Semoga Titik Itu Menjadi Terang

0
206
Bersama Wabup Saat Pameran

Bagian ke-2

Aku masih penasaran dengan awal cerita mengenai rencana kerjasama itu. Informasi yang mendadak tak bisa aku tangkap awal mulanya, meski sepanjang mengunjungi pabrik aku selalu bertanya ke Mba Eko dan anggota yang lain. Maka pada Rabu pagi, aku sempatkan ke rumah Mba Eko sebelum berangkat ke kantor. Kebetulan Mba Eko belum berangkat kursus membatik di SKB Kalibagor. Dia masih bersiap-siap.

Keikutsertaannya dalam kursus membatik di SKB Kalibagor pun hasil kunjungan kami ke sana, awal tahun ini. Saat itu aku ajak mereka ke SKB Kalibagor untuk mencari tahu tentang berbagai macam pelatihan yang diadakan di sana. Anggota kelompok batik MD ingin menambah ketrampilan lain semisal menjahit, membordir, atau menambah kemampuan pencampuran warna. Agar variasi warna pada proses pencelupan bisa lebih banyak pilihan.

Salah satu hasil kunjungan ke SKB Kalibagor, ialah adanya informasi akan diadakannya pelatihan gratis membatik pada tahun ini. Surat pemberitahuan sudah di kirim ke masing-masing kecamatan. Atas saran dari pihak SKB, aku segera berkoordinasi dengan Bu Probo selaku Kasi Permas Kec. Kebasen. Saat aku utarakan maksudku, ternyata Bu Probo malah gembira. Dia minta bantuanku untuk mencarikan orang guna ikut pelatihan-pelatihan di SKB. Salah satu jenis pelatihannya ialah batik. Akhirnya 4 personil pelatihan membatik aku ambilkan dari kelompok batik MD, salah satunya Mba Eko itu.

Saat studi ke SKB Kalibagor
Saat studi ke SKB Kalibagor

Mba Eko mulai bercerita. Semua bermula dari Mba Siti. Dia pernah bekerja cukup lama di bioskop Rajawali 21. Karena lamanya itu dia kenal dan dikenal pula oleh sang bos, Pak Ibnu. Sekarang Mba Siti hanya menjadi ibu rumah tangga dengan membatik sebagai pekerjaan sambilan di rumah.

Saat Pak Ibnu yang juga hobi jalan sehat melewati gang Jambu, dimana Mba Siti tinggal, dia memanggil mantan bos-nya itu. Sang Bos mendekati dan bertanya kegiatan Mba Siti sekarang. Mba Siti bilang sedang ikut membatik. Rupanya Pak Ibnu tertarik demi melihat batik yang sedang dikerjakan oleh Mba Siti. Sepertinya langsung klik dengan insting bisnisnya.

Kemudian Pak Ibnu di ajak ke rumah Mba Eko oleh Mba Siti. Dia utarakan niatnya untuk mengembangkan bisnis batik. Rencananya akan dia ekspor. Hanya saja dia ingin batik tulis. Saat itu Mba Eko tidak mengiyakan atau menolak. Keberadaan kelompok membuatnya ingin berbagi cerita dan meminta pendapat anggota yang lain. Pak Ibnu mempersilakan.

Kata Mba Eko, sebenarnya Pak Ibnu ingin membeli area tanah yang cukup luas di Mandirancan. Dia ingin mendirikan pabrik batik di situ. Perkiraan luas tanah yang dibutuhkan adalah 300 ubin. Sangat luas. Ini tak mungkin dimiliki oleh satu dua orang saja di sini. Untuk keperluan ini, Pak Ibnu katanya sudah menemui Pak Kades. Maka aku berpikir, setelah ini aku harus bertemu dengan Pak Kades. Untuk merunutkan cerita.

