Semoga Titik Itu Menjadi Terang

0
356
Melihat pembuatan wig

Bagian ke-1

Selasa kemarin (20/10/14) saat Bu Ruswanti setor angsuran SPP, seperti biasa, aku mendekatinya. Sekedar mengajaknya ngobrol. Hal yang biasa aku tanyakan selain usaha kerupuk rambaknya, juga tentang perkembangan usaha di kelompok batik “MD”. Dia menjadi bendaharanya. Sudah beberapa pertemuan rutin bulanan aku tak bisa hadir. Perkembangan usaha pun hanya aku dengar sepintas saja. Bagaimana kelanjutan kerjasama yang aku fasilitasi bersama kelompok batik dari Desa Cindaga, hasil penjualan di Pratistha Hasta, sampai kondisi keuangan, dan stok produk yang ada, tak aku ketahui secara pasti.

Katanya beberapa kali Mba Eko (Tri Ekowati), ketua kelompok batik, sengaja ke rumahku. Tapi tak pernah bertemu. Sering memang, istriku bilang ada yang mencariku, urusan batik. Aku terlalu sering bepergian. Oleh karenanya saat pertemuan kelompok, aku tak pernah lagi di undang. Alasannya takut menganggu aktifitasku. Haduh, kok gitu?

Sejak kelompok batik ini terbentuk pada pertengahan tahun 2013 yang lalu, aku sering berkomunikasi dengan mereka. Mereka menjadikanku sebagai salah satu pendamping kelompok. Banyak hal yang sering mereka komunikasikan ke aku. Termasuk awal-awal terbentuknya kelompok yang sering terjadi beda pendapat antar anggota. Tak mudah menyatukan  banyak karakter dalam sebuah komunitas. Namun, akhir-akhir ini sepertinya tak lagi ada perbedaan-perbedaaan itu. Semua sudah memahami karakter masing-masing dan bisa bijak mensikapi satu sama lain. Syukur lah.

Saat Bu Ruswanti bilang kalau dia datang bersama suaminya, aku pun keluar ke teras kantor. Pak Anton, suaminya, dulu pernah menjadi bendahara TPK. Namun setelah dia mengundurkan diri, kami jarang berkomunikasi. Kesibukannya sebagai seorang seniman yang sering pentas di luar, dan aku dengan urusanku, di tambah jarak rumah yang agak berjauhan, membuat kami hanya sekedar membunyikan klakson kala berpapasan di jalan.

Setelah urusan setoran selesai, Bu Ruswanti nimbrung ngobrol dengan kami. Dia memberitahu kalau hari itu akan ada pertemuan kelompok batik. Kapan dan dimana, dia sendiri belum tahu. Kebetulan sekali. Aku minta dikabari nanti. Aku ingin datang. Waktu itu masih sekitar jam 10 an. Rencana pertemuan itu diselenggarakan sekitar jam 2 siang. Masih ada waktu.

Kelompok batik MD memang masih baru, tapi sebenarnya pelakunya orang lama. Dulu mereka bekerja untuk pengusaha batik di Sokaraja. Pekerjaan itu mereka bawa pulang. Awalnya sekedar menitik pola yang sudah dibuatkan dari sana. Hanya itu. Upahnya pun tak seberapa. Per lembar batik yang di titik-titik menggunakan canting dihargai 4000 rupiah. Paling-paling mereka bisa menyelesaikan 2-3 lembar saja. Tapi mau bagaimana lagi, hanya itu yang mereka lakukan saat itu.

Usulan pelatihan membatik yang diajukan saat MKP, MDP, hingga MAD Penetapan Usulan, bisa terealisasi juga. Kini mereka sudah bisa membatik dari kain polos hingga siap jual. Produk yang dihasilkan dari batik cap, semi tulis, dan tulis murni. Ketrampilan yang dimiliki paska pelatihan lebih banyak, sehingga dari sisi pekerjaan dan pendapatan mereka pun jauh meningkat. Alhamdulillah.

Aku memastikan rencana itu dengan menelpon Lik Sus (Suswati). Dia membenarkan. Tapi katanya pertemuannya di Purwokerto. Ada pengusaha yang mengajak kerjasama. Saat aku tanya pengusaha siapa dia menjawab tak tahu. Yang jelas janji ketemuannya di komplek bioskop Rajawali 21. Agak sedikit kaget. Tapi malah jadi kesempatan nih. Pagi tadi istri minta diantar ke Kebondalem, belanja bahan tas. Ada yang minta dibuatkan tas sekolah. Lumayan dapat orderan.

Sekitar jam 1 siang aku berpamitan pulang. Sesampainya di rumah aku katakan kepada istri, akan aku antar dia belanja siang itu juga. Aku katakan akan mengikuti pertemuan kelompok batik dengan pengusaha. Aku bilang, setelah belanja keperluan di Kebondalem, akan aku tinggal di Moro. Setelah acara selesai, baru aku jemput. Kebetulan antara Kebondalem, Moro, dan Rajawali 21, tempatnya tak terlalu jauh. Ata pasti senang. Hari Minggu kemarin saat bermain di Taman Balai Kemambang, permintaannya untuk bermain ke Moro tak kesampaian.

