke Pontianak. Dia kerja di sana. Saat aku tanya, katanya dia asli Tegal yang beristrikan orang Cilongok. Sedang pesawat yang dia tumpangi baru terbang sekitar jam 12 siang. Artinya dia akan lebih lama menunggu di bandara. Ah, lupa berpamitan tadi saat kami boarding pass terlebih dulu. Namanya siapa, juga nggak tanya.

Cukup lama kami menunggu di bandara. Sejak sebelum subuh sampai sekitar jam 09.00 WIB. Pesawat delay sekitar 30 menit karena landasan pacu yang bisa dipakai cuma satu. Landasan pacu yang lain sedang dilakukan inspeksi oleh pengelola bandara. Itu informasi yang aku dengar saat di pesawat. Mondar-mandir di area bandara, baik sebelum boarding pass maupun sesudahnya. Sempat pula ngobrol-ngobrol. Termasuk soal kegiatan Festival SeruIT di Lampung.

Mendengar penuturan Om Jo, festival SeruIT secara pelaksanaan memang sukses. Dinas Kominfo Provinsi Lampung terkesan dengan festival itu. Bahkan ingin mengambilnya sebagai agenda tahunan yang akan di tanggung langsung oleh mereka. Termasuk biaya registrasi semua desa yang belum mendaftar di domain desa.id serta tunggakan pembayaran domain dan hosting bagi desa-desa yang sudah kadaluarsa, akan mereka tanggung. Yah, salah satu manfaat dari kegiatan-kegiatan festival semacam ini memang ingin mendorong dikeluarkannya kebijakan yang berpihak kepada desa. Mantap!

Ini kali pertama pengalamanku naik pesawat. Kalau tak di fasilitasi oleh Kominfo Pusat, entah kapan bisa naik pesawatnya. Maka dalam hati, aku ingin menikmatinya. Sudah aku niatkan untuk tidak memejamkan mata. Apalagi kata Om Jo, perjalanan ke Belitung Timur cuma satu jam. Bahkan 50 menit kata petugas pesawat tadi.

Sebelum naik pesawat
Sebelum naik pesawat

Sayangnya Om Jo tak mau berbagi tempat duduk. Dia duduk persis didekat kaca pesawat. Leluasa dia melihat ke bawah. Aku agak sedikit kesulitan karena duduk disampingnya persis. Ah, Om Jo. Dia juga merem pas di pesawat. Kenapa nggak mau gantian. Itu si Nuron, Pak Kuwu Balagawa Ruampes, sama Azis aja bisa tukar tempat. Ini perjalanan pertama mereka naik pesawat juga.

Ternyata waktu yang dibutuhkan untuk lepas landas tak begitu lama. Tak terasa pesawat sudah mulai take off hanya dalam hitungan menit. Pusing rasanya saat kepala diangkat. Ingin sebenarnya melihat ke bawah saat take off tadi. Maka hanya melihat sedikit sambil menyandarkan kepala di kursi. Cepat sekali rumah-rumah dan mobil terlihat menjadi kecil. Bahkan tak lama, sudah tak terlihat lagi daratan. Laut biru membentang di bawah hanya menyisakan kapal-kapal laut yang sangat kecil.

Gugusan awan putih terlihat seperti pegunungan dan hutan. Bedanya tak berwarna hijau, tapi putih. Kadang dibawahnya berwarna hitam, kadang ada juga yang mirip kapas. Pesawat terus naik hingga ketinggian sekitar 2700 kaki diatas permukaan laut. Begitu kata petugas di pesawat. Sampai terdengar pengumuman diijinkannya sabuk pengaman dilepas. Tapi aku rasa, posisi pesawat masih miring ke belakang. Tidak benar-benar lurus. Hanya beberapa waktu kemudian.

Rombongan GDM
Rombongan GDM

Aku terus memperhatikan ke luar kaca. Sepertinya pesawat ini tak bergerak. Hanya bergerak-gerak di angkasa. Kadang bergoyang saat menabrak awan. Mirip bis melewati jalan rusak. Rasa kantuk akibat melek sejak sebelum subuh, aku lawan. Tak ingin melewatkan sedetik pun pengalaman ini. Pandanganku hanya beralih saat pramugari cantik tinggi semampai yang bertuliskan: “Uswatun Chasanah” lewat. Ah, dia mengalihkan duniaku. Ahihi….

Posisi kursi di pesawat ternyata mirip di bis. Tidak begitu empuk. Malahan enak bis tadi malam. Apa mungkin karena bukan kelas VVIP ya, jadi begini. Kalau dibandingkan sepertinya sama persis dengan posisi tempat duduk di kapal yang pernah aku tumpangi ke Kepulauan Seribu. Tapi kata Soep, ini masih lebih baik. Katanya ada pesawat lama yang tidak sesuai standar internasional. Posisinya sangat berdekatan, agak susah kalau bergerak. Oh gitu ya.