Soal rencana kerjasama aku rasa ini sebuah peluang. Tapi kalau mendirikan pabrik, aku merasa tidak sreg. Kalau benar bisa membeli tanah di sini kemudian mendirikan pabrik, maka masyarakat Mandirancan hanya akan jadi kuli. Mentalnya kembali menjadi mental pekerja. Memang secara pendapatan sudah jelas, tapi ya apa senang jadi kuli di desa sendiri. Kalau bisa sih tak perlu bikin pabrik. Cukup kerjasama usaha saja. Syukur model bapak asuh seperti di Papringan.

Saat aku tanyakan model kerjasamanya bagaimana, Mba Eko belum tahu. Apa cuma beli produk kemudian dijualkan, atau bagaimana, belum pernah berbincang soal itu. Dia dan anggota yang lain berharap seperti kerjasama BI dan kelompok batik Pringmas Desa Papringan. Model Bapak Asuh yang bisa memfasilitasi apa saja. Termasuk pembuatan galeri dan butiknya juga. Siapa tahu.

Saat di butik Pringmas
Saat di butik Pringmas

Kemudian kami sepakati untuk berkunjung dan belajar model kerjasama antara BI dengan kelompok batik di Papringan. Hasil belajar ke sana akan dijadikan bahan klausul kerjasama dengan Pak Ibnu nantinya. Aku katakan setelah dari Papringan dan bertemu Pak Ibnu, ada baiknya informasi disampaikan ke para anggota termasuk Pak Kades. Nantinya jika memang bisa terjadi kesepakatan, kita minta bantuan Pak Kades sebagai saksi MoU. Pak Kades akan membantu kelompok jika terjadi wanprestasi atas perjanjian itu nantinya. Mba Eko bilang manut-manut saja.

Setelah itu aku mampir ke balai desa. Ternyata Pak Kades belum berangkat. Mungkin semalam ikut ronda di balai desa. Aku susul ke rumahnya. Kata Mba Mumun, istrinya, Pak Kades sedang mandi. Aku tunggu sebentar.

Mas Amin, Kades Mandirancan adalah seniorku saat masih aktif mengajar di TPQ. Dia pun pernah menjadi mentorku saat masih ikut liqo’. Maka, aku tak asing berkunjung ke sini. Pun tak canggung jika berbicara satu sama lain. Hanya saja memang, sudah cukup lama kami tak bertemu. Saat aku ke balai desa, kadang dia sedang keluar. Waktu yang hampir bisa dipastikan untuk menemuinya hanya malam hari. Saat dia ronda di balai desa paska keliling. Tapi akhir-akhir ini aku jarang ke sana. Kalau malam sudah capek.

Mas Amin langsung paham soal rencana kerjasama ini. Dia bilang, pernah ada seorang China datang menemuinya beberapa waktu yang lalu. Aku ceritakan kegiatan kemarin saat aku menemani kelompok batik berkeliling di pabrik. Aku katakan juga kalau tadi barusan bertemu Mba Eko. Aku sampaikan juga rencana tindak lanjut ke depan. Dia berjanji akan membantu kelompok batik. Minimal datang ke Purwokerto jika sudah ada kesepakatan, sebagai saksi. Sebagai seorang Kepala Desa, dia berkewajiban menjaga warganya jika ada hal-hal yang tak diinginkan. Keterlibatannya sejak awal, akan memudahkannya dalam menanganinya nanti. Meski kita tetap berharap hasil positif yang akan dipetik. Aamiin….

Obrolan lain terkait pelestarian aset UPK nantinya. Seiring UU Desa disahkan mau bagaimana. Apa di bagi tiap-tiap desa atau tetap di kecamatan. Tak tahu pasti. Aku sampaikan usulan dari teman-teman UPK terkait BUMADes. Aku paparkan juga konsep dasarnya. Termasuk usulan untuk alokasi surplus bagi desa-desa.