Waktu itu anak-anak lagi tidur siang. Aku sempatkan waktu untuk shalat dan makan. Istri pun bersiap-siap. Biasa lah yang namanya membawa anak kecil, kayak Syamil, pasti ubo rampe-nya harus komplit agar tak repot. Jajanan, minuman, baju dan celana ganti disiapkan. Ata maupun Syamil masih senang bermain sesukanya. Tak peduli baju dan celana kotor. Andai beli makanan seperti es krim atau coklat, sering belepotan di mana-mana. Tak mengapa.

Aku berangkat terlebih dulu. Aku katakan pada Lik Sus soal rencana tadi. Kebetulan saat aku berangkat dia sedang menunggu teman-temannya di perempatan Ngalteh. Dia cuma mewanti-wanti agar aku harus ikut. Pak Nalim, selaku pembina kelompok tak bisa ikut. Masih sibuk dengan pekerjaannya. Aku jawab iya.

Perjalanan kali ini Syamil tak begitu ceria. Mungkin masih mengantuk dia. Ata pun demikian. Tadi mereka berdua terpaksa kami bangunkan. Jarum jam sudah menunjuk jam 13.30 WIB lebih. Terlalu lama kalau menunggu mereka bangun. Kasihan juga sebenarnya. Tapi lebih kasihan kalau di tinggal.

Toko bahan tas yang direkomendasikan Pak Parno, mentor di SKB Kalibagor hanya itu. Toko lain yang biasa dia jadikan tempat kulakan malah ada di Kebumen. Pilihan bahan, warna, dan motif masih itu-itu saja. Meski sebenarnya si pemesan manut dengan warna dan motif yang akan istriku pilih. Lokasinya dekat lampu lalu lintas di sebelah utara. Jalur ini masih berlaku verboden. Alasannya mungkin karena kepadatan lalu lintas.

Seperti rencana tadi, aku antar mereka ke Moro. Acara belanja bahan tas cukup. Tinggal benang nilon yang harus dibeli di tempat terpisah. Aku bilang ke istri, nanti setelah acara bersama ibu-ibu kelompok batik. Tadi saat keluar dari toko bahan tas, Lik Sus memberi kabar kalau mereka sudah sampai di Rajawali 21.

Aku sempat salah masuk. Aku bertanya pada sekuriti di pabrik kosmetik. Tentu saja dia tak tahu. Pabrik ini pemiliknya sama dengan bioskop Rajawali 21. Ternyata lokasi pabrik yang dikunjungi berada di sebelah utara bioskop, bukan selatannya. Salah dengar ternyata.

Saat aku datang ke lokasi yang ditunjukkan, mereka baru keluar dari ruang pengemasan gula kristal. Pengusaha ini baru menjajagi kerjasama dengan masyarakat di daerah Cilongok. Bahkan kata Bu Cici, orang kepercayaan sang pengusaha, produk ini bersama produk-produk lain sedang dipamerkan di Paris, Perancis. Fokus pemasaran memang ke luar negeri. Hanya saja harus benar-benar memperhatikan mutu agar bisa mendapatkan sertifikat gula kristal organik.

Selanjutnya Bu Cici mengajak kami masuk ke pabrik pembuatan wig. Kami melihat dari proses awal. Melembutkan rambut palsu, memotong-motong, membuat pola, merangkai potongan rambut dengan pola, dan menyatukan bagian-bagiannya. Selanjutnya wig dibentuk dengan memasangkannya pada kepala manequin. Setelah itu di stylish, dan terakhir dikeringkan. Masing-masing pekerjaan dilakukan oleh pekerja yang berbeda. Satu tim pekerja hanya mengerjakan satu bagian saja. Kemudian diberikan ke bagian lain.

Melihat pembuatan wig
Melihat pembuatan wig

Tak menyangka kalau pintu masuk di depan jalan raya yang tak begitu besar, ternyata di dalamnya ada pabrik yang luas. Karyawannya pun banyak. Aku baru tahu kalau ada pabrik serupa di sini. Yang aku tahu, pabrik wig dan bulu mata hanya ada di Purbalingga. Kebanyakan orang-orang di desa yang aku tahu, mereka mengambil pekerjaan dari Purbalingga.

Selanjutnya kami di ajak ke pabrik bulu mata. Lokasinya di jalan Gerilya timur. Kalau pabrik wig, kosmetik, dan bioskop Rajawali 21 tadi lokasinya di jalan S. Parman Purwokerto. Dari Taman Andhang Pangrenan ke utara, sekitar 300 meter. Sedang pabrik bulu mata berada tak jauh dari perempatan Karangbawang. Yakni perempatan yang apabila kamu ambil kanan dari arah barat, akan menuju Terminal Baru Purwokerto.