Aku baru tahu juga, kalau tugas pramugara dan pramugari, selain membantu penumpang dalam hal keselamatan, mereka juga berjualan. Mirip di kereta. Bedanya kalau di sini kami diberi roti berat dan air mineral, sedang yang dijual berupa souvenir seperti tertera dalam katalog di depan kursi. Ah, lagi-lagi Uswatun Chasanah. Nggak berani lihat langsung kalau pas sudah dekat.

Saat pesawat take off tadi, aku sedikit was-was. Jantung ini berdebar. Agak takut dan merinding. Meski prosedur pemberitahuan keamanan sudah disampaikan oleh seorang pramugara dan Uswatun Chasanah, aku tak hapal pula. Bagaimana memakai pelampung, kantong udara, dan keterangan lain. Semua aku dengar tanpa paham betul tata caranya. Semoga penerbangan ini tak terjadi apa-apa. Toh cuaca sangat cerah pula.

Foto udara
Foto udara

Biasa lah yang namanya orang desa. Selalu berpose. Seribu tulisan bisa jadi tak bermakna apa-apa tanpa bukti berupa gambar. Maka penegasan keabsahan dari kegiatan yang kita lakukan, ya melalui foto itu. Ramai-ramai kami berpose sesaat sebelum naik ke pesawat dan saat duduk di kursi. Tapi agak sedikit malu kayaknya pas di dalam pesawat tadi. Nggak seperti biasanya, ramai berceloteh, dan bersendau gurau.

Melihat ke bawah, alangkah cantiknya Indonesia. Negara dengan gugusan pulau dengan sebagian besar berupa laut seharusnya bisa memakmurkan penduduknya. Kenapa bisa begini, susah menjawabnya. Sejak jaman kemerdekaan hingga sekarang, persoalan kemiskinan di negara kaya raya masih belum muncul solusi jitunya.

Aku tak bisa membayangkan, berapa lama pasukan kerajaan Demak di jaman Dipati Unus menyerang ke Malaka. Waktu itu masih mengandalkan kapal layar. Tentu butuh waktu, energi, dan logistik yang banyak. Kebulatan tekad dan keyakinan untuk mewujudkan sebuah cita-cita harus tertanam kuat dalam diri masing-masing pasukan. Jika tidak, mungkin stres melanda para pasukan. Hanya benar-benar mereka yang pantas dianggap sebagai pemimpin yang mampu menggelorakan semangat dalam dada para pasukan.

Sesaat setelah hamparan pulau Belitung terlihat, terdengar peringatan dari petugas untuk memasang sabuk pengaman lagi. Tanah putih bekas galian timah yang merusak hutan banyak terlihat di berbagai titik. Sejak jaman penjajah Belanda hingga sekitar tahun 80-an, tambah Timah di pulau ini memang masih jadi andalan. Sayangnya kerusakan-kerusakan itu tak diperbaiki. Begitu lah manusia. Makanya dulu, para penghuni langit protes kepada Allah SWT, mengapa Allah menciptakan makhluk yang justru akan merusak bumi. Tapi Allah menjawab, Dia lebih tahu apa yang akan terjadi. Pernyataan itu membungkam protes para malaikat, akan tetapi tetap di lawan oleh Syaitan. Hingga mereka di kutuk sebagai penghuni neraka selamanya.

Perlahan pesawat mulai mengurangi ketinggian. Perlahan tapi halus, tidak dalam posisi menukik ke bawah. Berbeda dengan saat take off tadi. Posisi pesawat miring ke belakang. Pesawat terus dan terus mengurangi ketinggian, hingga jalanan yang tadinya kecil terlihat semakin besar. Gumpalan awan yang tadinya berada di bawah, terlihat seperti kapas lembut. Pepohonan pun demikian. Tadinya mirip hamparan permadani, sekarang mulai terlihat jelas. Hentakan roda pada landasan pacu saat landing tak seperti cerita-cerita yang aku dengar. Tidak terlalu mengagetkan. Apa karena sudah siap terlebih dulu ya. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di Bumi Laskar Pelangi.

Pernah aku dengar kalimat bijak: “Pelihara lah mimpi-mimpimu, sebab suatu saat mimpi itu akan menjadi kenyataan”. Salah satu mimpi ku yang terselip adalah naik pesawat dan berkunjung ke sini. Lokasi syuting film Laskar Pelangi yang fenomenal itu. Semoga di masa-masa mendatang, mimpi-mimpi yang lain bisa terwujud. Aamiin….

 

Bandara Tanjung Pandan
Bandara Tanjung Pandan

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here