Cukup lama aku di sana. Diskusi-diskusi lain tentang pengelolaan dana-dana di UPK, UU Desa, dan teman-teman lama yang lain menjadi obrolan selanjutnya. Dia menjadi salah satu penandatangan spesimen rekening kelembagaan. Sayangnya dia hanya tanda tangan saja. Dia baru tanyakan hal itu, apa maksud dia tanda tangan. Lha, gimana. Aku sedikit menyalahkan dia, mengapa mau tanda tangan tanpa tahu maksud penggunaan dananya. Dia mengaku percaya saja. Tak pernah bertanya apa-apa. Aku katakan jangan lagi-lagi. Nanti kalau ada apa-apa ikut bertanggung jawab lho. Hadeuh… hadeuh….

Kabar gembira tentang rencana kerjasama ini aku sampaikan ke teman-teman di kantor. Mba Isti (FK) yang kemarin aku ajak pun aku beri info lengkap hasil kunjungannya. Ini menjadi salah satu kebanggaan kami nanti, setelah keberhasilan kelompok Dania Indah Desa Randegan yang mampu menembus 2 supermarket yang mau menampung hasil kerajinannya. Mungkin secara omset dari kedua supermarket itu masih kecil. Namun paling tidak, keberhasilan itu bisa menjadi bahasa marketing buat mereka.

Belajar Antar Kelompok
Belajar Antar Kelompok

Jika benar dan bisa terjalinnya kerjasama, akan menambah semangat para ibu SPP. Kelompok-kelompok yang ada akan termotifasi nantinya. Kerjasama-kerjasama model seperti ini tentu bisa mendongkrak penjualan hasil kelompok. Ini akan berimbas pada pendapatan mereka, yang secara langsung akan menjaga kedisiplinan mereka dalam mengangsur. Kata teman, ini lah high class marketing. Pemasaran yang tidak berorientasi pada hasil instan. Tapi bagaimana membantu nasabah dalam melancarkan usahanya, cepat atau lambat, langsung atau tidak langsung akan berpengaruh terhadap diri kita.

Benar. Jika kita hanya berorientasi pada diri sendiri, maka yang penting angsuran lancar. Tidak peduli darimana uang angsuran kelompok berasal. Jika terjadi tunggakan atau kemacetan tinggal di tagih saja. Bahkan bisa saja menggunakan tangan besi orang lain. Menggandeng PjOK, Pak Camat, BKAD, atau Pak Kades untuk ikut menagih angsuran tersebut. Bahkan sanksi lokal program pun bisa dijadikan tameng untuk menjaga kelancaran angsuran. Kebijakan potong kompas.

Namun high class marketing tidak seperti itu. Peduli dan ikut membantu kelancaran usaha mitra kerja, dalam hal ini anggota kelompok, akan berimbas positif terhadap angsuran. Jika kita ikut membantu kelancaran usaha mereka, mereka pun akan memperhatikan kewajibannya terhadap kita. Kita semestinya peduli bagaimana mereka menjalankan usaha. Jika memungkinkan membantu mereka untuk itu. Memfasilitasi berbagai upaya agar usaha mereka lancar. Minimal sekali, menjadi tempat sampah guna menampung keluhan-keluhan mereka, dan berempati terhadapnya.

Logikanya, jika usaha mereka terus berkembang, mereka akan membutuhkan dana pinjaman juga. Sisi kemanusiaan mereka akan berbicara. Ini akan membuat mereka berpikir ulang untuk beralih ke yang lain. Andai terjadi pun, sedikit atau banyak, pinjaman ke UPK tetap ada. Maka bukan saja masalah tunggakan atau kemacetan yang teratasi, idle money pun bisa di antisipasi. Tidak mudah memang, tapi marilah berproses untuk itu.