Kesan kami di sini pun sama. Jalan masuk yang tak begitu besar, ternyata di dalamnya ada pabrik yang sangat luas. Entah berapa lantai ke atas. Kami hitung, kami di ajak masuk ke lantai 3. Di sana karyawan sedang memproduksi bulu mata. Masih ada anak tangga ke atas lagi. Tapi aku tak bertanya ke Bu Cici. Dia hanya bilang, kalau lantai satu dan dua rencananya akan digunakan untuk pabrik kosmetik. Lokasi yang berada di sebelah selatan bioskop Rajawali sudah terlalu sempit. Kedua ruangan tadi memang masih kosong.

Pembuatan bulu mata palsu
Pembuatan bulu mata palsu

Baik pabrik wig maupun bulu mata, karyawannya masih muda-muda. Lembutnya serabut rambut palsu memang butuh pandangan mata yang masih tajam. Tak hanya perempuan, laki-laki pun tak sedikit. Setelah dipotong-potong sesuai ukuran, bulu-bulu mata itu di tata sedemikan rupa agar mudah di kuas dengan cairan tertentu. Proses ini berguna untuk membuat bulu mata itu mengkilat nantinya. Kemudian di rangkai memanjang pada proses selanjutnya. Lalu di potong-potong rangkaian tersebut sesuai ukuran, terus di masukkan dalam kemasan.

Bukan hanya para ibu yang heran. Aku pun begitu. Ternyata prosesi pembuatannya rumit, butuh ketelitian, dan kesabaran. Maka suasana hening melingkupi pabrik itu. Hampir tak ada sendau gurau. Aku cuma membandingkan dengan diri sendiri. Seharian duduk dengan pekerjaan yang sama tiap hari, apa tidak bosan ya? Semua bisa karena biasa. Begitu kan?

Hmm....
Hmm….

Kejelasan maksud dan tujuan kami dibawa berkeliling baru Bu Cici sampaikan saat kami diajak makan. Pak Ibnu Sujono, selaku pemilik ingin mengajak kerjasama usaha dengan kelompok batik MD. Bu Cici bilang kalau beliau ingin membuka usaha itu. Peluang ke luar negeri cukup besar. Hanya saja, Pak Ibnu ingin batik tulis saja. Keseriusan Pak Ibnu ditandai dengan kunjungannya ke rumah Mba Eko. Kegiatan keliling-keliling ini rupanya sebagai kunjungan balasan. Rupanya Pak Ibnu ingin meyakinkan anggota kelompok tentang usaha yang dia jalani selama ini. Termasuk model kemitraan gula kristal tadi.

Dia minta perwakilan dari kelompok, membuat janji sendiri dengan Pak Ibnu. Kapan akan membicarakan hal ini lebih lanjut. Kedelapan orang meminta aku untuk mengawal mereka sampai tuntas. Aku bilang siap saja. Tapi memang harus bagi waktu juga.

Obrolan menjadi tak tentu arah karena hujan menghadang. Bu Cici bercerita kalau di Kelurahan Sumampir, dia menjadi ketua RW, sedang suaminya Ketua LPMK (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan). Urusan pemberdayaan bukan hal yang asing baginya. Dia pernah memfasilitasi kelompok Dasawisma di kelurahannya untuk mengakses pinjaman lunak dari Disperindagkop Kab. Banyumas. Dia bilang verifikasi langsung ke rumah-rumah dengan maksimal pinjaman 2 juta per orang. Tenor-nya selama 2 tahun. Sangat ringan.

Kami pun menyahuti obrolan itu. Kegiatan pinjaman dana bergulir SPP pun diceritakan. Modelnya hampir sama. Mungkin karena sama-sama suka dunia pemberdayaan, obrolan ini bisa nyambung. Para ibu bercerita awal mereka membatik, kemudian di bantu dana pelatihan dari PNPM, hingga berkelompok. Aku menimpali bahwa apapun yang dilakukan masyarakat, kalau tidak berasal dari kemauan mereka sendiri, biasanya mubah. Pemerintah sekarang hanya mau mendanai kegiatan-kegiatan yang sudah ada embrio-nya dulu. Pengalaman membentuk kelompok dadakan demi mengakses dana, terbukti gagal. Masyarakat harus membuktikan dulu keseriusan dalam berusaha, nanti lama-lama juga di lirik dan di bantu. Insya Allah.

Bersama kami sebenarnya ada keponakan Pak Ibnu. Namanya Shioma. Gadis cantik ini datang dari China. Pernah mengajar di lembaga pendidikan bahasa Mandarin. Sepertinya dia paham apa yang kami bicarakan, tapi masih susah kalau mau nimbrung. Hanya senyum-senyum saja. Termasuk saat aku bertanya, berarti lidahnya sudah nyaman makan mendoan, dia pun hanya tersenyum. Sesekali berbicara dengan Bu Cici pun masih kesulitan melafalkan kata-kata.

Alhamdulillah, akhirnya hujan reda juga. Hampir semua bawa mantel hujan. Tidak menyangka kalau mau deras seperti itu. Kami pun keluar dan melanjutkan kegiatan masing-masing. Aku melanjutkan kegiatan sendiri. Menjemput anak dan istri di Moro, dan mengantarkannya membeli benang nilon.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here