Saat masih mengikuti pertemuan-pertemuan mereka, aku sering memberikan motivasi. Salah satunya berjejaring dengan sesama kelompok batik. Dengan berjejaring akan saling berbagi ilmu, pengalaman, dan mungkin saja, pesanan. Siapa tahu dengan berjejaring itu akan menjadi lantaran kemandirian mereka. Oleh karenanya, saat di kantor Bakorwil III Prov. Jateng sedang diadakan fashion show batik, mereka aku dukung untuk datang. Apalagi Lik Sus mendapat undangan ke sana. Alhamdulillah pada acara selanjutnya, dua orang anggota kelompok diminta tenaganya untuk membatik. Bisa promosi gratis lagi.

Menitipkan produk ke Pratishta Hasta, mengikuti pameran di acara Bulan Bhakti Gotong Royong di Sumbang, pameran di acara ulang tahun ke-5 PNPM MP Kec. Kebasen, dan melalui website desa, pun menjadi salah satu sarana promosi. Dalam kegiatan Belajar Antar Kelompok, para ibu kelompok SPP di Kec. Kebasen pun pernah aku ajak ke sana. Melihat dan praktek langsung membatik. Akhirnya terjalin juga kerjasama usaha. Beberapa orang ikut memasarkan. Ini salah satu manfaat berjejaring.

Bersama Wabup Saat Pameran
Bersama Wabup Saat Pameran

Sayang, pada hari Kamis, saat kami berkunjung ke butik kelompok batik Pringmas, tak ada orang. Butik dan galeri yang biasanya masih buka hingga jam 4 sore, sudah tutup. Menurut tukang servis motor di depan butik, sedang ada pameran di Unsoed. Aktifitas di butik dan galeri hanya sampai jam 12 siang. Memang kami ke sana tanpa pemberitahuan terlebih dulu.

Untung saja, istri si tukang servis motor yang juga anggota kelompok, baru pulang. Kami di persilakan masuk ke butik dan melihat-lihat koleksi di sana. Darinya pula lah kami mendapat gambaran informasi model kerjasama antara mereka dengan BI. BI menempatkan posisi sebagai bapak asuh. Butik yang kami masuki dibangun dengan dana yang diberi oleh pihak BI. Termasuk peralatan dan perlengkapan yang di punyai pun demikian, semua pembiayaan dari BI.

Pameran di Unsoed kali ini juga. Semua keperluan dipenuhi oleh BI. Pemasaran, studi banding, diskusi-diskusi tentang sejarah batik, dan masih banyak lagi keuntungan lain. Peningkatan kapasitas masyarakat dan pemasaran menjadi hal yang utama. Katanya pula, perjanjian ini berjalan selama 3 tahun. Ini baru tahun ke-2. Jan… jan… mantap banget!

Kepengin? Tentu saja!

Beberapa waktu yang lalu, sebenarnya kelompok batik MD pernah di survei oleh sebuah perusahaan layanan jasa internet. Ada 3 tempat yang mereka datangi. Namun, setelah melalui beberapa pertimbangan, kelompok batik MD belum lolos. Dari cerita yang aku dapat dari Mba Eko. Semestinya model kerjasamanya antara anak dan bapak asuh. Mirip kerjasama kelompok batik Pringmas dengan BI. Sudah lah. Mungkin belum rejeki.

Cukup lama kedelapan ibu yang ikut ke sana melihat-lihat koleksi. Menurut mereka, ada produk yang lebih jelek dari hasil batik MD. Tapi tak sedikit yang lebih bagus. Kelompok batik Pringmas sudah bisa membuat karya motif sendiri. Sedang kelompok batik MD masih meniru motif dari orang lain. Hasilnya, mereka menjuarai lomba membuat motif batik tingkat kab. Banyumas tahun ini. Keren.

Kami berniat berkunjung kembali ke sana guna bertemu Bu Sriarmi, sang ketua kelompok. Saat kami mampir ke rumahnya, dia belum pulang dari pameran. Hanya suaminya yang kami temui. Lebih puas kalau mendengar informasi darinya langsung.

Semoga usaha ini berbuah manis. Aamiin….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here